Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemasan
“Kau terlihat sangat cantik mengenakan baju itu,” puji Dave tulus. Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa sempat ia saring lebih dulu. Dan seperti biasa, setelah mengatakannya Dave justru mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Ia tidak mengerti kenapa mulutnya selalu bergerak lebih cepat dari pikirannya. Seolah ada sesuatu yang mendorongnya untuk jujur. Dan kejujuran itu justru membuat situasi menjadi semakin sulit ia kendalikan.
Elia yang mendengar pujian itu langsung tersipu. Pipi gadis itu merona, senyumnya kecil dan malu-malu. Apalagi sebenarnya ia masih sedikit tidak nyaman dengan pakaian terbuka, meski ia tahu itu dikenakan di tempat yang tepat. Namun tetap saja, rasa kikuk itu belum sepenuhnya hilang dari dirinya.
“Elia-”
Belum sempat Dave melanjutkan, tiba-tiba terdengar bunyi kecil.
“Eh!” Elia tersentak kaget ketika karet pengikat rambutnya mendadak putus. Dalam sekejap, rambut coklatnya yang semula disanggul rapi terurai begitu saja, jatuh lembut membingkai wajahnya.
Dave terpaku. Dari raut wajahnya saja sudah jelas, ia semakin kehilangan kendali. Elia sudah terlihat cantik dengan pakaian yang dikenakannya, tapi ditambah rambut yang tergerai seperti itu… rasanya sempurna. Terlalu sempurna sampai membuat Dave lupa bagaimana caranya bersikap biasa.
Tak ada rotan, akar pun jadi. Karena karet rambutnya sudah putus, Elia kembali menyanggul rambutnya dengan cara membelitkan helainya, mencoba merapikan seperti biasanya.
Namun tangan Dave buru-buru menahan gerakan Elia.
“Jangan digulung lagi,” ucap Dave, suaranya terdengar lebih pelan, namun tegas. “Biarkan saja terurai seperti tadi… kau terlihat sangat cantik.”
Elia menatap Dave dan membeku sejenak. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuatnya seakan sulit bernapas, tapi juga membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Pelan-pelan Elia menurunkan kedua tangannya. Rambut yang semula hendak ia gulung, kini malah ia rapikan dengan jari-jarinya, membiarkan helainya jatuh lembut di bahu.
"Baiklah, kalau begitu… kalau kau suka melihat rambutku terurai,” ucap Elia sambil tertawa kecil.
Tawa itu terdengar ringan, namun justru membuat suasana di sekitar mereka terasa berbeda. Elia kembali menikmati indahnya Cocoa Island Park, duduk santai sambil menyeruput kelapa muda yang segar. Rambut coklatnya terurai lembut diterpa angin pantai, membuatnya tampak semakin memikat di bawah cahaya pagi.
Di sekitar mereka, banyak wisatawan berlalu-lalang. Suasana pantai mulai ramai, penuh suara tawa dan langkah kaki di atas pasir. Namun tak jarang, beberapa pria yang lewat sempat melirik Elia. Bahkan ada yang tersenyum kagum, seolah tak peduli Dave yang jelas-jelas berada di sisinya. Dan entah kenapa membuat dada Dave terasa panas.
“Sialan… mereka berani menatap Elia dan tersenyum terang-terangan,” gumam Dave dalam hati. Ada rasa tidak rela yang tiba-tiba muncul, seperti sesuatu yang menohok tanpa izin.
Namun Dave segera menegakkan ekspresinya. Ia berusaha menepis perasaan itu sekuat tenaga, seolah mengusir sesuatu yang tidak boleh ada."Tidak… ini tidak benar."
"Kenapa aku merasa tidak senang?" Dave menelan ludah, menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan.
Tapi matanya tetap awas, memantau setiap pria yang berani memberi perhatian lebih pada Elia. Seakan ia sedang menjaga sesuatu yang bahkan belum ia akui sebagai miliknya.
“Lebih baik kita kembali ke kamar,” ucap Dave.
Ia bangkit dari duduknya begitu saja, lalu menatap Elia seolah memberi isyarat agar wanita itu segera mengikuti. Sorot matanya tegas, tak memberi ruang untuk dibantah.
