"Aku mencintainya, tapi akulah alasan kehancurannya. Bisakah ia tetap mencintaiku setelah tahu akulah penghancurnya?"
Hania, pewaris tunggal keluarga kaya, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Meskipun seluruh sumber daya dan koneksi dikerahkan untuk mencarinya, Hania tetap tak ditemukan. Tidak ada yang tahu, ia menyamar sebagai perawat sederhana untuk merawat Ziyo, seorang pria buta dan lumpuh yang terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya.
Di tengah kebersamaan, cinta diam-diam tumbuh di hati mereka. Namun, Hania menyimpan rahasia besar yang tak termaafkan, ia adalah alasan Ziyo kehilangan penglihatannya dan kemampuannya untuk berjalan. Saat kebenaran terungkap, apakah cinta mampu mengalahkan rasa benci? Ataukah Ziyo akan membalas dendam pada wanita yang telah menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Mengambil Kembali
Hania melangkah masuk ke gedung perkantoran mewah yang selama ini hanya ia dengar dari cerita Bryan. Sepatu hak rendahnya berdenting di lantai marmer yang mengkilap. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan. Ia tidak peduli dengan tatapan heran dari karyawan yang berlalu lalang. Tujuannya jelas.
Begitu sampai di meja resepsionis, Hania menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan nada suaranya. Namun, ketika ia berbicara, amarahnya tetap tak bisa sepenuhnya disembunyikan.
"Saya ingin bertemu Bryan," katanya tegas.
Resepsionis, seorang wanita muda dengan seragam rapi, tersenyum profesional. "Maaf, Nona. Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?"
Hania mengerutkan kening. "Tidak. Saya tidak butuh janji untuk menyelesaikan ini. Tolong sampaikan pada Bryan, saya ada di sini. Bilang padanya untuk mengantar kunci mobil saya ke lobby ini sekarang juga."
Resepsionis tampak bingung. "Maaf, Nona. Jika tidak ada janji, saya tidak bisa langsung menyampaikan pesan Anda. Bisa saya tahu—"
Hania memotong dengan nada tajam. "Dengar, saya bukan sedang meminta izin. Kalau dia tidak turun dalam waktu sepuluh menit, saya akan melapor ke polisi karena mobil saya dicuri. Dan kalau itu terjadi, reputasi perusahaan ini juga pasti akan terkena imbasnya!"
Nada suaranya cukup keras hingga beberapa orang di sekitar menoleh. Resepsionis itu tampak cemas, lalu mengangkat telepon di mejanya.
"Sebentar, Nona. Saya akan mencoba menghubungi Pak Bryan."
Hania memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Ia menggenggam erat tasnya, mencoba menahan tangis marah yang hampir pecah. Mobil itu bukan sekadar barang baginya, itu simbol perjuangannya, sesuatu yang ia beli dengan kerja kerasnya. Dan sekarang, pria itu seenaknya mengambilnya, seolah ia tak berarti apa-apa.
Di Ruangan CEO
Bryan sedang duduk di kursi empuknya, kedua kaki disilangkan di atas meja, menikmati secangkir kopi hangat sambil membolak-balik laporan keuangan yang baru saja diserahkan. Hari itu, segalanya terasa seperti berjalan sesuai rencananya. Hingga dering telepon dari sekretarisnya memecah konsentrasinya.
Ia menekan tombol speaker dengan santai. "Ada apa, Lita?"
Suara sekretarisnya terdengar sedikit ragu di seberang sana. "Pak Bryan, ada seorang wanita di lobby. Dia meminta Anda segera mengembalikan kunci mobilnya."
Bryan menegakkan duduknya, alisnya langsung berkerut. "Wanita? Siapa namanya?"
"Saya tidak sempat menanyakannya, Pak. Tapi dia bilang kalau Anda tidak turun untuk menyerahkan kunci mobilnya, dia akan melapor ke polisi," jawab Lita pelan, suaranya terdengar semakin cemas.
"Saya akan turun sebentar lagi." sahut Bryan.
