Empat tahun berlalu, Jagat Hartadi masih larut dalam perasaan cinta tak berbalas. Dia memilih menjalani hidup sendiri, hingga suatu malam dirinya membantu seorang wanita yang pingsan di pinggir jalan.
Jenna, itulah nama wanita tersebut. Siapa sangka, dia memiliki kisah kelam menyedihkan, yang membuat Jagat iba.
Dari sana, timbul niat Jagat untuk menikahi Jenna, meskipun belum mengenal baik wanita itu. Pernikahan tanpa dilandasi cinta akhirnya terjadi.
Akankah pernikahan yang berawal dari rasa kasihan, bisa menjadi surga dunia bagi Jenna dan Jagat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 : Rosaline Cafe
“Untuk Bu Jenna, dari Bu Viviana." Seorang pria yang merupakan suruhan Viviana, memberikan selembar amplop kepada Yanti.
“Oh, terima kasih. Akan saya sampaikan.”
Yanti bergegas menuju beranda samping, di mana Jenna tengah bersantai sambil mengasuh Shaka.
“Ada kiriman untuk Anda, Bu.” Yanti langsung menyerahkan amplop tadi.
“Dari siapa?” Jenna menautkan alis. Perasaannya mulai tak enak.
“Dari Bu Viviana.”
Jenna mengembuskan napas pelan, lalu menerima amplop itu. “Terima kasih.”
Setelah Yanti berlalu dari sana, Jenna segera membuka amplop itu. Dia yakin, Viviana pasti mengganggunya lagi, dengan hal-hal yang membuat tak nyaman.
Dari dalam amplop itu, Jenna mengeluarkan selembar kertas. Di sana, tertera pesan singkat dari istri sah Haris tersebut.
Temui aku di Rosaline Cafe pukul 15.30 sore ini. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Jangan sampai tidak datang.
Jenna terdiam sejenak, kemudian mere.mas kertas itu. Ditatapnya Shaka yang tertidur dalam keranjang bayi dari rotan.
“Apa lagi yang Viviana inginkan?” gumam Jenna. Dia patut curiga sekaligus waspada. Namun, jika tidak dituruti, Jenna takut Viviana membongkar masa lalunya dengan Haris kepada Jagat.
“Bodoh sekali. Andai tahu Jagat akan menikahiku, seharusnya aku tidak mengarang cerita jadi korban rudapaksa anak majikan.”
Jenna jadi bingung sendiri. Dia berkali-kali mengembuskan napas pelan bernada keluhan. Wanita muda itu berpikir keras, tentang bagaimana caranya menghindari Viviana yang menyebalkan.
“Apa sebaiknya aku menemui Om Tio dan meminta bantuan?” pikir Jenna. Namun, dia segera menggeleng kencang. “Tidak. Itu hanya akan menambah masalah. Ah! Ya, Tuhan. Kenapa jadi rumit begini?”
Selagi Jenna resah karena gangguan Viviana, terdengar derap sepatu mendekat ke beranda. Rupanya, Jagat sudah kembali dari kantor.
Mengetahui sang suami kembali lebih cepat dari seharusnya, Jenna agak kelimpungan. Satu hal yang segera dia lakukan adalah menyembunyikan surat berisi pesan pendek dari Vivianadi bawah keranjang bayi.
“Sayang,” sapa Jenna, seraya berdiri menyambut kehadiran Jagat.
“Hai,” balas Jagat, membalas sambutan hangat sang istri. Dia meletakkan blazer di kursi, sebelum merengkuh pinggang Jenna dan mengecup kening wanita itu.
“Kamu pulang lebih cepat,” ucap Jenna, seraya mengajak Jagat duduk bersama.
“Ya. Aku merindukan Sakha … dan kamu,” goda Jagat, diiringi senyum kalem. “Dia tidur.” Perhatian pengusaha tampan 41 tahun itu beralih kepada Sakha.
“Sakha baru tidur. Sepertinya, dia sangat senang karena kubawa keluar kamar.”
