NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 7: UJIAN SELEKSI BEASISWA

Pagi itu aku bangun jam dua.

Jam dua pagi.

Gak bisa tidur. Terlalu deg-degan. Terlalu takut. Terlalu... terlalu banyak yang aku pikirin.

Hari ini. Hari Senin. Dua puluh tujuh Januari. Hari ujian seleksi beasiswa.

Aku udah siapkan semua berkas dari kemarin. Fotokopi rapor semester satu sampe lima. Surat keterangan tidak mampu dari kelurahan yang aku urus tiga hari lalu sambil jalan kaki bolak-balik sepuluh kilometer. Fotokopi KTP ayah sama ibu. Pas foto tiga kali empat dua lembar yang aku foto di studio murahan lima ribu rupiah satu lembar. Formulir yang udah aku isi dengan tulisan tangan gemetar.

Semua aku masukin ke amplop cokelat. Rapi. Hati-hati. Takut kusut. Takut sobek. Takut hilang.

Aku duduk di pinggir kasur. Menatap amplop cokelat itu.

Ini bukan cuma amplop.

Ini harapan. Harapan terakhir.

Kalau aku gagal hari ini...

Aku gak tau harus gimana lagi.

"Satria?"

Suara ayah. Pelan. Serak.

Aku toleh. Ayah menatapku dari kasur. Matanya terbuka. Meskipun gelap, aku bisa liat matanya berkaca-kaca.

"Iya, Yah?"

"Kamu... kamu sudah siap?"

Aku ngangguk. "Sudah, Yah."

Ayah diam sebentar. Napasnya berat.

"Satria... maafkan ayah gak bisa nemenin kamu. Gak bisa anterin kamu. Gak bisa... gak bisa jadi ayah yang bener buat kamu..."

Suaranya patah. Gemetar.

Aku langsung berdiri. Aku duduk di sebelah kasur ayah. Aku pegang tangannya yang kurus.

"Ayah jangan bilang begitu. Ayah udah jadi ayah terbaik buat aku. Ayah udah ngajarin aku jadi orang kuat. Ayah udah ngasih aku alasan buat terus berjuang. Ayah... ayah ada itu udah cukup buat aku."

Air mata ayah jatuh. Menetes ke bantal yang udah menguning.

"Satria... kamu harus menang hari ini, Nak. Kamu harus. Ini satu-satunya jalan kita keluar dari kemiskinan ini. Kamu harus..."

"Aku akan menang, Yah. Aku janji."

Ayah megang tanganku erat. Tangannya dingin. Gemetar.

"Ayah doain kamu, Nak. Ayah... ayah gak bisa berbuat apa-apa lagi selain doa. Tapi ayah doain kamu dengan sepenuh hati."

Aku peluk ayah. Tubuhnya kurus kering di pelukan aku.

Kami berdua nangis dalam diam.

***

Jam empat pagi aku berangkat.

Ibu udah bangun. Dia siapin air panas buat aku mandi. Dia siapin seragam yang udah dia cuci dan setrika pake setrika arang pinjeman tetangga.

"Satria... ini. Ibu siapin sarapan."

Ibu sodorkan piring. Di atasnya ada nasi putih sama telor dadar. Satu butir telor yang dipecah jadi tipis-tipis biar keliatan banyak.

Aku tau ini telor terakhir yang ibu simpen dari seminggu lalu. Harusnya buat ayah. Tapi ibu kasih ke aku.

"Bu... ini buat ayah aja..."

Ibu geleng. "Ayah udah makan tadi. Ini buat kamu. Kamu harus makan. Ujiannya panjang. Kamu harus kuat."

Aku makan perlahan. Setiap suap terasa berat. Berat karena aku tau ini hasil pengorbanan ibu.

Selesai makan, aku pakai seragam. Rapi. Bersih. Ibu sisir rambutku pake sisir plastik yang udah patah sebagian giginya.

"Satria... ibu doain kamu menang. Ibu yakin kamu bisa. Kamu anak yang pinter. Kamu pasti bisa."

Ibu peluk aku dari belakang. Tangannya yang kasar peluk erat.

"Terima kasih, Bu. Aku akan menang. Aku janji."

Aku keluar dari rumah dengan amplop cokelat digenggam erat.

Langit masih gelap. Jalanan sepi. Hanya suara adzan subuh dari masjid kecil di ujung gang.

Aku jalan cepat. Lima kilometer. Aku harus sampe sekolah sebelum jam tujuh.

