Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Darah di Atas Salju
Pintu kamar utama tertutup dengan dentuman pelan yang menggema, meninggalkan Kayra dalam keheningan yang mendadak terasa mencekam. Aroma kayu cendana yang tadi menenangkan kini bercampur dengan desakan adrenalin.
Kayra tidak membuang waktu. Meski tubuh bagian bawahnya masih memprotes dengan rasa nyeri yang berdenyut setiap kali ia bergerak, ia memaksa dirinya turun dari ranjang.
Ia melangkah tertatih menuju kamar mandi, membersihkan diri secepat mungkin, dan mengenakan pakaian taktis ringkas yang telah disiapkan Enzo di lemari. Sebuah sweter turtleneck hitam dan celana kargo senada.
Di cermin, ia melihat lebam kemerahan di perpotongan lehernya, tanda permanen dari intensitas Harry semalam. Ia menutupinya dengan kerah sweter, lalu menyambar tas medis dan wadah pendingin berisi serum Genesis.
Di luar, suara deru mesin kendaraan berat mulai terdengar samar, membelah kesunyian pegunungan Alpen.
Kayra melangkah ke ruang tengah tepat saat Enzo masuk dengan nampan sarapan. Pria itu tampak terkejut melihat Kayra sudah berdiri tegak, meski wajahnya sedikit pucat.
"Dokter, Tuan Harry meminta Anda tetap di kamar," ujar Enzo formal, namun ada gurat kecemasan di matanya.
"Aku tidak bisa makan dengan tenang sementara kalian bersiap untuk mati di luar sana, Enzo," jawab Kayra tegas. Ia meraih sepotong roti dari nampan dan mengunyahnya cepat demi asupan energi. "Di mana Harry?"
"Di balkon pengawas sayap timur. Luca mengirimkan dua unit snowmobile dan satu truk taktis. Mereka tidak menggunakan jalur utama, mereka mendaki lewat tebing belakang."
Kayra segera berlari, setengah terpincang, menuju sayap timur. Di sana, ia menemukan Harry sedang meneropong lembah bawah.
Pria itu sudah mengenakan rompi antipeluru, dengan senapan runduk atau sniper rifle, bersandar di pagar balkon. Aura kelembutan yang menyelimutinya tadi pagi telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh kegelapan yang dingin dan mematikan.
"Kau keras kepala, Dokter," ujar Harry tanpa menoleh. Ia tahu itu Kayra hanya dari suara langkah kakinya.
"Aku partner-mu, ingat?" Kayra berdiri di sampingnya, mengabaikan angin kencang yang menusuk tulang. "Apa rencananya?"
Harry menurunkan teropongnya dan menatap Kayra. Ada kilat kemarahan karena Kayra mengabaikan perintahnya untuk istirahat, namun ada juga binar kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan.
"Mereka mengira badai salju ini akan menutupi pergerakan mereka. Mereka salah. Aku akan menahan mereka di celah tebing sempit sebelum mereka mencapai perimeter pagar. Enzo akan menangani sisanya dari menara barat."
"Harry, luka perutmu belum sepenuhnya pulih untuk menahan hentakan senjata berat," Kayra memperingatkan, matanya tertuju pada senapan besar di samping Harry.
"Maka kau harus berada di belakangku untuk memastikan aku tidak jatuh, Kayra," jawab Harry pendek. Ia kembali ke posisinya, membidik ke arah titik hitam yang bergerak di kejauhan salju.
DUAR!
Suara tembakan pertama memecah udara. Kayra tersentak, namun ia tetap berdiri di sana. Ia melihat salah satu kendaraan di bawah sana tergelincir dan meledak.
Harry bekerja dengan presisi seorang malaikat maut. Setiap tarikan pelatuk berarti satu nyawa lawan melayang. Namun, Kayra bisa melihat bahu pria itu menegang, dan sesekali mengatupkan rahangnya menahan perih di perutnya setiap kali senjata itu menghentak.
Kayra tidak tahan melihatnya. Ia melangkah maju, berdiri di sisi Harry yang masih fokus membidik melalui celah lensa teleskopiknya.
Dengan gerakan lembut yang kontras dengan kekacauan di luar sana, Kayra meletakkan telapak tangannya di punggung tegap Harry, memberikan kehangatan kecil di tengah embusan angin salju yang menusuk.
"Harry, cukup," bisik Kayra tepat di dekat telinga pria itu, suaranya lembut namun penuh penekanan. "Jangan paksa dirimu untuk menahan semua hentakan itu sendirian. Kau bukan mesin, kau manusia yang baru saja kujahit kembali."
Harry tidak melepas bidikannya, namun rahangnya yang kaku perlahan mengendur. "Aku harus menyelesaikan ini, Kayra. Jika satu saja dari mereka lewat—"
"Aku tahu kau ingin melindungiku," potong Kayra pelan, ia menggeser tangannya untuk mengusap bahu Harry yang mengeras. "Tapi aku lebih butuh kau tetap hidup dan bisa berdiri tegak setelah ini, daripada melihatmu menjatuhkan seratus orang tapi berakhir dengan luka yang terbuka lagi. Ingat apa yang kau katakan semalam? Kau adalah rumahku sekarang. Rumah tidak boleh runtuh, Harry."
Mendengar kalimat itu, Harry tertegun sejenak. Ia menurunkan senjatanya sedikit, memutar kepalanya untuk menatap Kayra. Di tengah desing peluru yang sesekali menghantam dinding luar, ia melihat mata Kayra yang jernih, penuh dengan kekhawatiran yang tulus.
"Kau sangat pandai mengaturku, Dokter," gumam Harry dengan senyum tipis yang tampak lelah namun bahagia.
"Karena hanya aku yang tahu seberapa besar keras kepalamu," balas Kayra sambil memberikan remasan lembut di bahu Harry. "Berikan senapan ini pada Enzo. Kau ambil pistolmu dan pimpin dari dalam saja. Kumohon, lakukan ini untukku."
Harry menatap Kayra selama beberapa detik, lalu menghela napas pasrah. Ia menarik Kayra ke dalam dekapan singkat, mencium pelipisnya dengan cepat. "Hanya karena kau yang memintanya, Sayang. Hanya karena kau."
Harry akhirnya memberikan isyarat kepada Enzo yang berada di menara pengawas melalui earpiece-nya. Dengan berat hati, ia menyerahkan senapan runduk kaliber besar itu kepada salah satu penembak cadangan Marcello dan menarik pistol semi-otomatisnya dari sarung di pinggang.
"Enzo, ambil alih perimeter luar. Aku akan mengamankan Dokter di titik evakuasi sayap barat!" perintah Harry dengan nada yang kembali dingin, namun tangannya tidak pernah melepaskan genggaman pada jari-jari Kayra.
Mereka mulai bergerak menyusuri koridor Villa de Nebbia yang kini dipenuhi suara benturan logam dan tembakan yang menggema dari lantai bawah. Harry bergerak di depan, tubuhnya menjadi perisai hidup bagi Kayra, setiap sudut ruangan diperiksanya dengan kewaspadaan predator yang kembali bangkit.
Namun, Kayra bisa merasakan genggaman Harry sedikit mengerat setiap kali pria itu harus melakukan gerakan mendadak, luka di perutnya jelas sedang memprotes keras.
"Tetap di belakangku, Kayra. Jangan lepaskan bajuku," bisik Harry saat mereka mencapai pintu baja yang menuju area helipad rahasia.
Tepat saat itu, jendela kaca di ujung lorong pecah berkeping-keping. Dua orang tentara bayaran Luca berhasil masuk menggunakan tali fast-rope. Sebelum mereka sempat mengangkat senjata, Harry sudah bereaksi.
Bang! Bang!
Dua tembakan presisi menjatuhkan mereka seketika. Namun, daya hentak pistol dan gerakan cepat itu membuat Harry tersentak kecil, wajahnya memucat dan tangannya menekan perut kiri yang kini mulai terasa hangat oleh darah yang kembali merembes.
"Harry!" Kayra menahan tubuh Harry agar tidak limbung.
"Aku ... tidak apa-apa," desis Harry, suaranya sedikit tertahan oleh rasa perih. Ia menatap Kayra, memberikan seringai tipis yang berusaha menenangkan. "Jahitanmu kuat, Dokter. Hanya sedikit rembesan. Kita hampir sampai."
Harry menarik Kayra masuk ke dalam lift servis yang akan membawa mereka langsung ke landasan. Di dalam ruang sempit yang bergerak turun itu, Harry menyandarkan punggungnya ke dinding lift, napasnya memburu. Kayra segera mendekat, tidak memedulikan guncangan lift, dan memeriksa perban di balik kemeja Harry.
"Kau keras kepala yang paling kucintai, kau tahu itu?" bisik Kayra sambil menekan luka Harry dengan sapu tangan taktisnya.
Harry menatapnya, ada binar kebahagiaan di tengah rasa sakitnya. "Kucintai? Itu kata baru yang sangat kusukai, Kayra."