NovelToon NovelToon
Slaughtering The Heavens

Slaughtering The Heavens

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi Timur
Popularitas:129.4k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.

Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.

Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.

"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KOTA CHANGZE

Sehari setelah terobosannya, Xu Hao duduk bersila di bawah pohon dengan mata terpejam. Napasnya pelan dan teratur. Di sekelilingnya, energi ilahi mengalir masuk dengan stabil, memperkuat fondasi yang sudah kokoh.

Perlahan, ia membuka matanya.

Cahaya ungu berpendar di kedua matanya, lalu meredup. Ia mengepalkan tangan kanannya, merasakan kekuatan yang mengalir di setiap serat otot, di setiap tulang, di setiap sel tubuhnya.

Satu kata keluar dari bibirnya.

"PUAS."

Ia berdiri. Angin pagi yang lembut menerpa wajahnya, membawa aroma bunga dan rerumputan dari kejauhan. Xu Hao berjalan santai beberapa langkah, menikmati ketenangan sejenak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa merasakan kedamaian, meskipun hanya sesaat.

Namun pikirannya segera kembali bekerja. Ia merenungkan situasinya saat ini.

"Sepertinya aku butuh Pedang Tianxu dan Pedang Pemutus Dao," gumamnya pelan. "Alam Surgawi sudah menyadari kedatanganku. Mereka akan terus mengirimkan pemburu. Dengan kedua pedang itu, kekuatanku akan meningkat drastis."

Ia teringat kata-kata Hao, entitas misterius yang memberinya ujian di Jantung Kekacauan dulu. Hao bilang akan mengembalikan pedang-pedang itu saat ia mencapai tingkat Penguasa Kekosongan.

Xu Hao mengerutkan kening.

"Masalahnya, tingkat Penguasa Kekosongan tidak ada di Alam Dewa. Apa maksudnya? Apakah ada tingkat lainnya? Atau mungkin maksudnya level di atas Dewa Primordial?"

Ia menggeleng. Terlalu banyak hal yang belum ia ketahui. Ia butuh informasi. Butuh seseorang yang tua dan berpengetahuan luas tentang misteri Alam Dewa dan mungkin alam-alam lain di luar sana.

"Sepertinya aku harus menemukan kota," putusnya. "Mencari perpustakaan atau tetua bijak yang bisa menjawab pertanyaanku."

Xu Hao melesat ke langit.

Kecepatannya kini jauh berbeda dari sebelumnya. Tubuhnya melesat seperti kilat ungu, meninggalkan jejak tipis di belakang. Udara di sekitarnya terbelah dengan mudah. Ia bisa merasakan setiap gerakannya begitu ringan, begitu alami.

Menjadi Dewa Langit benar-benar berbeda. Bukan hanya sekedar kuat, tapi seperti langit itu sendiri adalah rumahnya. Ia merasa nyaman, merasa menjadi bagian dari alam ini. Energi ilahi merespons setiap gerakannya dengan patuh.

Ia tersenyum tipis. Ini baru awal.

Lima jam berlalu. Xu Hao terus melesat tanpa henti, melewati pegunungan, lembah, sungai, dan hutan. Pemandangan di bawahnya berganti dengan cepat, tapi matanya tetap fokus ke depan.

Akhirnya, di kejauhan, ia melihatnya.

Sebuah kota besar terbentang di hadapannya. Temboknya menjulang tinggi, terbuat dari batu hitam yang memancarkan cahaya redup. Di atas tembok, terlihat prajurit-prajurit berjaga dengan waspada. Di belakang tembok, bangunan-bangunan menjulang, beberapa di antaranya mencapai ketinggian yang luar biasa.

Di gerbang utama, terukir huruf-huruf besar yang memancarkan cahaya emas.

KOTA CHANGZE.

Xu Hao turun di depan gerbang. Ia berjalan mendekat dengan langkah santai. Dua prajurit berjaga di pintu masuk, keduanya Dewa Langit bintang tiga dan empat. Mereka mengamati Xu Hao dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Berhenti. Tunjukkan identitasmu," kata salah satu prajurit dengan suara tegas.

Xu Hao mengeluarkan lempengan gioknya dan menyerahkannya. Prajurit itu mengambilnya, memeriksa sebentar, lalu mengerutkan dahi.

"Dari Alam Satu? Kau pendatang baru?"

Xu Hao mengangguk. "Ya."

Prajurit itu mengembalikan lempengan giok. "Untuk masuk, kau harus membayar seratus kristal ilahi tingkat rendah. Itu aturan untuk pendatang dari alam bawah."

