Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 Sujud Duha dan Ancaman Yang Menggantung
05.00 WIB.
Udara pagi di Jakarta masih terasa menusuk tulang, tapi ponsel di samping bantal Tari sudah bergetar heboh. Tari yang baru saja selesai merapikan mukenanya, karena hari ini dia sudah bisa kembali shalat.Tari langsung saja menyambar ponsel itu.
Ramdan Alvaro is calling via Video Call...
Tari segera menggeser tombol hijau. Layar menampilkan wajah Ramdan yang sudah sangat rapi. Dia sudah memakai seragam batik kebanggaan sekolah, rambutnya tertata rapi, dan latar belakangnya bukan lagi kamar hotel, melainkan lobi hotel yang sudah mulai ramai.
"Sudah bangun, Ri? Bagus, variabel kedisiplinanmu meningkat pagi ini," sapa Ramdan tanpa basa-basi. Suaranya terdengar sedikit lebih berat karena udara pagi.
Tari tersenyum malu-malu di depan kamera. "Udah dari tadi, Ndan. Kamu udah mau berangkat?"
Ramdan mengangguk, ia menunjukkan ID Card lomba yang melingkar di lehernya. "Sekarang jam enam pagi di sini. Tiga jam lagi, tepat jam sembilan WITA, saya akan masuk ke ruangan isolasi lomba. Saya telepon sekarang karena setelah ini ponsel saya akan disita panitia sampai sore nanti."
Ada jeda sejenak. Ramdan menatap kamera dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasany lebih dalam dan serius. "Ri, saya minta doanya. Secara matematis saya sudah siap, tapi variabel 'doa' darimu adalah pelengkap yang tidak bisa saya hitung sendiri kekuatannya."
Dada Tari berdegup kencang. "Pasti, Ndan. Tanpa kamu minta, doa buat kamu selalu ada di urutan pertama."
"Terima kasih," balas Ramdan tipis. "Satu lagi, jam delapan nanti di sekolah akan ada Rapat Akbar di aula, kan? Pastikan kamu sebagai sekretaris mencatat semua poin rapat dengan teliti. Jangan sampai ada data yang meleset. Kita sedang berjuang di dua tempat berbeda, Ri. Saya di Kalimantan, kamu di Aula Kusuma Bangsa. Pastikan kita berdua pulang dengan hasil yang valid."
Tari mengangguk mantap. "Siap, Waketos
Oh iya Ndan, beneran kan di sana hotelnya aman? Nggak ada variabel gangguan yang bikin kamu nggak fokus belajar?" Suara lembut Tari terdengar, disusul suara berat yang sangat familiar dari loudspeaker ponsel.
"Aman Ri, Variabel gangguannya justru ada di layar ponselku sekarang, karena ada seseorang yang belum cuci muka tapi sudah menuntut laporan keamanan," balas Ramdan dengan nada datar namun ada sedikit nada gurauan di sana.
"Ehem! Permisi... sepertinya ada yang lagi melakukan sinkronisasi perasaan pagi-pagi nih," goda Kak Anisa yang tiba-tiba datang, membuat Tari terjengkal kaget dan hampir menjatuhkan ponselnya.
"Eh, Kak Anisa! Sejak kapan di situ?" Tari buru-buru merapikan jilbab instannya yang agak miring.
Layar ponsel Tari menampilkan wajah Ramdan yang tampak segar, sepertinya dia sudah siap dengan kegiatannya di Kalimantan. "Selamat pagi, Kak Anisa. Maaf kalau sinyal dari Kalimantan mengganggu jam sarapan kalian."
"Halah, Ndan! Pagi-pagi udah diculik aja Sekretaris gue," sahut Kak Anisa sambil ikut melongok ke layar HP Tari. "Gimana? Udah siap menang lomba?"
Ramdan memperbaiki letak kacamatanya, matanya menatap tajam ke arah kamera. "Persiapannya sudah mencapai 95%. Tapi omong-omong soal jam sarapan, Kak Anisa sepertinya sedang semangat sekali pagi ini. Apa karena semalam ada variabel 'Ketua OSIS' yang memberikan laporan motivasi lewat telepon?"
Skakmat! Kali ini ganti Kak Anisa yang mematung.
"Loh, Kak Arga beneran telepon Kakak semalam?" Tari langsung menoleh ke arah Kak Anisa dengan mata berbinar penuh selidik.
