Di usia kepala tiga dan tak kunjung naik pelaminan membuat Manda merasa resah. Dihantui perasaan takut justru dirinya mulai beranggapan telah terkena sebuah kutukan.
Lantas kesalahan besar apa yang telah Manda perbuat di masa lalu hingga dia punya pikiran seperti itu?
Maka ikuti saja kisahnya...
SQUEL DARI NOVEL SENANDUNG IMPIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Enam
Mendengar suara di dapur Manda bergegas keluar dari kamarnya. Memang ini lah waktu yang dia tunggu-tunggu untuk bertemu dan bicara berdua dengan Akram.
Saat ini Manda memperhatikan gerak gerik lelaki itu yang tengah memanaskan air yang baru saja diambil dari dispenser, dan Manda yakin yang selanjutnya dilakukan oleh Akram adalah menyeduh kopi seperti malam-malam biasanya.
"Kamu mau kopi?" tanya Akram menyadari kehadiran Manda, yang hanya berdiri menunggui tanpa berucap apa-apa.
Manda berdehem. "Tidak," ucapnya menolak karena memang niatnya menemui Akram dengan tujuan lain.
Air yang dipanaskan dari kompor telah mendidih, Akram mematikan kompor lalu menuang air panas ke dalam cangkir yang sudah berisi serbuk kopi. Hingga aroma harum kopi yang dikenali Manda mulai tercium semerbak masuk dalam indra penciumannya.
"Apa kamu sudah membuat keputusan?" tanya Manda setelah Akram selesai membuat kopi.
Kening Akram mengernyit, menoleh ke arah Manda.
"Maksudku permintaan putrimu. Dia tak mengharapkanku kemari, jadi ada baiknya kamu cari saja pengasuh lain," ucap Manda menyampaikan maksud dan tujuannya.
Akram meletakkan ponselnya di samping cangkir kopi yang masih panas lalu menarik kursi untuk mendudukan diri di kursi meja makan. Hari ini dirinya memang banyak pekerjaan dan sebagian dia bawa pulang untuk dilembur dikerjakan di rumah.
Pikiran suntuk jelas ada. Dari padatnya pekerjaan di kantor, belum menginjakkan kaki di rumah mendengar rengekan putrinya sampai dia mengurus putrinya sampai anak itu tertidur pulas hingga sampai lah sekarang dia berada di dapur membuat kopi dengan tujuan matanya tetap terjaga beberapa jam ke depan untuk menyelesaikan beberapa berkas penting yang besok akan dipresentasikan.
Kehadiran Manda dengan ucapan tadi juga merupakan satu permasalahan yang harus diselesaikan, pikirnya.
"Duduk lah," ucap Akram mempersilahkan Manda untuk duduk di hadapannya.
Manda menuruti ucapan Akram. Duduk dengan masih membungkam mulutnya. Sorot matanya kini justru dia larikan, enggan menatap Akram dan malah tertuju pada ponsel di samping secangkir kopi panas.
Bila diperhatikan memang itu adalah ponsel keluaran terbaru. Lalu menilik penampilan Akram selama dua minggu ini, lelaki itu terlihat dengan pakaian dan segala atribut yang melekat pada dirinya dengan merk terbaik meski dengan tiap model dan warna yang dikenakan begitu sederhana, semua terlihat pas menambah kesan wibawa pada sosok Akram.
Manda menghela pendek napasnya, mengenyahkan pikiran tadi lalu menunduk.
"Nagita hanya belum terbiasa," ucap Akram membalas perkataan Manda beberapa menit lalu.
"Kalau aku yang meminta?" sahut Manda masih bertahan pada posisinya tak menatap Akram.
"Aku belum bisa menyetujui," timpal Akram sontak membuat Manda mengernyit, mengangkat kepalanya.
"Maksudmu?" tuntut Manda meminta penjelasan lebih. Rasanya dia menyerah bukan hanya karena Nagita semata, tapi juga karena lelaki di hadapannya kini. Bertemu orang di masa lalu dengan status yang bagaimana langit dan bumi, bagi Manda serasa sisi dunianya berjungkir balik. Malu, gengsi dan bertemu kembali serasa orang asing. Manda tak habis pikir sebab beberapa hari ini Akram tak pernah menyinggung tentang masa lalu yang dulu.
