Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Cahaya remang-remang menembus tirai tipis yang membungkus jendela. Pagi baru saja menjelang, sinar matahari perlahan merangkak naik, menyapu permukaan kamar, membangunkan manusia-manusia yang mungkin masih terlelap.
Di ranjang besar itu, mata Karina yang sejak tadi terpejam mulai terbuka. Ia mengucek matanya dengan lembut, menoleh ke kanan, dan melihat Damon yang masih terlelap duduk di samping ranjang.
Apa Damon menunggunya semalaman? pikir Karina, sedikit terkejut.
Dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkan Damon, Karina duduk setengah bersandar ke kepala ranjang. Ia memperhatikan wajah Damon yang tampak tenang, terlelap, lalu pandangannya beralih ke rambut abu-abunya yang acak-acakan, tampak lembut di bawah sinar pagi.
“Di antara semua orang yang pernah aku temui di rumah Hugo, mengapa hanya Damon yang terasa asing? Sepertinya kemarin memang pertemuan pertama kita,” gumam Karina, jari-jarinya menyentuh lembut beberapa helai rambut yang jatuh di atas alis tebal Damon.
“Kamu sudah sadar?” suara Damon tiba-tiba terdengar, matanya yang setengah terbuka menatap Karina. Karina tersentak dan cepat menarik tangannya dari rambut Damon, wajahnya memerah malu.
“Y–ya, apakah kamu yang membawaku ke sini?” Karina tersenyum canggung, matanya masih terlihat sedikit lelah. “Dan… siapa yang mengganti pakaianku?”
“Tenang saja,” jawab Damon, suaranya tenang. “Seorang pelayan yang datang untuk menyiapkan makan malam yang menggantikan pakaianmu.” Ia berdiri, meregangkan kedua tangannya perlahan. “Hari ini aku harus bertemu Hugo.”
“Ya… hati-hati,” ucap Karina pelan, khawatir sekaligus lega. Ia tahu mengapa Damon tidak jadi pergi menemui Hugo malam tadi, karena Damon memilih untuk menjaganya sepanjang malam.
Damon menutup pintu pelan dari luar, meninggalkan keheningan di dalam kamar. Karina menoleh ke kaca di depannya. Wajahnya masih pucat, bibirnya pecah-pecah, dan matanya tampak lelah. Ia mencoba mengingat kembali semua yang terjadi kemarin malam.
“Apa ini?” Karina menyentuh lehernya dengan jemari. Samar-samar, ia melihat garis melingkar di sana. Merah, bercampur ungu. Seperti bekas tali atau sesuatu yang digunakan untuk menjeratnya.
Tidak ingin memusingkan kepala di pagi hari, Karina bangkit dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah mandi dan berganti pakaian bersih, Karina turun ke lantai dasar. Ia menuruni tangga dengan gerakan lambat, mengedarkan pandangannya ke dinding di sekeliling tangga. Polos, abu-abu, kosong. Tidak ada satupun yang menarik perhatiannya selain kesunyian pagi itu.
Saat akhirnya menginjakkan kaki di pintu dapur, ia melihat seorang perempuan tengah sibuk di depan kompor.
“Hello, selamat pagi,” sapa Karina, suaranya sedikit canggung.
Perempuan itu menoleh, tersenyum ramah. “Hai, Karin. Kita bertemu lagi.”
Sontak Karina mundur beberapa langkah. Jantungnya berdegup lebih cepat saat menatap wajah perempuan itu.
Bagaimana mungkin Tasya ada di sini?
Tasya yang terakhir kali ia lihat terantai di ruang bawah tanah, dengan tubuh kurus dan wajah pucat penuh luka… kini berdiri di dapur rumah ini. Sehat. Kulitnya tampak bersih, tubuhnya terawat, bahkan pipinya sedikit berisi.
Tidak masuk akal.
“Kamu pasti bingung, ya?” Tasya tersenyum kecil, seolah memahami isi kepala Karina. “Damon yang menolongku. Dia juga yang memintaku menemanimu di sini.”
