NovelToon NovelToon
Berondongku Suamiku

Berondongku Suamiku

Status: tamat
Genre:Berondong / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:591.1k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kirana harus menerima kenyataan bahwa calon suaminya meninggalkannya dua minggu sebelum pernikahan dan memilih menikah dengan adik tirinya.

Kalut dengan semua rencana pernikahan yang telah rampung, Kirana nekat menjadikan, Samudera, pembalap jalanan yang ternyata mahasiswanya sebagai suami pengganti.

Pernikahan dilakukan dengan syarat tak ada kontak fisik dan berpisah setelah enam bulan pernikahan. Bagaimana jadinya jika pada akhirnya mereka memiliki perasaan, apakah akan tetap berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Lima

"Apa kamu menjual dirimu hingga pulang pagi?" tanya Papa dengan suara lantang. Hal itu bisa didengar Samudera.

"Pa, aku tak mungkin melakukan itu," jawab Kirana pelan. Dadanya sudah terasa sangat sesak.

"Lalu apa yang kau lakukan diluar sana hingga tak pulang semalaman?"

"Pa, aku hanya pergi untuk menenangkan pikiran!"

"Banyak alasan!"

Mama dan adik tirinya Tissa tampak tersenyum melihat papa memarahi Kirana.

Samudera akhirnya turun dari motor. Gerakannya pelan, tapi tegas. Helm masih di tangannya, tapi sikapnya berubah total, tidak ada lagi candaan, tidak ada lagi senyum menggoda. Yang ada hanya mata gelap yang jelas-jelas tidak suka dengan apa yang ia lihat dan dengar.

Ia berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat Kirana yang melihatnya semakin gelisah.

“Pak,” suara Samudera datar, tapi dingin. “Kenapa memarahi Kirana kayak gitu?”

Papa Kirana langsung menoleh tajam. “Apa?”

Samudera mengangkat dagu sedikit, tidak gentar sedikit pun. “Apa Bapak nggak tau kalau dia hampir ketabrak semalam? Dia lari karena stres, bukan karena mau macam-macam. Seharusnya ditanya baik-baik, bukan dibentak kayak penjahat.”

Kirana menahan napas. Papa menatap Samudera dengan pandangan menusuk. Pandangan yang cukup untuk membuat banyak orang ciut. Tapi Samudera tidak bergerak.

“Siapa kau?” suara Papa merendah, agak dingin. “Jangan ikut campur urusan keluarga kami!”

Samudera tidak mundur. Bahkan satu sentimeter pun tidak. Ia menarik napas, lalu berkata tenang, “Saya calon suami Kirana.”

Kirana membelalak. “Samudera ....”

Papa langsung melotot dengan amarah yang meledak-ledak. “APA?!”

Samudera masih tak goyah. “Iya, Pak. Saya calon suaminya.”

“Kurang ajar!” Papa melangkah cepat, tangan terangkat tinggi, jelas niatnya: menampar Samudera.

Refleks, Kirana melompat maju. “Pa, jangan!”

Suara tamparan keras menggema di halaman. Pipinya langsung panas, perih, matanya memanas. Bukan karena sakit fisik, tapi karena sakit hati yang menjerit.

Sam terpaku sesaat. Sesuatu di matanya berubah seperti api.

Pelan, rahangnya pun mengeras. “Astaga …,” desisnya rendah, “Dasar orang tua nggak punya perasaan.”

Papa Kirana memicingkan mata. “Apa kau bilang?!”

“Harusnya Bapak itu ngasih dia ketenangan, bukan malah bikin tambah hancur,” ucap Sam, suaranya tetap terkontrol tapi tajam. “Dia udah cukup sedih karena ditinggal pria be'jat yang membatalkan pernikahan.”

Papa menunjuk Samudera, jari itu nyaris menempel di wajahnya. “Jaga mulutmu! Kau tidak kenal Irfan!”

Samudera menyeringai miring, dan sinis. “Kenal atau nggak, cowok yang ninggalin calon istrinya hanya beberapa hari sebelum pernikahan itu adalah pecundang, breng'sek dan be'jat!"

