Kisah seorang gadis yang terpaksa menjadi pelayan pebisnis misterius dan kejam agar organ tubuhnya tidak dijual oleh pria itu akibat ulah ibunya sendiri.
Namun, ia tetap berusaha melarikan diri dari sangkar Tuannya.
Sebuah rahasia besar sang CEO terkuak saat pelayan itu hadir dalam kehidupannya yang membuat pria itu marah besar dan berencana membuat hancur kehidupan gadis itu.
Bagaimana kelanjutan cerita mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alensvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Deeptalk
"Anna kau lupa? Seluruh tempat ini milikku. Termasuk dirimu." Gumam Damian yang malah membuat Anna mendengus kesal.
"Kalau gitu, aku tidur dikamarmu saja."
"Tidak." Ucap Damian sambil menarik tangan Anna hingga ia terjatuh diranjang.
"Sudahlah, sini tidurlah. Aku lelah." Akhirnya dengan mendengus pelan, Anna memilih berbaring disampingnya dan memunggungi Damian.
Hening merayap di antara mereka dan membiarkan suara jam dinding yang berdenting merdu. Namun, detik berikutnya, Anna merasakan sesuatu yang membuat jantungnya seperti berhenti berdetak.
Sebuah tangan besar menyelinap dari belakang melingkar di dekat lehernya dan tangan yang satu berada di atas pinggangnya. Dalam sekejap, Damian memeluknya dari belakang. Tubuhnya yang hangat menyentuh punggung Anna.
Anna membeku. Tubuhnya menegang.
"Damian..?" bisiknya nyaris tak terdengar.
Tak ada jawaban. Hanya terdengar tarikan napas Damian yang begitu dekat membelai tengkuknya.
Anna semakin berdebar. "Lepaskan aku.." suaranya bergetar.
Namun, bukannya melepaskan Anna, Damian justru mengutarakan tubuh Anna hingga mereka berhadapan.
Mata mereka bertemu dalam cahaya temaram kamar. Jarak mereka terlalu dekat!
Anna menelan ludah mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengalihkan suasana. Ah!
"Damian.." panggilnya pelan. "Apa kau masih ingat isi kontrak kita?"
Damian menatapnya dalam diam lalu berdeham pelan.
"Tentu saja."
Anna menatapnya dengan penuh arti. "Di dalamnya tertulis bahwa kita tidak boleh memiliki perasaan.."
Damian diam. Tak ada respon. Dan tak ada bantahan apapun. Ia hanya menatap Anna dengan tatapan tak biasa—memperhatikan setiap inci wajah Anna.
Anna ingin melanjutkan kata-katanya tapi ada sesuatu yang menahannya—debar jantung Damian yang begitu cepat menyentuh kulit tangannya.
Anna mengumpulkan keberanian mencoba mengabaikan debar jantung mereka yang memiliki ritme yang sama.
"Damian, kita tidak boleh seperti ini," bisiknya pelan.
Damian tidak langsung merespon. Jemarinya yang tadi menyapu lembut bibir Anna kini turun ke dagunya, menahannya agar tetap menatapnya.
"Seperti apa?" tanyanya. Suara Damian terdengar pelan dan dalam, nyaris berbisik.
Anna menelan ludah, gugup. "Seperti ini.. Terlalu dekat. Kau tau kontraknya."
Damian tersenyum miring. "Kontrak hanya kata-kata diatas kertas, Anna."
"Tapi kita berjanji.."
"Lalu kenapa kau gugup?" Damian memotongnya. Anna menggigit bibir bawahnya dan mencoba menjauh. Namun, dengan mudah Damian menahannya.
"Damian, kau tau ini tidak benar. Kita.."
"Jawab aku," Damian kembali menyela dengan suaranya yang lebih tenang namun tajam. "Kenapa kau terlihat seperti ini? Kenapa kau begitu terpengaruh?"
Anna terdiam. Ia ingin menjawab tapi kata-katanya seakan nyangkut ditenggorokan.
Damian semakin mendekat dan membiarkan ibu jarinya menyapu lembut pipi Anna.
"Apa kau takut?" bisiknya.
Anna tidak bisa menjawab. Hening. Damian menatapnya dalam, menunggu dan seakan mencoba memaksa Anna untuk berkata jujur tentang perasaannya.
Dengan napas sedikit bergetar, Anna berbisik. "Aku takut.. Jika aku terlalu terbiasa denganmu."
Jemari Damian berhenti bergerak. Napasnya perlahan menjadi lebih berat. Anna tidak tahu kenapa ia mengatakan itu, tapi ua tahu satu hal—perasaan ini bukan lagi sesuatu yang bisa diabaikan.
Tatapan Damian masih terkunci pada Anna, mencari sesuatu dalam matanya yang bergetar.
"Kau terlalu terbiasa denganku?" Damian mengulang pelan seolah memastikan apa yang baru saja ia dengar.
Anna menelan ludah, hati ya terasa sesak. Ia tak ingin mengakuinya, tapi kalimat itu sudah terucap. Tak bisa ditarik kembali.
"Aku.." Anna membuka mulutnya tapi kata-katanya tercekat.
Damian menghela napas panjang. Jemarinya yang tadi menyentuh pipi Anna perlahan turun.
"Anna.." panggil Damian dengan suara yang teramat lembut. Ia mendekat sedikit membuat napas mereka hampir bersatu.
"Aku tidak suka ini."
Anna mengerutkan kening. "Apa?"
"Perasan aneh ini."
Jantung Anna berdebat semakin kencang.
"Damian, jangan.."
"Jangan apa?"
"Jangan membuat semuanya jadi lebih sulit."
Damian menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menghembuskan napas berat. Ia memejamkan mata sesaat lalu perlahan menjauh. Anna tak tau kenapa hatinya malah jadi nyeri saat Damian melakukan itu—melepaskan pelukannya.
Damian kemudian berbalik membaringkan dirinya dan memunggungi Anna.
"Tidurlah, Anna."
Anna tetap memandangi punggung lebarnya merasa seolah ada sesuatu yang masih menggantung di antara mereka.
"Damian.." panggilnya pelan.
"Tidur, Anna." ulang Damian, suaranya terdengar berbeda kali ini, seperti seseorang yang tengah menahan sesuatu.
Anna menggigit bibirnya sendiri lalu perlahan membalikkan badan, membiarkan malam membawa mereka kembali dalam kebisuan yang berisik.
Sementara itu, Damian menatap jendela dengan rahangnya yang mengeras. Jemarinya mengepal di atas selimut.
Perasaan ini..
Perasaan yang seharusnya tidak ada, membuatnya takut.
.
.
Next👉🏻
(Terima kasih sudah membaca, aku harap kamu bahagia💕)
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