Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Memulai
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga bulan berlalu sejak mereka menetap di lembah es itu. Musim dingin belum sepenuhnya pergi, tapi matahari mulai muncul lebih lama setiap harinya. Salju mencair di sisi selatan lembah, memperlihatkan tanah hitam yang subur seperti yang Haneen janjikan.
Pondok kayu itu sekarang tidak lagi berdiri sendiri. Di sebelahnya, sebuah bangunan besar sedang dalam proses pembangunan. Bukan istana megah, tapi sebuah aula latihan sederhana. Tiang-tiang kayu kokoh menancap ke tanah beku. Atapnya belum selesai, tapi kerangkanya sudah membentuk lengkungan yang indah.
"Kiri sedikit!" teriak Yan Ling dari atas atap. Dia berdiri di atas balok kayu, memegang palu besar. Jubah tebalnya sudah diganti dengan pakaian kerja sederhana. Lengan bajunya digulung sampai siku, menunjukkan otot lengan yang terbentuk akibat kerja keras.
Haneen berada di bawah, menahan tangga agar tidak bergeser. Dia mendongak, melindungi mata dari silau salju. "Sudah pas. Jangan dipaksa."
"Kalau tidak dipaksa, tidak akan kuat menahan badai," balas Yan Ling. Dia memukul paku terakhir. ‘Dung!’ Suara logam berbunyi puas. "Selesai untuk hari ini."
Yan Ling melompat turun dari atap. Haneen menangkapnya dengan sigap sebelum kaki wanita itu menyentuh tanah. Mereka tertawa kecil. Tawa yang jarang terdengar di masa lalu mereka.
"Kau semakin kuat," komentar Haneen sambil menurunkan Yan Ling. "Tidak butuh bantuan sistem lagi untuk melompat."
"Itu karena latihan setiap pagi," jawab Yan Ling bangga. Dia membersihkan debu kayu dari tangannya. "Murid pertama kita sudah datang kemarin. Anak petani dari lembah sebelah."
Haneen mengangguk. Berita tentang sekolah pedang gratis memang menyebar lambat, tapi pasti. Orang-orang miskin yang tidak punya akses ke sekte mulai melirik tempat ini. Bukan untuk menjadi dewa kultivasi, tapi untuk belajar melindungi diri dari bandit dan monster.
"Malam ini kita rayakan," kata Haneen. Dia berjalan menuju pondok. "Aku masak sup daging rusa. Stok yang kita dapat minggu lalu."
"Bagus," kata Yan Ling mengikuti dari belakang. "Tapi jangan terlalu banyak garam. Terakhir hampir tidak bisa dimakan."
"Itu eksperimen," bela Haneen sambil tersenyum tipis.
Mereka masuk ke dalam pondok. Hangat. Aroma kayu bakar dan makanan kering menyambut mereka. Haneen menyiapkan periuk di atas api sementara Yan Ling mengambil piring dari rak.
Suasana tenang. Terlalu tenang.
Haneen duduk di bangku kayu. Matanya menatap api yang menari di perapian. Sudah lama dia tidak merasakan momen seperti ini. Tidak ada musuh yang mengintai. Tidak ada misi yang harus diselesaikan sebelum matahari terbit. Hanya ada pekerjaan tangan dan perut yang lapar.
"Kau pikir ini akan bertahan lama?" tanya Yan Ling tiba-tiba. Dia meniup sup panas di mangkuknya.
Haneen mengerti apa yang dimaksud. Kedamaian di dunia kultivasi itu barang mahal. Biasanya ada harga darah yang harus dibayar.
"Kita buat agar bertahan," jawab Haneen. Dia mengambil sendok kayu. "Kalau ada yang datang merusak, kita usir. Kalau ada yang datang belajar, kita terima. Sesederhana itu."
"Kau terdengar seperti orang bijak," goda Yan Ling. Ada senyum tipis di wajahnya. "Dulu kau cuma peduli pada misi dan poin sistem."
"Dulu kita belum punya rumah," kata Haneen. Dia menatap Yan Ling lewat uap sup yang mengepul. "Sekarang kita punya. Sedikit usaha untuk menjaganya tetap sepadan."