“Cukup!” suara Papa keras. “Pantas Irfan meninggalkan Kirana dan memilih Tissa! Lihat kelakuannya! Baru sehari putus sudah bersama pria lain!”

Kirana seperti ditusuk kata-kata itu. “Pa … jangan bawa-bawa Samudera."

Tapi Papa terus bicara. “Kamu ini memalukan! Apa kamu juga bermalam dengan dia?!”

Hening. Napas Kirana tercekat. Samudera menjawab tanpa ragu, “Iya.”

Kirana hampir jatuh saking kagetnya. “Sam!!!”

Papa tampak seperti mau meledak. Wajahnya merah, urat di lehernya terlihat, dan tatapannya penuh jijik bercampur marah. “Kurang ajar kau!”

Tangan Papa kembali terangkat, lebih tinggi dan lebih kuat dari sebelumnya. Kirana mencoba menghalangi lagi, tapi kali ini Samudera bergerak lebih cepat.

“Udah.” Sam menarik Kirana ke dalam pelukannya dengan satu tangan, tangan lainnya menangkap pergelangan Papa sebelum tamparan itu mendarat. Genggamannya keras. Sangat keras.

Cengkeraman dua pria itu bertabrakan.

"Lepaskan saya!” teriak Papa Kirana.

“Bapak yang berhenti,” kata Samudera tajam.

Kirana terjepit di antara mereka, tubuhnya bergetar. “Sam … tolong jangan ribut! Jangan gini.”

Namun Papa tambah marah. “Kalian berdua memalukan! Tidak tahu malu! Dasar anak ....”

“Cukup, Pa!” Kirana akhirnya bersuara keras, lebih keras dari biasanya. Suaranya bergetar, tapi keluar juga. “Cukup! Jangan hina aku lagi!”

Papa justru menatap Kirana seperti melihat sesuatu yang makin merendahkan. “Kamu sudah menghina dirimu sendiri! Anak tak tahu diri!”

Samudera bergerak sedikit agar Kirana ada di belakangnya, seperti perisai. “Pak, kalau Bapak ngomong sembarangan lagi, saya ....”

“Samudera!” Kirana memegang lengan Samudera kuat-kuat, suaranya memohon. “Jangan! Tolong … jangan tambah memperkeruh keadaan ….”

Tapi Papa tidak berhenti memaki. Kata-kata pedas, hinaan, tuduhan, semua keluar tanpa ampun. Sam semakin terlihat kehilangan kesabaran. Matanya gelap, rahangnya keras, dadanya naik-turun.

“Mbak Kirana,” katanya, tanpa menoleh, “Aku sumpah … kalo dia hina kamu lagi ....”

“Samudera!” Kirana menarik lengannya semakin kuat, hampir seperti memohon nyawanya sendiri. “Please ...! Pergilah. Aku bisa … aku bisa atasi ini. Ini bukan pertama kali aku dihina. Lebih dari ini sudah biasa aku terima."

“Kagak bisa,” desis Sam. “Dia nyakitin kamu.”

“Aku bisa, Sam ….” Kirana menunduk, air matanya mulai jatuh. “Kalau kamu di sini. Papa makin marah. Tolong … tolong banget pergilah dulu.”

Samudera menatap Kirana, benar-benar menatap. Matanya penuh amarah. Penuh proteksi. Penuh sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan semalam, yaitu kepedulian. Dia merasa ingin melindungi gadis itu.

Papa masih memaki di belakang mereka. Tapi suara itu makin jauh bagi Kirana. Yang ia lihat hanya Samudera. Yang sedang menelan sesuatu di dalam dirinya.

Amarah. Insting untuk melindungi. Dan rasa enggan pergi.

“Mbak Kirana.” Suara Samudera rendah, hampir serak. “Aku nggak suka ninggalin kamu kayak begini.”

“Aku mohon.” Kirana menggenggam jaket Samudera. “Biar aku yang hadapi. Aku janji aku bisa. Bagaimana pun dia Papa kandungku, tak akan melakukan sesuatu di luar batas."

Hening beberapa detik. Sangat hening, kecuali napas berat Samudera dan suara Papa yang masih berseru-seru.

