Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Pulang Ke Rumah
Suasana gaduh yang terdengar dari kediaman Zella tak digubris Indri. Dunianya seakan runtuh setelah mendengar kabar kalau Zella akan menikahi pria beristri. Tak bisa menerima, tapi dirinya tak bisa melarang karena ini keputusan Zella demi membebaskan Ayahnya.
"Sejak aku dan Taufik kembali, ku lihat wajahmu selalu murung. Kenapa bu?" tanya Saman.
"Nanti Bapak akan tahu jawabannya, aku tak bisa mengatakannya," jawab Indri bernada lemah.
"Zella nambah bangun apa buk? Ku lihat beberapa tukang juga pasang AC. Padahal cuaca desa ini cukup dingin." Taufik mengamati pekerja yang sibuk di rumah Zella.
Indri tenggelam dalam lamunannya. Bagaimana dia bisa menentang keputusan Zella. Wanita itu mempersiapkan segalanya dengan begitu matang. Entah apa saja yang dikerjakan tukang-tukang itu di kediaman Zella.
"Pak, apa ibu sakit?" Taufik heran melihat Indri yang begitu murung.
"Itu juga pertanyaan Bapak yang nggak dijawab ibumu." jawab Saman.
"Terus di rumah Zella ada pembangunan apa? Soalnya rame banget yang kerja." tanya Taufik.
"Hanya Zella dan ibumu yang tau!" jawab Saman.
"Kapan Zella kembali bu? Bukannya kasus om Bagas sudah selesai?" tanya Taufik pada Indri.
"Akkkk! Jangan bertanya tentang Zella padaku." Indri meringis sedih dan langsung masuk kedalam rumah.
Taufik terdiam, dia merasa lancang dan bersalah karena menanyakan Zella. Taufik segera menyusul ibu sambungnya itu. "Bu, maafin aku bu."
"Untuk apa minta maaf? Kamu nggak salah kok Fik." Indri menghempaskan bobot tubuhnya di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan.
Taufik meraih kursi yang tak jauh dari Indri dan duduk di sana. "Aku minta maaf, pasti pertanyaan aku tentang Zella membuat ibu kesal.
"Ibu tak kesal dengan pertanyaanmu, ibu kesal dengan diri ibu sendiri, ibu juga marah pada Zella, tapi ibu tak tahu harus apa."
"Kita ini sebuah keluarga, kalau kamu berkenan ceritakan hal yang mengganggumu sama kami. Walau kami tidak memberikan solusi, mungkin saja perasaanmu lebih lega setelah membagi ceritamu." Saman dengan tenang duduk di samping Indri.
"Aku tak tahu harus memulai cerita dari mana." keluh Indri.
"Bapak Saman! Bu Indri!"
Teriakan itu menarik perhatian 3 orang yang ada di ruang makan.
"Ada apa Nandar?" sahut Saman.
"Di depan rumah ada iring-iringan mobil mewah yang masuk halaman rumah Bapak!" ucap orang kepercayaan Saman yang dipanggil Nandar itu.
Taufik merasa tak enak jika mengetahui mobil mewah memasuki halaman rumah mereka. "Nomor polisinya dari daerah mana mang Nandar?"
Pria berusia lebih 50 tahunan itu terlihat mencoba mengingat plat mobil yang baru saja dia lihat. "Sepertinya dari provinsi sebelah Bang fik. Nggak cuma satu, tapi ada berapa tadi ya ...."
"Pasti wanita gila itu!" gerutu Taufik.
"Maksudmu Arumi?" tebak Indri.
"Mungkin saja bu."
Perasaan Indri tak nyaman, entah jika benar itu Arumi, maka tak menutup kemungkinan Zella juga datang bersama mereka.
"Coba periksa mang Nandar, siapa yang datang," pinta Saman.
Pria itu segera berlari kearah luar, memeriksa siapa tamu yang datang. Setelah memastikan sosok yang datang, Nandar begitu semangat kembali ke dapur.
"Wanita gila itu kan yang datang?" tebak Taufik.
"Bukan wanita gila yang datang, tapi wanita Zella!" Nandar menepuk mulutnya karena salah berucap.
"Wanita Zella? Maksudmu Zella yang datang??" sela Indri.
"Nah itu bu, maksud saya yang datang itu memang wanita ya si Zella anak ibu."
