Bahagia karena telah memenangkan tiket liburan di kapal pesiar mewah, Kyra berencana untuk mengajak kekasihnya liburan bersama. Namun siapa sangka di H-1 keberangkatan, Kyra justru memergoki kekasihnya berkhianat dengan sahabatnya.
Bara Elard Lazuardi, CEO tampan nan dingin, berniat untuk melamar tunangannya di kapal pesiar nan mewah. Sayangnya, beberapa hari sebelum keberangkatan itu, Bara melihat dengan mata kepalanya sendiri sang tunangan ternyata mengkhianatinya dan tidur dengan lelaki lain yang merupakan sepupunya.
Dua orang yang sama-sama tersakiti, bertemu di kapal pesiar yang sama secara tak sengaja. Kesalahpahaman membuat Kyra dan Bara saling membenci sejak pertama kali mereka bertemu. Namun, siapa sangka setelah itu mereka malah terjebak di sebuah pulau asing dan harus hidup bersama sampai orang-orang menemukan mereka berdua.
Mungkinkah Bara menemukan penyembuh luka hatinya melalui kehadiran Kyra? Atau malah menambah masalah dengan perbedaan mereka berdua yang bagaikan langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmiLovi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan
Seandainya saja Bara tahu lebih awal jika Valeria menjebaknya, mungkin ia tak akan kembali ke kantor dan membuat masalah semakin runyam. Meski saat itu puluhan wartawan mengelilinginya dan Vale, pikiran Bara hanya tertuju pada satu orang yang mungkin sedang menunggu kedatangannya.
Namun, Bara terlambat menyadari bila Kyra sudah mendengar dan melihat semuanya. Ia terlambat untuk mencegah Kyra turun dan menyaksikan segalanya. Tepat di saat Kyra pingsan di pelukan Daniel, Bara yang masih dikerumuni oleh wartawan itu mendadak kehilangan kontrol atas dirinya. Ia mendorong wartawan yang menghadang jalannya, berlari menghampiri Kyra yang sudah tak sadarkan diri, menggendong gadis itu dan memerintah Morgan mengantarkan mereka berdua ke Rumah Sakit.
Vale?
Tentu saja terperangah tak percaya melihat pemandangan di hadapannya. Terlebih setelah para wartawan juga mengabadikan potret Bara ketika menggendong Kyra dengan wajah panik. Dunia Valeria hancur, ia terlambat menyadari bila Bara-nya sudah berubah. Rencana yang sudah ia persiapkan secara matang dengan seseorang mendadak hancur berantakan karena ulah gadis sialan itu. Vale kesal, dan dia pun akhirnya memutuskan untuk ikut menyusul ke Rumah Sakit.
"Pasien positif hamil 8 minggu."
Ucapan Dokter yang tadi memeriksa keadaan Kyra membuat Bara semakin tenggelam dalam lautan dilema. Di satu sisi ia bersyukur karena Kyra tak akan lagi menolak kehadirannya setelah apa yang ia lihat tadi sore, namun di sisi lain, bagaimana caranya Bara akan menjelaskan pada Daddy-nya yang terkenal saklek.
"Pak, Nona Vale masih menunggu anda di luar." Morgan menghampiri Bara yang duduk termenung sembari menatap tubuh Kyra yang tergolek lemah di ranjang pasien.
Hembusan napas berat Bara membuat Morgan ikut prihatin atas masalah yang menimpa Boss-nya. Namun, Morgan tak bisa melakukan apapun untuk membantu selain mendampingi Bara yang sejak tadi nampak tak bersemangat setelah mengetahui kabar kehamilan itu.
Perlahan Bara bangkit dan berjalan menuju pintu. Ia akan menemui Vale dan menyelesaikan masalah yang sudah wanita itu timbulkan tadi sore.
Melihat seseorang membuka pintu, Vale bangkit dengan tergesa-gesa. Ketika seseorang yang ia nantikan itu muncul, Vale sontak berhambur memeluk Bara dengan erat. Entahlah, mengapa Bara tak menolak pelukan ini padahal ia tahu dengan jelas bila Vale sudah mengkhianatinya berkali-kali. Apakah karena yang Bara butuhkan saat ini adalah kekuatan?
"Bara, jelaskan sama aku kalo apa yang mereka katakan itu bohong!" Vale mengurai peluknya dan menatap Bara dengan tajam.
Bara bergeming, apakah Vale sudah mendengar dari Dokter tentang keadaan Kyra?
"Bara?!"
"Inilah pembalasan yang terbaik untukmu, Vale. Kehamilan itu memang benar, yang dikandung Kyra adalah anakku."
"Nggak!!" teriak Vale histeris. "Nggak mungkin kamu menghamili gadis seperti dia! Katakan kalo kamu hanya berbohong!" Vale mencengkram erat kemeja Bara dan memaksa lelaki itu menatapnya.
Tak ada jawaban, Bara hanya membalas tatapan itu dengan sejujur-jujurnya.
