"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Sarapan & Kontrak Tertulis
"Ini roti atau batu bata?"
Elio mengetuk-ngetukkan roti panggang gandum itu ke piring porselen.
Tak. Tak. Tak.
Suaranya nyaring, memecah keheningan ruang makan Mansion Alger yang biasanya sunyi senyap seperti makam firaun.
Cayvion memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Lingkaran hitam di bawah matanya tercetak jelas, kontras dengan kulit wajahnya yang pucat.
Tidur nyenyak adalah kemewahan yang sudah punah sejak semalam, tepatnya sejak insiden perang bantal yang menyisakan bulu angsa terselip di sela-sela rambut mahalnya dan teriakan-teriakan melengking yang menembus dinding kedap suara.
"Makan saja, Elio. Jangan banyak protes," gumam Cayvion serak, menarik kursi di ujung meja—kursi kebesarannya.
Dia butuh kopi. Dia butuh ketenangan. Dia butuh keajaiban.
"Nggak bisa digigit, Pa. Gigi Elio masih gigi susu, nanti copot semua," bantah bocah itu datar, meletakkan roti keras itu kembali ke piring dengan wajah kecewa. "Papa sengaja ya mau bikin Elio ompong biar nggak ganteng lagi kayak Papa?"
Belum sempat Cayvion menyemburkan bantahan, bencana lain terjadi di sisi meja seberang.
PYAR!
Gelas kristal berisi susu cokelat tersenggol siku Elia yang terlalu semangat meraih toples selai stroberi di tengah meja. Cairan cokelat itu tumpah ruah, menggenangi meja marmer putih Italia, menetes deras ke lantai, dan nyaris mengenai celana kerja Cayvion.
"Ups. Tumpah," cicit Elia dengan mata bulat polos, tangannya menggantung di udara.
Bu Marta, yang berdiri kaku di sudut ruangan, memekik tertahan seolah melihat adegan pembunuhan. "Ya ampun! Marmernya! Itu marmer Carrara! Kalau kena noda susu cokelat susah hilang!"
"Bu Marta, tolong lap. Jangan teriak pagi-pagi," potong Hara cepat. Dia sigap mengangkat piring Elia sebelum ikut terkena banjir susu.
Hara tampak segar, sangat kontras dengan Cayvion yang seperti zombie. Wanita itu sudah rapi dengan seragam kerjanya, rambut dikuncir kuda, siap tempur menghadapi hari.
"Maaf, Mami. Licin," Elia memasang wajah memelas andalannya.
Cayvion menatap kekacauan itu dengan tatapan kosong.
Dulu, sarapannya adalah ritual suci yang hanya ditemani iPad berisi grafik saham dan kopi hitam single origin. Sekarang, ada roti keras, susu tumpah, pelayan yang histeris, dan dua minion berisik yang menguji kewarasannya.
Dia tidak tahan lagi. Rumah ini butuh hukum. Butuh undang-undang.
Cayvion mengambil map biru tebal yang sudah disiapkannya di kursi sebelah. Dia melemparnya ke meja, meluncur melewati toples selai, dan mendarat tepat di antara piring kotor Elio dan genangan susu yang belum dilap.
Brak.
"Apa ini?" tanya Hara sambil menyuapkan sesendok sereal kering ke mulut Elia supaya anak itu diam.
"Kitab suci rumah tangga ini," jawab Cayvion dingin. Dia menyeruput kopinya, satu-satunya hal waras di meja itu. "Baca. Tanda tangan. Sekarang."
Hara membuka map itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk membersihkan sisa susu di dagu Elia dengan tisu. Matanya memindai poin-poin yang dicetak tebal di atas kertas putih itu.
"Pasal satu," Cayvion mendiktekan tanpa melihat teksnya, dia yang mengetik sendiri semalam suntuk karena tidak bisa tidur. "Dilarang jatuh cinta. Pernikahan ini murni transaksi bisnis. Jangan terbawa perasaan mentang-mentang kita tinggal satu atap. Aku tidak butuh drama romansa picisan yang mengganggu kinerjaku."
Hara mendengus geli, matanya masih membaca. "Lanjut."
"Pasal dua," suara Cayvion makin tegas, menatap Hara tajam. "Di kantor, statusmu tetap asisten pribadi. Tidak ada perlakuan khusus. Jangan manja, jangan minta dijemput di lobi depan, dan jangan pamer cincin itu ke karyawan lain sebelum konferensi pers resmi besok."
Cayvion mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ingat, Hara. Kau dibayar mahal untuk jadi istri di atas kertas dan ibu bagi pewarisku. Bukan untuk jadi nyonya besar yang ongkang-ongkang kaki dan minta dilayani."
Elio yang sedang menggerogoti pinggiran roti berhenti mengunyah. Dia menatap bapaknya dengan tatapan menilai. "Papa galak banget. Nanti cepat tua lho. Mami bilang kalau orang suka marah-marah, nanti mukanya keriput kayak pantat ayam."
"Elio, bahasanya!" tegur Hara, tapi sudut bibirnya berkedut menahan tawa.
Hara mengambil pulpen dari saku blazernya. Dia sama sekali tidak terlihat tersinggung dengan isi kontrak itu. Malah, senyum miring terbit di bibirnya. Senyum meremehkan yang membuat Cayvion sedikit terganggu.
"Mana yang harus ditanda tangan? Sini," kata Hara santai. Dia membubuhkan tanda tangannya dengan gerakan cepat dan elegan di halaman terakhir.
