Genre: Romance Drama
"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."
Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.
Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.
Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pilihan Yang Harus Dibuat Dan Kembalinya Kesempatan
Malam itu terasa sangat panjang. Nara tidak bisa tidur sama sekali – amplop berisi ancaman Lina tetap berada di atas meja kerjanya, seperti batu yang menghalangi jalan.
Dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 3 pagi. Di luar jendela, langit mulai sedikit menerang karena akan masuk pagi. Dia mengambil amplop dan membukanya lagi, membaca kata-kata ancaman yang sudah dia hafal oleh hati.
"Besok pagi, semua foto ini akan saya kirim ke kantor pusat dan media sosial lokal jika kamu tidak menyerahkan kendali proyek ini kepada saya."
"Besok pagi" artinya hanya tinggal beberapa jam lagi. Dia harus membuat keputusan sebelum matahari terbit.
Nara berdiri dan pergi ke ruang tamu, mengambil botol teh dari kulkas. Saat dia sedang menyeduh teh hangat, pintu kamar Bu Lina terbuka sedikit.
"Nara, kamu masih terjaga ya?" tanya Bu Lina dengan suara yang masih mengantuk. "Aku dengar kamu berjalan-jalan di kamar."
"Aku tidak bisa tidur, Bu," jawab Nara dengan suara lembut. "Ada masalah dengan pekerjaan."
Bu Lina mendekatinya dan duduk di sofa bersamanya. "Kamu mau cerita sama ibu?"
Untuk pertama kalinya sejak dia kembali ke kota ini, Nara merasa ingin membuka hati. Dia mulai menceritakan semua yang terjadi – tentang proyeknya, tentang Lina yang datang dan mengancamnya, tentang ancaman untuk membocorkan rahasia yang bisa merusak karirnya.
Bu Lina mendengarkan dengan penuh perhatian, tanpa menginterupsi sedikit pun. Setelah Nara selesai bercerita, dia mengambil tangan putrinya dan memegangnya erat.
"Kamu tahu kan, sejak kecil kamu selalu punya hati yang baik dan ingin membantu orang lain," ucap Bu Lina dengan suara penuh cinta. "Ibu melihat bagaimana mata kamu bersinar saat berbicara tentang anak-anak yang kamu bantu. Jangan biarkan orang lain merusak impian itu ya, Nak."
"Tapi kalau aku tidak menyerah, semua yang aku bangun akan hancur," jawab Nara dengan suara yang hampir menangis.
"Yang penting kamu melakukan yang benar," kata Bu Lina dengan tegas. "Reputasi bisa diperbaiki, tapi rasa bersalah karena menyerah pada orang yang salah akan selalu mengikutimu."
Kata-kata ibunya membuat Nara berpikir ulang. Dia melihat ke arah jendela yang sudah mulai menerang. Pukul 5 pagi – dia hanya punya satu jam lagi untuk membuat keputusan.
Tanpa berpikir panjang, dia mengambil telepon dan menghubungi Dito. Setelah beberapa kali dering, dia akhirnya menjawab.
"Halo? Nara? Ada apa? Kok telpon jam begini?" suara Dito terdengar masih mengantuk tapi langsung menjadi waspada.
"Aku butuh bantuanmu," ucap Nara dengan suara yang tegas dan penuh kepastian. "Lina akan membocorkan foto-foto yang bisa menyalahartikan kalau aku tidak menyerahkan proyeknya padanya. Tapi aku tidak mau menyerah. Bisa kamu bantu aku?"
"Tentu aja. Dimanamu sekarang? Aku segera datang."
Setengah jam kemudian, Dito sudah berada di rumahnya dengan membawa laptop dan beberapa berkas. Mereka duduk di ruang tamu, mulai merencanakan langkah yang harus diambil.
"Kita tidak bisa biarkan dia mengontrol situasi ini," ucap Dito sambil membuka laptopnya. "Kita harus mengambil inisiatif dan menjelaskan kebenaran sebelum dia punya kesempatan untuk menyebarkan kebohongan."
"Tapi bagaimana cara kita membuktikan bahwa foto itu disalahartikan?" tanya Nara dengan khawatir.
"Aku punya teman yang bekerja di kantor berita lokal," jawab Dito dengan senyum yang sedikit menghibur. "Dia bisa membantu kita menyebarkan kebenaran dengan cara yang benar. Selain itu, kita bisa mengumpulkan bukti bahwa semua yang Lina katakan adalah bohong."
Mereka mulai bekerja dengan cepat – mengumpulkan dokumen yang membuktikan hubungan Nara dengan Pak Bambang hanya sebatas kerja, menyiapkan pernyataan resmi tentang proyek, dan menghubungi teman-teman yang bisa menjadi saksi kebenaran.
Pada pukul 6.30 pagi, tepat saat Lina mulai mengirim pesan pengingat melalui telepon, Nara sudah siap dengan segala yang dia butuhkan. Dia datang ke kantor dengan kepala tegak dan hati yang penuh keyakinan.
Lina sudah menunggu di ruang rapat dengan wajah yang penuh senyum puas. Di depannya ada beberapa koran lokal dan seorang wartawan yang sudah dia undang.
"Sudah kamu putuskan kan, Nara?" tanya Lina dengan suara yang penuh dengan rasa puas diri. "Aku sudah siap menerima semua wewenang proyek ini."
