NovelToon NovelToon
Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action
Popularitas:668
Nilai: 5
Nama Author: samSara

罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 - Tatakai part I

...⚠️⛔️part ini mengandung kekerasan⛔️⚠️...

...____________________...

...**...

...血の初陣:地獄の選別...

...-Chi no uijin: jigoku no senbetsu-...

...'Pertarungan Perdana Berdarah: Seleksi Neraka'...

...⛩️🏮⛩️...

..."Tak ada naga yang terlahir dari kenyamanan. Mereka ditempa oleh luka, diuji oleh darah, dan dilahirkan kembali dalam api."...

...⛩️🏮⛩️...

Hari ke-50 sejak irezumi.

Hari ke-43 sejak pelariannya digagalkan.

Hari ke-11 sejak latihan fisik terakhir dilakukan.

Hari ke -2 sejak upacara penerimaan Noa.

Langit masih kelabu ketika pintu kamar Noa diketuk tiga kali: pelan, lalu cepat.

Yang berdiri di ambang pintu bukan Kuroda. Bukan Jin.

Melainkan Mikami Torao sendiri—mantan ketua dari Gokaishū, seorang yang pendiam seperti batu karang, dan lebih sering dikenal karena membunuh murid yang gagal... daripada melatihnya.

Ia tidak menunggu Noa mempersilakannya masuk.

Langkah-langkahnya berat dan tenang, seperti bumi memberi jalan.

Tatapannya menyapu kamar Noa: ranjang yang sudah rapi, meja teh yang belum disentuh pagi ini, dan jendela yang masih tertutup tirai.

"Kuharap kau cukup tidur, Nakamura," katanya datar, tanpa basa-basi. "Karena hari ini tidak akan memberimu waktu untuk menyesal."

Tak ada senyum. Tak ada sapaan.

Hanya satu kalimat:

"Berdirilah. Hari ini kau diuji."

Tubuh Noa tak lagi luka tapi rasanya masih belum utuh.

Secara medis, ia sudah pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi kaki pincang, tidak ada retakan di rusuk, tidak ada sisa darah di tenggorokan. Tapi tubuhnya seperti belum mengerti bahwa perangnya baru saja dimulai.

Latihan fisik yang dijalaninya terlalu singkat, terlalu ringan dibandingkan ujian yang menantinya. Ia bisa berlari, menendang, menahan napas dalam durasi yang layak tapi itu semua teori. Dalam kenyataannya, dia tahu dirinya sama sekali bukan petarung. Bahkan jauh dari itu.

Bukan ketakutan yang menahan langkahnya, melainkan ketidaktahuan. Ia belum mengerti bagaimana menentang takdirnya di dunia hitam ini.

Tapi ujian tak menunggu kesiapan.

Ia diantar keluar dari ruangan nyamannya, menyusuri beberapa lorong, turun melalui anak tangga besi yang berkarat, lalu menembus pintu baja ke sebuah arena bundar tertutup, di pusat markas Yamaguchi-gumi.

...⛩️🏮⛩️...

Noa berdiri di tengah lingkaran batu—arena bawah tanah berbentuk bundar, disinari cahaya kuning keemasan dari lampu gantung gaya zaman Edo yang digantung rendah. Bau tanah basah bercampur darah yang mengendap lama tercium tajam, seakan dindingnya sendiri pernah menjadi saksi biksu pada apa yang tak pernah bisa dilupakan.

Kendogi¹ putih gading yang ia kenakan tampak asing di antara kelamnya ruangan itu, warnanya seperti potongan bulan yang jatuh ke dalam kegelapan. Lengan bajunya digulung sebatas siku, memperlihatkan otot yang tegang dan bekas luka lama. Kain itu sederhana, tanpa hiasan, namun justru membuat tubuhnya bagai sosok persembahan; rapuh, namun sakral. Setiap lipatan kainnya menunggu noda dan arena itu.

Sekelilingnya duduk para tetua, pengawas, dan petarung dari klan. Mereka mengenakan hakama² dan haori³ gelap, sebagian besar berwarna hitam legam dengan simbol naga sisik merah kecil di punggung. Para petinggi bahkan mengenakan montsuki, jubah upacara laki-laki bergaya tradisional lengkap dengan sabuk dan lambang keluarga masing-masing di dada.