Sepanjang jalan, aku berdoa dalam hati.

"Ya Allah... ini ujian terberat dalam hidup aku. Kumohon beri aku kekuatan. Kumohon beri aku kejernihan pikiran. Kumohon... kumohon jangan ambil harapan terakhir aku. Kumohon..."

***

Aku sampe sekolah jam enam pagi.

Gerbang masih ditutup. Tapi satpam udah ada. Dia buka gerbang buat aku.

Aku langsung lari ke lantai tiga. Ke aula.

Aula masih kosong. Kursi-kursi udah disusun rapi. Ada meja-meja kecil buat ujian. Ada nomor peserta di setiap meja.

Aku cari nomor peserta aku. Nomor dua puluh tiga.

Aku temuin mejaku. Di pojok. Dekat jendela.

Aku duduk di sana. Aku keluarin buku catatan. Aku baca ulang materi. Matematika. Fisika. Kimia. Biologi.

Aku baca sambil gemetar. Tangan aku dingin meskipun udara pagi panas.

Jam tujuh kurang seperempat, pintu aula terbuka.

Adrian masuk. Dia bawa kantong plastik. Di dalamnya ada roti.

"Sat!"

Adrian lari ke arah aku. Dia duduk di sebelahku.

"Lu udah dari jam berapa di sini?"

"Dari jam enam."

"Gila lu. Rajin banget. Gue aja baru bangun jam setengah enam."

Adrian buka kantong plastik. Dia keluarin roti tawar isi cokelat.

"Ini. Buat lu. Lu pasti belum sarapan bener kan?"

Aku liat roti itu. Perutku bunyi. Padahal aku udah makan tadi. Tapi masih laper.

"Makasih, Dri."

Aku makan roti itu. Manis. Lembut. Enak banget.

Adrian duduk sambil buka bukunya sendiri. "Lu udah siap?"

Aku ngangguk. "Udah. Lu?"

"Lumayan. Gue belajar sampe malem kemarin. Bokap bantuin gue ngajarin Fisika. Dia jago Fisika soalnya."

Kami berdua belajar bareng. Saling tanya. Saling ngasih tau.

Perlahan-lahan peserta lain mulai berdatangan.

Ada dua puluh lima peserta total. Dari berbagai kelas. Kebanyakan anak-anak orang kaya. Baju seragam mereka rapi. Bersih. Wangi parfum.

Bagas datang paling akhir. Jam tujuh kurang lima menit. Dia masuk sambil ketawa-ketawa sama temen-temennya. Keyla di sebelahnya. Cantik dengan makeup menor meskipun lagi ujian.

Bagas liat aku. Dia nyengir.

"Wah, si anak miskin udah siap mau kalah?"

Aku gak jawab. Aku fokus ke buku.

Bagas jalan ke mejanya. Nomor satu. Paling depan. Dia duduk sambil main hape. Gak belajar. Gak buka buku. Santai banget.

Aku liat dia. Ada yang ganjil.

Kenapa dia santai banget? Kenapa dia gak belajar?

***

Jam delapan tepat. Pintu aula ditutup.

Pak Julian masuk. Dia bawa tas besar. Di belakangnya ada dua guru lain sebagai pengawas.

"Selamat pagi, anak-anak. Selamat datang di seleksi tahap pertama beasiswa prestasi kedokteran. Ujian hari ini terdiri dari tiga mata pelajaran. Matematika, IPA terpadu, dan Bahasa Indonesia. Total waktu dua setengah jam. Tidak ada waktu istirahat."

Pak Julian jalan ke depan. Dia buka tas. Dia keluarin amplop-amplop soal.

"Sebelum mulai, kumpulkan berkas administrasi kalian di depan. Satu per satu. Dipanggil berdasarkan nomor peserta."

Kami semua antri. Aku nomor dua puluh tiga. Aku antri hampir paling belakang.

Satu per satu anak-anak ngumpulin berkas. Ada yang berkasnya rapi dalam map plastik warna-warni. Ada yang pake map bludru mewah.

Giliran aku.

Aku maju. Aku serahin amplop coklatku yang udah kusut di ujung-ujungnya.

Pak Julian terima amplop itu. Dia buka. Dia liat berkas di dalamnya.

Dia baca surat keterangan tidak mampuku.

Dia liat fotokopi rapor.

Dia liat formulir.

Mukanya... mukanya datar. Gak ada ekspresi.

