Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17- Di Depan Gerbang
Alea berhenti tepat di depan pintu gerbang kostnya yang catnya sudah banyak mengelupas dan berkarat di beberapa sudut. Napasnya masih satu-satu, dadanya naik-turun seolah paru-parunya nggak cukup besar buat nampung oksigen yang dia butuhkan. Rasa dingin sisa hujan tadi mendadak hilang, digantikan rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh karena adrenalin.
Ia tidak langsung masuk. Begitu mobil mewah hitam itu berhenti pelan di bahu jalan, Alea langsung balik badan. Ia tidak peduli lagi dengan rasa takutnya. Ia butuh jawaban.
Begitu Aksa turun dan menutup pintu mobil dengan suara deb yang solid, Alea langsung nyamperin pria itu. “Kamu ngapain, sih, Aksa? Maksudnya ini semua apa? Jelasin sekarang!” tanya Alea langsung. Suaranya bergetar hebat.
Aksa nggak langsung jawab.
Dia cuma berdiri tegak di samping pintu mobilnya, matanya menyapu sekitar jalanan yang sepi, memastikan nggak ada saksi mata atau gangguan, sebelum akhirnya menatap Alea dengan tatapan datarnya.
“Sudah sampai, kan? Masuk sana. Kunci gerbangnya.”
“Enggak! Jelasin dulu!” Alea maju dua langkah, sekarang jarak mereka cuma semeter. Dia bisa mencium aroma parfum Aksa yang maskulin bercampur bau aspal basah.
“Tadi di toko kamu bilang duluan. Kamu bilang mau pulang karena hujan. Terus kenapa sekarang tiba-tiba ada di belakang aku? Pakai acara kasih kertas kayak di film-film detektif segala. Kamu ngerjain aku, ya?”
Aksa memasukkan tangan ke saku celana bahannya yang mahal, tetap kelihatan tenang meski Alea sedang meledak di depannya. “Aku memang sudah jalan. Tapi pas aku sampai di persimpangan depan, aku lihat motor itu lewat dari arah berlawanan. Motor yang sama yang sudah tiga hari ini mangkal di depan tokomu tiap sore. Kamu benar-benar nggak sadar?”
Mata Alea membelalak. “Tiga hari? Kamu…kamu perhatiin itu?”
“Tiga hari terakhir, orang itu selalu ada di seberang toko tiap jam kamu mau tutup. Dia nggak beli apa-apa, nggak pernah turun dari motor, cuma duduk, main ponsel, tapi matanya selalu ke arah tokomu. Hari ini dia mutar lewat gang samping taman karena dia tahu jalan besar lagi ramai genangan air. Dia tahu rute pulangmu, Alea. Makanya aku mutar balik.”
Alea geleng-geleng kepala, rambutnya yang agak basah kena sisa hujan tadi jadi makin berantakan. “Terus kenapa kamu nggak bilang dari tadi pas kita masih di toko? Kenapa harus pakai kertas rahasia? Kenapa harus diam-diam begini?”
“Buat apa? Biar kamu pingsan di depan kasir?” Aksa menjawab pendek, suaranya dingin tapi ada nada penekanan di sana. “Kalau aku bilang pas hujan tadi, kamu bakal panik. Kamu nggak bakal bisa kunci toko dengan benar. Tanganmu bakal gemetar, kunci tokomu mungkin jatuh ke selokan karena kamu ketakutan, dan itu malah bikin kamu jadi sasaran empuk di jalanan sepi. Aku mau kamu tetap tenang sampai di sini, di tempat yang setidaknya ada pagarnya.”
Alea tertawa hambar, saking frustrasinya sampai rasanya mau nangis. “Tetap tenang? Aksa, gimana aku bisa tenang kalau sekarang aku tahu ada orang ngikutin aku, dan ternyata kamu juga ngikutin aku? Gimana kamu bisa tahu jalan pulangku sampai ke gerbang ini? Jangan bilang kamu cuma kebetulan lewat setiap hari!”
Aksa diam sebentar. Tatapannya pindah ke ujung jalan yang gelap, memastikan nggak ada pergerakan, sebelum balik lagi ke Alea. “Minggu lalu aku pulang lembur malam. Aku lewat jalan ini karena jalan utama lagi ada perbaikan aspal, dan aku lihat kamu lagi jalan kaki sendirian sambil dengerin musik pakai earphone. Aku cuma ingat jalannya. Itu saja.”
“Cuma ingat? Kamu punya memori foto atau gimana? Ini aneh, Aksa. Kamu aneh banget. Kamu tahu rute aku, kamu tahu jam kerja aku, sekarang kamu tahu kost aku. Kamu nggak ngerasa kalau kamu sendiri kedengarannya kayak pengintai?”
“Dunia ini memang nggak normal, Alea. Jangan naif,” sahut Aksa, suaranya sedikit meninggi. “Orang di motor itu nggak cuma sekadar liat-liat. Dia nunggu momen. Dan sekarang momennya gagal karena aku ada di sini. Kamu seharusnya berterima kasih, bukan malah interogasi aku di pinggir jalan.”
“Aku bakal berterima kasih kalau kamu nggak bikin aku ngerasa terjepit di antara dua orang asing yang misterius!” balas Alea telak. “Kenapa kamu sepeduli ini? Kita ini cuma pelanggan sama penjaga toko. Nggak lebih. Kenapa kamu sampai harus mutar balik, buang bensin, buang waktu, dan jagain aku sampai depan gerbang? Apa untungnya buat kamu?”
Aksa menatap tangan Alea yang tanpa sadar mencengkeram tasnya kuat-kuat, lalu menatap muka Alea lagi. “Karena aku nggak suka tempat favoritku diganggu. Tokomu itu satu-satunya tempat aku bisa diam tanpa harus pura-pura jadi bos yang sempurna. Kalau penjaganya kenapa-kenapa, tokonya tutup, kan? Aku nggak mau itu terjadi. Aku butuh tempat itu buat tetap waras di tengah kerjaan yang gila. Anggap saja aku lagi investasi buat kenyamananku sendiri.”
“Alasannya cuma karena itu? Karena toko? Kamu bohong, kan?” suara Alea melemah, matanya mulai panas.
“Cukup, kan? Itu alasan yang sangat logis buat aku.” Aksa menarik napas panjang. “Besok jam delapan pagi aku jemput. Jangan berangkat sendirian. Jangan coba-coba jalan kaki.”
“Eh, nggak usah! Aku bisa berangkat sendiri, aku bisa naik ojek online atau minta tolong teman kost aku.”
“Nggak bisa. Orang itu sudah tahu jam berangkatmu juga. Dia sudah pelajari pola hidupmu selama tiga hari ini, Alea. Besok aku di sini jam delapan tepat. Jangan bikin aku nunggu lama, aku punya jadwal rapat jam sembilan.”
Alea mau protes lagi, tapi Aksa sudah duluan memutus obrolan. “Kamu punya kartu namaku di saku tas, kan? Tadi sudah aku cek, kamu pasti sudah nemu.”
“Kapan kamu masukin kartu itu? Pas kapan, sih?” Alea makin melongo. Dia merasa tasnya bukan lagi area pribadinya.
“Tadi pas kamu lagi sibuk bungkus novel yang aku beli. Kamu terlalu banyak melamun, Alea. Gampang banget buat orang masukin atau ngambil barang dari tasmu tanpa kamu sadar. Itu pelajaran buat kamu. Jangan terlalu lengah kalau lagi sendirian.”
Aksa balik badan, tangannya sudah di gagang pintu mobil. “Masuk, Alea. Kunci gerbangnya. Jangan lupa gemboknya double. Kalau dengar suara apa pun di luar, jangan pernah keluar, apa pun alasannya.”
“Aksa!” panggil Alea lagi sebelum pria itu masuk mobil.
“Kamu...kamu beneran bukan orang jahat yang lagi nyamar jadi penyelamat, kan? Kamu beneran bukan bagian dari orang bermotor itu?”
Aksa berhenti sebentar. Dia menoleh sedikit, cahaya lampu jalan yang remang membuat bayangan wajahnya kelihatan tajam dan sangat misterius. “Buat malam ini, anggap saja aku orang jahat yang lagi jagain kamu dari orang jahat lainnya. Sama-sama berbahaya, tapi setidaknya aku nggak punya niat buat nungguin kamu di gang gelap.”
Alea akhirnya menyerah. Dia masuk ke gerbang, mengunci semuanya beneran dia kasih gembok double karena tangannya gemetar hebat, terus lari ke kamarnya di lantai dua. Dia tidak berani menyalakan lampu kamar. Dia biarkan kamarnya gelap total.
Alea berjalan merangkak di atas lantai, nggak berani berdiri tegak karena takut siluetnya kelihatan dari luar. Dia sampai di dekat jendela, lalu mengintip sedikit dari balik celah gorden.
Aksa masih di sana. Dia berdiri di samping mobilnya, menyalakan sebatang rokok. Bara rokoknya kelihatan merah kecil di tengah kegelapan malam yang lembap. Dia nggak masuk ke mobil, dia kayak lagi nungguin sesuatu yang dia tahu bakal datang.
Tapi pas pandangan Alea bergeser ke seberang jalan, ke arah pohon beringin besar yang gelap, jantungnya serasa mau copot dari tempatnya.
Di sana, di bawah bayangan pohon yang pekat, motor itu benar-benar ada. Mesinnya mati, lampunya padam. Orangnya masih duduk diam di atas jok motor, helm hitamnya masih dipakai. Dia nggak bergerak sedikit pun, kayak patung. Dan yang bikin Alea lemas sampai mau pingsan, orang itu pelan-pelan mengangkat tangannya.
Dia melambai ke arah jendela kamar Alea. Sangat pelan. Seolah-olah dia punya mata kucing yang bisa melihat Alea sedang berdiri gemetaran di balik kain gorden yang gelap itu. Sebuah lambaian yang seolah-olah menyapa, “Aku tahu kamu di situ, Alea.”
Ponsel di kantong Alea tiba-tiba bergetar kuat. Dia buru-buru membukanya dengan tangan yang basah oleh keringat dingin. Ada pesan masuk dari nomor yang tadi Aksa sebutkan.
“Pindah posisi. Sekarang. Jangan dekat jendela. Tutup gordennya rapat-rapat kalau perlu pakai peniti. Dia masih di sana menatapmu dengan sengaja. Aku bakal tetap di sini sampai dia benar-benar pergi. Jangan takut, aku nggak bakal ke mana-mana.”
Alea langsung jatuh terduduk di lantai, memeluk lututnya kuat-kuat di sudut kamar yang paling gelap. Air matanya jatuh juga. Dia beneran nggak tahu harus bagaimana sekarang. Orang yang di seberang jalan itu menerornya dengan lambaian tangan yang mengerikan, tapi Aksa... Aksa seolah bisa membaca pikiran orang itu. Gimana Aksa bisa tahu kalau orang itu lagi menatap ke jendela kamar Alea padahal Aksa berdiri di bawah?
Apa Aksa punya alat pengintai? Atau jangan-jangan, Aksa tahu karena dia pernah berada di posisi yang sama dengan orang bermotor itu?
Malam itu, Alea sadar. Harapannya untuk hidup tenang setelah putus dari Hanif hanyalah mimpi. Dia tidak benar-benar aman. Dia cuma sedang berada di tengah-tengah dua pusaran misteri, dan dia nggak tahu mana yang bakal menariknya tenggelam duluan.
Di balik gorden, Aksa masih berdiri diam, mengembuskan asap rokoknya ke udara malam, sementara si pengintai di seberang jalan tetap bergeming. Mereka seolah sedang bertarung dalam diam, dengan Alea sebagai taruhannya.