"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: TEKANAN YANG TAK TERLIHAT
Hari-hari setelah insiden itu tidak lagi terasa biasa.
Tidak ada ancaman terang-terangan.
Tidak ada motor yang muncul lagi.
Justru itu yang membuatnya lebih tidak nyaman.
Semua kembali normal.
Terlalu normal.
Dan dalam dunia yang penuh kepentingan seperti itu, ketenangan mendadak bukanlah kabar baik.
Aira mulai merasakan perubahan kecil.
Akses sistemnya sempat tertunda satu pagi. Email penting terlambat diteruskan padanya. Dua kali jadwal rapat diubah tanpa pemberitahuan langsung.
Kesalahan kecil.
Nyaris tak terlihat.
Tapi cukup untuk membuatnya sadar—
seseorang sedang menguji batas.
Saat ia mengonfirmasi ulang ke divisi IT, jawabannya terlalu cepat.
“Server overload, Mbak.”
Padahal biasanya tidak pernah.
Ia tidak menuduh.
Ia hanya mencatat.
Dan semakin banyak ia mencatat, semakin jelas satu hal:
Ia memang sedang ditekan.
Bukan secara frontal.
Tapi sistematis.
Di sisi lain, Arlan justru semakin sibuk.
Rapat dewan lebih sering. Panggilan eksternal meningkat. Audit tambahan dibuka.
Ia tidak pernah menjelaskan detailnya pada Aira.
Namun Aira bisa melihat pola.
Ia sedang bersiap untuk sesuatu.
Dan setiap kali mereka berpapasan, percakapan mereka semakin singkat.
Profesional. Efisien. Tanpa celah pribadi.
Jarak itu kini bukan hanya keputusan Aira.
Arlan juga ikut menjaga.
Dan itu terasa seperti pengakuan diam-diam bahwa mereka memang berdiri di dua sisi berbeda.
Suatu siang, Clarissa masuk tanpa mengetuk.
Langkahnya ringan seperti biasa, senyumnya terlatih.
“Kau terlihat pucat.”
“Aku baik,” jawab Aira singkat.
Clarissa duduk di tepi meja, menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Kau tahu, di dunia seperti ini, yang pertama dikorbankan selalu yang paling mudah diserang.”
Aira tidak langsung menjawab.
“Kau maksud saya?”
Clarissa tersenyum tipis.
“Aku hanya tidak ingin kau salah tempat saat badai datang.”
Kalimat itu terdengar seperti nasihat.
Namun nadanya tidak sepenuhnya tulus.
Setelah Clarissa pergi, Aira duduk diam cukup lama.
Ia bukan orang bodoh.
Ia tahu permainan ini lebih besar dari yang terlihat.
Dan ia tahu satu fakta pahit:
Arlan mungkin bisa melindunginya secara fisik.
Tapi secara politik?
Ia adalah titik lemah yang paling mudah dimanfaatkan.
Malam itu, Aira kembali ke rumah sakit.
Ibunya sudah lebih stabil.
Dokter berbicara tentang kemungkinan operasi kecil dalam beberapa minggu ke depan.
Biaya tambahan. Perawatan lanjutan. Risiko komplikasi.
Aira mengangguk sambil mencatat.
Tapi pikirannya melayang.
Bagaimana jika ancaman berikutnya bukan motor?
Bagaimana jika tekanan berubah menjadi sesuatu yang lebih langsung?
Bagaimana jika ibunya menjadi sasaran karena ia tetap memilih bertahan?
Tangannya mengepal perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak ia menandatangani kontrak itu—
ia benar-benar mempertimbangkan harga yang harus dibayar.
Dan harga itu tidak lagi tentang dirinya sendiri.
Keesokan paginya, Arlan memanggilnya ke ruang kerja.
Ia berdiri seperti biasa.
Tenang.
Namun kali ini Arlan tidak langsung berbicara soal pekerjaan.
“Perubahan akses sistemmu bukan kesalahan teknis.”
Aira menatapnya.
“Aku tahu.”
“Timku sudah mengisolasi dua titik gangguan.”
Ia berhenti sejenak.
“Kau sedang diuji.”
Aira tersenyum tipis.
“Bukan hal baru.”
Arlan menyipitkan mata.
“Ini berbeda.”
“Ya,” jawabnya pelan. “Karena sekarang saya sadar.”
Hening menggantung.
“Sadar apa?” tanya Arlan.
“Sadar bahwa keberadaan saya di sini bukan lagi soal profesionalisme.”
Ia menarik napas pelan.
“Tapi soal siapa yang ingin Anda lindungi… dan siapa yang ingin mereka sakiti.”
Itu bukan tuduhan.
Itu pernyataan fakta.
Arlan berdiri perlahan.
“Kalau kau berpikir aku akan melepasmu karena tekanan—”
“Saya tidak ingin dilepas.”
Jawaban itu membuatnya terdiam.
Aira menatapnya langsung.
“Saya hanya tidak ingin jadi alasan Anda kalah.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia duga.
Karena untuk pertama kalinya—
ia menyadari bahwa Aira tidak pergi karena takut.
Ia pergi karena berpikir.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
Malam itu, Aira membuka kembali draft email yang sempat ia buat.
Kali ini ia mulai mengetik.
Tidak panjang.
Tidak dramatis.
Hanya jelas.
Setiap kata terasa seperti potongan kecil yang ia lepaskan dari dirinya sendiri.
Ia membaca ulang.
Menutup mata.
Lalu menyimpannya sebagai draft.
Belum dikirim.
Belum diserahkan.
Namun kini bukan lagi kemungkinan.
Melainkan keputusan yang menunggu waktu.
Dan di ruangannya sendiri, Arlan menatap layar monitor yang menampilkan grafik saham perusahaan.
Angka-angka stabil.
Reputasi aman.
Strateginya berjalan.
Namun untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun—
ia merasa kehilangan sesuatu sebelum benar-benar hilang.
Dan ia tidak yakin siap menghadapi momen ketika Aira berhenti berdiri di depan mejanya setiap pagi.
sangat seru