NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Malam itu, aula mewah Grand Hotel Bellevue di Gstaad, Alpen Swiss, disulap menjadi taman musim dingin yang menakjubkan. Kristal-kristal es bergelantungan di langit-langit, memantulkan cahaya lampu gantung yang megah. Karpet bulu putih menutupi seluruh lantai, menciptakan suasana suci untuk merayakan satu bulan kelahiran putra pertama sang legenda hidup, Rangga Dirgantara.

​Rangga berdiri tegak dengan setelan tuxedo hitam custom-made yang membungkus tubuh atletisnya. Wajahnya yang dulu selalu dingin dan tegang, malam ini tampak sedikit lebih lembut, meskipun kewaspadaan di matanya tidak pernah benar-benar padam. Di sampingnya, Alya tampak sangat anggun dengan gaun panjang berwarna biru langit yang bertabur swarovski, memeluk lengan suaminya dengan penuh rasa syukur.

​Di tengah aula, sebuah kereta bayi berwarna emas putih berdiri menjadi pusat perhatian. Di dalamnya, bayi kecil yang tampan itu tertidur lelap, tidak terganggu oleh suara musik harpa yang mengalun lembut.

​Rangga melangkah ke depan mikrofon, suaranya yang berat dan berwibawa menggema di seluruh ruangan. "Malam ini, di hadapan saksi-saksi terbatas yang hadir, aku ingin meresmikan kehadiran nyawa baru dalam hidupku. Nama yang kuberikan adalah Arkan Dirgantara. Dia adalah cahaya di tengah kegelapan, dan dia adalah alasan mengapa aku masih berdiri di sini sebagai seorang manusia."

​Tepuk tangan meriah membahana. Alya menitikkan air mata bahagia, ia mendekat ke arah kereta bayi, mengusap pipi lembut Arkan yang tertutup selimut kasmir. Kebahagiaan itu terasa begitu sempurna, begitu nyata, seolah-olah semua penderitaan masa lalu telah terkubur di bawah salju Alpen.

​Namun, kesempurnaan di dunia Rangga Dirgantara selalu memiliki bayangan yang mengintai.

​DOR! DOR!

​Dua suara tembakan memekakkan telinga menghantam langit-langit aula. Kaca-kaca lampu gantung pecah berantakan. Para tamu berteriak histeris, tiarap ke lantai.

​"Alya, merunduk!" teriak Rangga. Dengan gerak refleks predatornya, ia langsung mendekap Alya dan menjatuhkan tubuhnya ke balik meja besar, namun matanya tetap tertuju pada kereta bayi yang hanya berjarak lima meter darinya.

​Tepat saat itu, seluruh lampu di hotel mati total.

Kegelapan pekat menyelimuti ruangan. Suara kekacauan terdengar; langkah kaki yang cepat, gesekan logam, dan suara napas yang memburu.

​"Arkan! Mas, bayinya!" teriak Alya dalam gelap, suaranya penuh ketakutan yang mencekam.

​"Tetap di sini, Alya! Jangan lepaskan tanganku!"

Rangga mencoba meraih kereta bayi dalam kegelapan, namun ia merasakan sebuah hantaman keras di bahunya oleh seseorang yang tampaknya menggunakan alat penglihatan malam (night vision). Rangga membalas dengan pukulan membabi buta, namun penyerang itu sepertinya hanya bertujuan untuk menghambatnya.

​Hanya dalam waktu sepuluh detik, lampu mendadak menyala kembali dengan terang yang menyilaukan.

​Alya langsung berlari ke arah kereta bayi. Namun, langkahnya terhenti. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Kereta bayi emas itu kini kosong. Selimut kasmirnya terjatuh di lantai, dan mainan gantungnya masih bergoyang pelan, namun sang bayi telah lenyap.

​"TIDAAAK! ARKAN! MAS RANGGA, BAYINYA TIDAK ADA!" Alya menjerit histeris, suaranya melengking membelah aula. Ia jatuh terduduk di samping kereta bayi yang kosong, air matanya tumpah seketika. Tubuhnya gemetar hebat, ia memeluk kaki Rangga sambil menangis tersedu-sedu. "Kembalikan anakku... Mas, cari Arkan... kumohon!"

​Rangga berdiri mematung. Wajahnya yang tadinya tenang kini berubah menjadi sangat mengerikan. Urat-urat di lehernya menonjol, dan matanya yang hitam pekat memancarkan kilatan iblis yang jauh lebih gelap daripada saat ia masih menjadi psikopat dulu.

​Keposesifannya yang selama ini ia tekan demi Alya, kini meledak menjadi kemarahan murni. Siapa pun yang berani menyentuh miliknya, terutama darah dagingnya, telah memesan tiket menuju neraka paling dalam.

​"Diam di sini, Alya. Jangan bergerak," suara Rangga kini sangat rendah, dingin, dan bergetar karena amarah yang tertahan. Ia memegang bahu Alya sebentar, mencium kening istrinya dengan kasar namun penuh janji. "Aku bersumpah demi nyawaku... aku akan membawa Arkan kembali sebelum matahari terbit. Dan siapa pun yang menyentuhnya, mereka akan memohon untuk mati di tanganku."

​Rangga berdiri, ia melepaskan tuxedo hitamnya, menyisakan kemeja putih yang kini lengannya ia gulung hingga ke siku. Ia mengambil ponsel satelitnya dan memberikan perintah tunggal kepada seluruh tim keamanannya yang tersebar di Swiss.

​"Kunci semua akses keluar Gstaad. Tutup bandara pribadi, blokade jalan pegunungan. Siapa pun yang membawa bayi malam ini, tembak di tempat jika melawan. Aku ingin mereka hidup untuk kusetorkan nyawanya sendiri."