Xu Hao tidak banyak bicara. Tangannya mengibas, dan seratus kristal ilahi tingkat rendah melayang dari cincin penyimpanannya. Kristal-kristal itu berkilauan di bawah sinar matahari.

Prajurit itu menerimanya, menghitung cepat, lalu mengangguk. "Masuk."

Xu Hao melangkah melewati gerbang.

Sesampainya di dalam, Xu Hao langsung merasakan perbedaan besar. Udara di sini jauh lebih padat dengan energi ilahi. Jauh lebih padat dari luar kota. Jauh lebih padat dari Alam Satu.

Dan yang lebih penting, ia bisa merasakan banyak sekali kekuatan besar di sekitarnya.

Di sepanjang jalan, para kultivator berjalan lalu lalang. Kebanyakan dari mereka adalah Dewa Langit dengan berbagai tingkatan bintang. Xu Hao melihat Dewa Langit bintang satu hingga bintang sembilan. Beberapa bahkan mungkin bintang sepuluh, meskipun mereka menyembunyikan aura mereka.

Dan di antara kerumunan itu, sesekali ia merasakan tekanan yang jauh lebih dalam. Jauh lebih berbahaya. Raja Dewa. Mungkin beberapa dari mereka bersembunyi di antara warga kota, tidak ingin menarik perhatian.

Xu Hao berjalan santai menelusuri jalan utama. Matanya mengamati sekeliling, mencari tanda-tanda tempat ia bisa mendapatkan informasi. Toko-toko berjejer di kanan kiri, menjual berbagai macam barang. Senjata, pil, jubah, gulungan teknik, semuanya ada.

Tiba-tiba, dari arah depan, keributan terjadi.

Segerombolan pemuda berjalan menutupi seluruh jalan. Ada sekitar sepuluh orang, semuanya mengenakan jubah hijau dengan bordiran bunga semanggi di dada. Di dahi mereka, bintang-bintang bersinar dengan tingkat yang berbeda. Dari bintang lima hingga bintang delapan. Semuanya Dewa Langit.

Mereka berjalan dengan sombong, tidak peduli dengan orang-orang di sekitar. Warga kota cepat-cepat menepi memberi jalan. Pedagang-pedagang kaki lima menarik dagangan mereka agar tidak tersenggol.

Xu Hao tetap berjalan di tempatnya. Ia tidak bergeser satu inci pun.

Salah satu dari mereka, seorang pemuda dengan kultivasi Dewa Langit bintang lima, berjalan paling depan dengan dada membusung. Ia tidak melihat ke depan, hanya menatap langit dengan angkuh.

Dugh!

Ia bertabrakan dengan Xu Hao.

Tubuh pemuda itu terpental ke belakang dan jatuh terlentang di jalan. Kepalanya membentur batu dengan bunyi keras. Jubah hijaunya kotor terkena debu.

"Aduh." Keluh-nya.

Xu Hao tidak berhenti. Ia terus berjalan maju.

Kaki kanannya menginjak kaki pemuda itu. Pemuda itu menjerit. Xu Hao berjalan terus. Kakinya menginjak paha, selangkangan, perut, hingga akhirnya wajah.

Setiap langkah meninggalkan jejak di tubuh pemuda itu.

Pemuda itu hanya bisa merintih, tidak bisa bergerak. Teman-temannya diam membeku, mulut mereka terbuka lebar. Mereka tidak menyangka ada orang yang berani melakukan ini pada murid Sekte Semanggi.

Di pinggir jalan, seorang nenek-nenek hampir pingsan. Cucunya yang masih kecil cepat-cepat menopangnya, mengelap keringat di dahi neneknya dengan gemetar.

Di sebelahnya, seorang pedagang kaki lima pemuda memegang selangkangannya sendiri. Wajahnya pucat, matanya ngilu melihat seseorang diinjak di bagian vitalitas kebanggaan pria. Ia bergumam pelan, "Aduh... aduh... sakit itu... pasti sakit sekali..."

Xu Hao terus berjalan. Ia berhenti di depan sebuah tenda pedagang sate. Daging-daging ditusuk rapi, dipanggang di atas bara api yang memancarkan energi ilahi. Aromanya harum, menggugah selera.

Pedagang itu, seorang pria setengah baya, hanya terpaku. Matanya menatap Xu Hao dengan campuran takut dan kagum. Ia bahkan tidak menyadari tangannya yang gemetar.

Xu Hao mengambil tiga tusuk sate. Dagingnya berwarna keemasan, berkilauan karena bumbu yang meresap. Ia mengeluarkan dua puluh kristal ilahi tingkat rendah, meletakkannya di atas tenda, lalu berjalan pergi sambil makan.

Ia menggigit satu tusuk. Daging itu lembut, juicy, dan penuh energi ilahi. Rasanya luar biasa.

Dari belakang, suara seorang pedagang kaki lima pria kekar berteriak dengan semangat meledak-ledak.

"Wahhhh! Megah! Sangat megah! Seorang Dewa Langit bintang satu menghancurkan masa depan murid kebanggaan Sekte Semanggi dengan satu pijakan lembutnya! Ini luar biasa! Monster penghancur masa depan!!"

Warga kota lain ikut bersorak. Tepuk tangan bergemuruh. Beberapa bahkan bersiul-siul kegirangan.

"Bagus! Biar mereka tahu rasa!"

"Sekte Semanggi selama ini sombong sekali!"

"Akhirnya ada yang berani melawan!"

Xu Hao tidak menoleh. Ia terus berjalan, menikmati sate di tangannya.

"Hei! Tunggu!"

Suara keras dari belakang. Pemimpin kelompok murid Sekte Semanggi, seorang pemuda dengan kultivasi Dewa Langit bintang delapan, berlari mengejar. Wajahnya merah padam karena marah.

"Kau harus membayar perbuatanmu! Kau pikir bisa pergi begitu saja setelah mempermalukan murid Sekte Semanggi?!"

Xu Hao tidak berhenti. Ia terus berjalan, santai, seolah tidak mendengar apa-apa. Ia mengambil tusuk sate kedua, menggigitnya pelan.

"KAU DENGAR TIDAK?!" teriak pemuda itu semakin keras.

Xu Hao berbelok ke lorong kanan. Tubuhnya menghilang di balik tikungan, meninggalkan pemuda itu yang hanya bisa memandang dengan mata melotot.

1
Adriel Benedict
wah enak banget jadi Xu Hao dikelilingi wanita2 cantik 😆😆😆😆😆
Adriel Benedict
wkwkwkwkwk
Adriel Benedict
wkwkwkwkwk ngambek
Adriel Benedict
👍👍👍👍👍👍👍👍
Adriel Benedict
ngopi dulu sebelum lanjut baca lagi, baca pelan2 aja takut cepat habis ceritanya 😁😁
Adriel Benedict
wah 😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Adriel Benedict
tidak semudah itu Carlotaaa, Xu Hao pasti muncul lagi 😎😎
Adriel Benedict
rupanya inilah si Dugu licik yang asli, rasku pula 😅😅
Adriel Benedict
kisah yang luar biaaasaaa 😍😍😍😍 syukurlah masih ada yang lebih jago lebih senior dari primordial yin yaitu ibunya Han Che alias Xu Hao 🤩🤩👍👍
Fajar Fathur rizky
thor bikin novel baru lagi thor novel kultivasi thor ceritanya seru
Fajar Fathur rizky
thor bikin novel kultivasi yang baru thor ceritanya seru thor novel ini layak dapet bintang⭐⭐⭐⭐⭐
semangat thor
Fajar Fathur rizky
thor mau tanya thor apakah ada lanjutan season baru atau akan bikin novel baru thor jika bikin novel baru bikin alur cerita mcnya dari alam bawah tapi ibunya dari alam atas bikin mcnya tidak tau siapa ibunya dari kecil thor tolong di jawab thor
septian arista
musnahkan semua dewa palsu itu👍👍👍
Adriel Benedict
menyala Xu Hao 😍😍 jubah merah rambut merah 👍👍👍
Fajar Fathur rizky
mampus kau primordial yin aturan siksa dulu thor primordial yinya
Adriel Benedict
🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩
Adriel Benedict: ku bela2in balik ke bab 1 buat baca tingkat kultivasi alam dewa 🤭
total 1 replies
septian arista
dasar para dewa palsu pengecut semuanya
Adriel Benedict
sini ngumpul ngopi bareng yang bolak balik nungguin notif update 😁😁 btw Thor gimana tu janji Xu Hao mau menyelamatkan Wang Jia ? belum ketemu pun
Adriel Benedict: siplah 👍👍👍
total 2 replies
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update
Fajar Fathur rizky: di tunggu thor cepat bikin Xue mo bantai primordial yin dan yang bikin alam dewa ketakutan
total 3 replies
yos helmi
go
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!