"Lengkap. Duduk."

Aku balik ke tempat duduk.

Jantungku masih berdetak kencang.

***

Ujian dimulai.

Soal dibagikan. Lembar jawaban juga.

Aku buka soal.

Matematika bagian pertama.

Aku baca soal pertama.

Integral fungsi trigonometri.

Aku tersenyum dalam hati. Ini gampang. Aku bisa.

Aku kerjain. Cepat. Lancar. Gak ada yang susah.

Soal kedua. Limit fungsi.

Gampang.

Soal ketiga. Turunan.

Gampang juga.

Aku kerjain semua soal matematika dalam tiga puluh menit. Padahal waktunya satu jam.

Aku lanjut ke IPA terpadu.

Fisika. Gerak parabola. Gampang.

Kimia. Stoikiometri. Gampang.

Biologi. Sistem peredaran darah. Gampang.

Semua gampang.

Ini soal paling gampang yang pernah aku kerjain.

Aku selesai semua soal dalam satu jam setengah. Masih ada satu jam tersisa.

Aku cek ulang. Aku yakin semua jawabanku bener.

Aku liat ke sekeliling.

Kebanyakan anak-anak masih ngerjain. Ada yang garuk-garuk kepala. Ada yang gigit pulpen. Ada yang liat ke atas mikir keras.

Tapi ada yang aneh.

Bagas. Dia gak ngerjain. Dia cuma coret-coret kertas. Gambar-gambar gak jelas. Mukanya santai. Senyum-senyum sendiri.

Dua anak lain di barisan depan juga sama. Santai. Gak serius ngerjain.

Bahkan ada yang tidur. Tidur di tengah ujian.

Kenapa mereka santai banget?

Kenapa mereka gak takut gagal?

***

Ujian selesai jam setengah sebelas.

Semua lembar jawaban dikumpulin.

Pak Julian ngumpulin satu per satu. Dia masukin ke dalam amplop besar.

"Terima kasih sudah mengikuti ujian. Hasil akan diumumkan tiga hari lagi. Kamis, tiga puluh Januari. Pengumuman akan ditempel di papan pengumuman jam delapan pagi. Bagi yang lulus akan mengikuti tahap wawancara di hari yang sama."

Semua anak keluar aula.

Aku jalan keluar bareng Adrian.

"Gimana, Sat? Soalnya susah gak?"

"Gampang kok. Gue yakin jawabanku bener semua."

Adrian senyum. "Bagus dong. Gue juga lumayan. Meskipun ada beberapa yang gue gak yakin."

Kami jalan ke koridor.

Tiba-tiba Bagas muncul dari belakang. Dia tepuk pundak aku.

"Eh, Satria."

Aku berhenti. Aku toleh.

Bagas senyum miring. Senyum yang... yang menyebalkan.

"Lu pasti yakin banget lu bakal lulus kan? Soalnya lu pinter. Lu jawab semua soal dengan bener."

Aku diam. Gak jawab.

Bagas mendekat. Dia bisik di telinga aku.

"Tapi percuma, Sat. Percuma lu pinter. Percuma lu jawab bener semua. Yang penting kan bukan otak. Yang penting itu duit. Dan koneksi. Lu punya dua-duanya? Gak kan?"

Dia ketawa pelan. Terus dia jalan pergi.

Aku berdiri di sana. Tangan mengepal.

Adrian pegang pundak aku. "Sat... jangan dengerin dia. Lu pasti lulus. Lu yang paling pinter di antara semua peserta."

Tapi kata-kata Bagas... kata-kata Bagas nancep dalam banget.

Yang penting bukan otak.

Yang penting duit dan koneksi.

***

Malam itu, aku pulang dengan perasaan campur aduk.

Di satu sisi aku yakin aku jawab semua soal dengan benar. Tapi di sisi lain, aku inget kata-kata Pak Joko. Hasilnya udah diatur.

Aku inget amplop yang diselipin ke tangan Pak Julian oleh ayahnya Bagas.

Uang suap.

Korupsi.

Aku masuk rumah. Ibu langsung nyambut aku.

"Satria! Gimana ujiannya?"

Aku senyum. "Lancar, Bu. Soalnya gampang. Aku yakin aku bisa."

Ibu peluk aku. "Alhamdulillah... syukurlah... ibu yakin kamu pasti lulus."

Ayah dari kasur juga senyum. "Satria... ayah bangga sama kamu."