Menyadari bila Bara tak main-main, cengkraman Valeria mengendur seiring dengan tubuhnya luruh di lantai. Ia menangis, meraung-raung, tak terima dengan kenyataan yang harus ia hadapi.
"Bara, kenapa kamu tega melakukan ini sama aku! Aku cinta kamu, Bara!! Kenapa kamu tega menghamili dia padahal kamu lebih sering meniduriku dibanding gadis lusuh itu!"
"Jaga ucapanmu, Vale. Kita sedang berada di tempat umum!" kecam Bara ketika beberapa pasang mata sontak mengawasi mereka berdua. "Pulanglah, biar Morgan yang mengantarmu."
"Nggak! Aku nggak mau pulang. Aku mau membuat perhitungan dengan gadis jallang itu!" Vale bangkit dengan gesit, ia hendak meringsek masuk ke kamar Kyra namun Bara lekas menghalanginya.
"Jangan sekalipun kamu berani menyentuh Kyra dan bayiku."
"Apa!? Bayi!?"
Bara dan Vale menoleh cepat ke suara yang tiba-tiba menginterupsi mereka berdua. Roni sudah berdiri di lorong dengan wajah syok tak percaya.
"Om." Bara menelan salivanya panik.
Dengan langkah lebar, Roni menghampiri mereka dan berdiri diantara Vale dan Bara.
Plak!
Plak!
Dua buah tamparan mendarat di pipi Vale dan Bara.
"Kenapa kamu menamparku, Pak Tua!" sungut Vale tak terima seraya mengusap pipinya yang terasa perih.
"Karena kamu sudah mengolok putriku sebagai gadis jallang!!" teriak Roni murka. "Aku mendidik putriku dengan baik, aku memberinya makan dari uang halal, dan kamu seenaknya saja menjulukinya gadis jallang!?"
"Dia memang gadis jallang karena sudah merebut dan tidur dengan kekasihku!"
Plak.
Sebuah tamparan mendarat lagi di pipi Vale. Kali ini dari Bara.
"Bara!"
"Aku bukan lagi kekasihmu sejak kamu mengkhianatiku. Pergilah. Aku tidak mau melihatmu lagi, Vale. Bukankah aku sudah pernah bilang bila aku sangat membencimu? Jadi sekarang enyahlah dari hadapanku atau aku akan meminta satpam untuk menyeretmu pergi dari sini!" sentak Bara dengan penuh emosi.
Di dalam kamar rawat inap, Kyra masih belum bangun sama sekali. Bara dan Roni duduk berhadapan dengan ekspresi wajah yang tak bisa dijelaskan sementara Morgan berjaga di luar.
"Kapan kalian melakukan perbuatan itu!?" tanya Roni memecah keheningan. "Kenapa kalian tega menodai kepercayaan yang sudah aku berikan!"
"Maafkan saya, Om. Sayalah yang bersalah."
"Kapan!? Jelaskan sekarang!" potong Roni dengan emosi.
"Kami melakukannya ketika sama-sama terjebak di pulau itu."
"Apa? Jadi selama ini sebenarnya kalian sudah lama saling mengenal dan bukan sekedar teman kantor"
Bara menggeleng cepat. "Tidak seperti itu, Om. Saya dan Kyra baru bertemu lagi setelah beberapa minggu kemudian. Pertama kali saya mengantarkan Kyra pulang adalah pertemuan pertama kami setelah beberapa minggu berpisah."
"Hahaha ..." tawa Roni tiba-tiba pecah di antara tangisnya. "Meniduri Kyra dan kemudian meninggalkan dia lantas bertemu lagi, begitu?"
Dengan ragu, Bara mengangguk.
Plak.
Bara memejamkan mata dan menyentuh pipinya yang terasa panas setelah sebuah tamparan mendarat lagi. Bila orang lain yang melakukan itu padanya, bisa dipastikan tangan orang itu akan patah kedua-duanya. Nyatanya, kini Bara hanya bisa menunduk pasrah ketika Roni melampiaskan rasa kecewanya dengan memukuli Bara hingga bibirnya berdarah. Bara tahu, Roni pasti sangat kecewa padanya dan Kyra. Ia paham bila Roni sangat sakit hati pada kenyataan yang baru saja ia ketahui, dan Bara membiarkan tubuhnya dijadikan pelampiasan amarah dan kecewa itu meskipun harus babak belur.
"Kenapa kalian tega sekali pada Pak Tua ini ..." tangisan Roni membuat mata Bara ikut basah. "Tidak bisakah kalian menunggu hingga halal?"
Bara tak menyahut, untuk pertama kali selama ia hidup, ia menangisi sikapnya sendiri yang telah gegabah dan membuat masa depan Kyra hancur.
Tanpa mereka berdua sadari, Kyra yang sudah bangun mendengar semua percakapan malam ini dengan hati hancur. Ia menyentuh perutnya yang masih rata dan mencengkramnya dengan erat.
"Kenapa kamu harus hadir! Kenapa kamu mengacaukan semuanya!"
...****************...
gengsi aja di gedein pake ga ada cinta
di abaikan dikit udah kesel hahah
wkwkwkwwk