NovelToon NovelToon
Penjara Pernikahan Tuan Marvin

Penjara Pernikahan Tuan Marvin

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:45.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nita.P

Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.

Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.

Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.

Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 ~ Bukan Marvin Yang Memberi

Pergi ke rumah orang tua Raina hari ini, Marvin sudah cukup bersemangat, berpikir jika dia akan bertemu dengan Raina hari ini. Ketika mereka sampai, tentu langsung di sambut hangat oleh Papa. Tapi jelas bukan karena sebuah rasa tulus, tapi karena yang datang adalah Marvin.

"Silahkan duduk, ada apa Tuan Marvin tiba-tiba datang kesini setelah sekian lama? Sejak kepergian Amira, bahkan tidak pernah datang lagi kesini ya"

Marvin hanya tersenyum tipis, ya dia memang sering datang kesini saat masih menjadi kekasih Amira. Namun sejak Amira meninggal, memang dia tidak pernah datang lagi selain sehari sebelum pernikahan.

Mama membawakan minum untuk Marvin dan Bayu. Duduk di samping suaminya untuk ikut bergabung dengan mantan menantunya ini.

"Em, Tuan terima kasih sudah memberikan suntikan dana pada Perusahaan saya hingga bisa berjalan kembali, dan juga biaya pengobatan untuk istri saya"

"Iya, kami benar-benar berterima kasih. Sekarang saya sudah sembuh" ucap Mama menimpali ucapan suaminya.

Bayu terdiam, dia tidak berani mengatakan apapun. Namun melihat wajah Marvin yang terkejut dengan ucapan Papa dan Mama barusan. Mencoba mengingat kembali, tapi dia sama sekali tidak pernah memberikan uang pada orang tua Raina ini. Bahkan saat Raina memohon meminta pertolongan, dia bahkan tidak merespon dan hanya merendahkannya.

"Sebentar, memangnya kapan saya memberikan bantuan uang pada kalian?"

Papa dan Mama saling pandang, seperti mereka juga cukup tertegun dengan pertanyaan Marvin barusan. Tapi hanya berpikir jika mungkin Marvin sudah terlalu banyak melakukan investasi hingga melupakan satu investasi ini pada perusahaan Papa.

"Tuan sudah memberikan suntikan dana pada Perusahaan kami dan melunasi biaya pengobatan istri saya sampai sembuh"

Marvin mengerutkan keningnya dalam, masih belum bisa mencerna apa yang dimaksud oleh orang tua Raina ini. "Saya tidak pernah melakukan itu. Bahkan saat Raina meminta bantuan itu pun, saya tidak memberikannya. Saya mohon maaf atas itu karena sudah mengabaikan permintaan Raina saat itu"

Papa dan Mama langsung terdiam, mereka saling melempar pandangan yang penuh tanya dan penuh kebingungan. Jika bukan Marvin yang memberikan bantuan itu, lalu siapa? Sementara bantuan itu memang tertulis jelas atas nama Marvin.

"Jika bukan Tuan, lalu siapa?"

Marvin menggeleng kecil, pikirannya sudah menuju pada satu hal yang mungkin akan membuatnya semakin menyesal dan merasa bersalah. Marvin menoleh pada Bayu yang sejak tadi hanya diam, seperti menyembunyikan sesuatu yang sengaja tidak dia ungkapkan saat ini.

"Saya ingin bertemu dengan Raina dulu, apa dia ada disini? Ada yang perlu saya bicarakan"

Mama langsung menatap Marvin, seperti tatapan yang penuh terkejut dan bingung. Mama menggeleng pelan. "Sejak perceraian bahkan Raina tidak pernah pulang kesini"

Deg... Tangan Marvin saling mencengkram kuat, menunjukan urat tangan yang menonjol saat mendengar ucapan Mama barusan. Debar jantungnya mendadak lebih kencang.

"A-apa maksudnya?"

"Kami juga bingung, tapi Raina memang tidak pernah datang kesini sejak perceraian kalian. Bahkan saya sudah mencoba untuk menghubunginya, tapi tidak bisa" jelas Mama.

Dunia Marvin seakan runtuh, saat harapan begitu besar untuk memperbaiki semuanya. Tapi sebuah kenyataan benar-benar telah menghancurkan harapan itu. Marvin menoleh pada Bayu, menatapnya tajam, seolah dia curiga jika Bayu mengetahui sesuatu tentang perginya Raina. Karena sebelum perceraian, hanya Bayu yang terus bertemu dengan Raina.

"Kau tahu dimana dia?" tanya Marvin dengan nada penuh penekanan, hanya ingin membuat Bayu berkata jujur tanpa menutupi apapun lagi.

Bayu menggeleng cepat, bahkan dia saja cukup kaget saat mengetahui jika Raina tidak pulang ke rumahnya. "Aku benar-benar tidak tahu soal ini. Raina sama sekali tidak mengatakan jika dia akan pergi, aku juga hanya berpikir jika Raina akan pulang ke rumah orang tuanya setelah berpisah denganmu. Dia tidak membicarakan rencananya kecuali..."

Marvin menarik kerah baju Bayu, menatapnya tajam. "Kecuali apa?!"

Bayu menghela napas pelan, memegang tangan Marvin yang mencengkram kerah bajunya. "Kecuali niat dia yang memberikan uang pada orang tuanya. Hampir semua uang yang dia minta darimu, diberikan pada Perusahaan Ayahnya dan biaya pengobatan Ibunya. Itulah kenapa dia meminta uang dengan nominal cukup besar. Itu pun aku yang menuliskan nominal, karena jika dia sendiri, hanya meminta untuk orang tuanya tanpa memikirkan dirinya sendiri. Masalah mobil pun, aku yang menuliskannya di surat perjanjian. Tapi dia tidak pernah mengatakan jika akan pergi dan tidak kembali pulang ke rumah orang tuanya"

Marvin melepaskan cengkraman tangannya di baju Bayu, jatuh terduduk dengan lemas di sofa. Mengusap wajah kasar, sudut matanya sudah menggenang. Kenyataan yang di ucapkan Bayu seperti sebuah bom waktu yang perlahan meledak dan menghancurkan dirinya.

Mama dan Papa juga cukup terkejut, bahkan Mama sampai meneteskan air mata. Kali ini dia benar-benar tidak menyangka jika anak yang selalu dia benci dan perlakukan dengan buruk, adalah anak yang membantunya dan memikirkan tentang kesehatannya.

"Raina kenapa kamu melakukan ini? Hiks..."

Mama memperlakukan Raina dengan sangat buruk karena dia menganggap kehadirannya adalah kehancuran bagi keluarganya. Tanpa dia sadari jika sebenarnya yang membuat kehancuran itu adalah suaminya sendiri. Seharusnya dia tidak menyalahkan anak yang bahkan tidak pernah tahu dan mau jika dia dilahirkan dalam keadaan seperti itu.

"Maafkan Mama, Raina" lirihnya sebelum kesadaran tiba-tiba hilang.

*

Menjalani hari-hari dengan kehamilan seorang diri, Raina cukup santai, karena dia merasa anaknya sangat mendukung keadaan dan kondisi Ibunya. Bahkan kehamilannya ini bisa dibawa bekerja dan sama sekali tidak membuat fokus Raina terganggu pada pekerjaan.

Setiap hari Wahyu akan datang menjemputnya dan mereka pulang bersama. Perhatian Wahyu cukup membuat Raina tidak enak, karena Raina juga tahu jika Wahyu mempunyai harapan dan perasaan yang lebih padanya. Namun, untuk memulai kembali sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Raina.

"Kang, sebenarnya saya masih bisa mengemudi sendiri. Saya merasa tidak enak jika terus merepotkan Kang Wahyu. Apalagi Kang Wahyu dan Ibu juga sangat baik pada saya, sudah banyak sekali kalian membantu saya"

Mereka yang sedang makan di sebuah kedai karena Raina yang ingin makan di tempat ini. Wahyu langsung mendongak, menatapnya lekat.

"Memangnya kenapa? Apa karena ungkapan perasaan saya waktu itu yang membuat Neng Sahila tidak ingin berangkat dan pulang bersama saya lagi?"

Raina menggeleng pelan, meski sebenarnya memang termasuk karena hal itu. Tapi Raina juga hanya merasa tidak enak saja jika terus merepotkan orang-orang yang baru dikenal ini. Seperti kehadiran dirinya di Kota ini malah menjadi beban baru untuk Wahyu dan Ibunya. Meski mereka mungkin tidak berpikir seperti itu.

"Bukan seperti itu Kang, saya hanya merasa tidak enak saja terus merepotkan Akang dan Ibu"

"Sama sekali tidak repot, lagian saya yang menginginkan antar jemput kamu. Jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak. Kalau kamu merasa tidak nyaman dengan ungkapan perasaan saya waktu itu, sekarang saya hanya akan menganggap kamu sebagai adik. Jadi, sudah seharusnya saya menjaga dan melindungi kamu"

Bersambung

1
Djuniati 123
smoga lekas sembuh sehat dan bs berkarya lagi Kak💪
Pujiastuti
syafakillah kak author
AlmiraAzniAdzkia🥰🌺
yaAllahh,,,,lekas sehat yah thor,,,ku pikir lg sibuk,,,ternyta lg sakit,,
Rohmi Yatun
semoga cepet sembuh ya Thor..
Mita Paramita
semoga cepat sembuh Thor 😘 semangat 🔥🔥🔥
ria rosiana dewi tyastuti
lekas sembuh author biar bs update lg
Kar Genjreng
astoge 😁lekas sembuh kasian tak tunggu pokonya sembuh dulu sehat dulu baru nulis lagi,,,👍👍❤️
leahlaurance
semoga cepat sembuh🙏
Erni Noviyanti
cepet sehat y kk
astr.id_est 🌻
gws yaa mbak author
Oma Gavin
semangat kak semoga cepat sembuh dan sehat kembali
Reni Anjarwani
semoga cpt sembuh thor
Ani Basiati
semoga lekas sembuh thor
Dew666
Cepat sembuh ya thor..
dika edsel
kita2 reader setia thor... kesehatan nomer satu, semoga lekas sembuh ya../Heart/
Kostum Unik
Oalaaah.. Cepat sehat kak biar bisa berkarya lagi 💪
Nurminah
syafakillah Thor
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Dew666
💜💜💜💜
astr.id_est 🌻
nah benar banget eyang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!