Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.
Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.
Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.
Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.
Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Pagi berikutnya datang tanpa hujan. Udara bersih, tanah masih lembap, dan ladang cabai Alya terlihat lebih segar dari kemarin. Daun-daun yang sempat tertekan plastik kini tegak kembali, seolah tak pernah nyaris patah.
Alya berjongkok lebih lama dari biasanya. Ia memeriksa satu per satu batang, memastikan tidak ada yang rusak. Tangannya telaten, tapi pikirannya ringan. Tidak penuh tanya. Tidak juga penuh harap.
Di kejauhan, Bayu terlihat di sawahnya. Ia menanam kembali bibit padi yang tercabut hujan. Gerakannya lambat, rapi. Tidak terburu-buru.
Hari itu mereka tidak saling mendekat. Tidak juga saling menghindar, keduanya sibuk dengan kesibukannya masing-masing, hingga tanpa sadar suara adzan dhuhur terdengar.
"Al, istirahat sulung," ucap Bayu sedikit teriak. (Al, istirahat dulu)
Alya yang masih sibuk, menoleh sebentar. "Iya sebentar," sahutnya lalu langkahnya pelan menghampiri Bayu.
Keduanya duduk di depan ladang cabai milik Alya, Bayu menyodorkan minuman dingin depan Alya, tak hanya itu saja, dua nasi pecel yang kini menjadi daftar menu kesukaan Alya.
"Bay, nasinya enak, aku suka," kata Alya.
"Yo wes, di maem, kapan-kapam isun jak ya neng warung sego," sahut Bayu (Ya sudah di makan, kapan-kapan aku ajak ke warung nasi)
Alya tersenyum dan mengangguk, entah kenapa ajakan sederhana pria itu membuat dadanya menghangat, namun di sisi lain Alya harus hati-hati, karena ia belum tahu sepenuhnya siapa Bayu.
☘️☘️☘️
Menjelang sore, Alya masih berada di ladang cabainya yang berada tak jauh dari ujung desa. Matahari mulai condong, bayangan tanaman memanjang di tanah yang mulai mengering setelah hujan siang tadi.
Saat itulah suara ramai terdengar dari arah balai desa.
Awalnya samar, suara mesin mobil, lalu disusul langkah kaki dan obrolan yang saling bertumpuk. Alya berhenti sejenak, menoleh ke arah jalan tanah yang menghubungkan ladang dengan perkampungan.
Tak lama, Bu Rini melintas di galengan ladang sambil memanggul bakul sayur. Wajahnya tampak tegang, tidak seperti biasanya.
“Alya,” panggilnya. “Riko wes rungu durung?” (Kami sudah dengar belum)
Alya berdiri. “Krungu apa, Bu?”
Bu Rini menurunkan bakulnya sebentar. “Tadi ada dua mobil berhenti dekat balai. Katanya orang kota. Ladang-ladang pinggir sawah mau didata ulang.”
Alya mengernyit. “Didata ulang?”
“Iyo. Katanya mau ada investasi. Jalan desa mau dilebarin.”
Bu Rini melirik sekeliling ladang. “Lewat sini juga, Nduk.”
Kalimat itu membuat dada Alya mengeras. Ia menatap deretan cabai yang sedang mulai berbunga. Tanah sewa itu memang bukan miliknya, tapi keringat dan waktunya tertanam di sana.
“Terima kasih, Bu,” ucapnya pelan.
Bu Rini mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya menuju kampung.
Alya masih berdiri di tempat yang sama beberapa saat. Sore itu ladang terasa berbeda, tenang, tapi menyimpan ancaman yang belum kelihatan wujudnya.
Tak lama kemudian, dari arah sawah seberang, Alya melihat Bayu datang. Ia berjalan menyusuri pematang, langkahnya mantap tapi wajahnya tidak membawa senyum santai seperti biasanya. Begitu sampai, Bayu tidak langsung duduk atau bercanda. Ia berdiri sejajar dengan Alya, menatap ladang cabai di depan mereka.
“Kowe wis rungu kabare?” tanyanya pelan.
Alya mengangguk. “Soal pelebaran jalan.”
Bayu menghela napas. “Lahan riko keneng pinggir.” (Lahan kamu juga ikut)
Alya menoleh padanya. “Aku tahu ini tanah sewa. Tapi yang aku tanam di sini bukan main-main.”
Bayu mengangguk pelan. “Isun ngerti.” (Aku ngerti)
Ia menatap tanah di bawah kakinya. “Lan iki dudu mung soal riko.” (Dan ini bukan hanya soal kamu)
Alya menatap wajahnya. “Ini soal kamu juga.”
Bayu tersenyum tipis, pahit. “Iyo. Wong-wong iku sing mung ngejer aran. Saiki tanah dadi rebutan.” (Iya orang-orang itu tidak hanya ngejar nama saja, sekarang tanah juga jadi rebutan,)
Untuk pertama kalinya, konflik tidak datang lewat manusia atau masa lalu yang mengejar. Tapi lewat tanah hal paling nyata yang selama ini mereka rawat dengan diam.