Di atas tribun batu, sang Oyabun duduk tegak, wajahnya tanpa emosi. Montsuki⁴ hitamnya menjuntai bagai bayangan malam, kamon⁵ keluarga tersemat di dada dan punggung. Hakama abu tua jatuh kaku di lantai batu, sementara sebuah haori panjang menyelubunginya, menguarkan aura dominan yang tajam bagi sekitarnya. Di sisi kiri dan kanan berdiri tiga pewaris sah: Akiro, Reiji, dan Kaede—masing-masing dalam pakaian tradisional yang berbeda, namun sama-sama memberi aura kuasa dan bahaya. Tiga warna. Tiga gaya. Tiga ancaman hidup.

Di belakang Raizen, enam Korps Sabuk Merah dengan ketuanya berdiri kaku. Bertopeng tengkorak logam, bersenjata lengkap, zirah mereka bersimbol naga kecil di dada kiri. Mereka adalah pembantai rahasia klan—Gokaishu—bergerak hanya atas nama Oyabun.

Di sisi kanan tribun, Kuroda, mengenakan jubah obsidian berhias pola ombak dan corak naga. Kagemaru duduk santai dengan kimono biru gelap dihiasi garis emas tipis. Sama-sama duduk dalam diam seperti patung-patung penjaga kuil tua.

Sedikit di belakang, berdiri Sakaki Jin—mantan algojo yang kini wakil tertinggi. Tubuhnya tinggi, penuh bekas luka dibalik jubahnya, tangan bersilang di belakang. Di sebelahnya, Mikami Torao berdiri tegap dalam seragam tempur, tangan selalu di dekat sarung pedangnya. Tak jauh darinya, berdiri Kaito dengan montsuki hitam polos, tanpa lambang, tanpa motif. Satu tantō tersembunyi. Tak ada warna, tak ada suara—hanya presisi.

Agak menyatu dengan dinding kayu gelap, Kurosawa Tadashi berdiri tenang dalam kimono abu-abu lurik perak. Kataginu⁶ tipis di bahunya menandai posisinya sebagai kagechō—penasihat utama. Di tangan kirinya, sebuah techo⁷ bersampul hitam. Tak pernah dibuka, tapi cukup untuk membuat semua orang bertanya: berapa banyak rahasia yang tersimpan di sana?

Dan menyatu dalam bayangan panggung, ada Hane. Hitam sepenuhnya, nyaris tanpa suara. Ia bukan manusia di mata Noa—ia adalah ancaman yang tak bisa dideteksi.

Hari ini, mereka semua hadir.

Bukan untuk memberi nilai.

Tapi untuk menyaksikan...

apakah darah pewaris Noa... benar-benar layak.

...⛩️🏮⛩️...

Para petarung garis depan, algojo veteran, dan bayangan-bayangan berdarah yang biasa bergerak dalam senyap—semua duduk tenang, tapi mata mereka menyala. Mereka yang hidup dalam kekerasan, yang jarinya pernah mematahkan tulang atau menyayat daging, hari ini tidak datang karena tugas.

Mereka datang karena bagi mereka ini hiburan.

Bagi mereka, ini bukan ujian. Ini pertunjukan kuno.

Di mana tubuh adalah teater, dan luka adalah bahasa.

Tempat seseorang bisa hancur... atau bangkit bertahan.

Di balik wajah tanpa ekspresi, ada kegembiraan gelap yang nyaris tak bisa disembunyikan—

karena bagi mereka yang terbiasa hidup dalam genangan darah dan mayat,

Tidak ada tontonan yang lebih menarik selain tubuh yang dipaksa bertarung demi harga diri.

Jin berbicara pendek.

"Latihan hanya mengasah. Tapi ujian menentukan hasil akhir. Naga yang tak bisa bertarung, akan dikuliti... Mulai dari bawah."

...⛩️🏮⛩️...

Level Rendah – Ujian Tubuh

Lima pria muda melangkah ke dalam lingkaran. Mereka mengenakan pakaian bertarung sederhana, sebagian bertelanjang dada. Otot dan luka masa lalu menjadi lambang kebanggaan mereka. Mereka bukan petarung elit. Tapi bukan pemula juga.

Noa menegakkan badan. Walaupun sekarang luka-lukanya sudah pulih, tetap saja ada sedikit rasa nyeri yang kadang-kadang muncul di bekas luka rusuknya dan kedua kakinya bekas pelatihan. Tapi ia tak diberi waktu cukup untuk pulih sempurna.

Lonceng bambu dipukul.

Pertarungan tangan kosong dimulai.

Satu dari mereka langsung menyerang dari depan. Yang lain mengitari dari samping. Noa mencoba bertahan, tapi serangannya canggung. Ia sempat menjatuhkan satu lawan, tapi tiga lainnya membalas cepat—tendangan ke perut, pukulan ke rahang, dan cengkeraman kuat di lengan kirinya.

