Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Hak Milik Sang Tuan (Revisi)
Napas Arlan dan Amara masih menderu kencang di tengah keheningan kamar yang kini menyisakan aroma minyak cendana yang menenangkan. Amara terkulai lemas di atas dada bidang Arlan, tubuhnya masih sesekali bergetar kecil karena sisa-sisa ketegangan yang baru saja mereka lalui bersama. Kehangatan yang menjalar di antara mereka menandakan betapa intensnya penyatuan itu.
Saat Amara mencoba bergeser untuk turun dan mencari seragam sutranya yang teronggok di lantai, tangan kokoh Arlan langsung melingkar di pinggangnya, mengunci tubuh gadis itu agar tetap menempel padanya.
"Mau ke mana kau?" suara Arlan terdengar berat, serak, dan penuh kepemilikan.
"T-Tuan... saya harus memakai pakaian saya kembali... dan kembali ke kamar," bisik Amara malu-malu, mencoba menyembunyikan rasa canggungnya dengan melipat tangan di dada.
Arlan terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang menggetarkan dada Amara. Ia menarik dagu gadis itu agar menatap matanya yang masih berkilat tajam. "Dengar, Amara. Mulai detik ini, tidak ada lagi pakaian saat kau berada di dalam kamar ini. Kau dilarang mengenakan selembar benang pun saat bersamaku."
Mata Amara membelalak. "Tapi Tuan... saya... saya tidak biasa... dingin..."
"Aku yang akan menjadi penghangatmu," potong Arlan tegas. Ia menarik selimut sutra tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua, memastikan kehangatan kulit mereka tetap bersentuhan tanpa penghalang di balik kain tebal itu. "Kau akan tidur di pelukanku dalam keadaan seperti ini. Aku ingin setiap kali aku terbangun di tengah malam, kau selalu siap dalam jangkauanku."
Arlan memposisikan tubuh Amara membelakanginya, memeluknya erat dari belakang. Satu tangan Arlan merayap ke depan, mengklaim tubuh Amara dengan sentuhan yang posesif dan menuntut.
"T-Tuan... ahh," Amara mendesah kecil saat merasakan jemari Arlan mulai kembali mempermainkan sensitivitasnya.
"Sssshhh... tidurlah. Ingat, kau adalah milikku. Kau harus selalu siap kapan pun aku menginginkanmu," bisik Arlan di tengkuk Amara, memberikan kecupan-kecupan hangat yang membuat Amara meremang.
Amara hanya bisa pasrah. Di bawah perlindungan selimut mahal itu, ia merasakan gairah Arlan yang kembali bangkit di belakang tubuhnya, seolah pria itu tidak pernah mengenal kata puas. Kepolosan Amara kini telah sepenuhnya dikuasai oleh dominasi Arlan. Ia tertidur dalam dekapan pria yang kini bukan hanya majikannya, melainkan pria yang telah mengambil seluruh dunianya.
Benar saja, baru beberapa jam Amara terlelap, ia terbangun karena merasakan sentuhan dan tuntutan yang intens pada tubuhnya. Arlan, dengan mata yang masih setengah terpejam namun dipenuhi hasrat, sudah kembali memulai aksinya di tengah malam yang sunyi.
Amara hanya bisa mengeluh pasrah sambil mengelus rambut Arlan, membiarkan tuannya kembali menikmati keindahan tubuhnya yang kini telah menjadi hak milik mutlak sang Tuan Besar.
***
Sinar matahari pagi yang tipis mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar Arlan, namun kehangatan di atas ranjang itu jauh lebih membara. Amara terbangun dengan rasa pegal yang luar biasa di seluruh tubuhnya. Ia mencoba bergerak, namun ia baru tersadar bahwa Arlan masih mendekapnya dengan sangat erat—tanpa sehelai benang pun memisahkan mereka.
"Sudah bangun, hm?" suara serak khas bangun tidur Arlan terdengar di telinganya, disusul sentuhan posesif yang membuat Amara tersentak kecil.
