Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Bunyi bel masuk SMA Cakrawala berdering nyaring, memekakkan telinga, tapi bagi Keyra Anandita, suara itu terdengar seperti kaset rusak yang diputar ulang untuk ke-45 kalinya.
Keyra tidak repot-repot melihat ke arah papan tulis saat Pak Herman, guru Matematika yang botak di bagian tengah kepalanya, masuk dengan langkah tegap. Dia sudah hafal. Tepat tiga detik lagi, Pak Herman akan tersandung kabel proyektor.
Satu. Dua. Tiga.
BRUK!
"Aduh! Siapa yang taruh kabel di sini?!" teriak Pak Herman.
Seisi kelas menahan tawa, persis seperti skrip yang sudah Keyra hafal di luar kepala. Gadis itu hanya memutar bola matanya, menopang dagu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya dengan lincah memutar pena. Dia bosan. Sangat, sangat bosan. Bayangkan menonton film yang sama puluhan kali tanpa bisa keluar dari bioskop. Itulah hidup Keyra.
"Keyra, jawab soal nomor tiga!" Pak Herman menunjuknya secara acak—atau setidaknya terlihat acak bagi orang lain.
Tanpa melihat ke papan tulis, Keyra menjawab lantang, "X sama dengan 15, Pak. Dan Y adalah akar dari 144, jadi 12."
Pak Herman melongo. "Bapak belum selesai nulis soalnya."
"Bapak akan nulis itu kan?" Keyra mengangkat bahu, menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong namun tajam. "Saran saya, Pak, mending bapak benerin dulu tali sepatu kiri bapak sebelum jatuh lagi pas jalan ke meja guru."
Kelas hening. Pak Herman menunduk, melihat tali sepatunya yang terlepas. Wajahnya memerah.
Keyra menghela napas. Di Loop ke-45 ini, dia memutuskan untuk berhenti menjadi 'Gadis Baik' yang mengejar Julian, si Ketua OSIS sempurna yang duduk di barisan depan dengan punggung tegak lurus seolah menelan penggaris. Keyra sudah mencoba memacari Julian di Loop 12, 20, dan 33. Hasilnya? Kiamat kecil, tabrakan beruntun, atau Keyra mati konyol kejatuhan pot bunga. Semesta sepertinya menolak Julian.
BRAK!
Pintu kelas belakang terbanting terbuka. Masuklah sosok yang seharusnya tidak ada di jam pertama ini. Raka Mahendra. Seragam berantakan, dasi melilit di lengan bukan di leher, dan bola basket di tangan kanan.
"Sorry, telat! Tadi ada kucing lahiran di parkiran!" seru Raka dengan cengiran lebar tanpa dosa.
Keyra mengerutkan kening. Tunggu. Ini baru. Di 44 kehidupan sebelumnya, Raka tidak pernah masuk kelas Matematika. Dia selalu bolos di kantin Bu Ijah.
Keyra menegakkan punggungnya. Matanya menyipit menatap Raka. Cowok itu berjalan santai melewati meja Keyra, lalu tiba-tiba berhenti. Raka menoleh, menatap Keyra dengan tatapan bingung yang aneh.
"Woy, Nona Peramal," bisik Raka, mencondongkan tubuhnya ke arah Keyra. "Lo... kenapa nggak pake pita merah hari ini? Biasanya lo pake pita merah."
Jantung Keyra seakan berhenti berdetak sedetik. Darahnya berdesir panas.
Tidak ada yang ingat. Tidak pernah ada yang ingat detail dari loop sebelumnya. Sisi, sahabatnya pun tidak. Julian apalagi. Tapi Raka? Si biang kerok yang nilainya merah semua ini ingat pita merah yang Keyra pakai di Loop 44?
"Lo... inget?" tanya Keyra, suaranya bergetar pelan.
Raka mengedikkan bahu, lalu menyentil dahi Keyra pelan. "Muka lo tegang amat kayak mau Ujian Nasional. Santai kali." Dia lalu melenggang ke bangku belakang, meninggalkan Keyra yang terpaku.
Keyra menoleh cepat ke belakang. Raka sedang sibuk memutar bola basket di jarinya, tapi sesekali matanya mencuri pandang ke arah Keyra. Tatapan itu bukan tatapan kosong NPC (Non-Playable Character) yang biasa Keyra lihat. Itu tatapan sadar.
Senyum miring perlahan terukir di bibir Keyra. Akhirnya. Setelah 44 kali pengulangan yang membosankan, ada variabel error yang muncul. Dia bukan pangeran berkuda putih. Dia cuma cowok berantakan dengan alibi kucing lahiran.
"Oke, Semesta," batin Keyra, semangat baru meletup-letup di dadanya. "Mari kita lihat seberapa jauh si Error ini bisa merusak skenario."