Akhirnya Samudera mengangguk. Dia tak tega melihat Kirana memohon. Dia saja yang sering membuat masalah, tak pernah diperlakukan begini sama kedua orang tuanya.

Dia berbalik ke motor. Langkahnya berat. Sangat berat, seolah melawan semua naluri yang ada.

Tapi sebelum benar-benar jauh, Samudera berkata tanpa menoleh, suaranya dingin dan tajam seperti pisau:

“Kalau kamu kenapa-napa, jangan lupa hubungi aku segera, Mbak!”

Dan ia menaiki motornya. Helm dipasang. Kunci diputar. Mesinnya menyala.

Papa masih mengomel. Kirana berdiri dengan pipi merah, tangan bergetar, hati berantakan.

Samudera menatap Kirana sekali lagi, sekilas saja dari balik helm. Tatapan yang sulit dibaca. Marah? Cemas? Bingung? Semua menyatu.

Lalu Samudera menarik gas. Motor itu melaju keluar gerbang. Meninggalkan Kirana. Meninggalkan Papa yang masih terbakar amarah.

1
syh 03
rata2 novel selalu bayi kembar
syh 03
cuma di dunia novel org jahat dpt karma...klo real mh yg jahat makin bahagia dan panjang umur
syh 03
knpa nama nya Mika kya nama cewe 😆
syh 03
aku wkt ngidam anak pertama sukanya mkn sayur g suka mkn lauk..sampai hamil besar cuma mkn sayur..mkn lauk itu pun cuma telur dan harus di campur sayur klo di dadar...dan pas lahiran anakku cewe dan dia g suka sayur ampe dewasa g suka sayur...anak kedua ngidam bakso jd g bs makan klo ga mkn bakso..itu pun harus di makan di tempatnya..jd tiap hari mkn bakso ampe abang yg jual hapal wajahku..dan anak kedua cowok..dan dia ga suka makan bakso..lika liku ibu ngidam mmng kadang aneh2 😅
Mama Reni: Lah 😭😭🤣🤣
total 3 replies
Irma Windiarti
/Good//Good/
Rahma Inayah
akhirnya yg bahagia
Rahma Inayah
semoga dilncrkn lahirannya aamiin
Rahma Inayah
tisa GK takut cerai dr km Krn SDH GK ada ank LG diantara kalian
Rahma Inayah
stlh ank meninggal br nyesel dan nangis GK guna
Rahma Inayah
krm mmg Irfan pantas mendptkn tamapran dr papa Kirana
Rahma Inayah
suami GK punya rasa tanggung jwb jgn2 Irfan punya wanita simpenan lgi ..
Rahma Inayah
ank yg km pilihnkasih ternyata JD dewa penolong mu ..papa.kirana baru sadr stlh usia yg hampir sepuh..atas apa yg dia lakukan PD Kiran di masa lalu
Rahma Inayah
gula lo Irfan satu juta 1 bulan ..GK mirk otak nya SDH konslet ckp apa uang segitu
Rahma Inayah
setlh. GK punya br sadr papa nya Kirana ank yg dia Anggo beban skrg membantu nya dlm kesusuhan
Rahma Inayah
orng yg km hina GK guna GK PNY kerjaan berandalan skrg JD dewa penolong BG ank mu .kira saya mama Kirana Mash hidup tau nya Mak trii nya .LP klu mama Kirana meninggal 🤭🤭.gengsi Irfan digedein tp nyata nya GK mampu byr biaya operasi ank nya lbh tepat nya syg uang nya dr pada nyawa ank nya
Rahma Inayah
kirain mama Kirana meninggal tau nya cerai hidup dr papa nya
Rahma Inayah
bnr Kirana utg Irfan GK JD nikah SM km dia nikah SM tisa yg mn utk ngidam aja GK BS penuhi perhitungan padhl dia katanya manager
Rahma Inayah
mami lbh syg SM mantu ketimbang ank sendri 🤭🤭yg
Rahma Inayah
nah Sam saat nya km nuriti ngidam bumil yg random SPT kata papi mu
Rahma Inayah
Sam akan JD ayah muda ..20 THN SDH jadi ayah 🤭🤭👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!