​Rangga tidak menunggu polisi. Ia berlari menuju ruang monitor keamanan hotel. Di sana, ia melihat rekaman CCTV yang menunjukkan tiga orang berpakaian hitam melarikan diri melalui jalur dapur menuju basement parkir. Salah satu dari mereka menggendong sebuah tas bayi yang tampak berat.

​"Kalian membuat kesalahan terbesar dalam sejarah hidup kalian," desis Rangga.

​Rangga memacu mobil SUV hitamnya dengan kecepatan gila menembus badai salju yang mulai turun kembali. Ia melacak sinyal pelacak tersembunyi yang ternyata ia pasang di dalam popok bayinya—sebuah bentuk keposesifan paranoid yang ternyata malam ini menjadi penyelamat.

​Sinyal itu bergerak menuju sebuah kabin tua di lereng gunung yang terpencil.

​Di dalam kabin tersebut, tiga pria bayaran tampak sedang bersiap-siap. Mereka adalah sisa-sisa pengikut Baskara yang dendam. Bayi Arkan menangis kencang di atas meja kayu yang kasar.

​"Diam, anak sialan!" bentak salah satu penculik sambil hendak menampar bayi itu untuk membuatnya diam.

​Namun, sebelum tangan itu mendarat, pintu kabin hancur berkeping-keping ditabrak oleh moncong SUV hitam milik Rangga.

​Rangga keluar dari mobil dengan tatapan yang bisa membekukan darah. Ia tidak membawa pistol. Di tangannya hanya ada sebuah pisau bedah kecil yang tajam—senjata favoritnya saat ia sedang dalam kondisi paling tidak stabil.

​"Lepaskan... anakku..." ucap Rangga, suaranya seperti bisikan malaikat maut.

​Para penculik melepaskan tembakan, namun Rangga bergerak lebih cepat dari yang mereka duga. Ia menggunakan bayangan dan perabotan kabin untuk mendekat. Dengan gerakan yang sangat efisien dan sadis, Rangga melumpuhkan dua penculik pertama dengan sayatan di urat nadi mereka dalam hitungan detik.

​Penculik ketiga, yang memegang Arkan, menempelkan pisau ke leher bayi itu. "Jangan mendekat, Rangga! Atau anak ini mati!"

​Rangga berhenti. Matanya tertuju pada Arkan yang menangis. "Kau pikir aku peduli dengan ancamanmu? Jika kau melukainya satu milimeter saja, aku tidak akan membunuhmu. Aku akan mengulitimu hidup-hidup dan memastikan kau tetap bernapas selama tujuh hari untuk merasakan sakitnya."

​Kegilaan di mata Rangga membuat penculik itu gemetar. Dalam sekejap mata saat penculik itu berkedip karena takut, Rangga melempar pisau bedahnya tepat mengenai mata pria itu.

​JLEB!

​Pria itu berteriak kesakitan dan menjatuhkan Arkan. Dengan kecepatan luar biasa, Rangga melompat dan menangkap bayi itu sebelum menyentuh lantai yang dingin.

​Rangga mendekap Arkan di dadanya yang bidang. Detak jantung bayi itu mulai melambat saat merasakan kehangatan ayahnya. Rangga menciumi dahi Arkan berkali-kali, napasnya tersengal oleh emosi yang meluap.

​"Ayah di sini, Arkan... Ayah di sini. Tidak ada yang bisa menyentuhmu lagi," bisik Rangga, air matanya jatuh mengenai pipi kecil putranya.

​Rangga kemudian menoleh ke arah penculik yang masih merintih di lantai. Ia mendekat, matanya kembali gelap. "Aku sudah berjanji pada ibunya untuk membawamu kembali. Tapi aku tidak berjanji untuk membiarkan mereka tetap utuh."

​Beberapa menit kemudian, Rangga keluar dari kabin sambil menggendong Arkan yang sudah tenang dan tertidur kembali dalam dekapan mantel tebalnya. Di belakangnya, kabin itu mulai dilalap api yang ia sulut sendiri.

​Di hotel, Alya masih terduduk di lantai, dikelilingi oleh polisi Swiss yang tidak bisa berbuat banyak. Ia terus memanggil nama Arkan dan Rangga.

​Tiba-tiba, pintu aula terbuka lebar.

​Rangga berjalan masuk dengan langkah yang mantap, meski kemeja putihnya kini bercak darah. Di pelukannya, terbungkus rapi dengan mantelnya, Arkan sedang tertidur lelap.

​Alya langsung berdiri, ia berlari kencang dan menabrak tubuh Rangga, memeluk suami dan anaknya sekaligus dengan tangisan yang sangat keras. "Arkan... Ya Tuhan, Arkan!"

​Alya mengambil bayi itu, memeriksa setiap inci tubuhnya dengan tangan gemetar. Setelah memastikan Arkan baik-baik saja, ia memeluk Rangga dengan sangat erat. "Terima kasih, Mas... terima kasih..."

​Rangga membalas pelukan Alya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap membelai kepala Arkan. Wajah predatornya hilang, digantikan oleh wajah seorang pelindung yang sangat posesif.

​"Aku sudah bilang padamu, Alya," bisik Rangga di telinga istrinya. "Dunia bisa mencoba mengambil apa pun dariku. Tapi tidak ada yang bisa mengambilmu atau anak kita selama aku masih bernapas. Mulai besok, tidak akan ada lagi perayaan di tempat publik. Kalian hanya akan aman di sisiku, di tempat yang hanya aku yang tahu."

Bersambung....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!