Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin di Jari Manis
Singapura selalu terasa sibuk, tapi bagi Noah, kesibukan ini adalah pelarian sekaligus pengingat. Di tengah rapat-rapat strategis pembangunan mall barunya, pikirannya sesekali melayang ke Seoul, ke rumah besar yang kini terasa kosong, dan ke wanita yang mungkin sedang menggerutu di rumah mertuanya.
Setelah sesi presentasi yang melelahkan di salah satu hotel bintang lima di kawasan Orchard, seorang staf wanita dari pihak kontraktor lokal mendekati Noah. Ia tersenyum manis, berusaha memulai percakapan yang lebih dari sekadar urusan profesional.
"Mr. Willey, kalau Anda punya waktu luang malam ini, saya tahu restoran terbaik untuk menikmati pemandangan Marina Bay. Mungkin kita bisa... berkenalan lebih jauh?" tanyanya dengan nada menggoda yang sangat kentara.
Noah menutup komputernya, wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia melirik cincin perak yang melingkar di jari manisnya, sebuah benda yang dulu ia anggap sebagai beban, tapi kini terasa begitu berat maknanya.
"Maaf, sebelum salah paham lebih jauh, saya sudah punya istri," kata Noah lugas. Kalimatnya tajam, membatasi diri dengan tembok yang tak tertembus. "Dan istri saya sangat pencemburu, meskipun dia tidak mau mengakuinya."
Wanita itu tersipu malu dan segera pamit undur diri. Noah hanya menghela napas. Baginya, komitmen bukan sekadar kertas kontrak pernikahan, tapi harga diri.
Malamnya, alih-alih pergi ke bar atau beristirahat, Noah justru terlihat berjalan-jalan di pusat perbelanjaan elit. Ia melangkah masuk ke butik-butik kelas atas, namun tujuannya bukan untuk dirinya sendiri. Matanya sibuk memilih dress berbahan sutra, scarf musim gugur yang lembut, dan beberapa aksesoris yang ia rasa sangat cocok untuk kulit Viona.
Ia membelikan pakaian-pakaian wanita yang elegan, yang tertutup namun tetap memancarkan aura berkelas.
Sambil menunggu staf mengemas belanjaannya, Noah duduk di sofa butik. Ia teringat betapa menyebalkannya Viona saat merajuk atau saat nekat pergi ke club. Namun, ia juga sadar bahwa rasa kesalnya kini telah bermutasi menjadi sesuatu yang lain.
Sebagai anak tunggal yang tumbuh besar di lingkungan keluarga yang serba kaku dan penuh tuntutan bisnis, Noah tidak pernah benar-benar tahu harus menumpahkan kasih sayangnya kepada siapa. Orang tuanya sibuk, dan teman-temannya kebanyakan hanya rekan bisnis.
Viona adalah satu-satunya "kekacauan" yang ia izinkan masuk ke dalam hidupnya yang tertata rapi. Ternyata, memiliki seseorang untuk dikhawatirkan, seseorang untuk dibelikan baju, dan seseorang untuk dilindungi... rasanya tidak terlalu buruk.
"Sedikit lagi, Vio," gumamnya sambil menatap foto profil WhatsApp Viona yang sedang cemberut. "Tunggu sampai gue balik ke Seoul."
Ia baru menyadari satu hal: ia tidak hanya bertanggung jawab atas hidup Viona, tapi ia mulai merasa membutuhkan Viona untuk membuat hidupnya terasa lebih manusiawi.
———
Jeremy, yang sedang melipat koran paginya, menatap putri tunggalnya itu dengan tatapan jenaka. "Kamu belajar masaklah, Nah. Minimal bisa bikin sup rumput laut buat suami kalau dia pulang kerja."
Meja makan yang selalu hangat itu tetap terasa sama, bahkan terasa lebih intim. Rose dan Jeremy tampak jauh lebih romantis dan santai semenjak Viona menikah. Mungkin karena tugas besar mereka menikahkan anak tunggal sudah tuntas, atau mungkin mereka hanya senang melihat Noah yang sekarang memikul tanggung jawab menjaga Viona.
"Pa... jadi istri Noah aja udah berat, masa harus belajar masak lagi?" gerutu Viona sambil mengaduk-aduk saladnya dengan malas.
"Berat gimana? Noah kurang apa coba?" sahut Rose sambil mengoleskan selai ke roti suaminya, sebuah gestur manis yang membuat Viona memutar bola mata.
"Dia itu diktator, Ma! Dosen killer-nya kebawa ke rumah. Baju diatur, jam pulang diatur, bahkan barusan di Singapura aja dia masih sempet-sempetnya ngancem aku lewat telepon!" adu Viona, berharap mendapatkan pembelaan.