Mengetahui Zella datang, Indri berlari kedepan seperti orang gila, dia ingin memastikan dengan siapa Zella kembali. Indri terus berlari tak mempedulikan pandangan orang padanya, saat sampai di depan rumah hatinya mencelos melihat Zella berdiri di samping seorang pria tampan yang duduk di kursi roda.
"Zella kenal Pak Abimayu sejak kapan bu?" tanya Taufik pada Indri.
"Abimayu? Dia siapa?" Indri balas bertanya.
"Itu pria tampan yang duduk di kursi roda, dia bos pemilik perkebunan modern tempatku bekerja dulu, ya tempat yang mempertemukan aku dengan Arumi."
"Bos?" Indri masih sulit mempercayai hal ini.
"Lihat beberapa mobil keren yang parkir di sana. Untung halaman perkebunan kita luas bu. Mampu menampung mobil yang parkir." ucap Saman.
Indri tenggelam dalam pemikirannya, sehebat apa calon suami Zella sehingga Zella membutuhkan pertolongan orang itu untuk membebaskan Bagas, Saman, dan Taufik. Kalau dia hebat, mengapa memilih Zella sebagai istri kedua. Wanita cantik dan karir bagus sangat banyak di setiap kota, tidak harus putrinya.
"Ibu lihat, itu kursi roda orang kaya." Taufik mengisyarat pada kursi roda yang digunakan Abi.
"Kursi itu seperti mobil bu. Ada setirannya, bedanya setiran kursi roda itu hanya dikendalikan tuas-tuas yang di sisi kanan itu."
Indri seakan mendapat jawaban dari pemikirannya barusan. Melihat kursi roda itu tentu wanita yang memiliki karir bagus akan berpikir berulang kali untuk menikahi pria berkursi roda itu.
"Assalamu alaikum, mama." Zella langsung memeluk ibunya yang mematung di depannya.
"Wa alaikum salam," jawab Indri datar. Dia menatap wajah Zella dengan tatapan begitu dalam.
"Akhirnya kamu pulang." Indri langsung mendaratkan ciuman hangat di kening Zella.
"Ma, kenalin ini Pak Abi." Zella mengisyarat kearah Abi yang berada di sampingnya. "Pak Abi, kenalkan ini mama saya. Wanita yang memperjuangkan banyak hal untuk kebahagiaan saya."
"Salam kenal bu," sapa Abi begitu sopan.
"Pak Abi, perkenalkan mereka semua keluarga saya. Dia Ayah Saman, ayah sambung saya, dan ini Kak Taufik, Kakak sambung saya."
Abi menyapa hangat mereka semua.
"Pak Abi, saya tadi sangat terkejut liat Bapak. Selama saya bekerja di perkebunan besar milik Bapak dulu, saya hanya melihat Bapak dari poster yang ada Pak Abi," ucap Taufik.
"Aduh saya jadi sungkan karena ada yang pernah tahu saya. Tapi maaf ... sekarang saya bukan bos perusahaan itu. Perusahaan itu bangkrut dan sudah diakuisisi oleh pihak lain."
"Dari tadi kita hanya kenalan, kalau boleh tahu mas Abi ini ada urusan apa sama Zella, sampai datang bersama dan bawa rombongan." sela Saman.
"Pak Abi calon suami saya," jawab Zella.
Doarr!!!
Rasanya ada yang meledak di dalam diri Taufik. Ternyata kata berdamai dengan keadaan hanya sebatas kata. Memang dirinya bahagia mengetahui Zella kekeh menjanda, namun saat mengetahui Zella akan menikah lagi rasanya dunia damai itu runtuh seketika.
"Jadi ini maksud Ibu kalau kami akan tahu jika Zella kembali?" tanya Saman pada Indri.
"Bisa kita berkumpul di rumah saya aja nggak? Soalnya kesehatan Pak Abi kurang baik. Beliau tidak bisa berlama-lama di cuaca panas." ucap Zella.
"Waduh, ini ternyata mengapa para tukang bekerja di rumahmu, ternyata persiapan kamu begitu matang untuk menyambut calon suami kamu Zella," ucap Saman.
"Semua pekerja utusan Asisten pribadi saya. Dia yang menugaskan semua pekerja itu." Abi mengisyarat kearah Miko yang asyik bicara dengan kepala pekerja yang bekerja di rumah Zella.
"Mari Ayah, ibu, Kak Taufik kita ngobrol di sana."