☘️☘️☘️☘️
Malam itu, Alya sudah kembali ke rumahnya. Ia duduk di teras kecil dengan lampu temaram. Buku catatan terbuka di pangkuannya, jadwal tanam, perkiraan panen, lalu satu halaman baru yang dipenuhi coretan pendek: pendataan lahan, pelebaran jalan, kemungkinan pindah.
Di waktu yang sama, di gubuk sawahnya, Bayu duduk sendiri. Pandangannya lurus ke arah lahan yang selama lima tahun menjadi tempat ia bersembunyi dan bernapas.
Untuk pertama kalinya, ia sadar: bersembunyi tidak selalu berarti aman. Desa ini mulai berubah. Dan mereka tidak bisa lagi hanya berdiri diam.
Namun satu hal jelas baik Alya maupun Bayu, kini menghadapi pilihan yang sama.
Malam makin larut. Angin desa berembus pelan, membawa bau tanah basah dan sisa asap dapur warga. Alya menutup buku catatannya perlahan. Ia tidak merasa takut, hanya sadar bahwa hidup yang ia bangun dengan susah payah tidak lagi sepenuhnya berada dalam genggamannya.
Ia masuk ke rumah, menyiapkan air hangat, lalu duduk bersandar di dinding bambu. Pikirannya melayang pada ladang cabai itu pada daun-daun hijau yang ia rawat sejak bibit kecil, pada harapan panen yang belum sempat dinikmati sepenuhnya. Jika tanah itu diambil, ia bisa pindah. Tapi apakah semua bisa dimulai ulang tanpa luka?
Di tempat lain, Bayu juga belum tidur.
Ia masih duduk di gubuk sawah, lampu minyak kecil menyala di sampingnya. Matanya menatap hamparan sawah yang berkilau diterpa cahaya bulan. Lima tahun ia hidup di tanah ini, menghindari dunia yang pernah menuntut terlalu banyak darinya. Sawah dan ladang menjadi caranya bernapas, caranya berdamai dengan diri sendiri.
Kini, tempat itu kembali diperebutkan.
Bayu mengepalkan tangan perlahan. Ia sadar, diam saja tidak lagi cukup. Jika ia terus bersembunyi, bukan hanya dirinya yang akan kehilangan, tapi juga Alya perempuan yang dengan caranya sendiri mengajarinya bahwa bertahan tidak selalu berarti menutup diri.
☘️☘️☘️
Keesokan paginya, kabar pendataan makin ramai diperbincangkan. Di warung kopi, di depan mushala, di sudut-sudut ladang, orang-orang mulai bicara tentang harga tanah, tentang ganti rugi, tentang kemungkinan desa berubah wajah.
Alya mendengar semuanya, tapi memilih tetap ke ladang. Ia berjalan menyusuri galengan dengan langkah mantap. Tangannya memetik daun cabai yang menguning, menyingkirkan ranting kecil yang jatuh. Ia tahu, selama tanah itu belum benar-benar diambil, ia masih berhak merawatnya.
Tak lama kemudian, Bayu datang menghampiri. Kali ini ia tidak langsung bicara. Ia berdiri di samping Alya, ikut memeriksa tanaman, seolah ingin memastikan bahwa apa yang mereka rawat masih ada, masih nyata.
“Al,” ucapnya akhirnya. “Kadung bener didata, isun sing kiro meneng baen.” (Kalau benar didata, aku tidak mau diam saja.)
Alya menoleh. “Maksudmu?”
Bayu menghela napas. “Isun seng kepengen tanah ini dijuwut, tanpo wong-wong iku weroh neng permasalahane wong kene.” (Aku tidak ingin tanah ini diambil tanpa mereka peduli pada orang-orang yang hidup dari sini.)
Alya menatapnya lama. Ada sesuatu yang berubah di wajah Bayu, bukan lagi lelaki yang memilih menjauh, tapi seseorang yang mulai bersedia berdiri di depan.
“Aku juga nggak akan diam,” jawab Alya. “Bukan buat melawan. Tapi buat mempertahankan apa yang sudah aku bangun.”
Bayu mengangguk. “Iyo. Bareng.” (Iya. Bersama.)
Tidak ada janji besar. Tidak ada genggaman tangan dramatis. Hanya dua orang dewasa yang berdiri di tengah ladang, menyadari bahwa hidup tidak selalu memberi pilihan mudah tapi selalu memberi kesempatan untuk memilih sikap.
Di antara barisan cabai yang mulai berbunga, Alya dan Bayu berdiri dengan pijakan yang sama: tidak lagi lari, dan tidak lagi sendiri.
Bersambung ...
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
thor novelnya jgn trllu kaku dong