Untuk mengungkap penyebab adiknya bunuh diri, Vera menyamar menjadi siswi SMA. Dia mendekati pacar adiknya yang seorang bad boy tapi ternyata ada bad boy lain yang juga mengincar adiknya. Siapakah pelakunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Setelah melewati perjuangan panjang, akhirnya Vera resmi menyandang gelar sarjana. Tak terhitung berapa kali dia hampir menyerah karena harus bekerja sambil kuliah, tapi dia bertahan. Lulus dengan nilai tinggi adalah pencapaiannya yang luar biasa. Namun, setelah euforia kelulusan mereda, muncul dilema baru, dia tidak tahu harus bekerja di bidang apa.
Vera mencoba berbagai wawancara kerja, tapi hatinya tidak pernah benar-benar merasa cocok. Hingga suatu hari, saat dia sedang mengikuti pelatihan bela diri, seseorang memperhatikannya. Pria itu, seorang agen dari badan intelijen, tertarik dengan kepiawaiannya dalam bertarung dan kecerdasannya dalam menganalisis situasi. Tanpa pikir panjang, Vera menerima tawaran untuk bergabung.
Dua tahun berlalu sejak hari itu. Vera telah menyelesaikan berbagai misi, mulai dari infiltrasi jaringan narkoba hingga operasi rahasia lainnya. Dia merasa hidupnya kini penuh tantangan, sesuai dengan keinginannya. Namun, ketika perintah baru datang, dia merasa seperti ditampar oleh takdir.
"Kamu akan menyelidiki kasus penggelapan dana di sebuah sekolah yayasan yang dikelola oleh ATKPro," ujar komandannya. "Sekolah ini mendapat banyak bantuan dari pemerintah dan swasta, tapi dana itu tak pernah sampai ke yang membutuhkan."
Vera mendengarkan dengan seksama, tetapi saat membaca detail lokasi, dia merasakan dadanya sesak. Sekolah itu berada di kota kelahirannya. Kota yang berusaha dia lupakan. Kota yang menyimpan banyak luka. Apa aku harus kembali ke sana?
"Ada masalah?" tanya komandannya.
Vera menggeleng. "Tidak, saya siap."
Meski hatinya berontak, dia tahu ini adalah tugasnya. Maka, dengan tas ransel di punggung dan identitas baru di tangannya, Vera kembali ke tempat yang pernah memberinya kenangan pahit dan juga manis.
...***...
Vera berdiri di depan rumahnya, menatap bangunan kecil yang dulu pernah menjadi tempatnya berteduh. Cat dindingnya sudah mulai pudar, halaman depannya dipenuhi ilalang yang tumbuh liar, dan debu memenuhi setiap sudut kaca jendelanya.
Dia menarik napas dalam. Rumah itu adalah tempat terbaik yang bisa dia tinggali selama menjalankan misinya. Selain menghemat biaya, tempat itu juga cukup tersembunyi sehingga tak ada yang akan curiga dengan keberadaannya di kota itu.
Tanpa membuang waktu, Vera melangkah masuk. Begitu pintu terbuka, aroma debu langsung menyeruak ke hidungnya. Dengan cepat, dia membuka jendela agar udara segar masuk, lalu menggulung lengan bajunya. Jika ingin tidur nyenyak malam ini, dia harus bekerja keras membersihkan rumah itu terlebih dahulu.
Beberapa jam berlalu, Vera masih sibuk membersihkan setiap sudut rumah. Dia mulai dari menyapu dan mengepel lantai, membersihkan sarang laba-laba di sudut-sudut langit-langit, hingga mencuci kain gorden yang sudah berbau apek. Setelah itu, ia mengatur kembali beberapa perabotan yang masih bisa digunakan dan menyingkirkan yang sudah rusak.
Saat sedang mengelap meja di ruang tamu, matanya menangkap sesuatu di rak tua dekat jendela. Sebuah bingkai foto berdebu yang masih berdiri di sana. Dengan hati-hati, dia mengambilnya dan meniup debunya.
Gambar di dalamnya memperlihatkan dirinya di masa lalu. Dia masih berseragam SMA dan tersenyum cerah bersama Novan.
Vera diam menatap foto itu. Rasanya seperti melihat bayangan masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam. Hubungannya dengan Novan berakhir dengan begitu banyak luka. Sidang enam tahun lalu adalah akhir dari semuanya.
Dengan ekspresi datar, Vera memasukkan foto itu ke dalam tempat sampah.
Malam mulai tiba. Setelah berjam-jam bekerja, akhirnya rumah itu layak untuk ditinggali. Vera menuangkan segelas air dan duduk di lantai dengan punggung bersandar di dinding. Rumahnya memang tidak besar, tapi cukup nyaman. Setidaknya, selama menjalankan misi, dia masih bisa beristirahat dengan baik.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari komandannya.