Ramdan melanjutkan serangannya dengan wajah tanpa ekspresi, seolah-olah sedang membacakan soal olimpiade. "Tadi malam sebelum tidur, Arga mengirim pesan di grup menanyakan apakah aku sudah sampai. Tapi setelah aku jawab, dia malah tidak sengaja mengirim pesan yang seharusnya untuk Kak Anisa. Isinya cukup... tidak logis untuk ukuran seorang Ketua OSIS yang biasanya tegas.
"Arga bilang: 'Nis, tidur yang nyenyak ya, jangan lupa doa biar nggak mimpi buruk soal juknis lagi'. Menurutku, itu adalah pesan dengan tingkat perhatian yang melewati batas fungsional seorang rekan kerja," pungkas Ramdan dengan nada datar yang bikin Kak Anisa makin pengen menghilang.
"Cieeeee! Kak Anisaaaa!" Tari langsung heboh, rasa kantuknya hilang total digantikan semangat ghibah level maksimal.
"Udah, udah! Ramdan, kamu mending fokus lomba sana, jangan jadi intelijen cinta!" Kata kak Anisa sambil pergi keluar kamar Tari
Setelah Kak Anisa hilang dari balik pintu dengan wajah merah padam, suasana di layar ponsel kembali tenang. Ramdan menatap Tari, ekspresinya sedikit melembut—versi paling lembut yang pernah Tari lihat.
"Ri, sebelum saya matikan panggilannya," suara Ramdan merendah. "Di saku tas OSIS kamu, saya ada selipin sesuatu kemarin. Nanti buka kalau kamu ngerasa bosen atau capek pas Rapat Akbar. Tapi jangan dibuka sekarngerti?"
Tari mengerjapkan mata, penasaran setengah mati. "Isinya apa, Ndan?"
"Variabel kejutan. Saya tutup ya. Good luck buat Sekretarisku."
Klik layar menjadi hitam. Tari senyum-senyum sendiri kayak orang dapet lotre sebelum akhirnya turun ke meja makan dengan langkah ringan.
Di bawah, Kak Anisa lagi sibuk nuangin susu ke gelas dengan muka ditekuk, sementara Karin sama Tiara udah asik makan nasi goreng.
"Ciee... Kak Anisa," goda Tari langsung sambil duduk di sebelah Karin.
"Gimana Kak, semalam tidurnya nyenyak gak?kan habis ada yang chat an di tengah malam, katanya tidur yang nyenyak jangan mimpi buruk soal juknis " lanjut Tari
"UHUK!" Karin langsung tersedak nasi goreng.
"Wah, ada apa nih? Kak Arga semalam chat Anisa seperti itu Ri,?"Pantesan Kak Anisa bahagia banget seperti yang habis dapet transperan hati gitu"kata Karin
"Iihh! Tari! Kamu tuh ya, bener-bener ketularan virus logikanya Ramdan!" seru Kak Anisa sambil nutupin mukanya pake serbet. "Udah, makan! Jangan bahas chat semalam atau aku coret kalian dari daftar absensi rapat!"
Tari cuma ketawa puas. Ternyata ngeledekin orang itu seseru ini, pantesan Ramdan hobi banget melakukannya.
Suasana meja makan pagi itu bener-bener pecah. Nasi goreng buatan Kak Zahra habis tak bersisa, Meskipun Kak Anisa jadi sasaran empuk cie-cie dari Tari, dia tetep aja telaten nuangin susu ke gelas Tari dan Karin.
Kak Zahra yang lebih kalem pun nggak tinggal diam. Dia sesekali nambahin info "intel" soal kelakuan absurd Kak Arka sama Kak Arga di kelas XII, yang bikin Karin sama Tiara ketawa sampe tersedak.
"Ri," panggil Kak Zahra lembut sambil ngusap bahu Tari. "Makasih ya udah bolehin kita nginep. Kita tau kamu lagi cemas ditinggal Ramdan, tapi liat kamu udah bisa ketawa ngeledekin Anisa pagi ini, kita jadi tenang."
Tari tertegun sejenak. Ia menatap Kak Zahra dan Kak Anisa bergantian. "Aku yang makasih, Kak. Kalau nggak ada Kakak semua, mungkin semalam aku udah pingsan liat berita TV itu."
Kak Anisa yang tadi sibuk nutupin muka karena salting, langsung ngerangkul Tari dari samping. "Santai aja, Ri. Kita emang kelas XII, udah mau lulus, tapi buat kalian... kita bakal selalu jadi kakak yang siap sedia kalau ada apa-apa. Lagian, jagain kamu itu udah kayak tugas negara dari Waketos kita yang kaku itu, kan?"
"Tuh kan, ujung-ujungnya bawa nama Ramdan lagi!" sahut Tiara sambil geleng-geleng kepala.
"Ya emang kenyataannya gitu, kan?" Kak Anisa nyengir lebar. "Udah, yuk berangkat! Jam tujuh kurang sepuluh. Kita harus nyampe sekolah sebelum Ketua OSIS kesayangan aku itu mulai pasang muka galak di depan gerbang!
Begitu kalimat "Ketua OSIS kesayangan aku" lolos dari bibir Kak Anisa, detik itu juga suasana meja makan mendadak hening sesaat. Kak Anisa membeku, baru sadar kalau dia baru saja melakukan self-burn alias membongkar rahasianya sendiri.
"Satu... dua... tiga..." Karin menghitung mundur pelan.
"CIEEEEEE!!!!"
Suara riuh itu meledak, bahkan mungkin sampai terdengar ke rumah tetangga. Tari tertawa paling keras sambil menepuk-nepuk meja.
"Ternyata ya..." Tari mencoba mengatur napasnya di tengah tawa, "Anak-anak OSIS kita tuh banyak banget yang cinta lokasi. Ada Kak Zahra sama Kak Arka, the power couple MC yang kalau udah duet di panggung dunia serasa milik berdua. Dan sekarang... ada Kak Anisa sama Kak Arga yang baru banget terendus nih aromanya. Bau-bau PDKT jalur Ketua-Sekbid ya, Kak?"
"Wah, gila sih! Strategi Ramdan emang luar biasa," timpal Tiara sambil geleng-geleng kepala. "Dia sengaja bikin pengurus OSIS sibuk rapat biar benih-benih asmara ini tumbuh subur di antara tumpukan proposal!"
Wajah Kak Anisa sudah seperti kepiting rebus, sementara Kak Zahra cuma bisa menunduk malu sambil senyum-senyum tipis. "Ih Tiara Kamu kok pinter banget sih narik kesimpulannya?ini nih kalau ketua gengnya kayak Ramdan pasti logikanya akan nular sama anak buahnya
"Ternyata Kak Arga masih bucin ya ,dulu juga sama mantannya bucin juga " kata Tiara
"Hmmmm jangan bahas mantan dong, tapi lebih bucin sama yang sekarang lho" kata Tari karena Tiara membahas tentang mantan
"UDAH! UDAH! Berangkat sekarang atau aku tinggal di sini!" ancam Kak Anisa sambil menyambar kunci mobil, mencoba menutupi rasa saltingnya yang sudah di level maksimal.Akhirnya mereka semua berangkat ke sekolah, karena jam 07.00 harus sudah tepat ada di dalam sekolah.
Ketika lagi riuhnya suara candaan di dalam mobil, tiba-tiba ponselnya Tari bergetar dan ternyata ada chat dari Raihan
Raihan "Ri, ternyata kita harus geser jam rapat Akbar jadi jam 08.30 , karena tiba-tiba ketua OSIS kita ada tugas keluar bersama Pak kepala sekolah. Jadi nanti kita jam 07.30 semua panitia kumpul di mushola untuk shalat duha berjamaah "
Tari pun langsung membalasnya" Oke Han, berarti kita masih banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya,"
Tari menatap Kak Anisa dengan tatapan yang sangat serius"Kak, santai aja bawa mobilnya, lagian di gerbang juga ga ada kak Arga kok, soalnya dia lagi keluar sama pak kepala sekolah"
"Lah terus rapat gimana? hari ini rapat harus dilakukan lho mengingat acara pentas seni tinggal dua hari lagi " kata Kak Zahra
"Rapat tetap berjalan kok cuma jadi jam 08.30 lagian kita mulai ada kesibukan habis Dzuhur kan " kata Tari membuat semua yang ada di dalam mobil terdiam
**********************************************
Di parkiran sekolah, mobil Ramdan yang di bawa Kak Anisa dkk, sudah terparkir dengan cantik. Para bidadari turun dari mobil dan akan menuju ke ruang OSIS,namun tiba-tiba saja Tari bilang
"Eh Ri, sepertinya aku sama Tiara langsung ketempat latihan aja ya di laboratorium soalnya kita latihannya" kata Karin
" Oh iya, hati - hati ya good luck pokoknya " kata Tari sambil tersenyum manis
Di lapangan mereka berpisah. Tari, Kak Anisa dan kak Zahra langsung menuju Musholla untuk persiapan shalat duha, sedangkan Tiara dan Karin langsung menuju laboratorium untuk latihan dance.
**********************************************
Di depan mushola kak Anisa dan kak Zahra duluan masuk, sedangkan Tari masih duduk sambil buka sepatunya. Namun , tiba-tiba ada seorang yang datang dan langsung saja marah sama Tari
"Eh Tari, puas ya sekarang kamu, kamu udah rebut semuanya dari aku, mulai dari Ramdan yang selalu tolak aku demi kamu dan sekarang posisi sekretaris OSIS juga sama kamu, kamu jangan sok cari perhatian deh di depan Ramdan" Kata Kak Bela
"Loh ,kok Kak Bela ada disini? Bukannya Kakak lagi diskorsing ya,? lagian ya kakak tiba-tiba datang buat marah - marah gitu sama aku. Nih dengerin ya Kak , aku sama sekali tidak pernah cari perhatian di depan Ramdan, aku dan dia selalu bersama karena kami memang temen satu kelas dan juga satu circle. Kalau pun Ramdan menolak kakak ya itu urusannya sendiri dengan hatinya Ramdan kak. Lagian kenapa kakak sukanya sama adek kelas,kan ada mungkin yang lebih ganteng dari teman sekelas kakak. Ingat kak soal perasaan itu tak bisa dipaksakan dan tak bisa di beli dengan uang. Kakak marah soal aku rebut posisi sekretaris, maaf kak itu yang milih bukan aku pribadi tapi langsung dari ketua OSIS dan pengurus OSIS lainnya " kata Tari sambil sedikit tenang namun kata - katanya penuh penekanan
"Alah alasan aja, lagian gue udah tahu kok, kalau kamu itu mantannya Arga si ketua OSIS, pantes aja dia milih kamu jadi sekretaris OSIS, mungkin dia belum bisa move on" kata kak Bela
" Jangan pernah kakak ungkit lagi soal masa lalu. Karena semua orang punya masa lalu, emang masa lalu saya mungkin Arga tapi masa depan saya adalah orang yang selalu ada di dekat saya. Jadi tolong kakak sekarang pergi dari sini sebelum saya panggil yang lainnya
" Loh Bela , ngapain kamu ada di sini? Kamu kan masih di skorsing. Kamu datang ke sini cuma buat marahin Tari. Lebih baik kamu pergi sebelum gue panggil ketua OSIS dan keamanan OSIS , pergi ga,?Heh Bela denger ga? " kata kak Anisa
" Eh Nis, kok Lo gitu sih sama temen sendiri. Oke gue akan pergi tapi ingat ya Tari, kita belum selesai. Kamu harus ngerasain apa yang gue rasain " kata kak Bela sambil pergi
Tari mematung di tempatnya. Kalimat terakhir Kak Bela seolah menggantung di udara, menciptakan getaran dingin yang lebih menusuk daripada AC ruangan. Tari menatap punggung Kak Bela yang menjauh dengan perasaan yang sulit didefinisikan—ada rasa sesak, tapi juga ada rasa muak yang sudah sampai di ubun-ubun.
"Kamu harus ngerasain apa yang gue rasain."
Kalimat itu terngiang berulang kali di kepala Tari seperti kaset rusak. Tari menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. Tangannya sedikit gemetar saat ia merapikan helai rambutnya yang tertiup angin.
Tari bukan tipe orang yang hobi cari musuh, tapi entah kenapa, logika "korban" yang dibawa Kak Bela justru terasa seperti beban yang salah alamat. Tari hanya ingin fokus pada Pensi, fokus pada Ramdan, tapi kenapa drama picisan seperti ini selalu saja menyeretnya masuk ke dalam pusaran?
"Tar? Lo nggak apa-apa?" Suara Kak Anisa memecah lamunan Tari.
Tari mengerjapkan mata, lalu tersenyum tipis senyum yang dipaksakan untuk menutupi rasa cemasnya. "Nggak apa-apa, Kak. Cuma... aku bingung aja. Emangnya apa yang dia rasain sampai aku harus nanggung semuanya?"
Kak Anisa langsung memeluknya erat sekali dan itu membuat Tari nyaman. Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam mushola dan shalat duha bersama.
Tari baru saja menyelesaikan doa terakhirnya. Suasana mushola yang tenang perlahan mulai ditinggalkan satu per satu oleh panitia yang akan bersiap menuju aula. Kak Anisa sudah berdiri lebih dulu, merapikan mukenanya sambil menunggu Tari.
"Tar, yuk? Setengah jam lagi rapat dimulai. Kita harus nyiapin absen sama berkas juknis di meja depan," ajak Kak Anisa lembut.
Tari mengangguk, namun tangannya tertahan di saku tas OSIS-nya. Ia teringat ucapan Ramdan lewat video call tadi subuh.
"Di saku tas OSIS kamu, saya ada selipin sesuatu kemarin. Nanti buka kalau kamu ngerasa bosen atau capek pas Rapat Akbar..."
Perlahan, Tari menarik sebuah amplop kecil berwarna biru dongker. Tekstur kertasnya premium, khas barang-barang milik Ramdan. Di sudut amplop itu, ada tulisan tangan yang sangat rapi dan tegas: 'Hanya dibuka saat variabel tekanan mencapai titik jenuh. - R'
Tari tersenyum tipis. Cowok itu memang anomali. Bahkan saat raganya ada di ribuan kilometer jauhnya, dia masih sempat-sempatnya meninggalkan "sesuatu" untuk menjaga mental Tari tetap stabil di sekolah.
"Apaan tuh, Tar? Surat cinta dari Waketos?" goda Kak Anisa yang ternyata memperhatikannya.
Tari langsung memasukkan kembali amplop itu dengan wajah memerah. "Ih, Kak Anisa! Bukan... katanya ini variabel kejutan kalau aku capek rapat nanti."
"Duh, emang ya... si Kulkas kalau udah perhatian, cara mainnya beda kelas," Kak Anisa terkekeh sambil merangkul bahu Tari keluar mushola.
Mereka berjalan menuju Aula Kusuma Bangsa. Di luar, matahari mulai naik, menyinari lapangan sekolah yang masih tampak tenang. Tim vendor panggung dikabarkan baru akan datang siang nanti setelah Dzuhur, jadi untuk saat ini, semuanya tampak terkendali. Namun, Tari tahu, Rapat Akbar jam 08.30 nanti akan menjadi penentu apakah persiapan mereka benar-benar sudah mencapai angka 100%.
Dengan amplop biru di sakunya dan doa yang masih membekas di hati, Tari melangkah mantap menuju aula.
"Ndan, aku buka amplop ini nanti ya... pas aku bener-bener butuh kamu," batinnya.
Tari menarik napas dalam-dalam sebelum benar-benar menginjakkan kaki di lantai marmer aula yang luas itu. Dari kejauhan, ia bisa melihat Raihan sudah sibuk menata kabel proyektor, sementara para guru mulai mengisi barisan kursi VIP. Suasana yang tadinya tenang di mushola, kini perlahan tergantikan oleh dengung suara panitia yang mulai berdatangan.
Tari menyentuh saku tasnya sekali lagi. Amplop biru dari Ramdan terasa seperti tameng tak kasat mata yang melindunginya dari sisa-sisa kata beracun Kak Bela tadi.
“Variabel tekanan...” Tari membatin, mengulang tulisan tangan Ramdan.
Baginya, tekanan itu bukan hanya soal rapat besar yang ada di depan mata, tapi juga soal rahasia masa lalunya dengan Arga yang tiba-tiba ditarik paksa ke permukaan oleh Bela. Tari tahu, hari ini bukan sekadar tentang seberapa teliti ia mencatat notulensi, tapi tentang seberapa kuat ia berdiri tegak saat badai mulai datang dari berbagai arah.
Di Kalimantan, mungkin Ramdan sedang beradu logika dengan ratusan soal rumit. Namun di sini, di Aula Kusuma Bangsa, Tari sadar ia sedang memulai ujiannya sendiri—ujian tentang keberanian dan kesetiaan pada frekuensi yang sudah ia pilih.
Tari menegakkan punggung, memasang raut wajah profesional yang ia pelajari dari Ramdan, lalu melangkah menuju meja sekretaris. Persidangan logika dan perasaan, secara resmi... dimulai.
Kira-kira isi amplop biru dari Ramdan itu apa ya? Apakah rumus matematika buat ngilangin stres, atau ada sesuatu yang jauh lebih romantis? Coba tulis prediksi kalian di kolom komentar! 👇