“Ya. Biarkan dia merasakan udara bebas. Itu tidak akan membuatnya masuk angin.”
Jenna tersenyum cukup lebar, seakan tidak sedang memiliki ganjalan apa-apa dalam hati. “Bagaimana urusan di kantor?” tanyanya.
“Tidak ada yang serius. Sebenarnya, kuselesaikan via telepon juga bisa. Namun, begitulah.” Jagat memfokuskan perhatian kepada Jenna, lalu merengkuh pundak wanita itu.
Jenna langsung menyandarkan kepala di pundak Jagat. Tatapannya menerawang jauh, dengan pikiran tak menentu. Dia mencari ide yang akan dijadikan alasan kepada sang suami.
“Sayang,” ucap Jenna, setelah terdiam beberapa saat.
“Ya.”
“Aku ingin pergi berbelanja sore ini,” ucap Jenna agak ragu.
“Tentu saja. Biar kutemani.”
Jenna langsung menegakkan tubuh, kemudian menatap protes. Dia menggeleng cukup kencang.
“Kenapa?” tanya Jagat keheranan.
“Maksudku, aku ingin pergi sendiri. Berbelanja dan ke salon ….” Jenna meringis kecil, kebingungan merangkai kata.
“Hm.” Jagat menggumam pelan, lalu manggut-manggut, memahami ke mana arah yang Jenna maksud. “Baiklah,” ucapnya. “Aku yang akan menjaga Sakha.”
“Sungguh?” Sepasang mata Jenna berbinar, mendengar ucapan Jagat. “Terima kasih.” Tak sungkan, dia langsung memeluk dan menciumi wajah Jagat, yang hanya tersenyum.
Bahagia mendapat perlakuan seperti itu. Jagat merasa hidupnya mulai sempurna. Meskipun pernikahannya dengan Jenna tanpa dilandasi cinta, tetapi ikatan yang terjalin membuat rasa itu hadir begitu cepat.
Sore itu, Jenna sudah bersiap pergi. Setelah menyusui Sakha, dia berpamitan kepada Jagat.
“Bersenang-senanglah,” ucap Jagat, setelah menutup pintu mobil.
“Stok ASI masih ada. Minta tolong saja kepada Yanti.”
Jagat mengangguk. Dia berdiri menatap kepergian Jenna yang diantar sopir.
Setelah mobil keluar dari carport, paras cantik Jenna tiba-tiba berubah tegang, saat membayangkan wajah Viviana yang menyebalkan.
“Kita sudah sampai, Bu.”
Ucapan sopir membuat Jenna tersadar. Dia segera melihat keluar, di mana ada bangunan dengan tulisan besar di bagian depannya.
Rosaline Cafe. Itulah tempat yang dicantumkan Viviana dalam surat singkat yang dikirimkan kepada Jenna.
Jenna turun dari mobil, setelah sang sopir membukakan pintu. Dia berjalan masuk, meskipun kakinya terasa berat untuk dilangkahkan.
Setibanya di dalam cafe, Jenna mengedarkan pandangan. Sesaat kemudian, dia melihat Viviana duduk tenang di meja paling sudut, sambil memperhatikannya.
Tak ingin membuang waktu, Jenna segera menghampiri. Tanpa dipersilakan, dia langsung duduk di hadapan Viviana, yang menghujaninya dengan tatapan aneh.
“Langsung saja. Ada apa?” Jenna menatap dingin Viviana.
“Kenapa terburu-buru? Bukankah kamu dan Mas Haris suka berkencan di sini?” Viviana menyunggingkan senyum sinis penuh cibiran.
“Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni ocehanmu, Bu Viviana. Jadi, jika tidak ada yang penting, aku akan segera pulang.” Jenna sudah hendak berdiri.
Namun, Viviana segera memberi isyarat, agar Jenna kembali duduk. “Kamu akan menyesal, Jenna.”
“Aku dan Om Tio sudah tidak berhubungan lagi,” ucap Jenna tegas, meskipun dengan suara cukup pelan.
“Tapi, hasil dari hubungan kalian masih ada. Aku menginginkannya.”