NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Rapat koordinasi dengan pihak sponsor baru saja berakhir. Ayra menghela napas panjang sambil merapikan tumpukan map di pelukannya. Meskipun kepalanya sedikit pening karena urusan angka, hatinya terasa hangat mengingat janji Alano untuk menjemputnya ke kantin.

Begitu Ayra melangkah keluar dari ruang OSIS yang dingin, ia tidak langsung menuju kelas. Namun, langkahnya terhenti di koridor sepi dekat laboratorium biologi. Tiga orang siswi kelas 12—kakak kelas yang dikenal sebagai geng populer di sekolah—sudah berdiri di sana, seolah memang sedang menunggunya.

Salah satu dari mereka, yang rambutnya dicat kecokelatan dan memakai lipstik cukup terang, melangkah maju.

"Eh, lo Ayrania kan? Sekretaris OSIS yang juga sepupunya Alano?" tanya kakak kelas itu dengan nada yang terdengar sok akrab namun menuntut.

Ayra menghentikan langkah, memposisikan mapnya di depan dada. Ia memasang wajah profesionalnya. "Iya, Kak. Benar. Maaf, ada yang bisa saya bantu?"

"Nggak usah formal-formal amatlah, santai aja," sahut siswi yang lain sambil mengunyah permen karet. "Gini, kita mau minta nomor WhatsApp-nya Alano dong. Lo kan sepupunya, tinggal di sebelah rumahnya juga kan? Pasti punya nomor pribadinya yang aktif, bukan nomor yang buat urusan basket doang."

Ayra terdiam sejenak. Permintaan seperti ini sebenarnya bukan hal baru, tapi entah kenapa hari ini rasanya jauh lebih mengganggu. Ia teringat bagaimana Alano menjaganya saat sakit dan bagaimana cowok itu menghargai setiap momen bersama Ayra.

"Maaf, Kak," jawab Ayra dengan suara tenang namun tegas. "Itu privasi Alano. Saya nggak bisa kasih nomor telepon orang lain tanpa izin dari yang bersangkutan."

Kakak kelas yang tadi bicara pertama kali tertawa remeh. "Pelit banget sih lo. Cuma nomor WA doang, Ay. Kita kan cuma mau kenalan. Lagian Alano juga playboy kan? Dia pasti seneng-seneng aja dapet kenalan baru kayak kita."

Mendengar kata "playboy" keluar dari mulut orang lain dengan nada merendahkan, ada sesuatu yang bergejolak di dada Ayra. Ia tidak suka Alano dianggap serendah itu, meskipun ia sendiri sering mengejeknya.

"Justru karena dia sepupu saya, saya harus jaga privasinya, Kak," balas Ayra lebih berani. "Kalau Kakak mau nomornya, silakan minta langsung ke Alano di lapangan basket. Permisi, saya masih ada urusan."

Saat Ayra hendak melangkah pergi, kakak kelas yang memakai lipstik terang itu menahan bahunya. "Heh, jangan sombong ya jadi adek kelas. Lo pikir karena lo deket sama dia, lo bisa kuasain dia sendirian? Inget ya, status lo itu cuma sepupu angkat. Nggak lebih."

Ayra menepis tangan itu dengan halus namun mantap. Ia menatap mata kakak kelas itu tanpa rasa takut. "Status saya memang sepupu, tapi itu bukan alasan buat saya jadi jembatan buat orang yang bahkan nggak berani minta langsung ke orangnya. Sekali lagi maaf, saya permisi."

Ayra berjalan cepat meninggalkan mereka yang mulai menggerutu kesal di belakangnya. Jantungnya berdebar kencang. Ia merasa sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena menahan emosi.

Tanpa Ayra sadari, dari balik pilar koridor tak jauh dari sana, Alano sudah berdiri di sana sejak tadi. Ia sebenarnya berniat menjemput Ayra ke ruang OSIS, tapi ia malah menyaksikan seluruh kejadian itu.

Alano tersenyum lebar. Ia tidak menyangka "Ayang"-nya yang kaku bisa setegas itu membela privasinya di depan kakak kelas yang galak.

Begitu Ayra berjalan melewatinya dengan wajah cemberut, Alano langsung menarik pelan jas almamater Ayra dari belakang.

"Wuih, galak bener Sekretaris OSIS gue," goda Alano.

Ayra tersentak dan menoleh. "Lano! Kamu denger semuanya?"

"Denger dong. Bagus, Ay. Gue bangga punya satpam pribadi kayak lo," Alano tertawa, lalu ia merangkul bahu Ayra, menuntunnya berjalan menuju kantin.

"Aku serius, Lan! Mereka itu kakak kelas 12, kalau mereka marah sama aku gimana?" keluh Ayra, meskipun ia tidak melepaskan rangkulan Alano.

Alano berhenti berjalan, ia memutar tubuh Ayra agar menghadapnya. Ia memegang kedua pipi Ayra dengan tangannya yang hangat. "Dengerin gue, Ay. Jangan pernah takut sama siapapun di sekolah ini selama lo bener. Lagian, mereka mau nomor gue buat apa? Gue udah nggak butuh kenalan baru. Gue cuma butuh satu orang yang sekarang lagi pake bando biru di depan gue ini."

Di kantin, suasana kembali heboh saat Alano dan Ayra duduk bersama di meja pojok. Ayra masih tampak sedikit kepikiran dengan kejadian tadi.

"Kenapa? Masih kesel?" tanya Alano sambil meletakkan semangkuk bakso di depan Ayra.

"Bukan kesel, Lan. Cuma... aku kepikiran kata-kata mereka. Mereka bilang aku cuma sepupu angkat, dan aku nggak berhak ngatur-ngatur siapa yang boleh deket sama kamu," bisik Ayra sambil mengaduk baksonya.

Alano meletakkan sendoknya. Ia menatap Ayra dengan tatapan yang sangat dalam dan serius—tatapan yang jarang ia perlihatkan di depan umum.

"Ay, status itu cuma label buat orang tua kita. Tapi buat gue, lo itu lebih dari segalanya. Mau mereka bilang sepupu, mau mereka bilang orang asing, nggak akan ngerubah fakta kalau gue cuma mau lo. Jadi, mulai sekarang, kalau ada yang minta nomor gue lagi, bilang aja: 'Nomornya udah diblokir sama calon masa depannya'. Oke?"

Ayra hampir tersedak baksonya sendiri. "Lano! Kamu tuh malu-maluin banget kalau ngomong!"

"Hahaha! Tapi lo suka kan?" Alano mengedipkan matanya.

Meskipun Ayra terus mengelak, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia sadar, melindungi Alano dari gangguan cewek-cewek lain bukan lagi sekadar tugas sebagai "sepupu", tapi karena ada rasa kepemilikan yang mulai tumbuh subur di hatinya.

Sore itu, bando biru Ayra tidak hanya senada dengan almamaternya, tapi juga menjadi saksi bahwa Ayra mulai berani menunjukkan kepada dunia bahwa Alano adalah miliknya, dan dia tidak akan membiarkan siapapun mengganggunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!