Elia mengerutkan kening, heran dengan perubahan sikap Dave yang tiba-tiba. “Lho, kenapa, Dave? Aku sedang berjemur,” protesnya pelan. “Dan kalau sudah masuk jam siang, sinar UV-nya sudah tidak baik untuk kulit.”
Namun Dave seolah tidak mendengar sepenuhnya. Tanpa aba-aba, ia menaruh kelapa muda Elia ke atas meja, lalu menarik lengan istrinya dengan gerakan mantap.
“Nanti kulitmu akan menggelap kalau terlalu lama di bawah sinar matahari,” katanya singkat. Lalu menambahkan dengan nada yang terdengar lebih datar, seperti berusaha menutup alasan sebenarnya, “Dan setelah ini aku ingin mengajakmu berbelanja.”
Elia menatap Dave beberapa detik. Ada sesuatu yang aneh, seperti Dave sedang menahan emosi yang tak ingin ia perlihatkan.Tapi Elia tidak ingin memperpanjang suasana. Ya… kalau sudah begini, Elia hanya bisa menurut.Daripada suaminya itu nanti mengamuk hanya karena permintaannya tidak dituruti.
“Ya sudah,” ucap Elia akhirnya, senyumnya tulus tanpa sedikit pun rasa kesal. “Aku ikut saja denganmu.”
Dave menggandeng lengan Elia saat mereka berjalan menuju kamar. Pegangannya erat, seperti sengaja memastikan Elia tetap berada di sisi dirinya. Namun bukan hanya itu, cara Dave menarik Elia seolah ingin memberi pesan jelas pada siapa pun yang tadi berani melirik dan tersenyum padanya, bahwa wanita itu sudah ada yang punya.
Tatapan Dave tetap dingin, langkahnya mantap, dan ia sama sekali tidak menoleh lagi ke arah sekitar. Ia tidak peduli pada pandangan orang-orang yang masih sempat mencuri perhatian ke arah Elia, apalagi pada bisik-bisik kecil yang mungkin muncul di antara para wisatawan.
Di kejauhan, Angel dan Billy tampak masih asyik berenang sambil bermesraan di laut. Tawa mereka sesekali terdengar terbawa angin, menikmati liburan tanpa beban. Namun Dave bahkan tak melirik ke arah mereka sama sekali. Fokusnya hanya satu yaitu membawa Elia pergi dari sana, menjauh dari mata-mata yang menurutnya terlalu berani memandangi istrinya.
“Dave, tunggu! Kalau kita mau berbelanja, kita harus menunggu Kak Angel dan Kak Billy. Mereka juga pasti ingin ikut. Lagipula kita tidak tahu wilayah ini,” seru Elia sambil mengejar langkah Dave.
Namun Dave tidak menjawab. Ia justru berhenti, lalu membalik tubuh. Sorot matanya menatap Elia lurus, membuat langkah Elia otomatis melambat.
Dave kemudian menepuk tempat duduk di sebelahnya memberi isyarat agar Elia duduk dan mendekat.
Elia semakin heran. Ada apa dengan suaminya itu? Sikap Dave tidak seperti biasanya. Seperti ada sesuatu yang tertahan namun terlalu gengsi untuk di ungkapkan.
“Kau tahu, saat tadi kau berjemur di sana… banyak pria yang berlalu-lalang di depanmu. Mereka melirik mu sambil senyum-senyum menjijikkan,” ucap Dave dengan wajah datar, namun jelas terlihat ia bergidik geli.
Ia mengeluarkan satu batang rokok yang sudah tersedia di atas meja, lalu menyalakannya. Dave mengisapnya pelan, seolah itu cara paling aman untuk menenangkan sesuatu yang sedang bergejolak di dalam dadanya.
“Aku bahkan tidak tahu kalau mereka melirik dan tersenyum padaku,” jelas Elia, suaranya lembut. “Karena fokusku hanya pada pemandangan pantai yang begitu indah.”
Dave menghembuskan asap ke udara, kemudian melirik Elia dengan sinis tipis. “Aku melihatnya dengan jelas. Bahkan mereka seakan menganggap aku tidak ada di sampingmu,” omelnya.
Elia terdiam sesaat. Kini ia paham… mungkin Dave memang tidak suka jika tubuhnya dinikmati oleh pria lain. Atau… mungkin Dave cemburu?