Malam itu, kami bertiga shalat. Shalat maghrib. Shalat isya. Terus kami duduk di kasur ayah.

Kami berdoa bareng.

Ayah yang pimpin doa. Suaranya pelan. Gemetar. Tapi penuh harap.

"Ya Allah... Engkau Maha Mendengar. Engkau Maha Mengabulkan. Kami keluarga yang lemah. Kami keluarga yang tak punya apa-apa. Tapi kami punya anak yang baik. Anak yang pintar. Anak yang berusaha keras. Ya Allah... ini satu-satunya harapan kami. Jika memang rejeki Satria, jika memang jalan Satria, berikanlah. Jangan Engkau rampas harapan kami. Jangan Engkau biarkan kami tenggelam dalam keputusasaan. Kumohon... kumohon Ya Allah..."

Suara ayah patah. Dia nangis. Kami semua nangis.

Tangan kami saling menggenggam.

Keluarga kecil yang rapuh. Tapi masih punya harapan.

***

Tiga hari berlalu seperti tiga tahun.

Hari Selasa. Aku gak bisa konsentrasi di sekolah. Pikiranku cuma satu. Pengumuman.

Hari Rabu. Aku mimpi buruk lagi. Mimpi namaku gak ada di daftar.

Hari Kamis.

Hari pengumuman.

Aku gak tidur semalaman. Aku bangun jam dua pagi. Aku duduk di luar rumah. Natap langit.

Bintang-bintang bersinar. Indah.

"Ayah dulu bilang aku bintangnya. Tapi kenapa aku ngerasa... ngerasa bintang aku redup? Kenapa aku ngerasa... aku gak cukup terang?"

Bisikku pelan.

Jam lima pagi aku berangkat. Ibu gak tau. Ayah juga gak tau. Aku berangkat diam-diam.

Aku lari. Lari sekencang-kencangnya. Lima kilometer aku lari hampir semua.

Aku sampe sekolah jam enam pagi.

Gerbang belum dibuka. Aku tunggu di luar.

Jam tujuh gerbang dibuka. Aku langsung lari ke papan pengumuman.

Belum ada.

Belum ditempel.

Aku tunggu. Duduk di bawah papan pengumuman. Tunggu.

Jam setengah delapan. Belum ada.

Anak-anak mulai berdatangan. Mereka juga nunggu.

Adrian datang. Dia duduk di sebelah aku.

"Sat... lu dari jam berapa di sini?"

"Dari jam tujuh."

Adrian gak ngomong apa-apa lagi. Dia nemenin aku nunggu.

Jam delapan kurang sepuluh menit.

Pak Julian keluar dari ruang TU. Dia bawa selembar kertas besar.

Jantungku berhenti.

Itu dia.

Itu pengumumannya.

Pak Julian jalan ke papan pengumuman. Semua anak langsung berkerumun.

Dia tempel kertas itu.

Terus dia pergi.

Semua anak berebut liat.

Aku gak bisa gerak. Kaki aku lemas.

Adrian berdiri. Dia liat. Matanya menyipit baca.

Mukanya... mukanya berubah.

Dia toleh ke aku.

Matanya sedih.

"Sat..."

Aku berdiri. Kaki gemetar. Aku dorong anak-anak. Aku liat kertas itu.

**PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP PERTAMA**

**BEASISWA PRESTASI KEDOKTERAN**

**PESERTA YANG LOLOS KE TAHAP WAWANCARA:**

Bagas Pradipta

Keyla Anastasya

Andi Firmansyah

Dinda Pramesti

Raka Mahendra

Salsabila Putri

Farid Hidayat

Nabila Kusuma

Farhan Rizaldi

Clarissa Damayanti

Aku baca ulang.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Namaku gak ada.

Adrian juga gak ada.

Semua nama di sana... semua anak orang kaya.

Gak ada satu pun nama anak miskin.

Gak ada.

Aku mundur selangkah. Dua langkah. Tiga langkah.

Dunia berputar.

Kepala pusing.

Mata kabur.

"Sat... Sat lu gak papa?"

Suara Adrian jauh. Kayak dari ujung terowongan.

Aku jatuh berlutut.

Di tengah kerumunan anak-anak yang pada teriak seneng atau sedih.

Aku jatuh berlutut.

Tangan nutup muka.

Gak nangis.

Gak ada air mata keluar.

Cuma... cuma kosong.

Hampa.

Harapan terakhir aku...

Mati.

***

*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!