Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tara yang Berubah
Pagi selalu datang terlalu cepat bagi Tara.
Jam weker berbunyi pukul lima, dan seperti biasa, ia bangun sebelum suara itu sempat berisik lebih lama. Kebiasaan yang terbentuk bukan karena disiplin, melainkan karena pikirannya jarang benar-benar tidur nyenyak.
Kamar kos itu sempit—hanya cukup untuk satu ranjang, lemari kecil, dan meja lipat di sudut ruangan. Cat dindingnya mulai mengelupas, dan jendela kecil menghadap langsung ke tembok bangunan sebelah. Tidak ada pemandangan indah. Tidak ada kenyamanan berlebih.
Tapi Tara betah.
Tempat itu mengingatkannya bahwa ia hidup dengan apa yang ia pilih sekarang, bukan apa yang dulu pernah ia miliki atau hancurkan.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai beberapa detik sebelum berdiri. Ada kebiasaan lain yang tidak pernah hilang—menarik napas panjang setiap pagi, seolah sedang menyiapkan diri menghadapi dunia yang tidak selalu ramah.
Di cermin, wajahnya terlihat berbeda dari enam tahun lalu.
Bukan soal cantik atau tidak.
Matanya.
Dulu, mata itu selalu waspada. Defensif. Mudah tersulut. Penuh perlawanan seolah dunia selalu ingin menjatuhkannya.
Sekarang, mata itu tenang.
Lelah, mungkin. Tapi jujur.
Tara menyematkan name tag di seragam kerjanya: Tara Amalia.
Nama yang dulu sering diucapkan dengan nada kesal oleh Kia.
Pikiran itu datang begitu saja, tanpa ia undang.
Dan sejak pertemuan singkat di kafe beberapa hari lalu, bayangan Kia semakin sering muncul—tidak sebagai sosok yang marah, tapi sebagai cermin dari kesalahan yang tidak pernah benar-benar ia akui secara utuh.
Klinik tempat Tara bekerja tidak besar.
Tiga ruang periksa, satu ruang administrasi, dan ruang tunggu dengan kursi plastik berderit. Tara bertugas di meja depan—mengatur jadwal, mengisi data pasien, menerima keluhan, dan sesekali menjadi tempat orang-orang meluapkan rasa takut sebelum bertemu dokter.
“Aku takut hasilnya jelek, Mbak,” kata seorang ibu setengah baya sambil meremas tasnya.
Tara tersenyum lembut. “Kita doakan sama-sama ya, Bu. Dokternya baik kok.”
Ucapan itu tulus.
Dulu, Tara tidak pandai bersikap lembut.
Sekarang, kelembutan itu datang dari rasa bersalah yang ia simpan lama—dan dari keinginan sederhana untuk tidak lagi menyakiti siapa pun, bahkan tanpa sengaja.
Saat jam istirahat, Tara duduk sendiri di bangku luar klinik. Angin siang bertiup pelan. Ia membuka bekal sederhana—nasi, telur, dan sayur tumis.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari ibunya.
Ibu:
Kamu sehat, Ta? Jangan lupa makan ya.
Tara mengetik cepat.
Tara:
Sehat, Bu. Lagi makan. Ibu gimana?
Beberapa detik kemudian.
Ibu:
Ibu juga baik. Kamu jangan kerja terlalu capek.
Ibu masih sering kepikiran… dulu ibu banyak salah sama kamu.
Tara menatap layar itu lama.
Dulu, kalimat seperti itu akan membuatnya defensif. Marah. Atau menangis.
Sekarang, ia hanya menarik napas.
Tara:
Kita sama-sama belajar, Bu. Yang penting sekarang kita lebih baik.
Ia menekan kirim.
Hubungannya dengan sang ibu tidak serta-merta membaik setelah ia pergi dari rumah Kia dulu. Bahkan sempat memburuk.
Mereka saling menyalahkan.
Saling membawa luka.
Sampai suatu hari, Tara benar-benar lelah menyimpan amarah yang tidak memberinya apa-apa.
Hari itu, ia pulang ke rumah ibunya dan berkata pelan, tanpa teriak, tanpa drama, “Aku capek benci, Bu.”
Ibunya menangis.
Dan sejak itu, mereka pelan-pelan belajar menjadi manusia yang lebih jujur—meski tidak selalu benar.
Malam hari, Tara berjalan pulang dari klinik.
Langkahnya pelan menyusuri trotoar yang mulai sepi. Lampu jalan menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang di aspal.
Pikirannya kembali ke kafe itu.
Ke tatapan Kia.
Tidak marah.
Tidak hangat.
Hanya… datar.
Dan entah kenapa, itu lebih menyakitkan daripada dimaki.
Tara berhenti sejenak, menatap langit yang tidak banyak bintang.
Dulu, ia selalu merasa menjadi korban.
Korban keadaan.
Korban ibunya.
Korban lingkungan.
Ia jarang—hampir tidak pernah—bertanya: apa peranku dalam semua kekacauan itu?
Kini, jawabannya jelas.
Ia salah.
Bukan sepenuhnya.
Tapi cukup untuk melukai.
Ia ingat malam-malam di rumah Kia.
Cekcok kecil yang ia perbesar.
Kata-kata tajam yang ia lempar tanpa pikir panjang.
Sikap defensif yang berubah jadi serangan.
Dan Kia—yang kasar di luar, tapi diam-diam selalu memastikan ia aman—ia abaikan begitu saja.
Tara memejamkan mata.
“Maaf,” gumamnya pelan, entah untuk siapa.
Di kos, Tara duduk di depan laptop tua.
Ia membuka folder lama berisi dokumen kuliah yang tidak pernah ia lanjutkan. Hidupnya sempat berantakan setelah lulus SMA. Ia salah memilih arah, salah percaya orang, dan harus membangun ulang segalanya dari nol.
Tapi ia tidak menyalahkan siapa pun lagi.
Itu juga bagian dari perubahan.
Ia membuka aplikasi pesan.
Nama Kia ada di sana.
Tidak disimpan dengan embel-embel apa pun.
Hanya satu kata.
Ia tidak tahu sejak kapan nomor itu masih ia simpan.
Jarinya menggantung di atas layar.
Banyak yang ingin ia katakan.
Terlalu banyak.
Tapi tidak semua penyesalan perlu disampaikan demi meringankan diri sendiri.
Kadang, menahan diri adalah bentuk tanggung jawab.
Tara mengunci ponselnya kembali.
Belum sekarang.
Beberapa hari kemudian, Tara dipanggil atasannya.
“Kamu kerja bagus, Tara,” kata wanita paruh baya itu sambil menandatangani berkas. “Aku mau rekomendasikan kamu ikut pelatihan administrasi lanjutan. Gratis, tapi waktunya cukup padat.”
Tara terkejut. “Saya?”
“Iya. Kamu teliti, sabar, dan cepat belajar.”
Tara tersenyum—senyum yang tulus, tanpa rasa tidak pantas.
“Terima kasih, Bu. Saya mau.”
Saat keluar ruangan, langkahnya terasa lebih ringan.
Ia sadar, perubahan bukan tentang menjadi sempurna.
Tapi tentang berhenti mengulang kesalahan yang sama.
Malam itu, Tara duduk di ranjang sambil memegang secangkir teh hangat.
Ia membuka kembali ponselnya.
Nama Kia kembali muncul di layar.
Kali ini, ia tidak langsung menutupnya.
Ia mengetik.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Akhirnya, sebuah pesan sederhana terkirim.
Tara:
Kia… aku nggak tahu kamu mau baca ini atau nggak.
Tapi aku cuma mau bilang—aku sadar banyak hal sekarang.
Aku minta maaf. Bukan buat minta dimaafin.
Cuma… supaya kamu tahu aku nggak lagi jadi orang yang sama.
Pesan itu terkirim.
Centang satu.
Tara menaruh ponsel di sampingnya.
Dadanya terasa sesak—bukan karena berharap dibalas, tapi karena akhirnya ia berani jujur.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menunggu validasi.
Ia hanya ingin bertanggung jawab.
Di tempat lain, Kia menatap layar ponselnya lama.
Pesan itu singkat.
Tidak dramatis.
Tidak memaksa.
Dan justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.
Kia meletakkan ponsel tanpa membalas.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena beberapa luka perlu waktu lebih lama untuk diputuskan:
akan dibiarkan sembuh sendiri,
atau dibuka kembali untuk benar-benar dibersihkan.
Tara berbaring, menatap langit-langit kamar kosnya.
Ia tahu, hidup tidak akan langsung membaik hanya karena ia berubah.
Masa lalu tidak bisa dihapus.
Tapi ia bisa memilih untuk tidak lagi menjadi sumber luka—baik untuk orang lain, maupun untuk dirinya sendiri.
Dan jika suatu hari Kia memilih menjauh selamanya, Tara akan menerima itu.
Karena perubahan sejati tidak selalu berujung pertemuan kembali.
Kadang, ia hanya tentang belajar menjadi manusia yang lebih baik—
meski sendirian.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya