Jiao Lizhi, 25 tahun, seorang agen profesional di abad ke-21, tewas tragis saat menjalankan misi rahasia. Yatim piatu sejak kecil, hidupnya dihabiskan untuk bekerja tanpa pernah merasakan kebahagiaan.
Namun tak disangka, ia terbangun di dunia asing Dinasti Lanyue, sebagai putri Perdana Menteri yang kaya raya namun dianggap “tidak waras.” Bersama sebuah sistem gosip aneh yang menjanjikan hadiah. Lizhi justru ingin hidup santai dan bermalas-malasan.
Sayangnya, suara hatinya bersama sistem, dapat didengar semua orang! Dari keluhan kecil hingga komentar polosnya, semua menjadi kebenaran istana. Tanpa sadar, gadis yang hanya ingin makan melon dan tidur siang itu berubah menjadi pejabat istana paling berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Dekranasda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gali Melon Terus
Kaisar menghela napas panjang. “Bangunlah.”
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Semua pejabat berdiri. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
“Ngomong-ngomong, Lupakan soal selir yang berselingkuh, apakah ada melon kaisar yang masih bisa digali, tidak ya?” tanya Jiao Lizhi pada sang sistem.
Kaisar, “...”
[Ada. Faktanya Kaisar sangat miskin.]
Para pejabat hampir tersedak napas.
“Hah? Kaisar, miskin?”
[Yang Mulia sangat rajin mencari peluang usaha. Tujuannya: agar anak-anaknya kelak punya harta yang bisa dibanggakan untuk menikah dan bisa memberi hadiah pada menantu.]
Kaisar, “...”
“Oh, apakah kaisar sebegitu tidak punya kerjaan?Bukankah mengurus tahta saja sudah melelahkan? Kenapa Kaisar masih sibuk cari uang diluar sana? Sebagai kaisar, bukankah uang sangat mudah di dapat? Dan uang bisa datang sendiri tanpa dicari? Lalu apa yang dilakukan Yang Mulia saat ini?”
[Saat ini Kaisar menanam berbagai tanaman di tanah kekaisaran yang berada di berbagai tempat. Namun hasilnya selalu gagal, tidak sesuai keinginan. Bahkan terkadang bukannya untung, tapi malah rugi.]
“Kenapa bisa mengalami kegagalan? tidak mungkin jika Kaisar merupakan orang yang tidak beruntung bukan?”
[Faktanya Tuan Rumah, kegagalan terjadi karena menanam asal-asalan.]
“Oh, benar juga. Aku juga tau jika beberapa tanaman butuh keadaan yang berbeda. Mulai dari iklim, suhu, tanah, musim tanam dan banyak lagi faktornya. Kita harus melihat semua faktor, agar bisa menghasilkan hasil yang di inginkan.”
[Betul.]
Kaisar yang mendengar jiao lizhi dari awal dan akhir, matanya menjadi berbinar. Kaisar tampak berfikir, jika Jiao Lizhi, mempunyai pengetahuan yang luas dan bisa membantunya mendapatkan hasil maksimal? Atau juga bisa membantu rakyat nya. Ia sudah lelah menanam, tapi hasilnya selalu kurang memuaskan. Kaisar seketika menatap tajam Mentri pertanian.
Menteri Pertanian langsung merasa dingin dari ujung kaki hingga kepala. Tangannya gemetar, namun ia buru-buru mencatat semua istilah yang baru saja disebut Jiao Lizhi.
Jiao Lizhi dalam hati merasa sangat gembira, “Aku baru sadar. Kaisar dan Putra Mahkota ini sebelas dua belas. Sama-sama miskin. Benar-benar ayah dan anak. Tak heran mereka merupakan ayah dan anak. Hahahaha.”
Kaisar, “...”
“Yah kurasa kaisar meskipun memiliki topi hijau, ia merupakan ayah yang baik. Masih memikirkan anak anaknya dan calon menantu nya. Aku penasaran, kira kira siapa ya wanita yang tak beruntung itu, mendapatkan putra mahkota dan anak-anak kaisar lainnya? Dan mewariskan pertanian untuk para menantu nya untuk di kelola? ”
Bukankah beruntung menjadi wanita putra mahkota? Kekuasaan? Keagungan? Kedudukan?” pikir para pejabat. Kenapa jadi wanita tak beruntung? Pikir semua pejabat. Bahkan mereka rela, anak perempuan mereka menjadi pasangan dari anak kaisar, meskipun hanya sebagai selir. Beruntung jika menjadi istri utama.
[Aku rasa, tuan rumah cocok untuk salah satu anak kaisar. Terutama putra mahkota. Bukankah kau sangat menyukai wajahnya yang tampan? Kalian bisa saling mengisi satu sama lain.]
“Hei gugu, aku tidak bodoh ya. Kenapa aku harus menikahi putra mahkota ataupun anak Kaisar? Kenapa aku harus bersusah payah? Ayah saya pejabat tinggi, ibu saya sangat kaya seorang pengusaha, keluarga kami sangat berduit semua. Kalaupun aku tidak bekerja, aku masih bisa bersantai dirumah dengan uang kedua orang tua ku. Saudara ku semua menyayangiku, apakah aku rela menjadikan tubuh dan wajahku yang cantik untuk seorang laki-laki yang membuatku menderita setelah menikah seumur hidup? Hei, kedua orangtuaku selalu memanjakan anak anaknya. Kenapa aku harus menyerahkan hidupku pada pria lain?”
Perkataan antara Jiao Lizhi dan sistem nya membuat para pejabat di aula menjadi pro dan kontra, bagi pejabat yang hanya memiliki anak laki-laki, tentu saja mereka tidak sejalan dengan pikiran Jiao Lizhi. Tapi bagi mereka yang memiliki anak perempuan yang disayangi dirumah nya, mereka mengangguk kan kepalanya, setuju dengan ungkapan Jiao Lizhi. Meskipun terkadang, dalam dunia nyata, menantu perempuan harus tunduk pada suami dan keluarga suami.
Perdana Mentri Jiao Wenqing yang mendengar ucapan sang putri merasa hati nya penuh kehangatan dan setuju dengan pernyataan jiao Lizhi.
“Benar, anakku tak perlu menderita. Sepertinya aku harus mencari pasangan untuk Jiao Lizhi yang sangat kaya dan keluarga nya penuh kebajikan, dan bisa memperlakukan anak ku dengan sangat baik seperti keluarga ku Tapi dimana aku akan menemukannya?” pikirnya.
Tiba-tiba Menteri Militer melangkah maju. “Yang Mulia hamba rasa jendral jiao, tetap di perbatasan, mengingat saat ini perbatasan masih dalam suasana panas.”
Jiao Lizhi yang mendengar Mentri militer berkata dalam hati, “Oh apakah ia berbicara mengenai paman keduaku?”
[Benar tuan rumah, itu paman kedua mu. cih, kau bilang saja tidak menginginkan Jendral Jiao kembali dan menginginkan dia mati di perbatasan. Kau saja tidak bisa mendidik anak-anak mu untuk berprestasi di militer. Bahkan kemampuan anak mu dibawah Jendral Jiao. Apakah kau menginginkan anakmu segera diangkat setelah Jendral Jiao mati?]
Wajah sang Mentri tampak sangat marah mendengar sistem berbicara.
Perdana Menteri Jiao Wenqing melangkah maju selangkah ke tengah aula. Jubah resminya bergoyang ringan, namun suaranya tenang dan tegas, tanpa ragu sedikit pun.
“Yang Mulia,” ucapnya sambil membungkuk hormat, “Jenderal Jiao telah berada di perbatasan selama sepuluh tahun penuh. Itu bukan waktu yang singkat. Hamba rasa, sudah saatnya beliau kembali ke ibu kota.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yakin. “Jangan khawatir. Meski kembali ke Ibukota, hamba berani menjamin, kakak laki-laki hamba masih dapat berkontribusi besar bagi kekaisaran. Dengan pengalamannya, ia dapat melatih para prajurit di ibu kota. Yang Mulia tentu mengetahui, kemampuan prajurit di bawah komandonya jauh lebih unggul dibandingkan pasukan yang dilatih langsung oleh Marsekal.”
Kalimat terakhir itu seperti pisau.
Wajah Menteri Militer langsung berubah buruk. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya berdenyut. Ia hendak membuka mulut untuk membantah, tapi segera diredam oleh kaisar.
“Perdana Menteri benar,” ujar Kaisar dengan nada final.
“Sudah waktunya Jenderal Jiao kembali ke ibu kota. Situasi perbatasan masih dapat dikendalikan. Prestasi Jenderal Jiao selama ini sudah membuktikan kemampuannya.”
Tatapan Kaisar menyapu aula. “Aku yakin, ia sangat mampu melatih prajurit lain demi kekaisaran.”
Menteri Militer menggertakkan giginya hingga terdengar jelas bunyi krek yang tertahan. “Baik, Yang Mulia,” katanya akhirnya, dengan suara dipaksakan.
Dalam hatinya, ia masih ingin membantah. Namun kata-kata itu tertelan mentah-mentah. Melawan keputusan Kaisar saat ini sama saja dengan mencari mati.
Jiao Lizhi yang mendengar perdebatan itu, mulai bertanya, “Oh, ada apa ini? Kenapa tiba tiba mereka semua berbicara tentang paman kedua ku? Dan ayahku kenapa berbicara mewakili nya. Uh ada apa gerangan? Bukankah Ayahku tidak suka dengan pamanku?”
Wajah Jiao Wenqing langsung memerah. Ia ingin marah. Ia ingin berteriak. Ia bahkan berharap ada seseorang yang cukup berani untuk menyeret putrinya keluar dari aula saat itu juga.
keluarga nya saja dan kaisar ke Thor yg bisa denger..
semangat...