Noa terpelanting ke tanah. Darah keluar dari bibir keringnya.

Sorak-sorai kecil dari tribun terdengar seperti cibiran.

Tapi Noa bangkit.

Tangannya gemetar. Matanya mulai menyala samar. Irezumi di punggungnya berdenyut pelan, tanda bahwa segel merasakan kuraokami mulai membuka mata. Tidak bangkit. Belum.

Putaran kedua dimulai. Noa mengamati gerak lawan-lawannya dengan fokus yang tajam, mencoba membaca pola mereka. Ia masih kalah dalam kecepatan dan teknik, tapi kini sulit dipukul telak. Setiap serangan yang datang, ia menangkis dengan tepat, menghindar dengan langkah cepat, atau menekuk tubuhnya di saat terakhir. Nalurinya, liar dan terasah oleh rasa sakit, membuatnya bertahan meski tubuh sudah letih.

Darah mengalir dari beberapa luka di lengan dan wajahnya, menodai kendogi putih gadingnya, namun ia tetap bergerak, memanfaatkan celah sekecil apapun. Lawan-lawannya—lima orang yang sebelumnya tampak tak terkalahkan—mulai goyah. Pukulan mereka melambat, tendangan kehilangan kekuatan, dan napas mereka terengah-engah. Tubuh mereka kelelahan menahan benturan dan serangan tanpa henti.

Lima menit berlalu. Suara benturan, teriakan, dan napas tersengal memenuhi ruang bawah tanah, namun Noa tetap berdiri di tengah lingkaran batu. Tersengal, berdarah, pakaian sobek di beberapa bagian. Namun ia tetap berdiri.

Gerakannya belum sempurna, setiap pukulan dan tangkisan masih kasar, tidak seluwes yang diinginkannya. Tapi sesuatu telah bangkit dalam dirinya—bukan teknik, bukan strategi, melainkan insting bertahan hidup yang menolak tunduk, yang memaksa tubuhnya bergerak walau setiap otot menjerit kelelahan. Sebuah naluri murni, liar, dan keras kepala, seperti api yang menolak padam.

...⛩️🏮⛩️...

Level Menengah – Ujian Jiwa

"Ganti barisan," suara Torao yang telah berpindah ke sisi arena.

Sepuluh orang masuk. Kali ini, bukan pemula. Tapi para petarung lapangan—pengintai, algojo, pengawal internal. Mereka mengenakan pakaian tempur lengkap: lengan kain pelindung, sepatu split-toe, dan pelindung tulang dada dari kulit keras.

Tidak ada aba-aba.

Mereka menyerang serentak.

Noa sempat menghindar satu, dua... tapi pukulan dari belakang membuatnya ambruk. Serangan datang dari segala arah. Tendangan ke punggung, pukulan di dada, sabetan ke kaki.

Noa dihajar habis-habisan oleh sepuluh petarung lapangan. Ia sempat mencengkeram satu kepala dan membantingnya, tapi lututnya dihajar dari samping. Tubuhnya terpental ke tanah keras.

Tiga pewaris klan memperhatikan. Beberapa pengawas mulai mengangguk pelan, seolah menyetujui nasibnya akan berakhir di sini.

Tapi...

Noa bergerak. Pelan. Gemetar.

Saat tubuhnya hampir tak sanggup berdiri lagi, mata biru keperakan itu menyala. Kekuatan Kuraokami mulai bangkit, merayap dari dalam darah Noa seperti air yang melawan bendungan. Suara detak jantung semua orang di arena terdengar di telinganya. Kekuatan itu tidak penuh—hanya separuh—kekuatan itu seperti menjalar disetiap nadinya. Tapi cukup untuk membuat lawan-lawannya itu menjadi kewalahan.

Noa melompat ke arah salah satu penyerang. Ia bergerak lebih cepat sekarang. Tendangan rendah. Hantaman siku. Kepala dibentur lutut.

Satu demi satu jatuh.

Tidak karena kekuatan penuh, tapi karena brutalitas baru yang terlahir dari sedikit kekuatan naga itu. Ia menjadi liar. Tidak rapi. Belum sempurna tapi berbahaya.

Saat lawan terakhir menyerah, Noa berdiri dengan tubuh penuh luka baru. Bahunya tergores, rusuknya membiru. Tapi ia menang.

Ia berdiri—penuh luka, napas terengah—arena berubah menjadi sunyi. Di sekelilingnya, sepuluh tubuh lawan sebelumnya berserakan. Beberapa tak sadarkan diri, sebagian menggeliat, dan satu atau dua dibopong keluar dari arena.

Raizen segera memberi aba-aba.

"Sekarang, hadapi pewaris klan Yamaguchi-gumi."

Tak ada tepuk tangan. Tak ada pujian.

Karena pertarungan yang sesungguhnya baru akan dimulai.

...—つづく—...

Baju latihan kendo.

Celana lipit tradisional

Jaket panjang tradisional yang dipakai diluar kimono/montsuki

Sejenis kimono formal.

Lambang keluarga/klan.

Rompi tanpa lengan dengan bahu sangat lebar dan kaku.

Buku catatan pribadi.

1
Dylla
jadi sekalian belajar bahasa jepang kan kwkw emosional banget alurnya mak
Dylla
ga bisa berkata-kata lagi. suka banget detail nya
Faeyza Al-Farizi
bagian ini penuh teka-teki, yang paling bikin penasaran sih... siapa bapaknya si bayi. apakah oyabun? atau.... ah mari kita cari petunjuknya di bab berikutnya 👍
Faeyza Al-Farizi
Noa, mati waktu lahir. Tapi keknya bakalan mati lagi di depan. walau secara kertas lagi🥲
Faeyza Al-Farizi
walau kebenaran dikubur sekalipun, suatu saat akan bangkit 🥴
Hasif Akbar
Kasihan ya ... Misao, pasti menanggung klan Yamaguchi dan pasti menjadi buronan, sudah dipisahkan sama ibunya, ngeness gak bisa menikmati sisi cahaya dunia 🙏
Chuen lie Liem
serpihan puzzle yang ditemukan Tadashi saling melengkapi. dia yakin ini semua bukan kebetulan, RIN DAN ANAKNYA MASIH HIDUP HANYA GANTI IDENTITAS, pen. di satu tempat terpencil. Bagaimana keadaan Rin dan anaknya ? apa yang akan dilakukan Tadashi? Kita lihat saja episode berikutnya, alur ini semakin menarik, penasaran dengan plot twistnya...
Diaz Ardi
pada akhirnya tetap dipenggal, meski gen membuka mulutnya, sedari awal tadashi tidak memberikan pilihan untuk hidup.
​disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
Happy Netta
Ceritanya terenyuh banget, apalagi sosok bayi tak berdosa harus tumbuh didalam rahim namun keluar sudah tak bernyawa dan ngerinya berstatus cacat.. tapi salut dengan perempuan itu yg melahirkannya, ia tetap merawatnya didalam kandungan sampe di hari persalinan yg walaupun tidak akan pernah ia bisa rawat seperti saat didalam kandungannya.🥹
Happy Netta
Di awal udah negthink, tp ternyata bikin nyesek.. author bisa aja ngasih settingannya se real itu. Omg.. wajib masuk list bacaan nih!!!
Dylla
patriaki garis keras ini. apalagi latar waktunya zaman baheula
Chuen lie Liem
Hidup Rin se-derita itu, seorang gadis penghibur yang pasti cantik, mempunyai anak dari bangsawan Jepang. Bayi itu tak diakui, ibunya iusir dan didengungkan berulang anak yang lahir itu cacat dan mati. Setelah ini Rin hidup tanpa identitas, dengan anak yang tumbuh bersamanya di suatu tempat yang tersembunyi. Diksi cerita ini kuat, penjabaran membawa kita masuk ke dalam cerita tanpa dapat ditolak. padahal ini baru prolog udh sebagus ini. sangat bikin penasaran.
Zainab Firman
Langkah atau tindakan apakah yang akan dilakukan Tadashi terhadap Misao yang tak lain adalah Rin?
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
Zainab Firman
Karya yang sangat interest untuk dibaca, seperti mudah ditebak alur ceritanya, padahal tidak, alur ceritanya sangat kompleks dan penuh intrik
Faeyza Al-Farizi
Sumpah, ini baru prolog loh. catat, prolog.
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍
Diaz Ardi
Apakah Rin ini seorang yamato nadeshiko? Tetapi menjalin hubungan dengan orang yang tak seharusnya ia bersamanya? Sehingga saat memiliki buah hati bersama sang Oya-bun. Keberadaannya harus dihapuskan bersama jejak kelahiran anak tersebut.
Faeyza Al-Farizi
kalau gitu kenapa disentuh dan dibuat ada si bayi 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!