Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Pergaulan Yang Tidak Diinginkan
Matahari sudah mulai menyinari gedung kantor pemerintah daerah di pusat kota Malang ketika Sultan tiba untuk menghadiri rapat bulanan tentang pengembangan industri kreatif Jawa Timur. Dia mengenakan jas hitam yang rapi dengan kemeja putih bersih, membawa tas kerja yang berisi berkas-berkas penting serta proposal program yang telah disiapkan dengan cermat selama beberapa minggu terakhir. Udara di dalam gedung sejuk dan terawat dengan baik, dengan aroma bunga segar yang berasal dari vas-vas bunga yang ditempatkan di setiap sudut koridor.
Setelah melakukan registrasi dan mengambil materi rapat, Sultan masuk ke ruang rapat yang sudah diisi oleh beberapa peserta lainnya. Dia mengenali sebagian dari mereka – ada dari dinas pariwisata, dari asosiasi seniman lokal, serta dari beberapa perusahaan besar yang mendukung program kreatif daerah. Sultan memilih tempat duduk di bagian tengah ruangan, dekat dengan proyektor dan layar besar yang akan digunakan untuk presentasi.
Tak lama kemudian, seorang wanita muda dengan penampilan anggun memasuki ruangan. Dia mengenakan blazer warna biru muda dengan rok panjang hitam, rambut coklat kemerahan yang diatur rapi, dan tas tangan yang terlihat mahal. Dia melihat sekeliling ruangan dengan tatapan yang percaya diri sebelum berjalan mendekati Sultan dengan langkah yang anggun.
“Pak Sultan, bukan?” ujarnya dengan suara yang merdu dan penuh dengan daya tarik, memberikan senyum yang lebar saat menjangkau tangan Sultan untuk bersalaman. “Saya Rina Wijaya dari PT. Citra Kreatif Indonesia. Saya sudah sering mendengar nama Anda dan karya yang Anda lakukan untuk mendukung pelaku usaha kreatif di daerah ini.”
Sultan berdiri dan memberikan jabat tangan yang sopan. “Senang bertemu dengan Anda, Bu Rina,” jawabnya dengan suara yang ramah namun tetap profesional. “Saya juga pernah mendengar tentang perusahaan Anda yang telah membantu banyak UMKM kreatif di seluruh Indonesia.”
Rina tersenyum dan mengambil tempat duduk tepat di sebelah Sultan, meskipun masih ada banyak kursi kosong di bagian lain ruangan. Dia segera membuka tasnya dan mengambil beberapa brosur perusahaan serta kartu nama yang diberikan kepada Sultan dengan lembut. “Kami sedang mencari mitra lokal untuk program baru kami tentang pengembangan produk kreatif berbasis budaya,” ujarnya dengan suara yang penuh semangat, mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Sultan sehingga aroma parfum yang kuat“Mari kita gunakan waktu istirahat ini untuk berbicara lebih jauh tentang kemungkinan kerja sama,” ujar Rina dengan senyum yang menggoda, menyentuh lengan Sultan dengan lembut saat mereka berjalan ke arah kantin. “Saya yakin kita bisa menemukan banyak hal yang sama dan mengembangkan sesuatu yang luar biasa bersama-sama.”nya bisa tercium jelas. “Saya merasa kerja sama dengan Anda dan program yang Anda kelola akan sangat bermanfaat bagi kedua belah pihak.”
Sultan menerima brosur dengan sopan dan menyimpannya di tasnya. “Saya akan membacanya dengan saksama setelah rapat selesai, Bu Rina,” ujarnya dengan nada yang tetap profesional. “Jika memang ada kesempatan untuk kerja sama yang saling menguntungkan, saya akan menghubungi Anda melalui kantor saya.”
Namun Rina tampaknya tidak puas dengan tanggapan yang sederhana itu. Dia mulai mengajukan berbagai pertanyaan tentang program yang sedang dijalankan Sultan, terkadang menyela pembicaraannya dengan komentar yang menunjukkan minat yang lebih dari sekadar kerja sama bisnis. Saat istirahat rapat dimulai, dia segera mengajak Sultan untuk minum kopi bersama di kantin gedung.
