NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: BAYANGAN DI TENGAH NERAKA CAHAYA

Dimensi Abyss: Sektor Magma – Wilayah Api Abadi.

Sektor Magma adalah antitesis dari Glacial Abyss yang baru saja dihancurkan oleh Rehan. Di sini, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Langitnya berwarna merah membara, dipenuhi awan belerang yang memancarkan kilat panas setiap detik. Lantainya terdiri dari aliran lava cair yang mendidih, di mana tanah yang padat hanyalah pulau-pulau obsidian yang rapuh. Penguasa tempat ini adalah 'Efreet Lord Ignis', seekor raksasa api yang tubuhnya memancarkan cahaya begitu terang hingga mampu menghapus bayangan apa pun dalam radius satu mil.

Bagi seorang pembunuh yang mengandalkan bayangan seperti Hana (Phantom), tempat ini adalah kutukan. Cahaya yang terlalu terang berarti hilangnya media utamanya untuk bergerak. Namun, Arkan tidak mengirimnya ke sini untuk gagal.

Di pinggiran sungai lava, sebuah portal darah tipis terbuka. Hana melangkah keluar sendirian. Ia tidak mengenakan jubah hitam biasanya, melainkan zirah tipis berwarna merah marun yang ditempa khusus oleh Julian untuk menyerap panas ekstrem.

"Ayah... cahayanya terlalu kuat di sini," bisik Hana melalui Blood-Link. "Setiap kali aku mencoba masuk ke bayangan, cahaya Ignis menghapusnya seketika."

Di *The Blood Fortress*, Arkan menatap layar holografik dengan tenang. 'Hana, dengarkan aku. Bayangan bukan hanya absennya cahaya. Bayangan adalah bukti dari adanya keberadaan yang menantang cahaya itu. Jika tidak ada bayangan di tanah, maka ciptakan bayangan di dalam darah musuhmu. Ingat pelajaran ke-sembilan: "Gelap yang paling pekat ada di dalam tubuh yang paling terang".'

Hana memejamkan mata, meresapi instruksi tuannya. Ia mengambil napas dalam, merasakan udara panas yang membakar tenggorokannya, namun ia mengubah rasa sakit itu menjadi fokus.

Sementara itu, di SMA Gwangyang – Seoul.

Hari itu adalah hari pengumuman hasil ujian matematika. Arkan, yang secara fisik berada di kelas namun jiwanya memantau Hana, duduk diam di bangkunya. Liora menghampirinya dengan wajah ceria.

"Arkan! Lihat, nilaiku 95! Dan kamu... tunggu, nilaimu 100?!" Liora membelalak melihat kertas ujian Arkan. "Bagaimana bisa?! Padahal waktu itu kamu sering absen belajar bersama karena alasan sakit!"

Arkan membetulkan kacamatanya, memberikan senyum polosnya. "Mungkin karena aku banyak berdoa, Liora. Dan mungkin soalnya memang mudah."

Liora menyempitkan matanya, menatap Arkan dengan penuh selidik. "Kamu benar-benar mencurigakan. Setiap kali nilaimu sempurna, dunia selalu mengalami kejadian aneh. Tadi pagi, sensor seismik mencatat adanya getaran panas yang berasal dari dasar bumi di bawah Seoul. Apa kamu tahu sesuatu?"

"Mungkin hanya pergeseran lempeng bumi, Liora," jawab Arkan tenang.

Di dalam pikirannya, Arkan sedang memberikan komando terakhir pada Hana. 'Hana, Ignis sedang mengumpulkan kekuatannya untuk mengirimkan gelombang panas ke Seoul sebagai balasan atas hancurnya sektor Glacial. Hentikan dia sebelum dia melepaskan serangannya.'

Kembali ke Sektor Magma.

Hana kini bergerak. Ia tidak lagi mencoba bersembunyi di balik bebatuan. Ia berlari lurus di atas aliran lava, menggunakan energi Sanguine di kakinya untuk menciptakan pijakan padat sesaat. Saat ratusan 'Magma Golems' muncul dari dalam lava untuk menghadangnya, Hana melakukan sesuatu yang tak terduga.

Ia menusukkan pisaunya ke lengannya sendiri, membiarkan beberapa tetes darahnya keluar.

"Sanguine Art: Blood Eclipse Veil!"

