NovelToon NovelToon
The Spy Cultivator [Haneen And Shadow System]

The Spy Cultivator [Haneen And Shadow System]

Status: sedang berlangsung
Genre:Pembunuhan / Sistem / Pembaca Pikiran / Time Travel / Transmigrasi / Solo Leveling
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sands Ir

Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.

Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.

Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.

Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.

Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?

Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.

Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Menghilang

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Haneen menyeret kakinya melintasi atap genteng. Panasnya masih tersisa di bawah telapak kaki, meski malam sudah larut. Asap tebal dari menara yang runtuh mengepul di belakang, menutupi langit seperti selimut kotor. Setiap langkah mengirimkan nyeri tajam dari rusuknya yang retak. Dia tidak mengeluh. Tidak ada waktu.

"Kecepatan kita melambat," kata Yan Ling di sampingnya. Napas wanita itu masih tersengal, tapi langkah kakinya tetap ringan. Dia menahan lengan Haneen, menopang sebagian berat tubuhnya. "Patroli udara sudah mulai menyisir area ini."

Haneen menoleh sekilas. Di kejauhan, beberapa titik cahaya melayang di antara gedung-gedung. Drone pencari. Suaranya mendengung rendah, hampir tak terdengar di bawah teriakan massa di jalanan.

"Kita turun," putus Haneen. Suaranya serak. "Atap terlalu terbuka. Kita butuh kerumunan."

Mereka melompat ke bangunan yang lebih rendah, lalu ke balkon besi yang berkarat. Besi itu berderit protes saat kaki mereka mendarat, tapi suara itu tenggelam oleh ledakan kecil dari arah menara pemerintahan. Kota ini sedang memakan dirinya sendiri.

Haneen membimbing mereka masuk melalui jendela terbuka sebuah apartemen tua. Ruangannya gelap dan berdebu. Bau apek menyambut mereka, tapi itu lebih baik daripada bau asap di luar. Mereka menyusuri lorong sempit, turun tangga darurat yang gelap.

Di lantai dasar, Haneen berhenti. Dia mengintip lewat celah pintu belakang. Jalanan di sini penuh dengan orang-orang yang lari membawa barang bawaan. Wajah mereka ketakutan. Ada yang menangis, ada yang berteriak memanggil nama keluarga yang terpisah.

"Kita akan ikut bercampur dengan mereka," bisik Haneen. Dia menarik tudung jubahnya lebih rendah.

Mereka keluar menyatu dengan arus pengungsi. Yan Ling berjalan di depan, Haneen di belakang. Mereka tidak saling menoleh, seolah-olah tidak saling kenal. Strategi dasar untuk menghindari kecurigaan.

Sebuah truk militer melambat di persimpangan jalan. Prajurit bersenjata lengkap turun, mulai memeriksa wajah-wajah pengungsi satu per satu. Senter besar menyilaukan mata.

"Kalian! Berhenti!" teriak seorang sersan. Dia menunjuk ke arah Yan Ling. "Kau. Maju sini."

Jantung Haneen berdegup kencang. Dia menyentuh pistol di balik jubahnya. Kalau Yan Ling diperiksa, identitas mereka bisa terbongkar. Aura mereka mungkin sudah tertanam di memori scanner musuh.

Yan Ling berhenti. Dia menoleh pelan. Wajahnya biasa saja, tidak ada tanda panik. "Ada apa, Pak?"

"Keluarkan identitasmu," perintah sersan itu. Dia mendekat, senapan terangkat siap tembak. "Kami mencari tersangka perusakan menara siaran."

"Identitas saya hilang saat lari dari rumah," jawab Yan Ling tenang. Dia bahkan tidak mengedipkan mata. "Semua terbakar. Saya cuma mau cari tempat aman."

Sersan itu menyipitkan mata. Dia menyorotkan senter ke wajah Yan Ling. Cahaya itu menyilaukan, tapi Yan Ling tidak menunduk. Di belakang barisan pengungsi, Haneen melihat dua drone kecil mulai turun rendah. Mereka mendeteksi anomali energi.

Waktu menipis.

Haneen tidak bisa menunggu. Dia mengambil kerikil kecil dari saku, lalu melemparnya ke tumpukan kaleng kosong di gang sebelah. ‘Gledek!’

Suara itu cukup keras. Semua kepala menoleh ke arah sumber suara.

"Apa itu?" teriak salah satu prajurit.

"Periksa sana! Cepat!" perintah sersan. Separuh timnya lari meninggalkan pos pemeriksaan.

Kesempatan itu hanya berlangsung beberapa detik. Haneen memberi isyarat halus pada Yan Ling. Mereka menyusup di antara celah truk militer dan tembok bangunan. Bayangan gelap menelan mereka sebelum prajurit itu menoleh kembali.

Mereka berjalan cepat menjauh dari pusat kota, menuju gerbang barat yang kurang dijaga. Api membakar di kanan kiri jalan, tapi mereka tidak menoleh. Fokus mereka hanya satu: keluar dari lingkaran neraka ini.

