Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Kegelapan bukan tempat berlindung malam ini; kegelapan adalah selimut bagi kekacauan yang lebih besar. Di koridor belakang yang sempit, derap langkah sepatu bot petugas keamanan terdengar seperti dentuman palu yang mendekat. Cahaya senter mereka menyayat kegelapan, memantul liar di dinding-dinding keramik, mencari sumber bencana yang baru saja mematikan detak jantung SMA Pelita Bangsa.
"Kita harus pergi dari sini, sekarang," desis Raka, menahan erangan saat dia memaksakan tubuhnya tegak. Tangan kanannya yang terbalut sobekan kemeja Keyra berdenyut hebat, seolah ada jantung kedua yang berdetak menyakitkan di telapak tangannya.
Keyra tidak membantah. Dia tahu posisi mereka sulit dijelaskan. Dua siswa di ruang panel listrik yang baru saja meledak, dengan satu orang terluka bakar? Itu resep sempurna untuk interogasi panjang di kantor polisi, sesuatu yang tidak mereka butuhkan saat Julian masih berkeliaran bebas.
"Lewat pintu samping kantin," bisik Keyra, menarik lengan kiri Raka yang tidak terluka. "Gue tahu jalan tikus yang nggak dikunci satpam."
Mereka bergerak cepat, menyusup di antara bayang-bayang pilar beton. Di kejauhan, aula utama terdengar seperti sarang lebah yang diganggu. Teriakan siswa, seruan guru melalui megafon yang baterainya sekarat, dan bunyi gedebuk benda-benda jatuh menciptakan simfoni kepanikan. Namun, di koridor ini, kesunyian terasa lebih mencekam.
Saat mereka berbelok di sudut menuju gudang penyimpanan properti drama—jalan pintas menuju area kantin—Raka tiba-tiba berhenti. Dia menarik Keyra mundur hingga punggung gadis itu menabrak loker besi.
"Tunggu," ucap Raka tajam. Hidungnya mengkerut, mengendus udara.
"Kenapa? Satpamnya di sana?" Keyra berbisik panik, matanya menyapu kegelapan.
"Bukan." Raka menggeleng, keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Lo cium itu?"
Keyra menghirup napas dalam-dalam. Awalnya hanya bau debu dan sisa ozon dari panel listrik yang korslet. Tapi kemudian, aroma lain menyusup. Tajam. Menyengat. Manis yang memualkan.
"Bensin?" mata Keyra membelalak.
"Listrik udah gue matiin total. Harusnya nggak ada sumber panas lagi," geram Raka, otaknya berputar cepat melampaui rasa sakit fisiknya. "Kecuali ada yang nggak butuh listrik buat nyalain api."
Seolah menjawab kecurigaan itu, sebuah cahaya oranye berkedip dari celah ventilasi gudang properti di ujung lorong. Bukan cahaya lampu senter yang putih dan stabil, melainkan cahaya yang menari-nari, liar dan lapar.
"Sialan," umpat Raka. Dia melupakan rasa sakitnya dan berlari menuju pintu gudang.
"Raka! Tangan lo!" Keyra mengejar, jantungnya berpacu lebih cepat dari kakinya.
Ketika Raka menendang pintu gudang hingga terbuka, gelombang panas langsung menampar wajah mereka. Di dalam ruangan seluas enam kali enam meter itu, api mulai merayap naik. Tumpukan kardus bekas dekorasi panggung sedang dilahap dengan rakus. Di tengah-tengah tumpukan itu, sebuah jerigen plastik yang meleleh terlihat terguling, isinya tumpah membasahi lantai kayu tua.
Ini bukan kecelakaan. Ini sabotase murni.
Julian—atau siapapun yang bekerja dengannya—telah memperhitungkan segalanya. Jika pemadaman listrik gagal menghentikan acara, kebakaran ini yang akan menyelesaikannya. Dan jika listrik padam seperti sekarang, kebakaran ini akan menjadi jebakan maut karena sistem *sprinkler* otomatis mungkin tidak berfungsi tanpa daya cadangan yang memadai.
"Kita harus keluar! Biarin satpam yang urus!" teriak Keyra, menarik baju Raka saat melihat api mulai menjilat tirai beludru yang tergantung di rak atas.
"Nggak keburu, Key!" Raka menepis, matanya liar memindai ruangan. "Gudang ini nempel sama lab kimia. Kalau api ini nembus dinding partisi itu, ledakannya bakal ngeratain gedung belakang. Masih banyak anak-anak yang evakuasi lewat jalur belakang!"
Tanpa menunggu persetujuan, Raka berlari ke sudut ruangan. Ada tabung pemadam api (APAR) merah tergantung di sana. Dia menyambarnya dengan tangan kiri, tapi berat tabung itu membuatnya terhuyung. Tangan kanannya yang melepuh tidak berguna untuk menopang beban.
"Buka segelnya!" teriak Raka, menyodorkan tabung itu ke arah Keyra. "Gue nggak bisa pake tangan kanan!"
