Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Detak Jantung Besi
BAB 22: Detak Jantung Besi
Suara truk trailer besar yang meraung di depan ruko pada pukul dua pagi memecah kesunyian gang. Nayla, yang hanya tidur tiga jam, segera berlari keluar dengan jaket tebalnya. Di atas bak truk itu, sebuah kotak kayu raksasa setinggi dua meter berdiri kokoh. Itulah Continuous Fryer—mesin penggorengan otomatis yang Nayla beli dengan hasil pinjaman bank dan seluruh sisa laba ekspornya.
"Hati-hati, Pak! Turunkan perlahan, ini jantung baru usaha kami!" seru Bagas mengarahkan operator crane kecil yang sudah disewa sebelumnya.
Proses instalasi mesin tersebut memakan waktu hampir sepuluh jam. Ruko yang tadinya terasa luas kini mendadak sesak oleh rangkaian pipa baja, kabel listrik industri, dan panel kontrol digital yang tampak rumit. Ibu-ibu karyawan yang datang untuk shift pagi berdiri terpaku di ambang pintu. Mereka menatap mesin perak mengilat itu dengan tatapan antara kagum dan cemas.
"Nay... kalau sudah ada mesin sebesar ini, apa Ibu-ibu masih dibutuhkan di sini?" tanya Bu RT pelan, suaranya mengandung kekhawatiran yang mendalam.
Nayla menoleh, ia melihat gurat kecemasan di wajah-wajah yang selama ini telah membantunya dari nol. "Ibu, dengarkan Nayla. Mesin ini hanya menggoreng. Ia tidak punya mata untuk memilih daun jeruk yang segar, ia tidak punya hidung untuk mencium aroma bumbu yang pas, dan ia tidak punya rasa kasih sayang saat membungkus basreng. Mesin ini ada supaya Ibu-ibu tidak perlu lagi berdiri di depan uap panas wajan berjam-jam sampai kakinya bengkak. Ibu-ibu sekarang akan naik level menjadi operator dan pengawas kualitas."
Meskipun Nayla mencoba menenangkan, suasana hari itu tetap terasa aneh. Saat mesin pertama kali dinyalakan, suaranya yang menderu stabil terasa sangat asing dibandingkan dengan suara sreeet wajan manual yang biasanya memenuhi ruko.
Ujian pertama datang saat batch pertama basreng keluar dari ban berjalan mesin tersebut. Warnanya kuning keemasan sempurna, sangat seragam. Namun, saat Nayla mencicipinya, ia tertegun.
"Ada yang salah, Gas," ujar Nayla sambil mengunyah perlahan. "Rasanya... terlalu 'bersih'. Tidak ada aroma sangit yang khas, dan bumbunya tidak menempel sekuat biasanya."
Bagas mengecek panel kontrol. "Suhu stabil di seratus tujuh puluh derajat, Mbak. Kadar minyak juga sangat rendah. Secara teknis, ini produk yang jauh lebih sehat."
"Tapi kita tidak menjual kesehatan semata, Gas. Kita menjual rasa matahari," jawab Nayla tegas. "Naikkan suhu sepuluh derajat di detik-detik terakhir penggorengan untuk menciptakan efek caramelized pada bumbunya. Dan ubah kecepatan ban berjalannya."
Perdebatan teknis antara Nayla dan Bagas berlangsung hingga sore. Nayla menolak menyerah pada standar pabrik. Ia ingin mesin itu mengikuti "rasa tangannya", bukan tangannya yang mengikuti kemauan mesin. Ia mencampur teknik manual—di mana bumbu tetap diulek kasar oleh Ibu-ibu—dengan teknik penggorengan otomatis.
Setelah percobaan ketujuh, barulah Nayla tersenyum. Teksturnya krispi, aromanya meledak, dan bumbunya mengunci kuat di setiap pori bakso goreng. "Ini dia. Ini baru Basreng Matahari."
Keberhasilan itu disambut sorak sorai. Ibu-ibu karyawan mulai berani mendekat dan belajar cara menekan tombol-tombol pada panel kontrol dengan bimbingan Bagas. Mereka merasa bangga; mereka bukan lagi buruh goreng, melainkan operator mesin di tahun 2026.
Namun, di balik kegembiraan itu, Ranti datang membawa kabar dari meja administrasi. "Nay, ada email dari Kementerian Perdagangan. Mereka mengundangmu untuk ikut dalam pameran Food Expo internasional di Dubai bulan depan. Mereka bilang, Basreng Matahari terpilih sebagai salah satu produk UMKM unggulan yang punya potensi ekspor global paling besar."
Dubai. Kota kemewahan, pusat perdagangan dunia. Nayla terduduk di samping mesin barunya yang masih hangat. Dari gang sempit, ke ruko, ke Australia, dan kini Dubai memanggilnya.
"Banyak orang takut pada kemajuan teknologi, takut bahwa mesin akan menggantikan manusia. Tapi hari ini saya belajar bahwa mesin hanyalah tubuh, sedangkan manusialah ruhnya. Tanpa ruh, mesin hanya akan menghasilkan produk yang hambar. Kami tidak akan membiarkan detak jantung besi ini menghilangkan kehangatan sinar matahari kami. Kami akan membawa teknologi ini untuk memberi makan lebih banyak orang, melintasi lebih banyak samudra. Dubai, tunggulah kami. Kami datang membawa aroma pedas dari sebuah ruko kecil yang tidak pernah berhenti bermimpi."