NovelToon NovelToon
Diremehkan Karena Miskin, Ternyata Aku Punya Sistem Analisis Nilai

Diremehkan Karena Miskin, Ternyata Aku Punya Sistem Analisis Nilai

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kebangkitan pecundang / Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.

Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.

Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.

[Sistem Analisis Nilai Aktif.]

[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]

Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.

Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.

Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?

(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22.5—Konser yang tiba-tiba terganggu

**

 Mereka kembali ke area VIP tepat di depan panggung utama.

Berbeda dengan lautan penonton di belakang yang berdesakan, area ini dibatasi pagar besi rendah dan dijaga petugas keamanan. Kursi-kursi empuk berjajar rapi, dengan meja kecil berisi minuman ringan dan snack eksklusif. Aksesnya terbatas—hanya tamu undangan, sponsor, dan orang-orang dengan gelang khusus berwarna emas.

Dari sini, panggung terlihat sangat jelas.

Lampu LED raksasa membentang seperti dinding cahaya. Laser hijau dan ungu menyapu udara. Dentuman bass terasa lebih bersih, lebih tajam, tanpa gangguan suara teriakan yang terlalu dekat.

Band rock pertama tampil penuh tenaga.

Vokalisnya melompat dari speaker ke speaker, gitaris memutar badan saat solo panjang menggema. Api kecil menyembur di sisi panggung, membuat penonton bersorak histeris.

Bahkan di area VIP, beberapa tamu berdiri dan ikut bertepuk tangan.

Alya ikut berdiri.

“Keren banget!” katanya sambil tertawa.

Rahmat duduk santai, memperhatikan, tapi lebih sering memperhatikan Alya.

Lampu panggung memantul di rambutnya. Wajahnya terlihat lebih hidup dari biasanya.

Setelah itu, suasana berubah saat penyanyi solo naik membawakan lagu balada. Lampu redup, hanya spotlight putih lembut menyinari panggung.

Area VIP ikut menjadi lebih tenang. Beberapa tamu duduk kembali.

Alya juga duduk perlahan di samping Rahmat.

Tanpa sadar, jarak mereka makin dekat. Bahunya menyentuh lengan Rahmat.

Rahmat tidak bergeser.

Lagu berubah ke duo akustik yang membawakan lagu cinta populer. Penonton di belakang mulai menyalakan flashlight ponsel, menciptakan lautan cahaya.

Dari kursi VIP, pemandangan itu terlihat seperti langit penuh bintang.

Alya tersenyum kecil. “Ini lagu favoritku.”

Ia menoleh sedikit ke arah Rahmat.

Tanpa sadar, tangannya menyentuh punggung tangan Rahmat yang berada di atas sandaran kursi.

Sentuhan ringan.

Rahmat melirik.

Alya tidak menarik tangannya.

Beberapa detik kemudian, jari-jarinya menyelip di sela jari Rahmat.

Genggaman itu tidak kuat. Hanya cukup untuk memastikan keberadaan satu sama lain.

Rahmat merasakan kehangatan itu.

Detak jantungnya sedikit berubah ritme.

Alya tersenyum, matanya masih ke arah panggung, tapi pipinya memerah samar.

Rahmat, untuk pertama kalinya malam itu, benar-benar menikmati suasana.

Bukan karena konsernya.

Tapi karena momen kecil itu.

Alya perlahan menyandarkan kepala ke bahunya.

Gerakan halus.

Seolah takut ditolak.

Rahmat membiarkannya.

Bahkan, tanpa sadar, ia sedikit memiringkan bahu agar Alya lebih nyaman.

Suara penonton di belakang menggelegar saat bagian reff dinyanyikan bersama-sama

“Kamu kenapa?” Tanya Alya khawatir, dia sadar bahwa Rahmat dari tadi diam. “Kok dari tadi murung? Padahal acara konser asik asik gini."

Rahmat menggelengkan kepala, dari tadi ia merasakan firasat tidak enak. Tapi belum menemukan bukti konkret, dan sistem bahkan tidak memberikan bunyi notif.

mungkin cuma firasat tanpa teori dasar.

“Enggak papa … omong-omong.”

“Iya?” Alya kebingungan.

Rahmat menatap pergelangan tangan, dipegang dengan sangat erat sejak tadi. Dan bahu itu ...

Lalu, Alya tersadar dan langsung sedikit menjauh, wajahnya makin merah. Tangannya lepas begitu saja

“Maaf aku terlalu terbawa suasana.”

"enggak, aku sendiri tidak keberata." jawabnya.

"eh?!" Alya makin merona.

"cuman ..."

Rahmat melirik daftar rundown di layar samping panggung.

Kanaya dijadwalkan tampil terakhir. Jika situasi memburuk baru ia akan turun tangan.

Namun waktu terus berjalan, MC sudah mengulur-ulur.

“Sebentar lagi kita mendapatkan tamu spesial! Idol yang baru-baru ini naik daun, Kanaya!”

Para penonton bersorak. MC masih memakan waktu lama. Lima menit berlalu konser belum juga mulai, sepuluh menit.

Alya mulai terlihat gelisah. “Kok lama banget ya…”

Di sudut konser, seorang gadis dengan rambut pendek, tampak menikmati popcornnya mengerutkan kening—Anisa seorang ketua OSIS dan satu sekolah dengan Rahmat dan lain-lain.

