Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Villa di pinggir danau terasa lebih sepi malam itu. Lampu-lampu taman sudah dimatikan, hanya cahaya bulan dan lampu redup dari balkon kamar utama yang menyinari permukaan air yang gelap. Xiao Han tiba tepat pukul 20:55, sopir Mercedes yang sama mengantarnya tanpa banyak bicara. Begitu pintu depan terbuka, Lin Qing sudah berdiri di ambang ruang tamu, mengenakan gaun tidur sutra hitam tipis yang hampir tembus pandang, rambutnya terurai bebas, mata dinginnya langsung menatap tajam.
"Kamu terlambat lima menit," katanya tanpa senyum.
"Maaf. Macet di jalan tol," jawab Xiao Han singkat, masuk dan menutup pintu di belakangnya.
Lin Qing tidak menjawab. Dia langsung berbalik, berjalan menuju tangga ke lantai atas tanpa menunggu. Xiao Han mengikuti dalam diam. Di kamar tidur, aroma parfum mahal dan lilin vanila sudah memenuhi udara. Lin Qing berhenti di depan tempat tidur, membalikkan badan, dan menatap Xiao Han dari atas ke bawah.
"Malam ini bukan cuma soal tubuh," katanya pelan. "Ada yang harus kita bicarakan. Tapi dulu... aku ingin kamu dulu."
Dia menarik Xiao Han mendekat, tangannya membuka kancing kemeja pria itu satu per satu dengan gerakan lambat tapi pasti. Bibirnya menyentuh leher Xiao Han, lalu turun ke dada, meninggalkan jejak panas. Xiao Han membalas, tangannya merangkul pinggang ramping Lin Qing, menarik gaun sutra itu ke atas hingga terlepas sepenuhnya.
Mereka jatuh ke tempat tidur bersama. Lin Qing naik ke atas, mengendalikan ritme seperti biasa. Dua gunung nirwana itu bergoyang pelan saat dia bergerak naik-turun, tangannya menekan dada Xiao Han untuk menjaga keseimbangan. Napasnya terengah di telinga pria itu, desahan kecil keluar setiap kali Xiao Han mendorong ke atas untuk bertemu gerakannya.
Di tengah gelombang kenikmatan, Lin Qing tiba-tiba berhenti bergerak. Dia tetap duduk di atas Xiao Han, tubuh mereka masih terhubung, tapi matanya sekarang serius, menatap langsung ke mata Xiao Han.
"Aku punya tawaran untukmu," katanya, suaranya serak tapi tegas. “Mulai bulan depan, jadi supir pribadiku. Bukan cuma antar-jemput. Kamu ikut aku ke mana saja, meeting, dinner bisnis, perjalanan ke luar kota. Kamu tetap jadi pendampingku... di segala hal."
Xiao Han menarik napas dalam, merasakan detak jantung Lin Qing yang cepat di atas dadanya. “Bayarannya?”
"15 juta per bulan. Tetap. Plus bonus kalau ada perjalanan luar kota. Kamu nggak perlu lagi kerja di pos. Nggak perlu lagi antar surat. Nggak perlu lagi... panggilan malam dari orang lain."
Lin Qing mulai bergerak lagi, pelan, seperti ingin menekankan setiap kata dengan gerakan pinggulnya.
"Kamu bisa fokus ke keluargamu. Obat ibumu, sekolah adikmu. Dan kalau kamu mau... aku bisa bantu lebih dari itu. Rumah baru, terapi terbaik, apa saja."
Xiao Han memejamkan mata sejenak, merasakan kehangatan tubuh Lin Qing yang terus mengelilinginya. Tawaran itu terdengar seperti jalan keluar, uang tetap, pekerjaan "resmi", tidak lagi harus menyembunyikan diri di malam-malam gelap.
Tapi di balik itu, ada rasa dingin yang merayap.
"Kenapa aku?" tanyanya pelan, tangannya memegang pinggul Lin Qing untuk menghentikan gerakan sebentar.
Lin Qing mencondongkan tubuh, bibirnya hampir menyentuh bibir Xiao Han.
"Karena kamu tidak pernah meminta lebih dari yang aku tawarkan. Karena kamu jujur. Karena… aku mulai terbiasa ada kamu di sampingku. Bukan cuma di tempat tidur."
Dia mencium Xiao Han dalam-dalam, gerakannya kembali semakin cepat. Xiao Han membalas, mendorong lebih kuat, membuat Lin Qing mengerang keras. Puncak datang hampir bersamaan, tubuh Lin Qing menegang, namanya keluar dari bibirnya dalam jeritan pelan, sementara Xiao Han melepaskan di dalamnya dengan napas tersengal.
Mereka terbaring berdampingan setelahnya, napas masih berat. Lin Qing memeluk pinggang Xiao Han dari samping, kepalanya di dada pria itu.
"Pikirkan baik-baik," bisiknya. "Aku nggak mau kamu tolak. Tapi aku juga nggak mau paksa. Jawab besok pagi."
Xiao Han menatap langit-langit kamar yang gelap. Di luar, danau tenang memantulkan bulan purnama. Tawaran 15 juta sebulan terdengar seperti mimpi, cukup untuk menyelamatkan ibunya, untuk membayar sekolah Xiao Mei, untuk berhenti dari dunia "call man" yang semakin menjauhkannya dari Hua Ling'er.
Tapi di dadanya, ada suara kecil yang berbisik: kalau dia terima, apakah dia masih Xiao Han yang dulu? Atau hanya milik Lin Qing, supir, pendamping, kekasih bayaran yang dibungkus kontrak bulanan?
Dia menutup mata, tapi tidur tidak datang mudah malam itu.