NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Sensasi hangat yang awalnya dirasakan Han Feng perlahan berubah menjadi panas membara, seolah-olah darah di dalam tubuh pemuda itu digantikan oleh aliran lahar cair. Han Feng menggertakkan gigi rapat-rapat, menahan teriakan yang hampir meledak dari tenggorokannya. Jika rasa sakit saat bangun tadi terasa seperti dipukul palu godam, rasa sakit kali ini seperti dikuliti hidup-hidup dan direbus dalam kuali minyak mendidih.

Di dalam ruang kesadaran, Han Feng melihat buku emas yang melayang keluar dari Pustaka Ilahi itu membalik halamannya dengan cepat. Aksara-aksara kuno bercahaya melesat keluar dari halaman buku, menerobos masuk ke dalam jiwa Han Feng, mencorakkan pemahaman mendalam yang seharusnya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipelajari.

[Teknik Teridentifikasi: Sutra Hati Naga Purba] [Tingkat: Ilahi (Divine)] [Deskripsi: Teknik kultivasi tertinggi yang diciptakan oleh Leluhur Naga Asal sebelum era kekacauan. Teknik ini tidak menyerap Qi dengan lembut, melainkan menelan dan memurnikan segala bentuk energi secara tirani untuk menempa tubuh fisik menjadi sekeras senjata pusaka.]

Informasi itu terpatri di benak Han Feng. Pemuda itu segera menyadari bahwa tubuh "sampah" ini bukanlah wadah yang rusak, melainkan sebuah bendungan raksasa yang pintunya terkunci rapat. Sembilan Kunci Yin yang disebutkan oleh Pustaka Ilahi adalah segel alami yang menekan potensi mengerikan dari Tubuh Dewa Naga Terlarang. Tanpa teknik khusus untuk membuka segel ini, energi kehidupan Han Feng akan terus tergerus oleh segel tersebut hingga mati muda.

"Jadi selama ini aku bukan tidak bisa berkultivasi," batin Han Feng di tengah rasa sakit yang mendera. "Energi yang kuserap selama belasan tahun tidak hilang, tetapi diserap oleh Sembilan Kunci Yin ini untuk memperkuat segelnya sendiri. Ironis sekali."

Suara Pustaka Ilahi kembali bergema, dingin dan tanpa emosi.

[Memulai proses pembukaan Segel Pertama: Gerbang Naga Bumi.] [Peringatan: Rasa sakit akan mencapai tingkat kritis. Jika Tuan gagal mempertahankan kesadaran, jiwa Tuan akan hancur.]

"Lakukan!" Han Feng berteriak dalam hati. Sebagai seorang peneliti yang pernah tersesat di gurun pasir selama tiga hari tanpa air dan tetap bertahan hidup demi menyelamatkan naskah kuno, tekad Han Feng sekeras baja. Rasa sakit fisik hanyalah sinyal listrik ke otak; selama tekad tidak patah, tubuh akan mengikuti.

DUAR!

Ledakan sunyi terjadi di dalam tubuh Han Feng.

Di dunia nyata, tubuh kurus Han Feng yang duduk bersila di atas tempat tidur mulai bergetar hebat. Keringat bercampur kotoran hitam berbau busuk mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Ini adalah proses "Pencucian Sumsum dan Penggantian Tulang"—tahap legendaris yang biasanya hanya bisa dialami oleh kultivator tingkat tinggi saat memakan pil surgawi yang langka.

Bunyi gemeretak tulang terdengar mengerikan di gubuk kecil itu. Tulang-tulang Han Feng yang rapuh dihancurkan, dipadatkan kembali, dan diperkuat oleh energi emas yang dipancarkan Pustaka Ilahi. Meridian yang dulunya tersumbat dan layu kini dipaksa melebar, dialiri oleh arus panas yang ganas yang membersihkan segala sumbatan kotoran.

Waktu seakan berjalan sangat lambat. Satu jam terasa seperti satu abad bagi Han Feng.

Perlahan namun pasti, rasa sakit yang membakar itu mulai mereda, digantikan oleh sensasi kesejukan yang menyegarkan. Han Feng merasa seolah-olah baru saja melepaskan jubah besi seberat ratusan kilogram yang selama ini membelenggu tubuhnya. Paru-parunya terasa lapang, mampu menghirup udara lebih banyak dan lebih dalam dari sebelumnya.

Han Feng membuka mata.