Satu jam kemudian, mereka sudah berada di luar tembok kota. Hutan gelap menyambut mereka seperti teman lama. Udara di sini lebih bersih, meski masih tercium bau asap dari kejauhan.

Haneen akhirnya berhenti. Dia bersandar pada batang pohon besar, lalu meluncur duduk ke tanah. Menghela napas lega..

"Kau baik-baik saja?" tanya Yan Ling. Dia berjongkok di depan Haneen, memeriksa luka di rusuk wanita itu. Jubah Haneen sudah basah oleh darah di bagian samping.

"Hanya retak," jawab Haneen singkat. Dia menahan desahan sakit saat Yan Ling menekan area luka itu. "Sistem bisa perbaiki nanti. Kalau kita punya waktu."

"Kita punya waktu sekarang," kata Yan Ling tegas. Dia mengeluarkan botol obat dari tasnya. Isinya salep penyembuh luka biasa, bukan item sistem. "Pakai ini dulu. Item sistem bisa kita pakai kalau darurat benar."

Haneen menatap Yan Ling sebentar. Ada kekhawatiran di mata wanita itu yang tidak bisa disembunyikan. Haneen mengangguk pelan. Dia menerima botol itu dan mengoleskannya pada luka. Rasa dingin menjalar, mengurangi nyeri sedikit demi sedikit.

"Terima kasih," ucap Haneen pelan.

Yan Ling tersenyum tipis. Dia duduk di samping Haneen, menatap ke arah kota yang masih membara di kejauhan. "Menyeramkan, ya? Lihat betapa cepatnya semuanya hancur."

"Memang seharusnya begitu," jawab Haneen. Dia meneguk air dari kantong minumnya. "Sistem yang dibangun di atas kebohongan tidak akan pernah berdiri lama. Kita cuma mempercepat prosesnya."

"Lalu apa yang terjadi sekarang?" tanya Yan Ling. Suaranya terdengar kecil di tengah suara jangkrik malam. "Aliansi runtuh. Sekte-sekte lain pasti akan berebut kekuasaan. Perang baru akan dimulai."

Haneen menghela napas panjang. Dia memikirkan poin yang baru saja dia dapatkan. Lima puluh ribu IP. Akses teknologi tingkat dewa. Dia bisa membangun pasukan. Dia bisa menguasai wilayah. Dia bisa menjadi raja baru di atas reruntuhan ini.

Tapi dia melihat tangan Yan Ling yang berlumuran debu dan darah. Dia melihat lelah di mata sahabatnya.

"Bukan urusan kita," kata Haneen akhirnya.

Yan Ling menoleh, kaget. "Maksudmu?"

"Kita sudah bayar harga untuk kebebasan ini," jawab Haneen. Dia menatap telapak tangannya sendiri. "Darah, keringat, nyawa yang hampir melayang. Kita tidak berhutang apa-apa lagi pada dunia ini."

"Tapi kalau kita pergi, siapa yang akan menjaga agar tidak ada lagi yang seperti tetua Zhao? Atau Ketua Aliansi itu?"

Haneen menggeleng. "Kita tidak bisa menjaga seluruh dunia, Yan. Kita cuma dua orang. Kalau kita coba jadi polisi dunia, kita akan berakhir sama seperti mereka. Terobsesi. Tamak akan kekuasaan."

Dia berdiri, meski tubuhnya masih protes. Dia mengulurkan tangan pada Yan Ling.

"Aku ingat janji kita," kata Haneen. "Sekolah pedang. Untuk orang biasa. Agar mereka bisa lindungi diri sendiri tanpa butuh sekte atau aliansi."

Yan Ling menatap tangan itu. Perlahan, dia tersenyum. Senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. Dia memegang tangan Haneen, lalu berdiri.

"Kau serius?" tanya Yan Ling. "Kita punya cukup uang untuk itu?"

"Poin sistem bisa dikonversi," jawab Haneen. "Kita bisa beli tanah. Bangun aula. Beli buku latihan dasar. Sisanya kita hidup sederhana."

"Menjadi guru?" Yan Ling tertawa kecil. "Aku tidak pernah membayangkan akan jadi guru."

"Aku juga tidak pernah bayangkan jadi kepala perguruan," balas Haneen. "Tapi lihat kita sekarang."

Mereka mulai berjalan masuk lebih dalam ke hutan. Menjauhi jalan utama. Menjauhi peradaban yang sedang sakit.

"Haneen," panggil Yan Ling tiba-tiba.

"Hm?"

"Kalau suatu hari nanti ada orang yang butuh bantuan lagi... apakah kita akan bantu?"

Haneen diam sebentar. Dia memikirkan pertanyaan itu. Angin malam menerpa wajah mereka, membawa daun kering bergesekan di tanah.

"Kalau itu di jalan kita, kita bantu," jawab Haneen akhirnya. "Tapi kita tidak akan mencari masalah lagi. Kita hidup untuk kita sendiri dulu."