“Mari kita gunakan waktu istirahat ini untuk berbicara lebih jauh tentang kemungkinan kerja sama,” ujar Rina dengan senyum yang menggoda, menyentuh lengan Sultan dengan lembut saat mereka berjalan ke arah kantin. “Saya yakin kita bisa menemukan banyak hal yang sama dan mengembangkan sesuatu yang luar biasa bersama-sama.”
Sultan dengan sopan menarik lengan nya sedikit menjauh dan memberikan senyum yang ramah namun tetap menjaga jarak. “Saya sangat terbuka untuk membahas kerja sama bisnis, Bu Rina,” jawabnya dengan suara yang jelas dan tegas. “Namun saya rasa kita bisa melakukan diskusi tersebut di kantor saya atau melalui pertemuan resmi yang diatur dengan baik. Saya ingin memastikan bahwa semua hal berjalan dengan profesional dan sesuai dengan prosedur yang berlaku.”
Rina sedikit terkejut dengan tanggapan yang tegas namun tetap sopan dari Sultan, namun dia tidak menyerah begitu saja. Saat mereka duduk di meja kantin dan menunggu kopi yang dipesan, dia mulai bercerita tentang dirinya sendiri – bagaimana dia berhasil membangun karir yang sukses di dunia bisnis sejak muda, bagaimana dia memiliki banyak minat pada seni dan kreatif, serta bagaimana dia mencari pasangan kerja yang tidak hanya profesional namun juga memiliki visi yang sama dengan dirinya.
“Saya sangat menghargai orang-orang yang memiliki semangat kerja yang tinggi dan dedikasi pada apa yang mereka lakukan,” ujar Rina dengan tatapan yang intens pada Sultan. “Anda adalah salah satu orang yang paling inspiratif yang saya temui dalam beberapa waktu terakhir, Pak Sultan. Saya yakin kita bisa mencapai banyak hal jika bekerja sama – baik dalam bisnis maupun dalam hal lain.”
Sultan mengerti dengan jelas apa yang ingin disampaikan Rina. Dia mengambil napas dalam-dalam dan melihat langsung ke mata wanita tersebut dengan ekspresi yang penuh keseriusan. “Terima kasih atas pujian yang Anda berikan, Bu Rina,” ujarnya dengan suara yang tenang namun tegas. “Saya sangat menghargai penghargaan itu. Namun saya ingin Anda tahu bahwa saya sudah memiliki istri yang saya cintai dengan sepenuh hati, dan kami segera akan menjadi orang tua. Semua perhatian dan fokus saya saat ini adalah pada pekerjaan saya dan keluarga saya.”
Rina menunjukkan ekspresi sedikit kecewa namun tetap menjaga kesopanan. “Maaf jika saya memberikan kesan yang salah, Pak Sultan,” ujarnya dengan suara yang sedikit malu. “Saya tidak bermaksud untuk mengganggu kehidupan pribadi Anda. Saya hanya merasa bahwa kita memiliki potensi yang besar untuk bekerja sama dan mungkin mengembangkan hubungan yang lebih dalam.”
“Saya menghargai minat Anda pada kerja sama bisnis, Bu Rina,” jawab Sultan dengan suara yang tetap ramah namun jelas. “Dan saya akan dengan senang hati mempertimbangkan proposal yang Anda berikan. Namun saya harus menekankan bahwa hubungan kita akan selalu terbatas pada kerja sama profesional saja. Saya sangat mencintai istri saya dan tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bisa menyakiti dia atau membahayakan hubungan kita.”
Pada saat itu, kopi yang mereka pesan datang dan mereka melanjutkan pembicaraan dengan fokus pada hal-hal yang berkaitan dengan bisnis dan kerja sama potensial di masa depan. Rina tampaknya telah memahami batasan yang ditetapkan Sultan dan mulai berbicara dengan lebih profesional. Mereka membahas tentang program pendukung pelaku usaha kreatif, tentang bagaimana perusahaan Rina bisa berkontribusi dalam hal pendanaan dan pemasaran, serta tentang kemungkinan untuk mengadakan lokakarya bersama bagi anak-anak muda yang berminat di bidang seni dan kreatif.