Di Lobby
Resepsionis meletakkan teleponnya. "Pak Bryan akan turun sebentar lagi."
Hania mendengus pelan, lalu menoleh ke arah pintu lift, menunggu pria itu muncul.
Di ruangannya, Bryan menghela napas panjang, meletakkan kopinya dengan kasar. Ia tidak perlu menebak siapa wanita itu. Nama Hania langsung muncul di kepalanya, dan hatinya bergetar antara kesal dan gelisah.
"Hania..." gumamnya pelan, hampir seperti mendesis.
Ia berdiri dari kursinya, menyisir rambutnya dengan tangan. Ada sesuatu yang mencengkeram hatinya, campuran antara rasa bersalah, frustrasi, dan amarah. Ia tahu ia salah, tapi ia tidak pernah berpikir Hania akan sampai sejauh ini, datang ke kantornya, menciptakan drama di depan umum.
"Kenapa dia tidak bisa mengerti? Aku sudah mencoba menjelaskan..." Bryan berbicara pada dirinya sendiri sambil berjalan mondar-mandir di ruangan.
Tapi di balik amarahnya, ada rasa malu yang menghantui. Semua orang di kantornya pasti akan membicarakan ini. Hania, dengan emosinya yang meledak-ledak, pasti tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja.
Bryan meninju meja kerjanya dengan kesal. "Kenapa dia tidak bisa move on?"
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Ini hanya masalah kecil,"pikirnya. Ia bisa menyelesaikan ini tanpa membuat keributan lebih besar. Lagipula, ia tidak punya pilihan. Jika Hania benar-benar melapor ke polisi, nama baiknya bisa tercoreng.
Dengan berat hati, Bryan meraih kunci mobil dari laci meja kerjanya. Ia menatap benda kecil itu sejenak, mengingat kembali semua momen yang ia habiskan bersama Hania. Sebuah senyuman pahit muncul di wajahnya.
"Kau memaksaku, Han," gumamnya sebelum melangkah keluar dari ruangannya.
Dengan langkah cepat, ia menuju lift, bersiap menghadapi wanita yang pernah ia cintai tapi kini menjadi duri dalam hidupnya.
Detik-detik berlalu, dan saat Bryan akhirnya keluar dari lift, wajah santainya seketika berubah menjadi tegang begitu melihat Hania berdiri di sana dengan ekspresi penuh amarah.
"Kunci mobilku," ujar Hania dingin, tanpa basa-basi. "Sekarang."
Bryan mengangkat alis, mencoba terlihat santai. "Hania, ini nggak perlu dibesar-besarkan. Mobil itu cuma aku pakai sebentar—"
"Sebentar?" Hania menyela, nadanya meninggi. "Sebentar apa maksudmu? Kau pakai mobil itu untuk memamerkan dirimu di depan wanita lain! Aku sudah cukup sabar, Bryan. Jangan memaksa aku membuat masalah ini jadi urusan polisi."
Bryan tersentak, dan beberapa orang yang berada di lobby mulai mencuri pandang ke arah mereka. Ia tahu Hania tidak main-main. Dengan berat hati, ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan kunci mobil.
"Ini," katanya sambil menyerahkannya dengan wajah masam. "Aku hanya pinjam, Han. Kau nggak perlu mempermalukanku seperti ini."
Hania menatapnya tajam, mengambil kunci itu tanpa berkata apa-apa. Lalu, dengan langkah penuh percaya diri, ia berbalik dan meninggalkan lobby, meninggalkan Bryan yang hanya bisa berdiri kaku dengan wajah penuh rasa malu.
Hania adalah sosok yang penuh kasih dan lembut, terutama ketika ia mencintai. Ia rela berkorban tanpa banyak bicara, bahkan mengesampingkan dirinya sendiri demi orang yang ia sayangi.
Namun, di balik kelembutannya, tersembunyi kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Ketika kepercayaannya dihancurkan atau hatinya disakiti, Hania berubah menjadi pribadi yang tegas, galak, dan tak kenal takut. Ia tak ragu untuk melawan, menuntut keadilan, atau membela dirinya sendiri.