"Adil," kata Yan Ling. Dia melompat melewati akar pohon yang menonjol. "Jadi, ke mana tujuan kita sekarang?"

"Utara," jawab Haneen. Dia melihat peta di sistem. Ada wilayah pegunungan es yang jarang penduduknya. "Cuaca dingin. Bersalju. Tapi ada lembah terlindung di sana. Tanah nya bagus untuk tanaman obat."

"Daerah salju?" Yan Ling menyeringai. "Aku suka salju. Sepi."

"Bagus," kata Haneen. "Orang jarang pergi ke sana. Cocok untuk bersembunyi."

Mereka berjalan dalam diam selama beberapa jam. Fajar mulai muncul di ufuk timur. Cahaya oranye muda menyinari puncak pohon, mengusir sisa kegelapan malam.

Haneen berhenti di tepi tebing kecil. Dari sini, mereka bisa melihat lembah hijau membentang di bawah. Sungai kecil mengalir jernih di tengah lembah itu. Burung-burung mulai berkicau, menyambut pagi yang baru.

"Tempat yang bagus," komentar Yan Ling. Dia meletakkan tasnya di atas batu.

"Kita istirahat di sini sehari," kata Haneen. "Lalu kita mulai lanjutkan perjalanan."

Dia duduk di tepi tebing, kaki tergantung di atas lembah. Yan Ling duduk di sampingnya. Bahu mereka bersentuhan, hangat di udara pagi yang dingin.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Haneen tidak merasakan kewaspadaan tinggi. Tidak ada musuh yang mengintai. Tidak ada misi yang harus diselesaikan. Hanya ada angin, matahari, dan sahabat di sampingnya.

"Sistem," panggil Haneen dalam hati.

[Siap, Host.]

"Simpan semua item tempur," perintah Haneen. "Kecuali alat konstruksi dan medis. Kita mulai babak baru."

[Perintah Diterima. Mengarsipkan Senjata...]

Suara notifikasi itu hilang. Haneen mematikan antarmuka sistem. Dia tidak butuh layar biru di depan matanya lagi. Dia ingin melihat dunia dengan matanya sendiri.

"Haneen," panggil Yan Ling lagi.

"Apa?"

"Terima kasih sudah tidak menyerah," kata Yan Ling. Suaranya hampir terbawa angin. "Kalau kau berhenti waktu di sekte dulu... aku mungkin sudah jadi mayat."

Haneen menoleh. Dia melihat mata Yan Ling yang berbinar terkena cahaya matahari.

"Kita itu sahabat," jawab Haneen sederhana. "Kau juga tidak pernah tinggalkan aku."

Yan Ling tertawa. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Haneen sebentar. "Oke. Sahabat."

Mereka duduk itu sampai matahari naik lebih tinggi. Panas mulai terasa. Haneen berdiri, merapikan jubahnya yang sudah compang-camping.

"Ayo," kata Haneen. "Kita cari sumber air. Lalu cari tempat buat pondok pertama."

"Siap, Kepala Sekolah," goda Yan Ling sambil berdiri.

Haneen mendengus, tapi sudut bibirnya naik sedikit. "Jangan panggil begitu. Masih terlalu dini."

Mereka turun menuju lembah. Langkah kaki mereka ringan. Tidak ada beban di pundak lagi.

Di belakang mereka, kota yang membara perlahan menjadi sejarah. Asapnya akan hilang. Lukanya akan kering. Dan dunia akan terus berputar tanpa mereka.

Tapi di lembah hijau itu, sesuatu yang baru akan tumbuh. Bukan dari ambisi atau kekuasaan. Tapi dari keinginan sederhana untuk hidup tenang.

Haneen menghirup udara dalam-dalam. Rasanya manis.

"Mulai Babak baru," gumam Haneen.

"Apa?" tanya Yan Ling dari depan.

"Tidak ada," jawab Haneen. Dia mempercepat langkah mengejar Yan Ling. "Tunggu aku."

Mereka hilang di balik pepohonan lembah itu. Dua sosok kecil di dunia yang besar. Tapi bagi mereka, dunia itu akhirnya milik mereka sendiri, itu sudah cukup.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Bersambung…...

Jangan lupa like, komen dan share 😁

1
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Mbu'y Fahmi
huh ... thor serasa ikut dalam cerita...👍👍
Mbu'y Fahmi
deg² thor takut ketauan😄
Ahyar Alkautsar Rizky
keren thor😍
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Mbu'y Fahmi
lanjut thor... makin seru cerita nya
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor 🔥
Ara putri
semangat kak. jgn lupa mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Ahyar Alkautsar Rizky
izin save gambarnya ya thor 🙏
Fajar Fahri
ikut kedalam cerita
Fajar Fahri
visualnya kerenn 👍
Intan21
😍
Intan21
good
Saskia Natasya
alur cerita nya bagus
Ahyar Alkautsar Rizky
seru kali thor 😍
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor please
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!