"Bapak tidak perlu khawatir soal Pasal Satu," Hara menutup map itu dan menggesernya kembali ke arah Cayvion dengan ujung jari. Dia menatap mata suaminya itu lekat-lekat, tatapan menantang yang jarang dia perlihatkan di kantor.
"Selera saya itu Dokter. Pria yang hangat, humoris, dan murah senyum. Bukan kulkas dua pintu yang isinya cuma es batu dan ego tinggi seperti Bapak."
Alis Cayvion berkedut. "Kulkas?"
"Dua pintu," tegas Hara, menyindir tubuh besar dan sikap dingin Cayvion. "Jadi, Bapak aman. Hati saya tidak akan bergetar sedikitpun, meski Bapak telanjang dada di depan saya sekalipun."
"Mami bohong," celetuk Elia tiba-tiba, mulutnya penuh sereal. "Kemarin pas lihat Om Papa ganti baju di butik, muka Mami merah kayak kepiting rebus. Mami sampai nggak kedip."
"Elia! Itu karena AC-nya mati! Mami kepanasan!" bantah Hara panik, pipinya langsung bersemu merah padam. Pengkhianatan dari anak sendiri memang paling menyakitkan.
Cayvion menyeringai. Satu poin untuknya. "Oh? Jadi kau mengintipku, Nona Asisten?"
"Saya mengecek kelengkapan kemeja Bapak! Itu tugas asisten!" elak Hara, buru-buru berdiri dari kursi. "Sudah jam tujuh lewat sepuluh. Kita harus berangkat. Elio, Elia, ambil tas kalian. Bu Marta, tolong pastikan bekal mereka tidak ada kacangnya. Elio alergi kacang."
Hara berusaha mengalihkan topik, bergerak gesit memakaikan tas sekolah robot ke punggung Elio.
Cayvion menikmati kemenangan kecil itu. Dia mengambil map kontraknya, merasa puas.
Setidaknya, dia memegang kendali atas wanita ini.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan tiga detik.
Ting! Ting! Ting!
Ponsel Cayvion yang tergeletak di meja berbunyi bertubi-tubi. Bukan nada dering telepon biasa, tapi notifikasi pesan yang masuk beruntun seperti tembakan senapan mesin. Getarannya membuat sendok perak di sebelahnya berdenting.
Ting! Ting! Ting!
Cayvion mengerutkan kening.
Siapa yang berani membombardir ponsel pribadinya pagi-pagi begini? Karyawan yang punya nyawa rangkap?
Dia meraih ponsel itu dan melirik layar.
Notifikasi dari grup WhatsApp "Divisi Eksekutif"—grup non-resmi yang isinya para manajer hobi gosip, yang Cayvion ikutu diam-diam lewat akun kloningan untuk memantau moral karyawan.
Dia membuka pesan itu.
Darahnya langsung mendesir naik ke kepala. Rasa kantuknya hilang seketika digantikan amarah yang dingin.
Sebuah foto. Foto candid yang diambil dari jarak jauh, agak buram tapi cukup jelas.
Di foto itu, terlihat Hara sedang menggandeng dua anak kecil masuk ke dalam mobil hitam milik Cayvion di lobi apartemen lama mereka kemaren saat penjemputan.
Wajah Hara terlihat jelas dari samping. Wajah anak-anak terlihat samar tapi jelas bukan anak orang lain. Dan plat nomor mobil itu... B 1 CEO. Mobil dinas Cayvion yang paling dikenal.
Tapi yang membuat rahang Cayvion mengeras adalah caption di bawah foto itu yang dikirim oleh Manajer Pemasaran—orang yang paling bermulut besar di kantor.
Manajer Pemasaran: "OMG! BREAKING NEWS! Liat siapa yang dijemput mobil dinas Bos Besar di apartemen kumuh? Asisten Hara! Bawa anak pula! Janda anak dua?"
Pesan berikutnya muncul dengan cepat.
HRD Staff: "Gila... jadi selama ini Hara itu simpanan Bos? Pantesan karirnya mulus banget dan Pak Bos nggak pernah pecat dia. Ternyata 'servis' luar dalam."
Akuntan 2: "Sugar Baby jalur asisten. Fix ini mah skandal tahun ini. Istri bukan, pacar bukan, tapi fasilitas VVIP. Kasihan anak-anaknya, kecil-kecil udah diajak ibunya jadi parasit."
Cayvion mencengkeram ponselnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Layar ponsel itu nyaris retak.
"Ada apa, Pak?" tanya Hara yang menyadari perubahan aura di ruangan itu. Dia baru saja selesai mengelap sisa susu di meja. "Kenapa muka Bapak seram begitu? Ada saham anjlok lagi?"
Cayvion mengangkat wajahnya, menatap Hara dengan pandangan gelap. Rencana "keluarga bahagia" untuk konferensi pers besok sudah bocor duluan, tapi dengan narasi yang paling busuk yang bisa menghancurkan reputasi Hara dalam hitungan jam.
"Selamat, Hara," suara Cayvion dingin, menusuk. Dia memutar layar ponselnya dan menyodorkannya ke wajah Hara.
"Sepertinya Pasal Dua sudah gagal total sebelum kita sampai lobi kantor. Kau baru saja naik pangkat dari Asisten Pribadi menjadi 'Simpanan Janda' di mata seluruh karyawan Alger Corp."
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri