Harap bijak dalam memilih bacaan, sebagian konten ini berunsur dewasa 21+
Demi menyelamatkan panti asuhan yang akan di gusur, Fatimah rela menikah dengan pria setengah baya berusia 50 tahun. Tetapi laki - laki itu sama sekali tak pernah menyentuhnya. Kenapa ? dan ada rahasia apa di balik pernikahannya....
Lalu bagaimana reaksi Glenn Wijaya Liem yang melihat Ayahnya sendiri menikahi wanita yang diam-diam ia cintai sejak tiga tahun yang lalu.... kuy ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pujian
"Baiklah saya akan memberikan kesempatan, baru kali ini saya melihat gadis belia sepertimu sudah mempunyai tekad yang besar." ujar Tuan Richard.
Dengan langkah mantap dan keyakinan penuh, Fatimah mempresentasikan designnya yang belum selesai itu di depan para peserta meeting.
Tuan Richard begitu takjub dengan kemampuan gadis muda di depannya itu, bahkan Fatimah mampu merinci semua biaya dari desain perumahan yang dia buat.
"Sangat menarik." gumam Glen.
David yang sedari tadi diam-diam merekamnya, nampak tersenyum penuh arti lalu ia mengirim video itu pada salah satu kontak di ponselnya.
"Saya sangat puas dengan presentasimu. Apa kamu salah satu lulusan terbaik arsitektur tahun ini ?" tanya tuan Richard penasaran.
"Maaf tuan, saya hanya belajar otodidak."
"Benarkah. Kamu tahu, kamu mengingatkan ku pada teman kuliahku dulu sangat pandai mendesign meski bukan bidangnya dan senyum mu itu benar-benar mirip dengannya." ucap tuan Richard.
"Baiklah, Glenn saya memilih salah satu design darimu dan Johanes maaf kali ini kamu belum beruntung." ucapnya lagi.
"Tidak apa-apa tuan, saya juga menyukai design darinya." sahut Johanes dengan menatap Fatimah, nampak senyum tersungging di bibirnya.
Tak berapa lama terdengar pintu di buka, nampak seorang wanita cantik bak seorang model masuk ke dalam. "Papa ?" wanita itu langsung memeluk tuan Richard.
"Oh ya, kenalkan putri tunggal saya. Tania, dia baru pulang dari paris untuk menyelesaikan s3nya disana." ujar Tuan Richard.
Tania yang menyadari kehadiran Glenn langsung menghampiri laki-laki itu. "Glenn, aku sangat merindukanmu." Tania langsung memeluk Glenn.
"Tania, bagaimana kabarmu ?" tanya Glenn ramah.
"Kabarku sangat baik, hampir satu tahun kita tidak bertemu kan ?" sahut Tania tapi pandangannya mengejek ke arah Johanes.
"Ah iya benar." sahut Glenn.
Fatimah yang melihat interaksi mereka, merasa ada goresan luka di hatinya.
"Baiklah, sepertinya meeting ini harus kita akhiri. Oh ya Glenn bagaimana kalau kita makan siang bersama, Johanes apa kamu juga mau ikut ?" ujar Tuan Richard.
"Baik tuan." sahut Glenn yang membuat Tania tersenyum senang.
"Terima kasih tuan, tapi saya masih ada acara lain." ucap Johanes.
Glenn menatap Fatimah, tapi gadis itu justru memalingkan wajahnya. Lalu ia pamit untuk meninggalkan tempat meeting tersebut.
"Fatimah, selamat ya aku tidak mengira kamu bisa memenangkan tender ini." ucap Johanes sembari berjalan di sebelahnya.
"Terima kasih kak, maaf ya kakak jadi kalah."
"Justru aku senang kalau kalah."
"Mana ada orang kalah senang."
"Ini aku ada."
"Aneh."
"Kalau aku menang, papa pasti akan menjodohkan ku sama tuh cewek. Ogah banget."
"Cewek ?"
"Tania."
"Kalian saling kenal ?"
"Kami bertiga satu kampus ketika mengambil s2 di luar negeri, tapi dari dulu Tania lebih tertarik dengan boss mu itu."
"Glenn ?" tanya Fatimah memastikan.
"Iya."
"Oh, ya mereka sangat cocok sama-sama orang kaya." sahut Fatimah entah kenapa hatinya terasa begitu sakit.
"Bagaimana kalau kita ke galeri ?"
"Galeri ?"
"Iya, galeri kita."
"Kak Jo sudah mendapatkan tempatnya ?"
"Hmm, ayo."
Glenn yang melihat Fatimah menaiki mobil Johanes, nampak sangat geram. "Mereka saling kenal ?" tanya David yang membuat Glenn menoleh padanya.
"Seperti yang kamu lihat."
"Mereka sedang tidak berkonspirasi kan untuk menyerang perusahaan kita ?"
"Kamu pikir dia seperti itu ?" tanya Glenn kesal.
"Siapa tahu."
"Glenn, bisa aku numpang mobilmu ?" ucap Tania yang baru datang.
"Hmm."
Kemudian mereka berlalu pergi meninggalkan kantor tersebut.