Nara berdiri di depan semua orang dan mengambil amplop yang berisi foto-foto itu. "Aku tidak akan menyerahkan proyek ini padamu, Lina. Karena aku tahu mengapa kamu begitu ingin mengambil alihnya."
Semua orang melihatnya dengan rasa penasaran. Lina tampak sedikit terkejut tapi tetap mencoba menjaga wajahnya tetap tenang.
"Apa kamu mau bilang?" tanya dia dengan suara yang sedikit menggigil.
"Aku tahu bahwa kamu adalah orang yang sebenarnya menyebabkan proyek di Jakarta gagal," ucap Nara dengan suara yang jelas dan terdengar di seluruh ruangan. "Kamu sengaja membuat kesalahan dalam perhitungan anggaran dan menyalahkannya padaku. Dan sekarang kamu ingin mengambil alih proyek ini agar kamu bisa mendapatkan semua pujian dan keuntungan darinya."
Lina mulai terlihat gelisah. "Itu bohong! Bukankah kamu yang bersalah?"
"Kamu bisa bilang apa saja," jawab Nara dengan tenang. "Tapi aku punya bukti yang bisa membuktikan bahwa kamu adalah orang yang sebenarnya salah."
Dia memberi sinyal kepada Dito yang masuk ke ruangan bersama seorang wanita dengan jas hitam – pengacara yang sudah dia persiapkan.
"Kita telah mengumpulkan semua bukti yang diperlukan," ucap pengacara tersebut dengan suara yang tegas. "Dokumen yang menunjukkan bahwa kesalahan di Jakarta adalah karena kelalaianmu, bukti bahwa kamu mencoba memanipulasi foto-foto tersebut, dan saksi-saksi yang bisa membuktikan semua itu."
Wajah Lina menjadi pucat. Dia tidak menyangka bahwa Nara sudah mengumpulkan bukti yang begitu banyak. Wartawan yang dia undang mulai berbalik arah, mulai mengajukan pertanyaan kepada Lina dan meminta penjelasan tentang tuduhan yang dia terima.
Di tengah kekacauan itu, pintu ruangan terbuka dan Reza masuk bersama beberapa anak dari sekolahnya – termasuk Dani dan Rara. Mereka membawa karya seni yang sudah mereka buat dengan penuh cinta dan usaha.
"Kita datang untuk membuktikan bahwa Kakak Nara benar-benar peduli dengan kita," ucap Rara dengan suara yang jelas dan penuh keberanian. "Dia mau membantu kita belajar dan membuat karya seni yang indah. Kami tidak mau orang jahat mengambilnya dari kita."
Anak-anak mulai menunjukkan karya mereka – lukisan, kerajinan tangan, dan buku cerita bergambar yang mereka buat sendiri. Wajah mereka yang penuh semangat dan keyakinan membuat semua orang di ruangan terharu.
Lina tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tahu bahwa dia sudah kalah. Dengan wajah yang penuh malu dan kemarahan, dia mengambil tasnya dan keluar dari ruangan dengan cepat.
Setelah semua itu selesai, Nara merasa seperti beban besar telah terangkat dari pundaknya. Dito dan Reza mendekatinya dengan senyum yang penuh dukungan.
"Kamu luar biasa, Nara," ucap Reza dengan suara yang penuh rasa hormat. "Aku tahu kamu bisa melakukannya."
"Kita semua bisa melakukannya karena kita bekerja sama," jawab Nara dengan senyum yang meriah. "Sekarang kita bisa fokus pada apa yang paling penting – membantu anak-anak menemukan bakat mereka."
Saat mereka sedang merencanakan langkah selanjutnya untuk program mereka, seorang pria berpakaian resmi datang ke kantor dengan membawa surat dari kantor pusat perusahaan.
"Saya dari divisi hukum Mitra Pustaka," ucapnya dengan suara yang resmi. "Kami telah menerima laporan tentang tindakan Lina dan akan mengambil langkah hukum terhadapnya. Namun, ada satu hal lagi yang harus kami sampaikan – perusahaan telah memutuskan untuk menarik dukungan finansial dari proyek ini karena khawatir dengan kontroversi yang terjadi."
Nara merasa seperti terkena pukulan keras lagi. Tanpa dukungan perusahaan, proyek yang sudah mereka rencanakan dengan susah payah akan sulit untuk dilaksanakan.
"Apakah itu berarti proyek ini harus dihentikan?" tanya dia dengan suara yang lemah.
"Bukan berarti harus dihentikan," jawab pria itu dengan senyum yang sedikit menghibur. "Tapi kamu harus mencari sumber pendanaan lain jika ingin melanjutkannya. Dan kami punya satu saran – ada sebuah yayasan besar yang sedang mencari mitra untuk program pendidikan kreatif. Mereka mungkin bisa membantu kamu."
Di dalam surat yang dia berikan ada nama yayasan tersebut – yayasan yang didirikan oleh keluarga Pak Bambang, bosnya yang sudah meninggal. Dan di bawah nama yayasan tersebut ada nama seseorang yang sangat akrab bagi Nara.
Orang itu adalah seseorang yang pernah membuatnya terluka sangat dalam di masa lalu. Dan sekarang dia adalah satu-satunya harapan untuk menyelamatkan proyeknya.