Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Jaring Laba-Laba Hitam
Suasana di dalam penthouse mewah di kawasan Orchard Road itu terasa sangat dingin, meski pendingin ruangan sudah diatur pada suhu normal. Di atas meja kerja kaca yang lebar, beberapa tablet dan dokumen terenkripsi tersebar. Sean sedang menatap layar monitor dengan rahang yang mengeras, sementara Lyra duduk di sampingnya, jemarinya lincah memeriksa aliran dana dari rekening cangkang yang ditemukan di Singapura.
"Lihat ini, Sean," Lyra menunjuk sebuah bagan transaksi. "Aliran dana ini bukan hanya pencucian uang biasa. Semua bermuara pada sebuah perusahaan farmasi bayangan di perbatasan. 'Aethelgard Chemicals'."
Sean menyipitkan mata. "Nama itu... itu adalah salah satu anak perusahaan lama yang diklaim ibuku sudah bangkrut sepuluh tahun lalu."
"Ternyata tidak bangkrut," Lyra melanjutkan dengan nada tajam. "Perusahaan ini memproduksi zat-zat kimia ilegal. Racun yang digunakan untuk membunuh nenekmu dan obat perangsang kuat yang diberikan pada Gunawan... semuanya berasal dari tempat ini. Martha mendapatkan semua itu dari kolega-kolega gelapnya dalam lingkaran proyek hitam ini."
Sean memukul meja, suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi. "Jadi selama ini dia membangun kerajaan di atas darah dan nyawa keluargaku sendiri? Sialan!"
Sean menarik Lyra ke dalam dekapannya, sebuah gerakan yang selalu ia lakukan setiap kali emosinya memuncak. Ia mengubur wajahnya di ceruk leher Lyra, menghirup aroma istrinya untuk menenangkan diri. "Aku akan meratakan perusahaan itu dengan tanah, Lyra. Aku bersumpah."
Di sisi lain kota, di sebuah bar kumuh yang jauh dari kemilau Marina Bay, seorang pria duduk sendirian di sudut yang gelap. Pria itu adalah Arsen. Di depannya terdapat sebuah laptop tua yang layarnya dipenuhi barisan kode-kode rumit.
Arsen bukan sekadar pria biasa yang tak sengaja menabrak Lyra. Ia adalah seorang detektif independen yang telah menyamar selama bertahun-tahun untuk membongkar sindikat pencucian uang internasional yang melibatkan keluarga Elgar.
Arsen menatap sebuah file digital lama. Ia teringat bagaimana Martha Elgar dulu membayar sepasang suami istri untuk "membuang" dirinya agar tidak pernah kembali menuntut hak waris Elgar. Namun, Martha melakukan kesalahan besar. Pasangan tersebut sebenarnya adalah orang kepercayaan Nenek Sean yang sudah mencurigai niat jahat Martha sejak lama. Mereka membesarkan Arsen dengan kasih sayang dan satu tujuan: keadilan. Mereka memberi tahu Arsen bahwa Martha adalah iblis yang melakukan pencucian uang dan merancang pembunuhan dengan racun kimia.
"Keluarga Elgar sudah terlalu lama membusuk," gumam Arsen. Matanya menatap tajam ke arah foto Sean. Baginya, Sean adalah produk dari kegilaan Martha. Ia harus menyelamatkan Lyra dari jeratan pria posesif itu.
Arsen mengetik sesuatu di ponsel rahasianya. Ia tidak mengirimnya ke Sean, melainkan ke Edward Elgar. Ia ingin melihat apakah ayah kandungnya itu punya cukup keberanian untuk menghadapi putranya sendiri.
Di sebuah hotel berbeda, Edward Elgar tersentak saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan anonim masuk:
"Katakan pada putramu, Sean Nathaniel Elgar. Jangan pernah mencoba melindungi atau mengamankan harta hasil kejahatan Martha Elgar jika dia tidak ingin terseret ke lubang yang sama. Membersihkan jalan untuk istri tidak berarti boleh menyimpan kotoran ibunya."
Edward mengerutkan kening, keringat dingin membasahi pelipisnya. Pesan ini bukan dari orang sembarangan. Pria itu segera menghubungi Sean.
"Kenapa kau melamun, Lyra?" tanya Sean di apartemen. Ia menyadari pikiran Lyra tidak sepenuhnya ada di sana.
"Aku hanya terpikir pria yang kita temui tadi, Sean. Kenapa dia tampak begitu membencimu?" tanya Lyra pelan.
Cemburu kembali merayap di dada Sean. Ia mencengkeram pinggang Lyra, menariknya hingga tidak ada jarak di antara mereka. "Sudah kubilang jangan pikirkan pria itu! Fokuslah padaku, Lyra. Hanya padaku."
Ponsel Sean berdering. Telepon dari ayahnya. Setelah mendengar penjelasan Edward tentang pesan anonim itu, rahang Sean mengeras.
"Pesan anonim?" desis Sean, matanya melirik Lyra yang tampak bingung. "Katakan pada pengirimnya, Ayah. Tidak ada satu pun harta yang aku lindungi. Aku sedang menghancurkannya. Tapi jika dia berani mengusik ketenanganku dan Lyra, aku akan menemukannya dan mencabiknya sendiri."
Sean mematikan telepon, lalu menatap Lyra dengan intensitas yang lebih gelap dari biasanya. "Sepertinya 'tikus' kecil tadi mulai berani bermain api, Lyra. Dia mencoba menghasut ayahku."
"Maksudmu pria tadi?" tanya Lyra cemas.
Sean tidak menjawab. Ia justru mengangkat Lyra dan membawanya menuju ranjang, sebuah tindakan posesif untuk mengalihkan segala ketakutan dan rasa penasaran istrinya. "Lupakan tikus itu. Malam ini, kau hanya perlu tahu bahwa aku adalah satu-satunya orang yang bisa melindungimu, sekaligus satu-satunya orang yang berhak memilikimu."
Di balik jendela, hujan Singapura mulai turun, menyembunyikan langkah Arsen yang kini semakin dekat dengan pintu rahasia Elgar Group. Perang antara detektif yang mencari keadilan dan CEO yang gila kendali baru saja dimulai.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...