Nada bicaranya ringan, namun cukup untuk membuat kepal Karina terasa sesak oleh berbagai pertanyaan yang belum terjawab.
“Ah… begitu, ya,” jawab Karina pelan. Ia mengangguk beberapa kali, mencoba terlihat tenang meskipun pikirannya masih berputar. Langkahnya bergerak perlahan menuju meja makan.
Tasya berjalan ke arahnya sambil membawa satu per satu hidangan. Kentang bakar yang masih mengepul, telur orak-arik berwarna kuning keemasan, sosis panggang yang aromanya gurih, serta segelas susu putih hangat diletakkan rapi di atas meja.
Dari gerakannya yang cekatan dan tenang, jelas Tasya sudah terbiasa melakukan ini.
Karina duduk perlahan, tatapannya masih tertahan pada Tasya. Ada sesuatu yang terasa berbeda.
“Jangan khawatir,” ujar Tasya pelan sambil mendorong seporsi sarapan ke depan Karina. “Aku tidak akan meracunimu. Makanlah.”
“Terima kasih,” balas Karina singkat.
Ia tidak langsung menyentuh makanannya. Tatapannya bergantian antara piring di depannya dan wajah Tasya. Tanpa berkata apa pun, ia menunggu. Beberapa detik kemudian, Tasya mulai makan terlebih dahulu. Ia menyendok telur orak-arik dan kentang bakar tanpa ragu.
Melihat itu, Karina akhirnya mengambil garpu. Jika Tasya memakan hidangan yang sama, setidaknya kecil kemungkinan ada sesuatu yang mencurigakan di dalamnya.
Suasana di meja makan terasa canggung, hanya diisi bunyi sendok dan garpu yang beradu pelan dengan piring.
“Bagaimana ibumu?” tanya Karina akhirnya, memecah keheningan di sela-sela sarapan mereka.
Gerakan Tasya terhenti sesaat.
Wajahnya yang tadi terlihat cerah perlahan meredup. Senyumnya memudar, dan sendok di tangannya bergerak lebih lambat dari sebelumnya.
“Dia…” Tasya menarik nafas dalam, suaranya melembut dan sedikit bergetar. “Dia tidak bisa diselamatkan.”
Karina tidak tahu apakah Tasya berkata jujur atau justru sedang memainkan perannya dengan sangat meyakinkan. Ucapan Kate tentang Tasya yang seorang penipu memang tak pernah bisa dibuktikan. Lagi pula, Kate sendiri pernah membohonginya. Namun tetap saja, di situasi seperti ini, Karina merasa tidak boleh lengah.
Ia harus berhati-hati.
“Aku turut berduka, Tasya,” ucap Karina akhirnya. Entah benar atau tidak cerita itu, rasa kehilangan tetaplah sesuatu yang menyakitkan.
“Terima kasih,” jawab Tasya.
Senyum yang terukir di wajahnya tampak dipaksakan, tipis dan rapuh, seperti bisa runtuh kapan saja. Ia menunduk, lalu mulai makan lebih cepat dari sebelumnya, seolah ingin segera mengakhiri percakapan itu. Dalam waktu singkat, piringnya sudah kosong.
Tasya membereskan piring dan gelasnya dengan cekatan, lalu membawa semuanya ke dapur, meninggalkan Karina sendirian di meja makan.
Karina berusaha memaksa diri menghabiskan makanannya. Ia menyuapkan potongan kecil kentang ke mulutnya, mengunyah perlahan. Namun baru beberapa suap, rasa mual yang familiar itu kembali naik dari perutnya, cepat dan tak terhindarkan.
Dadanya terasa sesak.
Ia mendorong kursi ke belakang hingga berderit keras di lantai, menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu berlari tergesa menuju kamar mandi terdekat.
“Huek—huek—”
Tubuhnya terhuyung saat ia membungkuk di depan wastafel. Makanan yang baru saja ia telan keluar kembali, bercampur cairan merah pekat yang membuat nafasnya tercekat.
Darah.
Lagi.