“Ada yang gak beres.”

Sebagai anak komandan polisi ia juga merasakan firasat tidak enak. Lalu ia teringat akan kejadian beberapa kasus.

Sebuah kasus menghilangnya orang-orang. Kabarnya bulan ini kasus penculikan naik drastis, target penculikan rata-rata adalah perempuan cantik,  ia pun jadi panik jangan-jangan terjadi sesuatu dengan idola bernama Kanaya itu.

Ia tidak bisa membiarkan hal ini terjadi, dengan cepat gadis itu menggunakan sebuah topi. Saatnya bergerak, gadis itu mungkin dalam bahaya.

Rahmat juga merasakan hal sama, memperhatikan suasana backstage dari kejauhan. Beberapa kru terlihat panik. Seseorang berlari kecil melewati sisi panggung.

Rahmat berdiri dari tempat duduknya, Alya langsung menoleh.

“Mau kemana?” Tanya dia.

“ke toilet sebentar. Kamu tunggu disini saja, akan cepat selesai kok.”

Ia pun langsung lari. Ia bisa mendengar keributan demi keributan dari para staf. Tampaknya firasat dia benar, ada sesuatu yang gak beres.

Gadis itu … kanaya dalam bahaya.

***

Kanaya berdiri di depan cermin kamar mandi khusus artis.

Lampu putih terang memantulkan wajahnya yang sudah dirias sempurna. Glitter di kelopak mata berkilau setiap kali ia berkedip.

Ia menarik napas panjang.

“Tenang saja, kanaya, kamu pasti bisa” gumamnya pada bayangan sendiri. “Ini cuma panggung. Memang kali ini lebih ramai, tapi kita pasti bisa! Mari jalani seperti biasanya.”

Ia mencuci tangan di wastafel. Air mengalir tenang.

Di luar terdengar samar suara penonton.

Ia menatap dirinya lagi.

Untuk sepersekian detik, bayangannya terlihat… lelah.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh—

Pintu kamar mandi terbuka pelan. Kanaya menoleh. “Kak?” Ia sempat mengira itu adalah dari staf atau manajer, tapi tidak ada jawaban.

Langkah kaki terdengar pelan di belakangnya.

Ia sempat melihat refleksi samar seseorang berdiri beberapa meter di belakang.

Wajah tertutup masker. Topi rendah menutupi mata.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Siapa—”

Sebuah kain tiba-tiba menutup mulutnya dari belakang.

Bau menyengat memenuhi hidungnya.

Kanaya berusaha meronta. Tangannya menabrak botol sabun hingga jatuh pecah ke lantai.

Air wastafel masih mengalir.

Matanya membelalak panik, mencoba melihat wajah penyerangnya lewat cermin.

Sosok itu berbisik pelan di telinganya.

“Diam.”

Pandangan Kanaya mulai kabur.

Suara panggung di luar tetap bergemuruh, tak menyadari apa yang terjadi di balik tembok.

.

Dan malam yang seharusnya menjadi puncak penampilannya— Berubah menjadi awal sesuatu yang jauh lebih gelap.

1
Martono Tono
bagus
Manusia Biasa: Terima kasih kak sudah membaca
total 1 replies
isnaini naini
cie..cie..aq baca smbil snyum2 ini thor....
Manusia Biasa: hehe terimakasih sudah membaca kak. emang dua pemuda pemudi ini lucu cara interaksinya
total 1 replies
isnaini naini
aq ikut grogi nih al....😄
isnaini naini
astaga mat...alya sdh jungkir balik km nya lempeng...trlalu polos apa gimana sih km ini...😄
Manusia Biasa: wkwkw anakku emang gitu kak🗿 terlalu serius
total 1 replies
Jujun Adnin
lanjut
Manusia Biasa: Baik kak ditunggu updatenya ya kak, setiap hari saya usahakan 3x😁🙏
total 1 replies
isnaini naini
alya kah yg diajak nonton konser thor????
Manusia Biasa: di konser nanti bakal banyak plot terbuka, dijamin asik hehe. terima kasih sudah membaca kak
total 2 replies
Gege
apik dan epic bangeed...lanjoot Thor.. 10k kata tiap update
Manusia Biasa: siap, kak. ditunggu updatenya lagi ya
total 1 replies
Yuliani Jogja
sumpah aku ngakak Baca ini
Manusia Biasa: Terima kasih kak
total 1 replies
Yuliani Jogja
Gaz Ayo jual mamat
Manusia Biasa: gazzz
total 1 replies
Yuliani Jogja
noir plot twist banger wkwk
Manusia Biasa: wkwkwkwk emang kakak
total 1 replies
Yuliani Jogja
kann
Yuliani Jogja
putri? celebrate yang Diselamatin itu paling🤭
Yuliani Jogja
💪mantap gas terus rahmat
Gege
ide ceritanya warbyasaah...mungkin sekali update 10k kata kereen Thor..
Manusia Biasa: terima kasih kakak sudah membaca, ditunggu updatenya besok ya, saya usahin 3x setiap hari kalau gak ada kesibukan wkwk
total 1 replies
Yuliani Jogja
Karya luar biasa
Yuliani Jogja
mantapp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!