Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin hancur
Setelah kepergian Gavin , Kanaya tampak hanya termenung di teras rumah. Kanaya terus mengingat kejadian yang baru di alaminya bersama Gavin, bagaimana ia yang selalu lupa diri saat bersama Gavin, dan bagaimana ia merasakan ketulusan dari pemuda itu.
Juga bagaimana hatinya mulai merasakan kehilangan saat kepergian pria itu. Entah ada apa dengan dirinya, ia mulai merasa nyaman dengan pemuda yang terkenal dengan julukan playboy kampus itu, di saat dirinya seharusnya lebih nyaman bersama dengan kekasihnya saat ini, yaitu Raihan.
Kanaya akhirnya merebahkan tubuhnya di ranjang dan mencoba melupakan bayang- bayang Gavin yang terus menghantuinya, ia harus melupakan pria itu, karna Kanaya tak mungkin mencintai pria yang bahkan tak pernah memiliki komitmen itu. Lagi pula, bukankah sudah ada Raihan yang menjadi kekasihnya saat ini?
Sementara Gavin, pemuda itu tampak frustrasi, Gavin terus membawa mobilnya dengan kecepatan penuh, agar ia bisa menghilangkan bayang-bayang Kanaya, yang ternyata semakin lama, justru semakin sering ia lihat dalam pikirannya.
"Ah shit!!"umpat Gavin, sambil memukul setir mobilnya.
"Anjing! Kenapa sih, susah banget lupain lo Nay, sial!"teriak Gavin lagi, sambil meremas kepalanya dengan sebelah tangan.
Gavin membawa mobil nya ke arah Club, dengan harapan ia bisa melupakan semua hal yang membuatnya pusing memikirkannya. Gavin pun mengambil ponselnya untuk mengabari Alex agar menyusulnya ke club yang biasa mereka kunjungi malam ini.
Begitu tiba di club, Gavin langsung menuju meja bar untuk memesan minuman favoritnya, minuman yang bisa menghilangkan kesadarannya.
Tak lama setelah kedatangan Gavin, Alex pun tiba dengan tergesa, dia memang selalu di buat khawatir bila sahabatnya itu sudah menelepon dan menyuruhnya untuk datang ke club seperti ini, karena biasanya, dirinyalah yang lebih dulu berinisiatif untuk mengajak Gavin lebih dulu.
Beberapa saar berlalu, terlihat Gavin telah menghabiskan dua gelas minuman dengan kadar alkohol cukup tinggi .Alex langsung menepuk bahu sahabatnya itu.
"Ada apa lagi sih nyet?"tanya Alex, dan duduk di sebelah Gavin. Gavin hanya melihatnya sekilas kemudian kembali meneguk satu gelas minuman lagi, yang langsung ia tandaskan, membuat Alex menggelengkan kepala.
"Si Kanaya lagi?"tanya Alex kembali bertanya, meski Gavin tak juga menjawabnya. Gavin terlihat menuangkan kembali minumannya, namun sebelum ia sempat mengambil gelas minuman itu Alex terlebih dulu mengambilnya.
"Gav, lo dengerin gue ya, sebenarnya apa sih, yang buat lo kayak gini, hah?"
"Lo cinta sama Kanaya, terus karena Kanaya sekarang sama Raihan lo jadi gini, gitu?"
"Denger ya bro cewek tu banyak, yang lebih cantik dari Kanaya juga banyak. Ehm, walaupun jarang juga sih. Ehm, tapi kalo kita nyari, adalah yang lebih cantik, lebih sexy, lebih oke segalanya, trus lo ngapain sampe kayak gini bro?"
"Ayolah bro, lo itu Gavindra Wijaya, sekali kedip cewek langsung ngangkang buat lo, apa sih yang bikin lo jadi kaya gini, hah?"tanya Alex beruntun, mungkin Alex sudah sangat jengah dengan tingkah sahabatnya ini.
Sementara Gavin hanya diam sambil menundukan kepalanya, Gavin masih sangat sadar dan ia sangat mengerti dengan apa yang Alex ucapkan,nnamun Gavin sendiri juga tak mengerti dan apa yang ia rasakan dan lakukan saat ini.
"Bro, kalau memang Kanaya udah sama Raihan, lo ikhlasin dia, lo lupain dia, lo bisa cari cewek lain yang lebih baik buat lo dari dia, jangan terus kaya gini Gav."