"Mulai besok, jalankan penyamaranmu. Jangan menarik perhatian."
Vera tersenyum tipis. Tentu saja, dia sudah siap.
Besok, dia akan memulai hari barunya sebagai tukang bersih-bersih di sekolah yayasan milik ATKPro. Di sana, dia akan menggali informasi tentang dana bantuan yang tidak pernah sampai ke tempat seharusnya.
...***...
Pagi itu, Vera mengenakan seragam cleaning service berwarna biru tua, lengkap dengan topi dan masker yang menutupi sebagian besar wajahnya. Rambutnya yang biasa terurai kini disembunyikan di balik topi. Penyamaran ini harus sempurna. Tidak boleh ada yang mengenali dirinya.
Dia menatap pantulan dirinya di cermin kecil sebelum berangkat. "Hanya seorang tukang bersih-bersih biasa," gumamnya, mengingatkan diri sendiri untuk tetap rendah hati dan tidak menarik perhatian.
Setelah memastikan semua perlengkapannya siap, dia mengambil kunci motor dan bergegas keluar.
Setelah sekitar dua puluh menit berkendara, akhirnya dia sampai di sekolah yang menjadi target penyelidikannya.
Begitu turun dari motor, matanya langsung menelusuri bangunan sekolah yang berdiri di hadapannya. Sekolah itu tampak tidak terawat—dindingnya penuh noda dan mulai retak, beberapa jendela kaca buram oleh debu, dan atapnya terlihat seperti sudah lama tidak diperbaiki.
Padahal, berdasarkan laporan keuangan yang Vera telusuri sebelum berangkat, sekolah itu seharusnya menerima dana bantuan dalam jumlah besar. Namun, kenyataannya, kondisinya jauh dari kata layak.
Ke mana semua dana itu pergi? Apa ada sangkut pautnya dengan direktur ATKPro?
Dia mengamati anak-anak yang berjalan memasuki gerbang sekolah. Hanya ada beberapa siswa yang terlihat, bahkan tak sampai dua puluh orang masuk ke dalam kelas.
Padahal, dalam laporan resmi yang diterima oleh badan intelijen, jumlah murid seharusnya tetap penuh, dengan satu kelas terdiri dari minimal tiga puluh lima siswa.
Vera menarik napas dalam dan mulai melangkah masuk.
Di pos keamanan, seorang pria paruh baya dengan seragam satpam menghentikannya. "Kamu cleaning service yang baru?"
Vera mengangguk singkat. "Iya, Pak. Saya ditugaskan mulai hari ini."
Satpam itu hanya mengangguk dan kembali ke tempat duduknya. "Langsung masuk saja, nanti kepala sekolah atau Bu Lilis yang ngasih tahu tugasnya."
Vera mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Dia sudah mencari informasi sebelumnya—Bu Lilis adalah kepala bagian kebersihan di sekolah ini, sedangkan kepala sekolahnya bernama Pak Darmawan.
Begitu masuk ke dalam gedung utama, Vera semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan di tempat itu. Lorong-lorong sekolah sepi, beberapa ruangan kelas tertutup rapat, dan papan pengumuman di dekat pintu masuk penuh dengan selebaran lama yang sepertinya sudah bertahun-tahun tidak diganti.
Dia berjalan menyusuri koridor menuju ruang kebersihan. Saat melewati salah satu ruang kelas, dia sempat mengintip dari celah pintu.
Di dalamnya, hanya ada sepuluh siswa yang duduk di bangku.
"Laporan mengatakan satu kelas penuh... tapi kenyataannya bahkan setengahnya pun tidak ada."
Sesampainya di ruang kebersihan, dia bertemu dengan seorang wanita berusia sekitar lima puluhan tahun dengan wajah lelah dan mata tajam.
"Kamu Mega?" wanita itu bertanya.
"Iya, Bu," jawab Vera sopan.
Bu Lilis mengamati Vera dari atas ke bawah sebelum menyerahkan sebuah daftar tugas. "Kerja di sini gak susah. Pagi, kamu bersihin lorong dan ruang guru. Siang, bantu di kantin kalau dibutuhkan. Sore, sebelum pulang, pastikan kamar mandi bersih."
Vera mengangguk. "Baik, Bu."
"Jangan banyak tanya, kerja yang benar, dan jangan cari masalah," tambah Bu Lilis sebelum pergi.
Vera hanya tersenyum tipis. Justru aku datang ke sini untuk mencari masalah.
Dia mulai menjalankan tugasnya. Tangannya bekerja, tetapi pikirannya terus menganalisis situasi.
Dana besar terus masuk ke sekolah ini, tetapi muridnya sedikit, fasilitasnya buruk, dan tidak ada perbaikan yang terlihat.
Siapa yang bermain di belakang semua ini? Murni tindakan kepala sekolah atau direktur ATKPro?
Ayooo semangat Dwiki cari dalangnya😥