NovelToon NovelToon
Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Naruto / Dunia Lain / Persahabatan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: I am Bot

Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.

A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Luka yang tertinggal

Hutan yang sebelumnya menjadi tempat pelatihan bagi para calon pahlawan kini telah berubah menjadi labirin kematian yang dipenuhi asap belerang. Api biru menyambar-nyambar di dahan pohon, melahap oksigen dengan rakus, dan menciptakan siluet mengerikan di antara pepohonan yang meranggas. Di tengah kekacauan ini, suara manusia menjadi langka, digantikan oleh deru api dan raungan makhluk-makhluk yang tidak seharusnya ada di sana.

Shoto Todoroki merasakan uap panas yang menyesakkan paru-parunya. Di hadapannya, dinding api biru yang diciptakan oleh penjahat bernama Dabi terus menerjang, menolak untuk padam meskipun Shoto sudah mengirimkan gelombang es setebal tembok benteng. Es itu mencair sebelum sempat mengeras sepenuhnya, berubah menjadi uap yang justru mengaburkan pandangannya.

"Cih, api ini... tidak normal," gumam Shoto. Ia menyeka keringat yang menetes dari pelipis kirinya. Di sampingnya, Katsuki Bakugo berdiri dengan tangan yang terus meledak-ledak, namun wajahnya menunjukkan frustrasi yang jarang terlihat.

Shoto melirik Bakugo. Ia ingat bagaimana Mitsuki pernah berkata bahwa amarah yang tidak terkontrol hanya akan membakar diri sendiri. Sekarang, ia melihat kebenaran itu. Bakugo adalah predator yang terkurung dalam sangkar asap; serangannya besar, namun ia tidak bisa mengenai target yang terus bersembunyi di balik bayangan api biru.

"Bakugo, tetaplah di belakangku!" seru Shoto.

"JANGAN MEMERINTAHKU, SETENGAH-SETENGAH!" Bakugo meraung, namun ia tidak melangkah maju. Ia tahu, di tengah kabut gas beracun yang mulai merambat dari arah utara, satu langkah salah akan membuatnya pingsan dalam sekejap.

Tiba-tiba, Shoto merasakan sebuah getaran frekuensi rendah di telinganya. Itu bukan suara ledakan. Itu adalah suara desisan yang halus, hampir tidak terdengar di tengah kebisingan api. Ia teringat pada Mitsuki. Di mana anak itu sekarang? Apakah dia terjebak juga? Shoto tahu Mitsuki kuat, tapi hutan ini sedang mencoba menelan mereka hidup-hidup.

Beberapa ratus meter dari sana, Mezo Shoji sedang berlari menembus semak belukar. Enam lengannya bekerja ekstra; dua memegang telinga tambahan untuk memantau radar suara, dua lainnya menggendong Izuku Midoriya yang tubuhnya hancur setelah pertarungan melawan Muscular.

Shoji bisa mendengar segalanya. Ia mendengar detak jantung Izuku yang tidak stabil, ia mendengar suara langkah kaki berat pahlawan profesional yang sedang kewalahan, dan yang paling mengerikan... ia mendengar teriakan putus asa dari Fumikage Tokoyami.

"Tokoyami-kun! Bertahanlah!" teriak Shoji.

Di depan mereka, Dark Shadow telah berubah menjadi monster raksasa setinggi pohon. Kegelapan malam dan emosi negatif Tokoyami telah memberi makan bayangan itu hingga ia kehilangan kendali. Dark Shadow menghancurkan apa saja di depannya pohon, tanah, bahkan penjahat yang mencoba mendekat.

"Shoji-kun... tinggalkan aku..." Izuku terbatuk, darah merembes dari bahunya. "Kejar... Kacchan... mereka mengincar dia..."

Shoji mempererat cengkeramannya. "Aku tidak akan meninggalkan siapa pun. Mitsuki pernah bilang, seorang pahlawan yang mengabaikan temannya adalah pahlawan yang sudah mati sebelum bertarung. Aku baru mengerti apa maksudnya sekarang."

Shoji menggunakan telinga duplikatnya untuk menangkap sinyal suara yang aneh. Dari arah depan, di mana Todoroki dan Bakugo berada, ia mendengar suara klik kecil suara kelereng yang saling berbenturan. Itu adalah suara Mr. Compress.

Di atas dahan pohon oak yang tinggi, Mr. Compress menyesuaikan topeng putihnya. Ia melihat ke bawah ke arah kerumunan murid UA yang panik dengan pandangan seorang pesulap yang sedang mengagumi triknya sendiri.

"Ah, betapa indahnya keputusasaan anak muda," ucapnya dengan nada teaterikal. Di telapak tangannya yang mengenakan sarung tangan putih, dua butir kelereng biru berkilau di bawah cahaya api biru Dabi. "Satu untuk Sang Bayangan, dan satu untuk Sang Ledakan. Pertunjukan selesai, dan penonton belum sempat bertepuk tangan."

Dabi berdiri di bawah pohon, mematikan api di tangannya. Wajahnya yang penuh jahitan terlihat mengerikan dalam keremangan. "Cepatlah, Kurogiri sudah menunggu. Ular itu... dia akan segera sampai di sini."

"Siapa? Bocah pucat itu?" Compress tertawa kecil. "Dia hanya seorang murid. Apa yang bisa dia lakukan melawan sihir ruang-waktu?"

Tepat saat Mr. Compress akan melompat menuju gerbang kabut hitam yang mulai terbuka di kejauhan, sebuah perubahan suhu yang ekstrem terjadi. Bukan panas, bukan dingin, melainkan hampa.

Mitsuki mendarat di atas dahan pohon tepat di belakang Mr. Compress. Ia tidak mengeluarkan suara. Ia tidak memancarkan niat membunuh. Ia hanya ada di sana, seperti bagian dari kegelapan itu sendiri.

Mata Mitsuki menyempit, pupilnya berubah menjadi garis vertikal yang tajam. Ia memindai kelereng di tangan Mr. Compress. Ia tahu itu adalah manipulasi ruang. Jika ia menyerang secara fisik, kelereng itu mungkin akan pecah atau hilang. Ia harus menggunakan serangan yang lebih halus.

“Tekanan udara di sini stabil, kelembapan meningkat karena uap es Todoroki-kun,” Mitsuki melakukan kalkulasi dalam hitungan milidetik. “Jika aku memicu resonansi pada kelereng itu, struktur ruangnya akan terdistorsi.”

"Senpō: Hebi Mikazuchi – Shindo." (Teknik Sage: Petir Ular – Vibrasi).

Mitsuki menyentuhkan ujung jarinya ke batang pohon yang dipijak Mr. Compress. Ia mengirimkan getaran listrik dengan frekuensi yang sangat spesifik melalui serat kayu. Getaran itu merambat naik, menembus sol sepatu sang pesulap, dan langsung menuju tangannya.

"Apa—?!" Mr. Compress tersentak. Tangannya mendadak mati rasa karena kejutan frekuensi tinggi yang menyerang saraf ulnaris-nya. Kelereng biru itu terlepas dari genggamannya.

Mitsuki melesat. Lengannya memanjang seperti kilat, mencoba mencengkeram kedua kelereng itu di udara. Namun, Dabi tidak tinggal diam.

"Jangan ikut campur, Ular!" Dabi melepaskan semburan api biru raksasa ke arah Mitsuki.

Mitsuki terpaksa memutar tubuhnya di udara, menciptakan pusaran angin untuk menepis api tersebut. Akibatnya, ia hanya berhasil menangkap satu kelereng. Kelereng yang satunya lagi jatuh dan ditangkap kembali oleh Mr. Compress yang sudah pulih dari kejutannya.

"Satu sudah cukup untuk saat ini!" teriak Mr. Compress sambil melompat masuk ke dalam kabut Kurogiri.

Kabut hitam menghilang. Api biru perlahan padam, menyisakan hutan yang hangus dan sunyi. Izuku, Todoroki, dan Shoji sampai di titik itu hanya untuk melihat Mitsuki berdiri diam di tengah kepulan asap.

Mitsuki membuka telapak tangannya. Sebuah kelereng biru ada di sana. Ia menekan kelereng itu, dan dalam sekejap, Fumikage Tokoyami muncul kembali dalam keadaan pingsan namun selamat. Dark Shadow-nya telah kembali ke dalam tubuhnya.

"Tokoyami-kun!" Izuku merangkak mendekat, namun wajahnya segera berubah menjadi horor saat ia melihat ke arah Mitsuki lagi. "Mana... mana Kacchan?"

Mitsuki tidak menjawab. Ia menatap kelereng kosong yang pecah di tanah. Untuk pertama kalinya, wajah Mitsuki yang biasanya tenang menunjukkan sebuah emosi yang sulit didefinisikan sebuah campuran antara rasa gagal dan pemahaman yang dingin tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Mereka membawanya," ucap Mitsuki pendek. Suaranya tidak bergetar, namun terasa sangat berat. "Bakugo-kun sekarang berada di tangan mereka."

Todoroki mengepalkan tangannya hingga berdarah. Shoji hanya bisa menunduk. Di kejauhan, sirene pahlawan profesional mulai terdengar, namun bagi Kelas 1-A, suara itu terdengar seperti lonceng kematian bagi masa muda mereka yang damai.

Malam itu, kamp pelatihan berakhir bukan dengan kemenangan, melainkan dengan sebuah lubang besar di tengah formasi mereka. Sang Ular telah gagal melindungi seluruh Mataharinya, dan ia tahu, perang yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
N—LUVV
setiap penjelasan penuh dengan hal hal ilmiah atau berhubungan dengan bidang perhitungan
N—LUVV
cerita Mitsuki yang berkeliling ke semesta anime !! bukan dunia my hero academia
N—LUVV: semangat kak..
total 3 replies
Lyonetta
udh di revisi juga cuxmay lah
Lyonetta
diupdateny lama bgt si (alan)
Lyonetta
sedang revisi/Frown//Frown/, bab 57 akan ada penjelasan
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
extra chapternya Thor gw mau liat reaksi Orochimaru sama masa depan mereka seperti apa !!
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
aku like kok
Derai
mitsuki sepertinya terlalu op untuk dunia bnha 😅
Lyonetta: yupp, mangkanya aku masukin mitsuki/Casual//Casual/
total 1 replies
Derai
Oooh, kayaknya seru. Biasanya aku ngehindarin baca fanfic indo krn entah mengapa cringe. Tapi ini kayaknya enggak deh.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen
Lyonetta: aku juga pas nulis agak krinj juga sih soalnya mitsuki tipikal filosofi nyeleneh untuk sifatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!