Tetesan darah itu meledak menjadi kabut merah yang sangat pekat. Kabut ini bukan hanya menutupi pandangan, tapi secara aktif menyerap cahaya yang dipancarkan oleh lingkungan sekitarnya. Dalam sekejap, Hana menciptakan "zona gelap" buatan di tengah neraka api.

Hana menghilang ke dalam kabut tersebut. Para golem api itu mencoba menyerang dengan tinju lava, namun mereka hanya menghantam udara kosong. Hana muncul di belakang mereka, bukan dari bayangan tanah, tapi dari bayangan yang tercipta di dalam rongga tubuh golem itu sendiri.

SRAK! SRAK! SRAK!

Hanya dalam waktu tiga menit, lima puluh golem api hancur berkeping-keping. Hana tidak berhenti. Ia melesat menuju istana obsidian tempat Ignis berada.

Efreet Lord Ignis berdiri di singgasananya, sebuah pedang api raksasa di tangannya. "Kecoak kecil! Kau berani menantang matahari di rumahnya sendiri?!"

Ignis melepaskan serangan 'Supernova Burst', sebuah ledakan cahaya yang seharusnya menghancurkan segala sesuatu yang berbasis bayangan. Seluruh ruangan itu menjadi putih menyilaukan.

Namun, Hana sudah berada tepat di depan wajahnya.

"Ayah benar," bisik Hana. "Semakin terang cahayamu, semakin gelap bayangan yang tercipta di belakang jantungmu."

Hana menggunakan teknik Shadow Leap melalui bayangan yang diciptakan oleh organ dalam Ignis sendiri. Ia menembus dada raksasa api itu, tangannya yang terbungkus esensi Sanguine mencengkeram 'Core of Eternal Flame' yang ada di dalam jantung Ignis.

Ignis mematung. Cahaya di tubuhnya meredup seketika. "Bagaimana... bagaimana mungkin bayangan bisa masuk ke dalam api murniku...?"

"Karena darahku adalah malam yang tak pernah berakhir bagi makhluk sepertimu," jawab Hana.

Hana menarik keluar inti api tersebut. Seluruh Sektor Magma bergetar hebat, lava yang mendidih tiba-tiba membeku menjadi batu hitam karena kehilangan sumber panas utamanya. Ignis hancur menjadi debu bara yang terbang tertiup angin dimensi yang mendingin.

'Tuan, misi selesai. Inti api telah diamankan,' lapor Hana, wajahnya tampak lelah namun penuh kemenangan.

The Blood Fortress – Himalaya.

Arkan menerima inti api abadi itu. Dengan integrasi ini, Benteng Darah kini memiliki keseimbangan energi yang sempurna: pertahanan beku dari Vritra dan sumber energi tak terbatas dari Ignis.

"Sempurna," ucap Arkan. "Julian, aktifkan protokol pembersihan sisa-sisa agen WHA di sekitar Seoul. Dengan energi ini, kita bisa menciptakan 'Dome of Silence' yang akan membuat sekolah Liora benar-benar tak terjangkau oleh satelit mana pun."

Arkan menatap ke arah meja belajarnya di apartemennya melalui layar. Ia melihat Liora masih menatap kertas ujiannya dengan bingung.

"Hanya tinggal dua jenderal lagi, Julian," gumam Arkan. "Setelah itu, kita akan menarik gerbang utama Abyss ke markas ini. Aku ingin dunia melihat siapa yang sebenarnya menjadi penjaga pintu antara dua dimensi."

Julian menunduk hormat. "Namun, Ayah... Alice Pendragon. Seer mendeteksi bahwa dia baru saja menghubungi 'The Great One' di dimensi pusat Abyss. Tampaknya dia telah menjual jiwanya demi kekuatan untuk membalas dendam."

Arkan hanya tersenyum tipis, matanya berkilat merah yang sangat mengerikan. "Bagus. Aku bosan menghadapi jenderal yang lemah. Biarkan dia membawa tuhan mereka kepadaku. Aku ingin melihat apakah darah seorang pencipta Abyss rasanya sama dengan darah monster lainnya."

Malam itu, di Seoul, Liora merasa udaranya menjadi sangat nyaman, tidak panas dan tidak dingin. Ia tidak tahu bahwa suhu di kotanya sekarang diatur secara manual oleh seorang pria yang sedang duduk di takhta tulang di atas Himalaya.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!