Keyra tidak membuang waktu untuk berdebat. Adrenalin mengambil alih. Dia menarik pin pengaman dengan sentakan keras hingga putus. "Udah!"
"Arahin selangnya! Gue yang tekan tuasnya!" perintah Raka. Dia menjepit tabung itu di antara lengan kiri dan tubuhnya, sementara Keyra memegang ujung selang karet, mengarahkannya ke titik api terbesar.
"Sekarang!"
*Hiss!*
Semprotan bubuk putih menyembur deras, menghantam lidah api yang sedang menari di atas tumpukan kardus. Asap putih mengepul, bercampur dengan asap hitam pekat, membuat pandangan menjadi kabur dan napas terasa sesak. Keyra terbatuk, matanya perih, tapi dia tidak melepaskan selang itu. Dia menyapukannya ke kiri dan ke kanan seperti yang pernah dia lihat di simulasi bencana.
Raka menggertakkan gigi, menahan berat tabung yang menekan luka bakarnya setiap kali dia bergerak. Rasa sakitnya luar biasa, seolah kulitnya dikuliti hidup-hidup, tapi dia mengubah rasa sakit itu menjadi fokus. Dia tidak akan membiarkan Julian menang. Tidak malam ini.
"Sebelah sana, Key! Ke arah dinding! Jangan sampai kena partisi!" teriak Raka di tengah deru api.
Api itu melawan. Lidah merahnya mencoba melompat ke rak kayu yang lebih tinggi, mencari oksigen. Panasnya membakar kulit wajah mereka. Keyra maju selangkah, mengabaikan ketakutan purba manusia terhadap api, dan menyemprotkan sisa isi tabung tepat ke pangkal api yang berasal dari tumpahan bensin.
Selama tiga puluh detik yang terasa seperti selamanya, mereka bertarung. Manusia melawan elemen alam yang dimanipulasi oleh kebencian.
Dan perlahan, oranye itu kalah. Putih mendominasi.
Api padam, menyisakan bara merah yang mendesis marah di bawah lapisan bubuk kimia. Asap tebal memenuhi ruangan, membuat mereka terbatuk-batuk hebat.
Raka menjatuhkan tabung kosong itu ke lantai. Dentangnya terdengar nyaring. Dia merosot, bersandar pada dinding yang tidak terbakar, dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya cemong oleh jelaga, tapi tatapannya tajam menatap sisa-sisa kebakaran.
"Lo... lo oke?" Keyra bertanya di sela batuknya, mengusap matanya yang berair.
"Masih hidup," jawab Raka singkat. Dia mengangkat tangan kanannya yang kini gemetar tak terkendali. Perbannya sudah kotor dan basah oleh keringat, tapi setidaknya dia tidak kehilangan kesadaran.
Suara sirine mobil pemadam kebakaran mulai terdengar mendekat dari kejauhan, meraung-raung membelah malam. Bantuan datang, tapi terlambat untuk menjadi pahlawan. Dua siswa SMA inilah yang baru saja menyelamatkan sekolah dari abu.
Keyra mendekati jerigen yang meleleh itu. Dia menyalakan senter ponselnya lagi, menyorot benda itu. Di sana, tertulis dengan spidol permanen hitam yang nyaris hilang terbakar: *'Pemanasan'.*
"Raka, lihat ini," suara Keyra bergetar. Bukan karena takut api, tapi karena pesan itu.
Raka memaksakan diri berdiri, mendekat dan membaca tulisan itu. Rahangnya mengeras. "Ini cuma pengalihan. Dia bakar gudang ini biar semua orang fokus ke sini."
"Pengalihan buat apa?" tanya Keyra.
"Buat apapun yang dia bawa di koper itu keluar dari sekolah tanpa diperiksa," Raka menyimpulkan dengan nada dingin. "Sementara kita sibuk jadi pemadam kebakaran dadakan, dan satpam sibuk evakuasi, dia melenggang keluar lewat pintu depan atau malah ngambil sesuatu yang lebih berharga."
Tiba-tiba, suara langkah kaki dan sorotan senter petugas keamanan muncul di ambang pintu gudang. "Hei! Siapa di situ?!"
Raka menyambar tangan Keyra. "Jangan sampai ketangkep. Kita nggak bisa jelasin kenapa kita ada di dua TKP berturut-turut."
Mereka tidak menunggu petugas itu masuk. Raka menarik Keyra menuju pintu belakang gudang yang terhubung langsung ke area parkir guru. Mereka menerobos keluar, menghirup udara malam yang dingin dan bersih, meninggalkan asap dan kekacauan di belakang.
Di luar, di bawah langit malam yang tidak peduli, Raka menatap gedung sekolah yang gelap gulita. Dia berhasil memadamkan apinya, tapi dia sadar, Julian baru saja menyulut sumbu yang jauh lebih panjang. Dan Raka tidak yakin apakah dia punya cukup air untuk memadamkan apa yang akan terjadi selanjutnya.