Namun Elia buru-buru menepis pikirannya sendiri. Ah, yang benar saja. Ia tidak mau terlalu percaya diri, tidak mau berkhayal terlalu tinggi. Bagaimanapun juga, Dave sudah beberapa kali menegaskan bahwa ia tidak mencintainya.
Dan Elia… tidak ingin terluka hanya karena salah menafsirkan sesuatu yang seharusnya tidak ia harapkan.
Beralih pada kediaman Bianca, ia benar-benar merasa seperti burung dalam sangkar. Ia ingin keluar dari apartemen, menghirup udara bebas, sekadar membeli sesuatu di minimarket terdekat… tapi rasa takut selalu menahannya.
Bagaimana jika tiba-tiba ia bertemu Alex di tepi jalan?
Atau lebih parahnya… pria itu menguntitnya diam-diam, lalu melakukan hal-hal gila di luar dugaan?
“Oh, sial…” Bianca mengembuskan napas kasar, lalu mengutuk dirinya sendiri. Dadanya naik turun menahan kesal sekaligus cemas. Ia mondar-mandir di ruang apartemen seperti orang kehilangan arah.
Kalau saja malam itu ia tidak pergi ke bar dan tidak bertemu pria brengsek itu. Mungkin sekarang ia tidak perlu merasa terjebak seperti ini. Tidak perlu hidup dalam ketakutan, bahkan untuk sekadar melangkah keluar dari pintu.
“Dave bilang dia sudah menyuruh orang untuk berjaga… apakah orang suruhannya itu kini tengah menjagaku dari jauh?” gumam Bianca pelan.
Tanpa ragu, ia meraih ponsel di atas meja nakas lalu menghubungi Dave. Seakan tak peduli meski pria itu sedang berlibur bersama istrinya.
Panggilan tersambung.
Di sisi lain, Dave segera menerima telepon itu. Ia menggeser duduknya sedikit, memberi jarak dari Elia yang ada di sebelahnya. Elia memperhatikan mimik Dave dengan heran. Padahal baru tadi ia merasa Dave tampak seperti takut Elia “diambil” orang. Namun sekarang… Dave justru terlihat seperti sedang waspada, seolah menahan ketegangan tertentu.
“Aku ganti baju dulu,” ucap Elia akhirnya.
Ia bergegas masuk ke dalam kamar, meski hatinya tidak tenang. Bayangan tentang Dave yang pernah menyebut seseorang di telepon sebagai kekasih kembali berputar di kepalanya, membuat langkahnya terasa berat.
Begitu Elia pergi, Dave langsung bicara dengan nada to the point, dingin, seakan panggilan itu bukan dari orang yang spesial.
“Ada apa?”
Di seberang sana, Bianca terdiam beberapa detik. Ia bahkan sempat memeriksa layar ponselnya, memastikan ia tidak salah menghubungi seseorang.
[Dave… nada bicaramu galak sekali]
Dave segera berdiri. Ia berjalan menjauh dari area kamar, beberapa langkah agar suaranya tidak terdengar oleh Elia.
“Sayang… aku sudah bilang kan aku sedang bersama istriku,” ucap Dave, kali ini lebih lembut. Ada nada khawatir di sana, takut Bianca tersinggung atau malah marah.
[Tapi aku takut, sayang… di saat seperti ini kau justru tidak ada di sampingku] Suara Bianca lirih, terdengar rapuh.
“Maaf, sayang. Janji setelah pulang dari liburan, aku akan menemanimu.”
[Sayang… aku ingin keluar untuk membeli keperluanku. Tapi aku takut kalau pria brengsek itu mengikuti aku]
Dave mengusap pelipisnya pelan, lalu menjawab cepat, mencoba menenangkan. “Kau tidak perlu khawatir. Orangku sedang berjaga di sana.”
Bianca menahan napas, menunggu detail yang lebih jelas.
Dave melanjutkan dengan nada serius. “Dia memarkir mobilnya di area parkiran apartemen. Memakai baju berwarna hitam, dengan logo bintang di jaketnya. Kalau kau keluar, kau akan melihatnya.”
Dave berhenti sejenak, lalu menambahkan lebih pelan, seolah menegaskan bahwa Bianca tidak sendiri.
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
semoga berbeda ini cerita