"Sekarang lo mau sama siapa, Elsa, Wina, Hera, Maudy? Gue bisa bikin mereka ada disini sekarang juga, atau mau yang lain, lo tinggal bilang siapa cewek yang lo mau, gue bakal bikin dia bertekuk lutut sama lo."Lanjut Alex.
"Kanaya, gue maunya... Kanaya, Lex."gumam Gavin yang masih terdengar jelas oleh oleh Alex.
Bugh.
Alex memukul bahu Gavin, membuat Gavin hampir jatuh dari kursinya, namun beruntung ia masih bisa menahannya.
"Anjing, lo denger gak sih yang gue omongin, cewek lain njing, cewek lain! Bukan Kanaya lo itu!"umpat Alex, sambil menyugar rambutnya frustrasi.
"Mimpi apasih gue, punya temen goblok kayak lo Gav, ah shit! Kesel gue."Alex akhirnya terus mengumpat ,sementara Gavin terus minum, sampai akhirnya ia benar-benar kehilangan kesadarannya.
Pagi hari ini Kanaya sudah siap dengan pakaian casualnya, Kanaya juga sudah memasak nasi goreng untuk sarapannya, bu Lastri ternyata belum bisa masuk kerja hari ini, sehingga Kanaya harus menyiapkan segala kebutuhannya sendiri.
Saat Kanaya akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, terdengar suara bel rumahnya berbunyi membuatnya terpaksa berdiri, dan berjalan ke arah pintu.
"Nay."Sapa Raihan ketika Kanaya membuka pintu rumah, membuat Kanaya terpaku. Setelahnya, Kanaya hanya diam dan menatap Raihan.
"Berangkat bareng ya, aku sengaja jemput kamu."ucap Raihan dengan senyumannya, seolah semuanya baik-baik saja.
"Gue belum sarapan, mau sarapan dulu."Jawab Kanaya, kemudian berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Raihan. Namun Raihan langsung mengejar, tak membiarkan kanaya meninggalkannya, dan akhirnya Raihan ikut duduk di meja makan di samping Kanaya.
"Nay, kamu masih marah ya? Maafin aku ya, aku beneran lost control kemarin Nay."ucap Raihan, sementara Kanaya kembali memakan sarapannya dengan tenang seolah mengabaikan Raihan.
"Aku tau aku salah, aku minta maaf Nay, aku terlalu cemburu liat kamu sama mantan kamu itu."Lanjut Raihan lagi, namun Kanaya tak merespon, hingga beberapa saat kemudian suara Kanaya terdengar.
"Kalo lo gak percaya sama gue, terus ngapain kita pacaran, mending kita gak usah pacaran Rai."
Degh
Raihan tercekat mendengar ucapan Kanaya, pemuda itu menggeleng pelan dengan raut panik.
"Nay, please... aku bukan gak percaya sama kamu sayang, aku kemarin bener-bener cuma karna marah aja liat kamu sama dia, please Nay, kan kamu bilang udah mau berusaha nerima aku, jangan kaya gini sayang,aku mohon. Maafin aku yaa, maksud aku bukan kayak gitu. Aku bukan gak percaya sama kamu, sayang. Beneran."ucap Raihan sambil meraih sebelah tangan Kanaya.
Kanaya menarik nafas dalam, lalu menatap lekat Raihan. Sedang Raihan terlihat gugup."Oke, kali ini aku maafin kamu, tapi kalo kamu bikin aku kecewa lagi, kita selesai."tegas Kanaya.
Raihan menggeleng pelan, kemudian mengangguk."Oke, oke Nay. Aku janji, aku gak bakal kayak kemarin lagi, aku gak bakal bikin kecewa kamu lagi." Ucap Raihan terlihat sungguh-sungguh.
Kanaya kembali menarik nafas dalam, dan menatap dalam kekasihnya itu." Rai, aku pernah kecewa, jangan bikin aku kecewa lagi untuk yang kedua kalinya, bisa?" Tanya-nya pelan.
Raihan langsung mengangguk." Iya sayang, aku janji, aku gak akan pernah ngecewain kamu." Ujarnya, namun entah kenapa ada keraguan di hati Kanaya saat mendengar ucapan kekasihnya itu.
-Bersambung