"Untuk waktu dekat ini aku belum bisa mencari pengganti yang baru. Aku juga belum bisa meluangkan waktu mengurus putriku sendiri. Jadwal pekerjaan mendekati akhir tahun ini juga sedang padat-padatnya dan lusa aku akan Singapore. Jadi aku meminta pengertianmu, juga anggap saja ini permintaan tolong."
Manda tertegun, menatap tak percaya Akram yang dari mimik wajahnya menampilkan suatu permohonan. Kalau dipikir-pikir memang cukup sinkron juga alasannya, mengingati di rumah ini ada Ibunya yang dalam kondisi lemah, tak boleh banyak beraktivitas. Bik Suti pun juga memiliki tugas lain yang terkadang mengurus keperluan Maharani.
"Aku ga bisa janji untuk tidak memarahi putrimu atas segala ulahnya yang kadang memancing emosiku. Sebenarnya aku sudah bersikap sabar, tapi tahu kan sabar ada batasnya," ungkap Manda jujur.
Akram menarik sudut bibirnya, iya dia pernah bahkan sebelum berangkat bekerja mendengar perdebatan antara Manda dengan putrinya. Yang malah terkesan membuat suasana rumahmya menjadi ramai akibat keributan yang mereka timbulkan.
Namun sejauh ini meski mereka saling berdebat dan yang membuat Akram bersikap biasa karena tak ada tindakan luar batas lain seperti tindak kekerasan secara fisik.
"Nagita butuh berinteraksi. Terimakasih karena selama kamu disini anak itu lebih sering aktif berbicara, menyampaikan pendapatnya, dan tentunya lebih ekspresif. Justru aku merasa bersalah karena akhir-akhir terlalu sibuk dengan pekerjaan," ucap Akram dan di wajahnya terpancar sedikit rasa bersalah.
Manda berdehem. "Memang kamu rutin lembur di kantor pulang larut malam. Walau pulang agak sorean kamu juga selalu mengunci diri di ruang kerja, jadi apa memang segitu banyaknya perkerjaan yang kamu lakukan?"
"Ya— bisa dikatakan begitu," sahut Akram mengangguk.
Manda mencebik tak habis pikir dan membatin, pantas orang di depannya jadi orang kaya. Sedangkan dirinya, tak sepekerja keras itu. Kala masih kerja di tempatnya dulu saja dia kerap mengeluh kalau ditunjuk untuk lembur dan memilih memiliki waktu istirahat yang banyak bertujuan agar gak gampang capek.
"Gak sayang sama badan kamu. Maksudnya kamu di masa muda kerja capek-capek, pagi sampai larut malam, dan aku yakin waktu tidurmu hanya hitungan jari. Lalu esoknya kamu balik kerja. Dan itu rutin kamu kerjakan setiap hari, lalu aku gak bisa bayangkan di masa tua kamu— bagaimana wujudmu. Bisa saja kamu gampang sakit, terserang rematik dan lebih parahnya struk."
Dengan segala asumsi itu Akram tak lantas membalas ucapan Manda, dia memiliki alasan tersendiri kenapa bisa pekerja keras seperti yang dia lakukan hingga sekarang.
"Ditambah kamu terus-terusan mengkonsumsi kopi, yang gak harus kuingatkan seharusnya kamu mengerti kalau kopi gak baik buat kesehatan," ujar Manda melirik kopi di hadapan Akram. "Jadi karena kamu sudah keseringan, aku sarankan kopinya buat aku aja," timpal Manda yang lantas menarik cangkir kopi yang masih terasa panas di kulitnya.
"Awas panas!" ucapan Akram sepertinya telah terlambat sebab bersamaan dengan itu Manda mengaduhkan kata panas, meletakkan kembali cangkir dengan sembarang tempat hingga tertumpah dan mengenai ponsel milik Akram yang tergeletak tak jauh dari genangan air kopi panas.