Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pertaruhan di Laut Jawa
Deru mesin kapal cepat itu terdengar seperti geraman binatang buas yang sedang sekarat. Di belakang, lampu sorot helikopter Hendra terus mematuk-matuk permukaan air, sementara di depan, dua kapal patroli besar sudah melintang, menciptakan barikade besi yang mustahil ditembus.
"Bos, mereka memerintahkan kita untuk mematikan mesin atau mereka akan menembak!" teriak kapten kapal, suaranya gemetar melihat meriam kaliber kecil di dek kapal patroli mulai berputar ke arah mereka.
Arlan mencoba duduk tegak, bersandar pada dinding kabin. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Jangan berhenti. Kalau kita berhenti, kita mati."
"Tapi kita nggak bisa menembus besi-besi itu, Lan!" Maya memegang bahu Arlan. Matanya tertuju pada radar. Titik-titik merah itu semakin mendekat. "Kita harus cari cara lain."
Maya melihat ke sekeliling kabin yang sempit. Matanya tertuju pada tumpukan jerigen berisi bahan bakar cadangan di sudut dek belakang dan beberapa suar (flare gun) darurat yang tergantung di dinding. Sebuah rencana gila melintas di benaknya.
"Yudha! Berapa banyak bahan bakar yang kita punya di belakang?" tanya Maya lantang.
Yudha, yang sedang mengisi ulang peluru senjatanya, menoleh. "Ada empat jerigen penuh, Mbak. Kenapa?"
"Kita akan buat pengalihan," Maya menyambar dua suar darurat. "Kapten, arahkan kapal ini seolah-olah kita mau menabrak kapal patroli sebelah kiri, tapi di detik terakhir, banting setir ke kanan menuju celah karang dangkal di sisi timur!"
"Mbak, itu bunuh diri! Kapal ini bisa kandas!" Kapten itu memprotes.
"Lakukan saja!" Arlan menyahut, ia mengerti arah pikiran istrinya. "Gunakan kecepatan penuh!"
Maya berlari ke dek belakang, mengabaikan angin laut yang menghantam wajahnya dan desingan peluru dari helikopter yang mulai mengenai air di sekitar mereka. Dengan tangan gemetar namun pasti, ia menumpahkan isi dua jerigen bensin ke atas sebuah sekoci plastik kecil yang terikat di belakang kapal.
"May! Hati-hati!" Arlan berteriak dari dalam.
Maya tidak menjawab. Begitu jarak mereka tinggal seratus meter dari blokade kapal patroli, Maya menyalakan suar darurat dan menembakkannya tepat ke arah sekoci yang sudah dibasahi bensin.
WUSH!
Sekoci itu terbakar hebat dalam sekejap. Maya memotong tali pengikatnya dengan pisau dapur. Sekoci yang menyala-nyala itu hanyut dengan cepat menuju arah kapal patroli sebelah kiri, menciptakan bola api raksasa di atas air yang terlihat seperti kapal mereka yang sedang meledak.
"Sekarang, banting kanan!" perintah Maya.
Kapten kapal memutar kemudi dengan liar. Kapal mereka miring tajam, membuat Maya hampir terlempar ke laut jika Yudha tidak segera menangkap tangannya. Kapal patroli itu terkecoh; mereka mengarahkan tembakan ke arah sekoci yang terbakar, mengira itu adalah target utama.
Kapal cepat Arlan melesat melewati celah sempit di antara karang-karang dangkal yang bergolak. Suara lambung kapal yang bergesekan dengan karang terdengar memilukan, namun mereka berhasil melewatinya.
"Kita lolos dari blokade!" Yudha bersorak.
Namun, kegembiraan itu singkat. Helikopter Hendra tidak tertipu. Pilot helikopter itu melihat manuver mereka dan langsung menukik turun.
"Kalian pikir kembang api itu bisa menghentikanku?!" suara Hendra terdengar lewat radio komunikasi yang disadap. "Tembak mesin mereka!"
RATATATATATA!
Peluru dari senapan mesin helikopter menghujam dek belakang. Salah satu mesin kapal meledak, mengeluarkan asap hitam pekat. Kapal mereka melambat drastis, bergoyang tidak stabil di tengah ombak besar.
"Lan... mesin kita mati satu!" Maya merangkak masuk kembali ke kabin, memeluk Arlan.
Arlan meraih sebuah koper kecil lain yang tersembunyi di bawah kursi kapten—bukan koper data, tapi sebuah peluncur roket panggul (RPG) yang selama ini ia siapkan untuk situasi terburuk.
"May, pegang kemudi. Jaga kapal tetap lurus," Arlan berdiri dengan sisa kekuatannya, menahan perih di bahunya yang tertembak.
"Tapi kamu terluka, Lan!"
"Hanya ini satu-satunya cara supaya anak kita melihat matahari besok," Arlan melangkah keluar ke dek yang bergoyang hebat.
Di bawah sorotan lampu helikopter, Arlan berdiri tegak seperti pejuang kuno. Ia membidik helikopter yang sedang bersiap melepaskan rudal kecil ke arah mereka.
Syuuuuut... BOOM!
Roket Arlan meluncur, membelah kegelapan malam. Helikopter Hendra mencoba menghindar, namun roket itu menghantam ekor helikopter. Pesawat baja itu berputar liar di udara, terbakar, dan akhirnya jatuh menghantam laut dengan ledakan dahsyat yang menerangi langit malam.
Hening. Hanya suara mesin kapal mereka yang satu lagi yang terbatuk-batuk dan suara ombak.
Arlan jatuh terduduk, peluncur roket itu terlepas dari tangannya. Maya berlari keluar dan memeluknya. Mereka terengah-engah, menatap kobaran api di tengah laut yang perlahan tenggelam.
"Hendra... dia sudah pergi?" bisik Maya.
Arlan tidak menjawab, ia hanya memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di dada Maya. "Setidaknya untuk malam ini, kita menang, May."
Namun, di tengah kesunyian itu, radar kapten kembali berbunyi. Kali ini bukan titik merah, melainkan sebuah sinyal transmisi suara yang sangat jernih masuk ke sistem komunikasi mereka.
"Kerja bagus, Arlan. Kamu memang cucuku yang paling berbakat. Tapi jangan lupa... Hendra hanyalah pion. Selamat datang di perairan internasional. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai."
Itu suara Richard Dirgantara. Suaranya terdengar begitu dekat, seolah ia sedang mengawasi mereka dari satelit di atas sana.