Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Hannan terdiam. Wajahnya yang tenang kini terlihat sedikit tegang. Fitnah adalah ujian yang lebih tajam daripada pedang. Jika Ryan benar-benar melaporkan Hannan atas tuduhan penculikan, bukan hanya nama baiknya yang hancur, tapi studinya dan visa tinggalnya di Amerika juga terancam.
"Hannan... maafkan aku," Amara terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Ini semua salahku. Ryan benar-benar nekat. Dia akan menghancurkan karir dan masa depanmu hanya untuk mendapatkanku kembali."
Ummi Salamah keluar dari rumah dengan wajah cemas setelah mendengar teriakan Ryan. "Apa yang terjadi, Hannan? Siapa mereka?"
Hannan menjelaskan situasi singkat yang baru saja terjadi. Gus Malik, yang kebetulan baru menyusul datang, langsung mengepalkan tangannya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Nan! Mereka memutarbalikkan fakta. Kita menolong Amara dari perdagangan manusia, kenapa malah kita yang dituduh menculik?" Gus Malik tampak geram.
Hannan menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya. "Gus, di negeri ini hukum sangat ketat. Tanpa ikatan legal, posisi kita lemah jika keluarga Amara—meski itu hanya papa tirinya—menuntut kita atas tuduhan melarikan orang dewasa tanpa izin."
Hannan kemudian menatap Amara yang masih gemetar. "Amara, ada satu cara untuk melindungimu secara hukum dan membungkam fitnah mereka. Tapi... ini keputusan yang sangat besar."
Amara mendongak, matanya yang sembap mencari kepastian di mata Hannan. "Apa itu, Hannan? Aku akan lakukan apa pun asal kamu tidak celaka karena menolongku."
Hannan sempat ragu, ia membuang muka sejenak. "Satu-satunya cara agar Ryan dan papamu tidak punya hak lagi atas dirimu di mata hukum adalah... jika kamu memiliki pelindung sah. Seorang suami."
Suasana seketika hening. Hanya suara jangkrik di halaman Ummi Salamah yang terdengar.
"Menikah?" bisik Amara tak percaya.
"Bukan sekadar menikah untuk status," potong Hannan cepat. "Tapi untuk memberikanmu perlindungan penuh. Namun, ada masalah besar... kamu bukan Muslim, dan aku seorang ustadz. Secara agama, aku tidak bisa menikahimu kecuali kamu meyakini apa yang aku yakini dengan tulus, bukan karena terpaksa."
Gus Malik menyela, "Nan, ini darurat. Tapi kita tidak boleh memaksakan agama."
Amara terdiam lama. Ia menatap buku kecil tentang Tuhan yang tadi ia baca. Ia teringat rasa damai saat mendengar adzan dan ketulusan Hannan yang tidak pernah menyentuhnya secara fisik, namun menyentuh jiwanya.
"Hannan," Amara berdiri, menghapus air matanya dengan tegas. "Beberapa hari di sini, melihat caramu dan Ummi hidup... aku merasa inilah rumah yang sebenarnya. Aku ingin mengenal Tuhanmu. Bukan karena takut pada Ryan, tapi karena aku ingin punya 'sauh' seperti yang kamu bilang tadi. Aku ingin... aku ingin masuk Islam."
Hannan tertegun. Hatinya bergetar hebat. "Amara, pastikan ini dari hatimu. Bukan karena tekanan."
"Aku yakin, Hannan. Ajari aku," jawab Amara mantap.
Malam itu juga, di ruang tamu sederhana milik Ummi Salamah, dengan disaksikan oleh Gus Malik dan Ummi Salamah, Amara mengucapkan dua kalimat syahadat. Suaranya bergetar namun tegas. Setelah selesai, suasana haru menyelimuti ruangan.
"Alhamdulillah," gumam Hannan pelan. Ada binar kebahagiaan yang tak bisa ia sembunyikan di matanya.
"Nah, sekarang langkah selanjutnya," kata Gus Malik sambil tersenyum lebar. "Hannan, apakah kamu siap menjadi imam bagi Amara, bukan hanya sebagai pelindung dari Ryan, tapi sebagai pendamping hidup?"
Hannan menatap Amara. Amara pun menatap Hannan dengan penuh harap.
Malam itu juga, keputusan besar diambil. Mengingat ancaman Ryan dan papa tirinya yang bisa datang kapan saja bersama polisi, mereka tidak punya banyak waktu.
Hannan menatap Amara dengan tatapan yang sangat dalam namun penuh hormat. "Amara, pernikahan ini mungkin terjadi di saat yang tidak ideal. Tapi aku berjanji, aku akan menjaga dan membimbingmu dengan seluruh kemampuanku. Apakah kamu bersedia?"
Amara mengangguk perlahan, air mata haru mengalir di pipinya. "Aku bersedia, Hannan. Aku mempercayaimu."
Maka, di ruang tamu rumah Ummi Salamah yang tenang, sebuah prosesi suci dilakukan secara sederhana namun penuh khidmat. Gus Malik bertindak sebagai saksi bersama salah satu pengurus masjid setempat yang dipanggil secara mendadak. Ummi Salamah sibuk menyiapkan kain putih sebagai alas.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Muhammad Hannan bin Abdullah, dengan Amara Nagita Slavina, dengan mas kawin berupa hafalan surat Ar-Rahman dan sebuah cincin perak, dibayar tunai."
Hannan menarik napas panjang, suaranya terdengar mantap dan menggetarkan ruangan. "Saya terima nikah dan kawinnya Amara Nagita Slavina dengan mas kawin tersebut, tunai karena Allah Ta'ala."
"Sah?"
"Sah!"
Doa-doa pun dipanjatkan. Amara tertunduk, kini ia telah resmi menjadi istri dari pria yang beberapa hari lalu menabraknya di pantai. Ada rasa aman yang luar biasa yang kini menyelimuti hatinya. Hannan kemudian mendekat, ia meletakkan tangannya di atas ubun-ubun Amara dan membacakan doa keberkahan untuk istrinya