Kasih sayangnya adalah kekuatan, dan amarahnya adalah tameng untuk melindungi dirinya dari luka yang lebih dalam.
***
Di Rumah Sakit
Ziyo teringat percakapannya dengan dokter, sebelum Rita dan Clara datang.
Satu hari yang lalu ...
Dokter duduk di kursi samping ranjang Ziyo, menatap pria muda itu dengan sorot mata yang lembut namun serius.
“Tuan Ziyo,” ujar dokter setelah jeda sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Saya perlu berbicara tentang kondisi penglihatan Anda.”
Ziyo, yang terbaring lemah dengan perban di matanya, mendengar dengan napas tertahan. Hening sejenak, sebelum ia akhirnya berkata dengan suara serak, “Apa yang terjadi, Dok?”
Dokter menarik napas panjang, lalu menjelaskan. “Kecelakaan itu menyebabkan trauma signifikan pada mata Anda. Kami menemukan bahwa kornea Anda mengalami kerusakan parah. Sayangnya, tanpa kornea yang berfungsi normal, Anda tidak dapat melihat dengan jelas. Namun, ada kemungkinan untuk memulihkan penglihatan Anda melalui transplantasi kornea.”
Ziyo terdiam. Tangannya mencengkeram ujung selimut, berusaha mencerna setiap kata. “Transplantasi kornea? Itu berarti saya butuh donor?”
Dokter mengangguk pelan meski Ziyo tak bisa melihatnya. “Betul. Donor kornea bisa menjadi solusi terbaik dalam kasus Anda. Namun, proses ini membutuhkan waktu. Kami harus menemukan donor yang cocok, dan setelah itu, ada risiko penolakan tubuh terhadap transplantasi. Meski begitu, peluang keberhasilannya cukup tinggi, terutama jika Anda menjalani perawatan dan pengawasan ketat setelah operasi.”
Ziyo tersenyum pahit, meski matanya tetap tersembunyi di balik perban. “Berarti saya harus menunggu… dan berharap?”
“Betul,” ujar dokter dengan nada menenangkan. “Saya tahu ini bukan situasi yang mudah. Tapi transplantasi kornea telah membantu banyak pasien memulihkan penglihatan mereka. Ini bukan akhir dari segalanya, Tuan Ziyo. Anda masih memiliki peluang besar untuk melihat lagi.”
Ziyo menghela napas panjang. “Baiklah, Dok. Kalau itu satu-satunya cara, saya akan menunggu. Apa pun yang diperlukan.”
Dokter menepuk bahunya dengan lembut. “Itu sikap yang bagus. Sementara menunggu proses donor, saya akan mengatur terapi untuk membantu Anda beradaptasi dengan kondisi ini. Jika Anda butuh seseorang untuk diajak bicara, kami juga bisa menyediakan konselor.”
Ziyo menghela napas panjang, pikirannya masih terpaku pada percakapan terakhir dengan dokter. Kata-kata itu terus terngiang, membebani pikirannya seperti bayangan yang tak kunjung pergi. Namun, suara ketukan pelan di pintu tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
...🔸"Cinta yang disakiti dan dikhianati adalah pelajaran, bukan hukuman. Jangan biarkan ia mengikatmu, karena masa depanmu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan mengenang orang yang tak pantas untukmu."🔸...
...🍁💦🍁...
.
To be continued
Hania pergi ziyo ada yg hilang walaupun tidak bs melihat wajah hania ziyo bs merasakan ketulusan hania walaupun ada yg disembunyikan hania....
Dalang utama adalah diva ingin mencelakai ziyo dan pura2 baik didepan ziyo bermuka dua diva ingin menguasai perusahaan.....
Dasar ibu diva hanya mementingkan diri dan tidak mementingkan kebahagiaan Zian..
Diva tidak akan tinggal diam pasti akan mencelakai ziyo lagi....