"T-Tuan... sudah pagi, saya harus menyiapkan sarapan dan melihat Kenzo," bisik Amara gugup.
"Kenzo sudah ada yang mengurus untuk satu jam ke depan. Sekarang, kau punya tugas lain." Arlan bangkit, menampilkan postur tubuhnya yang tegap dan atletis. Tanpa membiarkan Amara protes, ia menarik tangan gadis itu menuju kamar mandi mewah mereka yang luas.
Arlan menyalakan shower, membiarkan air hangat mengguyur tubuh mereka berdua yang masih polos. Uap air mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang semakin intim dan berkabut. Arlan menyudutkan Amara di bawah kucuran air, membiarkan rambut panjang gadis itu basah kuyup menempel di punggungnya yang mulus.
"Lihat ini, Amara... jejak semalam masih tertinggal di sini," Arlan berbisik sambil mengusap lembut kulit paha bagian dalam Amara, mengingatkan gadis itu pada intensitas penyatuan mereka beberapa jam yang lalu.
Amara menunduk malu, wajahnya merah padam. "Biar saya bersihkan sendiri, Tuan..."
"Tidak. Aku yang akan mengajarimu cara membersihkannya dengan benar," Arlan mengambil sabun cair beraroma musk dan menuangkannya ke telapak tangan. Ia mulai menggosokkan busa lembut itu ke seluruh tubuh Amara, mulai dari leher, turun ke dada, hingga ke perut dengan gerakan yang lambat namun menghanyutkan.
Lalu, sentuhan Arlan bergerak lebih rendah, menyusup ke area paling sensitif Amara. Amara terkesiap dan langsung mencengkeram lengan kekar Arlan untuk menjaga keseimbangannya yang mendadak goyah.
"T-Tuan... "
"Diamlah. Kau harus bersih, Amara. Aku tidak ingin sisa-sisa milikku semalam membuatmu tidak nyaman," ucap Arlan dengan nada memerintah yang penuh gairah. Sentuhan jarinya yang lembut namun menuntut di area sensitif itu membuat Amara kembali melenguh, kehilangan kekuatannya di bawah guyuran air hangat.
"A-akhh... sudah, Tuan... saya... saya tidak kuat berdiri," rintih Amara, tubuhnya bergetar hebat saat Arlan dengan sengaja memperlama proses tersebut untuk menguji pertahanannya.
"Sabar, sayang... ini baru langkah pertama," Arlan menyeringai. Setelah membilas tubuh Amara, ia membalikkan tubuh gadis itu hingga menghadap ke dinding marmer yang basah. Arlan menekan tubuhnya dari belakang, membuat Amara bisa merasakan dengan jelas bahwa gairah sang tuan telah kembali membumbung tinggi akibat keintiman pagi itu.
"T-tuan... mandi saja... tolong," mohon Amara, namun jemarinya justru mencengkeram pegangan di dinding dengan kuat, bersiap menerima apa yang akan terjadi.
"Mandi pagi bersama tuanmu harus dilakukan sampai tuntas, Amara. Dan pembersihan yang paling sempurna adalah saat aku kembali mengisimu dengan yang baru," bisik Arlan tepat di telinga Amara sebelum ia kembali memulai babak baru yang panas di bawah kucuran air pagi itu.
...✨ Dear Readers, ✨...
...📌 Penting:...
...Novel ini diperuntukkan khusus untuk usia 21++. Mohon bijak dalam membaca dan pastikan kamu merasa nyaman dengan isi ceritanya....
...Dukung karya ini dengan cara sederhana tapi berarti:...
...💬 tinggalkan like, komen, dan jangan lupa follow ya, guys....
...⚠️ Info penting lainnya, mohon tidak melompat bab, karena hal tersebut sangat mempengaruhi alur cerita dan retensi buku ini. Nikmati ceritanya secara berurutan agar pesan yang ingin disampaikan bisa terasa utuh....
...✨ Selamat membaca dan semoga terhanyut dalam ceritanya. ✨...
...— Your Grace 🤍...