Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
“Jericho…” gumam Sisi tak percaya.
Wajah Jericho menggelap, dipenuhi amarah yang tertahan. Tanpa banyak bicara, ia menarik Sisi masuk ke dalam mobil lalu membanting pintunya.
“Kita perlu bicara,” ujar Jericho dengan suara tegang.
Mobil langsung melaju meninggalkan area parkir.
Pikiran Sisi kosong.
Ia merasa sudah tamat.
Bagaimana ia akan menjelaskan ini pada Lucien? Pria itu pasti sudah mengamuk sekarang. Apa yang akan dipikirkannya? Sial. Sisi yakin Lucien akan langsung menceraikannya begitu mengetahui hal ini.
Jericho menghentikan mobil di tepi sungai dan turun, menatap permukaan air yang berkilauan di bawah cahaya lampu.
Tempat favorit mereka berdua.
Sisi ikut turun dan berdiri di belakangnya.
“Jericho, bagaimana bisa kau melakukan hal segila itu di depan umum?” tanya Sisi dengan nada menuduh.
“Gila?” Jericho berbalik, suaranya mengaum penuh kemarahan.
“Bagaimana denganmu?” Jericho melangkah mendekat. Sisi mundur setengah langkah, membaca kemarahan dan luka yang jelas di mata pria itu.
“Apa reaksimu kalau melihat orang yang sangat kau cintai bersama orang lain? Dan yang lebih parah menikah tiba-tiba dengan orang lain?!”
Sisi menunduk.
Ia tidak sanggup menatap Jericho. Rasa malu dan bersalah menyesakkan dadanya. Ia telah menyakiti Jericho, dan mungkin akan terus melakukannya.
“Aku sudah bilang kita tidak ditakdirkan bersama. Aku memberimu kesempatan karena aku kasihan padamu,” ucap Sisi dengan suara berat. “Tapi sekarang aku sudah punya suami. Jadi hentikan ini.”
Aku mencintaimu, Jericho. Tapi aku tidak ingin menyakitimu lebih dalam lagi. Lebih baik satu luka sekarang daripada ribuan luka nanti.
Sisi menahan air mata agar tidak jatuh. Ia harus kuat.
“Tidak ditakdirkan bersama?” Jericho tertawa pahit sambil menatap sungai.
“Lalu bagaimana dengan Lucien? Apa kau tahu orang seperti apa dia?”
“Aku tahu,” jawab Sisi pelan sambil menarik napas dalam.
Mata Jericho berkaca-kaca, membuat hati Sisi remuk. Ia ingin memeluk pria itu dan berkata bahwa semua ini hanya lelucon kejam. Tapi itu tidak mungkin. Ini kenyataan.
Jericho akan semakin hancur jika terus berada di sisinya, dan Sisi tidak sanggup menanggungnya.
“LALU KENAPA?” teriak Jericho tiba-tiba.
“KENAPA KAU TETAP MENIKAH DENGANNYA KALAU KAU TAHU? KENAPA, SISI? KENAPA DIA? KENAPA BUKAN AKU YANG MENCINTAIMU SEPENUH HATI? KENAPA DIA, YANG BAHKAN TIDAK SERIUS DENGAN PERNIKAHAN ATAU DENGANMU? ATAU KAU MEMANG SAMA SAJA DENGAN WANITA-WANITA LAIN, MAKANYA DIA MAU MENIKAHIMU KARE--”
PLAK!
Tangan Sisi melayang tanpa ia sadari.
Sakit.
Sangat sakit.
Bukan karena tamparan itu, melainkan karena kata-kata Jericho berasal dari kebenaran yang tidak ingin ia dengar.
Sisi mengepalkan tangannya dan menatap Jericho dengan tatapan kosong.
“Ya,” ucapnya dingin. “Aku memang seperti itu. Aku sama seperti wanita-wanita lain. Jadi berhenti menganggapku sempurna.”
Sial. Rasanya sakit sekali.
Sisi berbalik dan mulai meninggalkan Jericho. Ia tidak pernah menyangka hubungan mereka akan berakhir seperti ini. Apa ia berharap Jericho menerimanya begitu saja? Bodoh jika berpikir demikian.
“Kau pikir dengan berkata begitu aku akan menyerah?” suara Jericho terdengar di belakangnya.
“Tidak, Sisi. Aku tidak akan berhenti mencintaimu, meskipun kau sudah menikah.”
“Berhenti mencintaiku, Jericho,” jawab Sisi dengan nada final. Untung suaranya tidak bergetar.
Air mata menggenang di pelupuk matanya.
Dan Sisi melangkah pergi.
Maaf, Jericho. Di duniaku, tidak ada cinta, yang ada hanya kebencian, batinnya putus asa.
***
“Akhirnya kau pulang,” ujar Lyra begitu menyadari kehadiran Sisi.
Ia berdiri cepat, matanya meneliti wajah Sisi yang jelas menyimpan masalah.
“Ibu, Lyra,” sapa Sisi pelan sambil mengangguk meminta maaf. “Maaf sudah membuat kalian khawatir,” ucapnya lesu.
Lady mendekat dengan wajah cemas.
“Tidak apa-apa. Yang penting kau sudah di rumah,” katanya lembut. Lalu ia menunjuk ke arah lantai atas.
“Tapi bisakah kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?”
Sisi langsung mengerti maksudnya.