Jeremy tertawa kecil, suara tawanya berat dan menenangkan. "Vio, Noah itu tipe pria yang 'bertindak'. Kalau dia nggak peduli, dia nggak akan repot-repot ngatur kamu. Dia itu sayang sama kamu dengan cara yang beda."
"Cara beda yang bikin darah tinggi, Pa," gumam Viona.
"Makanya, ambil hati dia lewat perutnya," sambung Rose semangat. "Noah itu sejak kecil paling suka masakan rumah. Kalau kamu bisa masak satu aja makanan favoritnya, Mama jamin dia bakal makin nempel sama kamu. Siapa tahu 'realisasi' yang dia omongin semalam jadi lebih cepet."
Viona tersedak potongan tomat cerinya. "Mama! Kenapa ujung-ujungnya ke sana lagi sih?"
"Lagian, kamu nggak kasihan apa? Noah di Singapura kerja keras buat masa depan kalian, masa pas balik ke Seoul dia cuma dikasih makan makanan delivery terus?" Jeremy menambahi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih serius namun tetap lembut.
Viona terdiam. Ia teringat bagaimana Noah yang teliti membelikannya baju-baju mahal, Noah yang memantau CCTV karena cemas, dan Noah yang menjemputnya di club meski baru mendarat. Ada rasa bersalah kecil yang mulai muncul di hatinya.
"Yaudah... nanti Vio coba tanya Bibi Kim di dapur gimana cara bikin Jjigae yang gampang," ucap Viona akhirnya, meski dengan nada terpaksa.
Rose dan Jeremy saling berpandangan dan tersenyum penuh kemenangan. Mereka tahu, di balik sifat keras kepalanya, Viona selalu ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang ia sayangi, termasuk untuk pria yang saat ini sedang bekerja keras di Singapura itu.
📞 Noah: "Halo, lo ada ke kampus kan hari ini?" suara berat Noah menyapa tanpa basa-basi. Nadanya terdengar protektif, seolah sedang mengecek jadwal "tahanan" rumahnya.
📞 Viona: "Iya, gue ada kelas sama Profesor Joanne jam sepuluh nanti," jawab Viona, mencoba terdengar sedatar mungkin di depan Papa dan Mamanya.
Mendengar percakapan itu, Rose yang sedang menyesap tehnya langsung memberikan tatapan protes. Ia tidak tahan dengan gaya komunikasi anaknya yang masih seperti teman tongkrongan.
"Masak sama suami masih lo-gue sih, Vio? Panggil 'Sayang' dong!" celetuk Rose dengan suara yang cukup keras agar terdengar sampai ke seberang telepon.
"Ma...!" rengek Viona, menjauhkan ponselnya sejenak sambil melotot ke arah sang mama.
Jeremy yang biasanya kalem pun kini tidak mau kalah memberikan dukungan pada istrinya. "Harus sopan sama suami, Vio. Panggilan itu menunjukkan rasa hormat."
Viona merasa terpojok. Ia melirik layar ponselnya, yakin sekali Noah di Singapura sana pasti sedang menahan tawa atau malah sedang menunggu dengan percaya diri.
Dengan helaan napas panjang dan wajah yang sudah panas sampai ke telinga, Viona akhirnya menyerah pada tuntutan orang tuanya.
📞 Viona: "S-sayang... jangan lupa sarapan di sana," ucap Viona dengan suara yang sedikit bergetar karena malu. "Kapan balik? Biar gue... eh, biar aku jemput ke Incheon."
Hening sejenak di ujung telepon. Viona bisa membayangkan ekspresi Noah yang mungkin hampir menjatuhkan ponselnya karena terkejut mendengar panggilan itu secara tiba-tiba.
📞 Noah: Terdengar suara kekehan rendah yang sangat dalam. "Pinter. Kayaknya lo emang harus lebih sering nginep di rumah Mama biar dididik jadi istri yang bener."
📞 Noah: "Gue balik lusa, Sayang. Nggak usah jemput, gue udah ada jemputan kantor. Tapi lo harus udah ada di rumah kita sebelum gue sampai. Jangan telat, atau 'hukuman' yang kita bahas kemarin langsung gue proses."
Viona menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup tidak karuan. "Iya, cerewet! Udah ah, gue, aku mau berangkat kampus!"
Begitu telepon dimatikan, Rose dan Jeremy langsung bersorak heboh seolah baru saja memenangkan lotre, sementara Viona hanya bisa menelungkupkan wajahnya di meja makan, merutuki nasibnya yang kini benar-benar sudah masuk ke dalam genggaman penuh seorang Noah Sebastian Willey.