Yan Ling diam sebentar. Dia mengaduk supnya. "Aku senang mendengar itu. Aku pikir... setelah semua yang terjadi di Ibu Kota, kau mungkin ingin pergi. Mencari tempat yang lebih jauh lagi."
Haneen menggeleng. "Lari terus itu melelahkan, Yan. Aku sudah cukup lari seumur hidupku. Kalau ada tempat yang bisa disebut rumah, lebih baik kita tinggal disini."
Mereka makan dalam diam. Haneen mencoba fokus pada rasa sup, tapi pikirannya melayang pada sistem. Sudah beberapa minggu sistem tidak memberikan misi utama. Hanya notifikasi kecil tentang stabilisasi wilayah. Itu bagus. Artinya sistem tidak memaksa mereka pergi ke mana-mana.
[Tingkat Stabilisasi Wilayah: 85%]
Notifikasi kecil muncul di sudut pandangan Haneen. Dia mengabaikannya. Angka itu tidak penting dibandingkan mangkuk sup hangat di tangan dan teman di seberang meja.
"Besok kita pasang jendela," kata Haneen setelah makan. "Angin malam terlalu dingin masuk lewat celah dinding."
"Aku sudah potong kayunya siang tadi," jawab Yan Ling sambil membereskan piring. "Kau tinggal pasang saja. Aku lanjut latih anak-anak besok pagi. Mereka butuh dasar kuda-kuda yang benar sebelum belajar ayunan pedang."
"Jangan terlalu keras," ingat Haneen. "Mereka masih anak-anak. Bukan prajurit."
"Aku tahu," kata Yan Ling. Dia menoleh, wajahnya serius tapi mata nya lembut. "Aku tidak akan membuat mereka seperti kita. Mereka harus punya pilihan. Kalau mau jadi petani, silakan. Kalau mau jadi pendekar, juga silakan. Kita cuma kasih mereka kemampuan untuk memilih."
Haneen tersenyum. Senyum yang tulus. "Kau akan jadi guru yang bagus."
Malam itu, Haneen tidak tidur nyenyak. Bukan karena mimpi buruk. Tapi karena kebiasaan lama yang susah hilang. Dia bangun tengah malam, memeriksa kunci pintu, melihat ke luar jendela. Salju turun tipis. Lembah tidur dalam sunyi.
Dia duduk di dekat jendela, melihat bulan yang tergantung rendah di langit utara. Sistem diam. Tidak ada notifikasi baru. Tidak ada panggilan darurat.
Haneen memejamkan mata. Dia mendengarkan suara napas Yan Ling yang teratur dari tempat tidur sebelah. Suara itu lebih menenangkan daripada notifikasi sistem mana pun.
"Tidur," bisik Haneen pada diri sendiri. "Besok masih panjang."
Dia berbaring kembali. Selimut bulu hangat menutupi tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Haneen tidak merasakan kewaspadaan tinggi. Tidak ada musuh yang mengintai. Tidak ada misi yang harus diselesaikan. Hanya ada angin, matahari, dan sahabat di sampingnya.
Di luar, dunia mungkin masih mencari mereka. Aliansi mungkin masih mengirim pemburu. Naga Merah mungkin masih menyimpan dendam. Tapi di lembah es ini, Haneen dan Yan Ling sudah membangun benteng mereka sendiri.
Bukan benteng dari batu atau energi. Tapi benteng dari keinginan untuk hidup tenang.
Dan siapa pun yang mencoba menghancurkannya, akan belajar bahwa kedamaian mereka dijaga oleh dua orang yang sudah pernah menghancurkan dunia sekali.
Badai di luar semakin kencang. Tapi di dalam, api tidak pernah padam.
Haneen menarik napas dalam. Udara dingin masuk ke paru-paru, terasa bersih.
Di sudut ruangan, sistem berkedip pelan sekali, lalu mati. Seolah memberi ruang bagi manusia untuk menjadi manusia sepenuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Jangan lupa like, komen dan share 😁