Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.5—Konser yang tiba-tiba terganggu
**
Mereka kembali ke area VIP tepat di depan panggung utama.
Berbeda dengan lautan penonton di belakang yang berdesakan, area ini dibatasi pagar besi rendah dan dijaga petugas keamanan. Kursi-kursi empuk berjajar rapi, dengan meja kecil berisi minuman ringan dan snack eksklusif. Aksesnya terbatas—hanya tamu undangan, sponsor, dan orang-orang dengan gelang khusus berwarna emas.
Dari sini, panggung terlihat sangat jelas.
Lampu LED raksasa membentang seperti dinding cahaya. Laser hijau dan ungu menyapu udara. Dentuman bass terasa lebih bersih, lebih tajam, tanpa gangguan suara teriakan yang terlalu dekat.
Band rock pertama tampil penuh tenaga.
Vokalisnya melompat dari speaker ke speaker, gitaris memutar badan saat solo panjang menggema. Api kecil menyembur di sisi panggung, membuat penonton bersorak histeris.
Bahkan di area VIP, beberapa tamu berdiri dan ikut bertepuk tangan.
Alya ikut berdiri.
“Keren banget!” katanya sambil tertawa.
Rahmat duduk santai, memperhatikan, tapi lebih sering memperhatikan Alya.
Lampu panggung memantul di rambutnya. Wajahnya terlihat lebih hidup dari biasanya.
Setelah itu, suasana berubah saat penyanyi solo naik membawakan lagu balada. Lampu redup, hanya spotlight putih lembut menyinari panggung.
Area VIP ikut menjadi lebih tenang. Beberapa tamu duduk kembali.
Lagu berubah ke duo akustik yang membawakan Lagu cinta populer mulai mengalun.
Penonton di belakang menyalakan senter ponsel, menciptakan lautan cahaya yang memantul di mata Alya. Tanpa sadar, jari-jemari Alya merambat di atas sandaran kursi, lalu menyelip perlahan di sela jari Rahmat.
Genggaman itu tidak kuat, tapi hangat.
Rahmat melirik, jantungnya sedikit berubah ritme. Alya tidak menoleh, matanya tetap ke panggung dengan pipi merona, sebelum akhirnya perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu Rahmat. Rahmat tidak bergeming; ia justru sedikit memiringkan bahu agar gadis itu lebih nyaman.
"Kamu kenapa?" bisik Alya tiba-tiba, menyadari Rahmat yang terlampau diam. "Padahal konsernya seru."
Rahmat hanya menggeleng kecil. Firasatnya terus berteriak, meski sistem belum memberikan notifikasi. mungkin cuma firasat tanpa teori dasar.
“Enggak papa … omong-omong.”
“Iya?” Alya kebingungan.
Rahmat menatap pergelangan tangan, dipegang dengan sangat erat sejak tadi. Dan bahu itu ...
Lalu, Alya tersadar dan langsung sedikit menjauh, wajahnya makin merah. Tangannya lepas begitu saja
“Maaf aku terlalu terbawa suasana.”
"enggak, aku sendiri tidak keberata." jawabnya.
"eh?!" Alya makin merona.
"cuman ..."
Rahmat melirik daftar rundown di layar samping panggung.
Kanaya dijadwalkan tampil terakhir. Jika situasi memburuk baru ia akan turun tangan.
Namun waktu terus berjalan, MC sudah mengulur-ulur.
“Sebentar lagi kita mendapatkan tamu spesial! Idol yang baru-baru ini naik daun, Kanaya!”
Para penonton bersorak. MC masih memakan waktu lama. Lima menit berlalu konser belum juga mulai, sepuluh menit.
Alya mulai terlihat gelisah. “Kok lama banget ya…”
Di sudut konser, seorang gadis dengan rambut pendek, tampak menikmati popcornnya mengerutkan kening—Anisa seorang ketua OSIS dan satu sekolah dengan Rahmat dan lain-lain.
“Ada yang gak beres.”
Sebagai anak komandan polisi ia juga merasakan firasat tidak enak. Lalu ia teringat akan kejadian beberapa kasus.
Sebuah kasus menghilangnya orang-orang. Kabarnya bulan ini kasus penculikan naik drastis, target penculikan rata-rata adalah perempuan cantik, ia pun jadi panik jangan-jangan terjadi sesuatu dengan idola bernama Kanaya itu.
Ia tidak bisa membiarkan hal ini terjadi, dengan cepat gadis itu menggunakan sebuah topi. Saatnya bergerak, gadis itu mungkin dalam bahaya.
Rahmat juga merasakan hal sama, memperhatikan suasana backstage dari kejauhan. Beberapa kru terlihat panik. Seseorang berlari kecil melewati sisi panggung.
Rahmat berdiri dari tempat duduknya, Alya langsung menoleh.
“Mau kemana?” Tanya dia.
“ke toilet sebentar. Kamu tunggu disini saja, akan cepat selesai kok.”
Ia pun langsung lari. Ia bisa mendengar keributan demi keributan dari para staf. Tampaknya firasat dia benar, ada sesuatu yang gak beres.
Gadis itu … kanaya dalam bahaya.
***
Kanaya berdiri di depan cermin kamar mandi khusus artis.
Lampu putih terang memantulkan wajahnya yang sudah dirias sempurna. Glitter di kelopak mata berkilau setiap kali ia berkedip.
Ia menarik napas panjang.
“Tenang saja, kanaya, kamu pasti bisa” gumamnya pada bayangan sendiri. “Ini cuma panggung. Memang kali ini lebih ramai, tapi kita pasti bisa! Mari jalani seperti biasanya.”
Ia mencuci tangan di wastafel. Air mengalir tenang.
Di luar terdengar samar suara penonton.
Ia menatap dirinya lagi.
Untuk sepersekian detik, bayangannya terlihat… lelah.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh—
Pintu kamar mandi terbuka pelan. Kanaya menoleh. “Kak?” Ia sempat mengira itu adalah dari staf atau manajer, tapi tidak ada jawaban.
Langkah kaki terdengar pelan di belakangnya.
Ia sempat melihat refleksi samar seseorang berdiri beberapa meter di belakang.
Wajah tertutup masker. Topi rendah menutupi mata.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Siapa—”
Sebuah kain tiba-tiba menutup mulutnya dari belakang.
Bau menyengat memenuhi hidungnya.
Kanaya berusaha meronta. Tangannya menabrak botol sabun hingga jatuh pecah ke lantai.
Air wastafel masih mengalir.
Matanya membelalak panik, mencoba melihat wajah penyerangnya lewat cermin.
Sosok itu berbisik pelan di telinganya.
“Diam.”
Pandangan Kanaya mulai kabur.
Suara panggung di luar tetap bergemuruh, tak menyadari apa yang terjadi di balik tembok.
.
Dan malam yang seharusnya menjadi puncak penampilannya— Berubah menjadi awal sesuatu yang jauh lebih gelap.
A/N : Jangan lupa absen pakai like gays, kalau kalian suka kerya ini bisa vote, komen, dan gift, hehe. Terimakasih sudah membaca🙏😁