NovelToon NovelToon
Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Status: tamat
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Action / Anime / Sci-Fi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: rexxy_

​"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
​Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
​Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
​Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Jawaban diluar Logika

Aku duduk termenung dengan sedikit rasa sakit menjalar di punggungku, menatap butiran embun yang mulai menguap di kaca jendela gubuk.

Di luar sana, cahaya fajar mulai menyapu pucuk-pucuk pohon, namun pertanyaan semalam masih berputar di kepalaku seperti kaset rusak.

​Siapa aku sepuluh tahun yang lalu?

​Logikaku terus memberontak. Sepuluh tahun yang lalu aku masih tinggal di Indonesia, di tanah kelahiranku. Aku hanyalah seorang perantau di negara ini yang baru mengadu nasib selama dua tahun.

Lalu bagaimana mungkin jiwaku bisa begitu selaras dengan Sayuri? Bagaimana bisa kakeknya mengenalku?

​"Lex, Ngelamun lagi. Astaga...?" suara Mona membuyarkan lamunanku.

Ia menghampiriku sambil membawa sebotol air mineral yang ia ambil dari bagasi mobil.

​"Ah... Gitu deh," jawabku pelan.

Aku mencoba meyakinkannya dengan senyum tipis yang dipaksakan, meski sebenarnya kepalaku terasa ingin pecah.

"Sudah siap semua? Tidak ada barang yang ketinggalan, kan?" Ken memastikan, suaranya menggema di depan gubuk saat ia mengecek muatan mobil.

​"Aman, semua sudah masuk," jawab Mona singkat sambil menutup pintu bagasi.

​Sayuri, yang sedari tadi sudah bersiap, menghampiriku. Ia mengulurkan tangannya dengan gerakan lembut, bersiap membantuku bangkit dari posisi dudukku.

​"Ayo, Alexian. Biar aku bantu," ujarnya dengan nada yang terdengar begitu tulus.

​"Iya, ayo," jawabku sambil menyambut tangannya. Aku berusaha tersenyum meski punggungku masih terasa kaku.

​Sayuri memapahku dengan hati-hati, memastikan setiap langkahku stabil.

"Makasih ya, Sayuri," bisikku sambil menatap wajahnya dari samping.

​Sayuri menoleh, lalu dengan gemas ia menyentuh ujung hidungku sambil tersenyum manis.

"Seharusnya aku yang terus-menerus berterima kasih padamu, Lex. Bukan sebaliknya."

Ken, yang sedari tadi sibuk mengecek kondisi mesin, mendongak dan mendapati adegan romantis antara aku dan Sayuri yang sedang saling melempar senyum.

​"Astaga... kapan ya giliranku, gini amat jadi Jones?" gumam Ken sambil duduk di kap mesin yang baru saja ia tutup.

Wajahnya dibuat melas, seolah benar-benar iri melihat kemesraan kami.

​"Hahaha! Apaan sih, Ken! Fokus saja dulu ke mesinnya!" balasku sambil tertawa kecil, sedikit salah tingkah.

​Ken melompat turun dari kap mobil dengan gaya tangkas.

"Yah... oke, jika semua sudah siap, saatnya kita berangkat! Kyoto, kami datang!" serunya penuh semangat, mencoba membangkitkan energi kami semua.

Perjalanan dari kaki Gunung Fuji menuju Kyoto terasa sangat panjang dan melelahkan. Anehnya, tidak ada pengejaran. Tidak ada mobil hitam yang mengintai di spion, seolah The Eraser sedang memberikan kami ruang atau mungkin, mereka sudah menunggu di titik akhir.

​Setelah hampir lima jam melintasi jalan tol Meishin, pemandangan perbukitan hijau mulai berganti dengan gerbang-gerbang kota.

Di sampingku, Sayuri dan Miyuki tampak asyik mengobrol. Sayuri berkali-kali menatap keluar jendela dengan mata berbinar, setiap kali melihat deretan bangunan yang asing baginya.

Dunia ini adalah galeri seni yang sangat luas bagi matanya yang telah lama terkurung.

​"Miyuki," panggilku, mencoba memecah keheningan.

"Apakah Kakekmu pernah bercerita tentang orang lain yang membantunya? Maksudku, apakah dia bekerja sendirian?"

​Miyuki tampak berpikir sejenak, lalu ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang sudah sangat kusam.

​"Kakek sering menyebut tentang seorang 'Saksi Kecil'. Katanya, ada seorang anak laki-laki yang sering bermain di dekat jembatan itu saat eksperimen dilakukan. Kakek bilang, anak itu memiliki aura yang sangat tenang, sehingga 'Sisi Lain' tidak menganggapnya sebagai ancaman."

​Jantungku berdegup kencang.

"Anak laki-laki?"

​"Iya," Miyuki mengangguk.

"Kakek menulis bahwa jika suatu saat dia menghilang, 'Saksi Kecil' itu adalah satu-satunya orang yang memori aslinya tidak akan bisa dihapus sepenuhnya oleh mesin The Eraser. Dia sudah terlanjur terikat secara emosional dengan 'Penghuni Jembatan'."

​Mona melirikku melalui spion tengah. Matanya membelalak.

"Lex... waduh...Kok aku jadi curiga gini ya..."

​Aku terdiam, menggenggam koin perunggu di sakuku dengan tangan berkeringat. Tiba-tiba, kepalaku berdenyut hebat.

Sebuah visual mulai menghantam kesadaranku bukan mimpi, tapi potongan memori yang terkunci.

​Bayangan tentang seorang gadis kecil yang menangis di jembatan kayu, dan seorang anak laki-laki yang memberikan sapu tangan sambil berjanji.

​"Jangan menangis, Sayuri. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Jika pun suatu saat aku pergi, aku akan kembali untuk menemuimu.?" ucapku spontan, menyuarakan kalimat yang baru saja melintas di ingatanku.

​Sayuri menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. Matanya berkaca-kaca.

"Alexian... akhirnya kau mengingatnya." Ia menyentuh pipiku lembut.

​"Aku masih bingung, Sayuri. Aku baru dua tahun di negara ini, tapi memori ini terasa begitu nyata," ucapku menunduk, merasakan setetes air mata jatuh.

​"Jangan menangis lagi, Alexian," bisik Sayuri menyeka air mataku.

"Memang rumit jika dijelaskan sekarang. Yang terpenting, kita sudah bertemu kembali, persis seperti janjimu dulu."

​Mona menarik napas panjang dan memutar kemudi dengan mantap saat kami keluar dari pintu tol.

"Oke, semuanya. Kita sudah memasuki batas kota Kyoto. Rahasia Kakek, brankas itu, dan jawaban atas masa lalu Alexian... semuanya ada di depan sana."

​Di kejauhan, gerbang-gerbang Torii merah mulai terlihat, berdiri megah di kaki gunung.

Kyoto tidak hanya menyambut kami dengan sejarahnya, tapi juga dengan kebenaran yang sudah terkubur selama satu dekade.

1
rexxy_
Terima Kasih banyak kak, Saya selaku Author sangat senang atas pujian kakak.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
𝓗ᥲᥱᥣִᥱᥲꤪꤨꤪᥒᥲ.𝜗𝜚
karyanya bagus btw mampir yah di novelku 🤭
Roulina Damanik
1. Check-in : Melaporkan kehadiran di suatu tempat (hotel/ bandara).

2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.
rexxy_: Terima kasih atas Saran anda.
Saya selaku penulis meminta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan penulisan saya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!