Karina menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata membelalak. Wajahnya semakin pucat, bibirnya bergetar. Dengan tangan yang gemetaran hebat, ia memutar keran air dan membiarkannya mengalir deras, mencoba membersihkan sisa darah yang menodai wastafel.
Jika ini terus terjadi…
Jika setiap kali ia makan ia memuntahkan darah…
Mungkin benar, ia tidak akan bertahan lama. Ia bisa saja mati kehabisan darah bahkan sebelum semua misteri ini terungkap.
Pikiran itu membuat lututnya melemah. Karina berpegangan pada tepi wastafel agar tidak jatuh, nafasnya memburu, jantungnya berdetak tidak teratur di dalam dada.
Tok… tok… tok…
“Karin, ayo kita ke dokter saja!” seru Tasya setengah berteriak dari luar pintu, suaranya terdengar cemas.
Karina mengusap wajahnya yang masih basah, menarik napas panjang, lalu mencoba tersenyum tipis sebelum membuka pintu dan menemui Tasya.
“Aku… aku baik-baik saja,” ujar Karina pelan, suaranya sedikit gemetar. “Hanya ingin keluar sebentar, mencari udara segar.”
“Mau aku temani?” tanya Tasya, matanya penuh perhatian.
Karina menggeleng pelan, menolak ajakan itu. “Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Ia tersenyum tipis, berusaha terdengar yakin meski tubuhnya masih terasa lemas.
Setelah berbicara dengan Tasya, Karina membuka pintu rumah dengan hati-hati, membiarkan udara pagi yang segar masuk. Cahaya matahari menyentuh wajahnya, dan aroma tanah basah serta rerumputan yang baru disiram embun langsung menyapa hidungnya. Ia melangkah keluar, menapaki jalanan desa yang sempit, menyusuri gang-gang yang dulu sering ia lewati saat masih kecil.
Setiap sudut desa membangkitkan kenangan lama. Tawa riang saat bermain di halaman rumah, teriakan teman-temannya saat berlari mengejar layang-layang, dan aroma masakan ibu yang menempel di udara saat sore menjelang. Karina tersenyum tipis, matanya berembun saat mengenang masa kecil yang hangat itu.
“Tapi…” Kening Karina mengerinyit saat mencoba mengingat wajah ibunya. “Kenapa aku tidak bisa mengingat wajahnya?”
Wajah hadir malah wajah Ranra yang pucat.
Karina menggeleng lalu lanjut berjalan pelan, membiarkan jari-jarinya menyentuh pagar kayu dan tembok rumah yang familiar, menikmati sejuknya pagi dan suara burung yang bersahutan. Sejenak, ia merasa damai, seolah semua kesulitan semalam hanyalah mimpi buruk yang kini perlahan memudar.
Namun, saat ia mulai berpapasan dengan beberapa orang yang keluar untuk memulai aktivitas paginya, senyumnya perlahan memudar. Tidak ada satu pun wajah yang ia kenal. Semua orang tampak asing, anak-anak berlari-lari tanpa mengenalnya, pedagang di pasar memanggil pembeli dengan riang, tapi tidak ada yang menoleh atau menyapa Karina.
Perasaan aneh menyergapnya. Apakah orang-orang yang dulu tinggal di desa ini sudah pergi? Atau mungkin mereka sudah digantikan oleh orang-orang baru yang tak pernah ia kenal? Hati Karina tiba-tiba terasa hampa. Ia menatap rumah-rumah familiar, gerbang yang dulu sering ia buka dengan bebas, dan pohon-pohon yang dulu menjadi tempat bermainnya. Semua terasa sama, tapi juga asing.
Ia menghela napas panjang, tangan perlahan menempel di pagar kayu. Nostalgia dan kesepian bercampur, membuatnya tersadar bahwa masa kecil dan remajanya sepertinya hanya tinggal kenangan. Semua yang dulu ia kenal, entah sudah pergi atau hilang tanpa jejak. Karina menunduk, langkahnya perlahan menuju sebuah bangku di tepi jalan, duduk, dan membiarkan rasa rindu dan kehilangan itu mengalir bersamaan dengan angin pagi yang dingin.
...***...
...Like, komen dan vote ...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor