NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suasana rumah yang tenang di malam hari mendadak terasa mencekam di sudut kamar Intan.

Di atas nakas, suara dering ponsel Intan berbunyi memecah kesunyian.

Layar ponsel itu menampilkan nama yang seharusnya sudah ia hapus selamanya.

Dengan gerakan panik, Intan menyambar ponselnya.

Ia menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat, lalu ia segera menuju ke kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam. Ia menyalakan keran air agar suaranya tersamar.

"Halo?" bisik Intan tajam.

"Bagaimana? Apakah mereka percaya kalau kamu sudah berubah?" suara berat Hadi terdengar di seberang telepon, penuh dengan nada licik yang memuakkan.

Wajah Intan yang tadinya tampak lembut dan penuh penyesalan di depan orang tuanya, kini berubah menjadi dingin dan penuh ambisi.

Kebaikannya selama ini ternyata hanyalah akting yang sangat rapi.

"Tenang saja, Sayang, semuanya berjalan lancar," jawab Intan dengan senyum sinis yang tak terlihat.

"Mereka sangat bodoh. Mama bahkan sudah memberiku kepercayaan untuk mengelola karyawan. Papa Rizal juga sudah mulai luluh."

Hadi tertawa puas di seberang sana. "Bagus. Jangan sampai mereka curiga sedikit pun. Ingat rencana kita."

"Aku tahu," sahut Intan sambil memperhatikan plester di jarinya yang kini terasa seperti tanda kemenangan.

"Aku akan mencari surat rumah ini dan setelah itu mengusir wanita dan lelaki pincang itu. Rumah ini, perusahaan, dan semua aset Aisyah Cookies akan menjadi milik kita. Biarkan mereka kembali ke jalanan tempat mereka seharusnya berada."

Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu kamar mandi mengejutkan Intan.

Tok! Tok! Tok!

"Intan, ayo bantu Bibi!" suara Bi Inah terdengar dari balik pintu kamar.

"Pesanan untuk besok pagi masih banyak yang belum dipacking. Tuan Rizal dan Nyonya Aisyah masih makan di luar, jadi kita harus menyelesaikannya berdua."

Intan tersentak. Ia segera mematikan sambungan teleponnya dengan terburu-buru. Wajahnya kembali ia atur sedemikian rupa agar terlihat lelah namun patuh.

Ia mematikan keran air, lalu membuka pintu kamar mandi dengan napas yang sedikit tersengal.

"Iya, Bi, maaf, Intan tadi lagi sakit perut," bohong Intan sambil berjalan keluar menuju dapur produksi, menyembunyikan ponsel di balik sakunya dengan erat.

Suasana rumah yang sunyi menjadi kesempatan emas bagi Intan.

Setelah memastikan Bi Inah benar-benar sibuk dengan tumpukan toples di dapur produksi, Intan keluar dari kamar mandi dengan langkah yang sangat hati-hati.

Ia berjinjit melewati lorong remang-remang, matanya tajam mengawasi setiap sudut rumah yang kini terasa seperti medan perburuan baginya.

Tujuannya hanya satu: ruang kerja pribadi Rizal.

Dengan tangan yang sedikit gemetar namun penuh tekad jahat, ia membuka pintu ruangan itu yang kebetulan tidak terkunci.

Bau aroma kopi dan dokumen tua menyambutnya.

Tanpa membuang waktu, ia mulai menggeledah ruang kerja Rizal saat Bi Inah sedang sibuk di dapur. Ia membuka laci meja satu per satu, membalikkan tumpukan map, hingga akhirnya tangannya menyentuh sebuah kotak besi kecil di balik lemari buku.

Keberuntungan seakan berpihak pada kelicikannya. Di dalam kotak itu, terselip sebuah map kulit berwarna biru tua yang sangat ia kenali.

"Dapat," bisik Intan dengan seringai tipis.

Intan mendapatkan sertifikat rumah itu—aset paling berharga yang menjadi incaran Hadi selama ini.

Ia memeluk map itu di dadanya, merasakan kemenangan kecil yang terasa begitu manis di tengah pengkhianatannya.

Tanpa menunggu lebih lama, ia segera merapikan kembali posisi laci agar tidak meninggalkan jejak kecurigaan.

Dengan gerakan kilat, ia kembali ke kamarnya dan mengunci pintu.

Ia segera menyembunyikan di kamarnya, menyelipkan sertifikat itu di balik lipatan baju-baju di dalam lemari yang paling dalam.

"Sekarang tinggal menunggu waktu," gumamnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

Wajah yang tadi tampak tulus di depan Aisyah, kini sepenuhnya berubah menjadi sosok yang dingin dan penuh tipu daya.

Di luar, suara tawa Bi Inah yang sedang bercanda dengan para karyawan terdengar sayup-sayup, sama sekali tidak menyadari bahwa serigala berbulu domba baru saja mencuri masa depan keluarga mereka.

Pagi itu, suasana di paviliun samping rumah sudah mulai sibuk.

Aroma mentega dan adonan kue yang dipanggang menyeruak harum, menandakan aktivitas produksi Aisyah Cookies telah dimulai sejak subuh. Aisyah melangkah masuk ke dapur produksi dengan wajah yang berseri-pagi.

Penampilannya tampak berbeda hari ini. Selain apron bersih yang melilit pinggangnya, ada kilauan lembut yang melingkar di lehernya.

Keesokan paginya, Aisyah memakai kalung itu untuk pertama kalinya ke dapur produksi.

Butiran berlian kecil itu tampak kontras dengan kesederhanaan pakaian kerjanya, namun justru memancarkan keanggunan seorang wanita yang merasa dicintai sepenuhnya.

"Wah, Nyonya Aisyah. Kalungnya indah sekali," puji Mbak Yani yang sedang mencetak nastar.

"Tampak sangat cocok di leher Nyonya."

Aisyah tersenyum malu-malu sambil menyentuh liontin itu.

"Terima kasih, Mbak Yani. Ini hadiah dari Pak Rizal semalam."

Di sudut lain, Intan yang sedang pura-pura sibuk mengepak toples, melirik ke arah leher ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Di balik senyum palsunya, ada rasa iri dan benci yang berkecamuk.

Ia tahu betul berapa harga kalung itu, dan baginya, itu hanyalah tambahan aset yang nantinya akan ia kuasai bersama Hadi.

"Ma, cantik sekali kalungnya," puji Intan sambil mendekat, mencoba bersikap semanis mungkin.

"Papa benar-benar sayang ya sama Mama."

"Iya, Sayang. Mama juga tidak menyangka," jawab Aisyah tanpa curiga sedikit pun.

"Oh ya, bagaimana stok selai nanasnya? Apa cukup untuk pesanan mall hari ini?"

Intan mengangguk cepat. "Aman, Ma. Semuanya terkendali."

Namun, saat Aisyah membelakangi mereka untuk memeriksa oven, tangan Intan diam-diam meraba sakunya, memastikan ponselnya siap untuk memberi kabar pada Hadi bahwa "umpan" sudah benar-benar masuk ke dalam perangkap, dan sertifikat rumah sudah aman di tangannya.

Pagi itu, suasana di dalam rumah terasa tenang, namun tidak bagi Rizal.

Sejak semalam, insting bisnis dan ketajamannya sebagai seorang pemimpin merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Ia duduk di kursi kebesarannya, di dalam ruangan yang kemarin sempat digeledah Intan.

Dengan gerakan tenang namun pasti, Rizal membuka laptop pribadinya.

Ia menghubungkan koneksi ke kamera tersembunyi yang ia pasang di sudut ruangan—sebuah langkah pencegahan yang selalu ia lakukan sejak pengkhianatan Bram terungkap.

Rizal sedang duduk di ruangannya dan memerhatikan rekaman CCTV.

Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Layar digital itu menampilkan sosok yang sangat ia kenal.

Ia langsung terdiam saat melihat Intan yang masuk dengan mengendap-endap, membuka laci-laci pribadinya, dan dengan rakus mengambil map biru berisi sertifikat rumah.

Rahang Rizal mengeras. Guratan kekecewaan mendalam terukir di wajahnya.

"Ternyata kamu masih belum berubah, Intan," bisiknya lirih dengan suara yang bergetar karena amarah dan kesedihan.

Ia merasa dikhianati oleh orang yang baru saja ia beri kesempatan kedua.

Namun, Rizal tidak ingin gegabah. Ia menutup laptopnya perlahan.

Ia tahu Aisyah sangat menyayangi Intan, dan ia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan istrinya di depan para karyawan.

Rizal menuju ke dapur dan berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Ia melihat Aisyah sedang sibuk dengan kalung berlian pemberiannya, tersenyum ceria di antara aroma kue yang harum.

Di sudut lain, ia melihat Intan yang berakting menjadi anak berbakti.

Rizal mendekat, wajahnya dipaksakan untuk tampak tenang meski hatinya bergejolak.

"Aisyah, bisa ikut aku sebentar? Sepertinya punggungku sakit," ucap Rizal sambil memegang pinggangnya, memberikan alasan agar bisa berbicara berdua saja dengan istrinya tanpa dicurigai oleh Intan.

Aisyah langsung menoleh dengan raut khawatir. "Ya Allah, Mas. Kecapekan ya karena kemarin seharian di kantor? Iya, sebentar ya."

Aisyah meletakkan nampannya dan mengikuti Rizal menuju kamar utama di lantai atas, meninggalkan Intan yang sempat melirik curiga ke arah punggung papanya.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!