Dunia di sekeliling Han Feng tampak berbeda. Debu yang melayang di udara, serat kayu pada tiang gubuk, bahkan retakan halus di lantai—semuanya terlihat sangat jelas dan tajam. Telinga Han Feng bisa menangkap suara langkah kaki semut di sudut ruangan dan desau angin yang menyentuh dedaunan di luar gubuk.

"Ini... ini adalah persepsi seorang kultivator?" Han Feng menatap kedua tangannya. Meskipun masih tampak kurus, kulit Han Feng kini terlihat lebih cerah dan memancarkan kilau samar yang sehat. Kotoran hitam lengket yang menutupi kulitnya adalah racun dan ampas yang telah menumpuk di tubuhnya selama enam belas tahun.

Han Feng mencoba mengepalkan tangan.

Krak.

Suara sendi yang berbunyi itu terdengar renyah. Han Feng bisa merasakan kekuatan yang mengalir di setiap serat ototnya. Meskipun Han Feng belum mencapai tingkat kultivasi yang tinggi, kekuatan fisiknya saat ini setidaknya sudah setara dengan pria dewasa yang terlatih, jauh melampaui kondisi "mayat hidup" sebelumnya.

"Pustaka Ilahi," panggil Han Feng dalam hati.

Sebuah panel status transparan muncul di retina mata Han Feng, hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.

[Tuan: Han Feng] [Kultivasi: Pembentukan Tubuh - Tingkat 1 (Awal)] [Fisik: Tubuh Dewa Naga Terlarang (Segel 1/9 Terbuka)] [Teknik: Sutra Hati Naga Purba (Bab 1)] [Status: Lapar]

"Lapar?" Han Feng baru menyadari perutnya berbunyi keras seperti guntur. Proses pemurnian tubuh membutuhkan energi yang sangat besar, dan tubuh Han Feng yang sebelumnya kurang gizi kini menjerit meminta asupan makanan. Rasa lapar ini begitu hebat hingga Han Feng merasa bisa memakan seekor sapi utuh.

Han Feng turun dari tempat tidur, mengabaikan bau busuk yang menguar dari tubuhnya sendiri. Prioritas utama sekarang adalah membersihkan diri dan mencari makanan.

Namun, sebelum Han Feng sempat melangkah menuju baskom air di sudut ruangan, suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah halaman luar. Langkah kaki ini berbeda dengan langkah Wang Cai yang terburu-buru dan panik. Langkah kaki ini lambat, berat, dan disengaja.

"Wang Cai si bodoh itu bilang Tuan Muda Ketiga mengamuk?" Sebuah suara berat dan serak terdengar dari luar pintu. "Anak itu pasti berhalusinasi. Bagaimana mungkin sampah yang sudah sekarat bisa mematahkan tangan orang?"

Pintu gubuk yang sebelumnya sudah rusak engselnya, kini didorong terbuka sepenuhnya.

Sosok seorang pria paruh baya bertubuh gempal melangkah masuk. Pria itu mengenakan jubah abu-abu dengan bahan sutra kualitas rendah—pakaian khas kepala pelayan tingkat menengah di Keluarga Han. Wajahnya berminyak dengan sepasang mata sipit yang memancarkan kelicikan.

Ini adalah Zhao Si, Kepala Pelayan yang bertanggung jawab atas distrik pelayan di sayap barat kediaman Han. Dia adalah paman dari Wang Cai, dan juga salah satu orang kepercayaan Han Lie untuk menyiksa Han Feng secara diam-diam.

Zhao Si menutup hidungnya dengan lengan baju begitu masuk ke dalam ruangan. Bau busuk dari kotoran yang keluar dari tubuh Han Feng memenuhi udara sempit itu.

"Ugh! Bau apa ini? Seperti bangkai tikus yang membusuk selama seminggu," gerutu Zhao Si. Matanya kemudian tertuju pada Han Feng yang berdiri tegak di tengah ruangan.

Ada sedikit keterkejutan di mata Zhao Si. Dia mengharapkan melihat Han Feng terbaring sekarat atau sudah menjadi mayat dingin. Sebaliknya, pemuda di depannya berdiri tegak dengan postur yang stabil. Meskipun tertutup lapisan kotoran hitam, tatapan mata Han Feng jernih dan tajam, menusuk langsung ke arah Zhao Si tanpa rasa takut sedikit pun.

"Oh? Kau masih bisa berdiri?" Zhao Si menyeringai, memperlihatkan gigi kuningnya. "Wang Cai lari ketakutan dan mengadu padaku bahwa kau menyerangnya. Aku tidak percaya awalnya, tapi melihat kau masih hidup, sepertinya si bodoh itu tidak berbohong sepenuhnya."

1
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!