Di tempat lain, nampak seorang laki-laki paruh baya sedang fokus dengan ponsel di tangannya. Setelah beberapa saat lalu mendapat kiriman sebuah video.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kamu benar-benar mirip dengan ayahmu. Berani, pantang menyerah dan jenius, lihatlah Juan anakmu sekarang ada di genggaman ku. Mulai sekarang musuhmu bukanlah aku tapi anakmu sendiri." gumam tuan Candra lalu tertawa puas.
Fatimah yang baru sampai di galery nampak senang. "Ini terlalu besar kak tempatnya." ucap Fatimah ketika melihat ruko dua lantai di hadapannya itu.
"Aku sengaja membeli yang agak besar, siapa tahu kamu bisa tinggal di sini."
"Hah."
"Daripada kamu ngekost, kamu bisa menghemat uang kalau tinggal disini."
"Sepertinya aku masih nyaman tinggal di tempatku kak."
"Ayo masuk." Johanes membuka pintu ruko tersebut.
Setelah melihat-lihat tempat tersebut dan menyempatkan makan siang bersama, kini Fatimah kembali ke kantor.
Ia berjalan menuju meja kerjanya, belum sempat duduk tapi Glenn sudah menarik tangannya dan membawanya ke ruangannya.
"Direktur, apa-apaan sih lepaskan !!" Fatimah meronta dari cengkeraman Glenn tapi laki-laki itu justru menghimpitnya ke dinding.
Kedua tangan Fatimah ia kunci ke atas kepalanya dan satu tangannya lagi mencengkeram rahang Fatimah dengan kuat.
"Sudah ku bilang jauhi si brengsek itu !!" Bentak Glenn.
"Le-lepaskan saya Direktur !!"
"Di bagian mana dia menyentuhmu, katakan !!" teriak Glenn.
"Di-dia tidak menyentuhku, kami hanya berteman."
"Berteman dengan musuh, tidak akan ku maafkan."
"Apa dia menyentuhmu di bagian sini, sini dan sini." Glenn menyentuh bagian wajah Fatimah dengan jari telunjuknya.
"Kak Jo tidak pernah menyentuhku." teriak Fatimah, ia meringis kesakitan karena kedua tangannya di cengkeraman Glenn dengan kuat.
"Bahkan kamu berani menyebut namanya di depanku." Glenn murka nampak kilatan kemarahan di matanya.
"Aku akan menghapus semua jejaknya." Glenn mulai mengecup seluruh wajah Fatimah, bahkan kini ia melahap bibir merah muda itu dengan rakus tanpa memperdulikan Fatimah yang sudah terisak tangis.
"Kenapa kamu memperlakukan ku seperti wanita murahan ?" tanya Fatimah dalam isak tangisnya.
Glenn melepas cengkeraman tangan Fatimah lalu merengkuhnya ke dalam pelukannya. "Maaf, aku tidak suka kamu dekat dengan laki-laki lain."
"Lepaskan Glenn, kita bukan mahram !!" Fatimah meronta dalam pelukan laki-laki itu tapi justru Glenn semakin mengeratkan pelukannya.
"Biarkan seperti ini sebentar." pinta Glenn.
Fatimah pasrah, merontapun tak ada gunanya justru akan menghabiskan tenaganya karena laki-laki itu tidak akan pernah melepaskannya.
Kini yang ada hanya keheningan, suara detak jantung yang saling berpacu dari dua insan manusia yang saling mencintai tapi hanya dalam diam.
Tak berapa lama pintu terbuka dan David segera masuk tanpa memperhatikan keadaan di dalam ruangan tersebut.
"Bro, ada....." David terkejut ketika melihat dua orang yang saling berpelukan itu.
Glenn melepaskan pelukannya, Fatimah yang melihat David langsung berlari keluar.
"Loe dan dia ?" David bingung dengan hubungan boss dan sekretarisnya itu.
"Diamlah, bukan urusanmu. Sekarang katakan ada apa kamu kesini ?"
"Ayah mu menyuruh kita meeting di ruangannya dan Fatimah juga."
"Ya sudah, ayo !!" setelah itu Glenn meninggalkan David yang masih berdiri mematung di ruangannya.
"Kita meeting di ruangan CEO." ucap Glenn datar ketika melewati meja Fatimah.
Fatimah yang masih marah tidak menjawabnya tapi ia mulai beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Glenn serta David.
Baru kali ini Fatimah memasuki ruangan CEO, lebih luas dari ruangan Direktur dan di sisi kanan terdapat meja panjang yang biasa untuk meeting. Ia segera duduk di kursi setelah tuan Candra menyuruhnya untuk duduk.
"Fatimah selamat ya kamu memenangkan tender untuk pertama kalinya, selama ini kita lebih sering kalah jika melawan perusahaan Hutomo dan hari ini saya sangat senang." ujar Tuan Candra.
"Terima kasih tuan, mungkin hanya kebetulan karena saya suka menggambar." ucap Fatimah merendah.
"Kebetulan atau tidak tapi kamu mempunyai kemampuan, mulai sekarang masalah proyek apapun itu kamu harus terlibat terutama jika itu menyangkut perusahaan Hutomo."
"Pa, dia hanya beruntung saja hari ini. Dia orang baru jangan memberikan beban yang terlalu berat." protes Glenn.
"Mulai sekarang Fatimah bukanlah sekretaris mu lagi, dia akan aku angkat menjadi wakil direktur." ucap tuan Candra dengan tegas.