Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Baru
Di Kerajaan bangsa Vampir, Valerius berdiri di atas menara tinggi, menatap ke arah hutan yang gelap dan misterius. Tatapannya setajam pedang menusuk keheningan malam. "Aira, gadis kecil itu, sedang bertapa di sana". Jiwa Valerius bisa merasakan kekuatannya yang mulai bangkit, dan ia tidak bisa menahan senyuman angkuhnya.
Ia sama sekali tidak mempercayai perspektif Ignis, yang mengatakan bahwa "Aira telah mati". Karena ia yakin, Umbra tidak akan pudar hanya karena tertimbun tanah.
"Akhirnya, saatnya telah tiba," Valerius berbisik kepada diri sendiri.
Valerius mengangkat tangannya sendiri, memberi isyarat "memanggil" dan saat itu pula muncul bayangan di sekitarnya mulai bergerak. "Cari tahu apa yang sedang terjadi di hutan itu. Aku ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh Zarith dan Lyra." Titahnya
Tanpa anggukan dan jawaban, bayangan-bayangan itu menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan Valerius sendirian di pucuk menara. Ia menatap ke arah hutan seolah matanya menjadi ekor para bayangan, menunggu kabar tentang Aira dan kekuatannya.
"Tak lama lagi, Aira akan menjadi milikku,". Valerius berbisik, mata merah khas vampirnya berkilau dengan ambisi yang tak terkendali.
Para bayangan terbang ke arah hutan, yang gelap, sunyi dan sangat dingin untuk kalangan bangsa manusia. Mereka berpencar, mengendus tanah ke setiap penjuru hutan mencari titik keberadaan Aira. Hingga sampai di suatu wilayah yang terkena sinar cahaya bulan, tepat di atasnya seolah bulan sedang menyalurkan energi pada dunia.
Dugaan mereka sangat tepat. Dibawah sana, di gua "bawah tanah" yang gelap, Aira duduk bersila, matanya tertutup, dan napasnya dalam. Dia mencoba untuk fokus pada energi dalam tubuhnya, tapi pikirannya terganggu ketika merasakan energi "para bayangan" yang datang, di atas sana.
Valerius terus menatap ke arah hutan, menunggu kabar gembira yang akan para prajuritnya sampaikan. Tiba-tiba, salah satu bayangan kembali ke menara, bayangan itu membungkuk di depannya.
"Apa yang kamu temukan?" tanyanya, suara Valerius penuh dengan keingin tahuan.
Bayangan itu berbicara dengan suara yang serak, "Zarith dan Lyra sedang mempersiapkan Aira untuk sesuatu yang besar. Mereka tidak mengatakan apa itu, tapi..."
Bayangan itu berhenti sejenak, membuat Valerius semakin penasaran. "Tapi apa?" desaknya suaraku semakin keras.
Bayangan itu melanjutkan, dengan sedikit rasa takut karena tak membawa informasi yang memuaskan telinga sang tuan. "Tapi mereka memiliki rencana untuk menghentikan kita, Tuan. Mereka tahu tentang rencana kita untuk mengambil kekuatan Aira."
Valerius tertawa, suara tawanya menggema mengguncang menara. "Hahaha, mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi. Aira akan menjadi milikku, dan tidak ada yang bisa menghentikannya!".
"Aku akan memilikinya seperti Ignis yang merampas Nocturna". Lirihnya dengan rahang yang mengeras.
Kedua tangannya menekan ujung dinding menara dengan terkepal sempurna. Tatapannya menggila, seakan ia melahap karena kelaparan.
"Ya, aku akan memilikinya seperti Ignis yang merampas Nocturna," Valerius mengulangi kata-kata itu, dengan suara yang penuh dengan kebencian dan keinginan. "Aku akan mengambil kekuatannya, dan dengan begitu, akan akan dengan mudah untuk menguasai dunia!"
Kedua tangan Valeriua semakin mengepal, sampai-sampai kuku-kukunya yang tajam menusuk ke dalam dagingnya sendiri. Valerius bisa merasakan kemarahan dan keinginan yang membakar di dalam hati dirinya, seperti api yang tak pernah padam.
Tiba-tiba, ia mendengar suara tawa tepat di belakangnya. Valerius menoleh ke arah suara, dan melihat seorang wanita cantik dengan rambut hitam dan mata merah berdiri di belakangnya menatap Valerius dengan skeptis.
Wanita itu adalah seorang penyihir misterius yang memiliki hubungan dengan Valerius. Dia memiliki rambut hitam dan mata merah, serta kemampuan yang sangat kuat. Nama wanita itu tidak disebutkan secara jelas, tapi dia tampaknya memiliki tujuan yang sama dengan Valerius, yaitu untuk mendapatkan kekuatan dan kekuasaan. Dia membuat kesepakatan dengan Valerius untuk membantu dia mendapatkan kristal yang tersembunyi di kuil kuno, sebagai imbalan atas bantuannya dalam mendapatkan.
"Valerius, kamu semakin gila," katanya, suaranya penuh dengan ejekan.
Valerius tersenyum dengan bangga. "Aku gila? Aku adalah yang paling waras di sini. Aku adalah yang akan mengambil apa yang menjadi hakku."
Wanita itu mendekatiku, "Kamu tahu, aku bisa membantumu. Aku bisa membantumu mendapatkan kekuatan Aira.". Mencoba memberi tawaran.
Valerius menatapnya intens mencari letak kebohongan pada wanita itu. "Apa yang kamu inginkan sebagai imbalan?"
Wanita itu tersenyum, "Aku ingin kamu membantuku mengambil sesuatu yang menjadi hakku. Sebuah kristal yang tersembunyi di dalam kuil kuno."
Valerius tertawa, "Hanya itu? Aku akan membantumu, tapi kamu harus bersedia membantuku mendapatkan Aira."
Wanita itu mengangguk, "Aku setuju. Aku akan membantumu, Valerius."
Tanpa panjang lebar, Valerius menyepakati tawaran kerjasamanya, "Baiklah, maka kita akan bekerja sama. Aku akan mengambil kekuatan Aira, dan kamu akan mendapatkan kristalmu."
Setelah mendapat persetujuan sesuai dengan prediksinya, wanita itu menghilang, meninggalkan Valerius sendirian di menara. Valerius kembali memerintahkan para bayangan sekaligus "anak buah" nya untuk kembali pergi mencari informasi kuil kuno.
"Tak lama lagi, Aira akan menjadi milikku, aku akan menyerap energinya lalu ku hempaskan tubuhnya, sangat mudah" Valerius membisikkan pemantik ke dalam dirinya
Para bayangan melesat hilang secepat kilatan cahaya yang melintas. Mereka pergi ke arah tujuan yang tuannya perintahkan. Setelah hampir menjelang pagi, mereka kembali datang dengan percaya diri.
"Tuan, ada kabar dari kuil kuno," katanya, suaranya serak.
"Apa itu?" tanya Valerius dengan suara penuh dengan ambisi.
"Kuasa gelap telah bangkit di kuil kuno, Tuan. Mereka sedang mencari kristal yang kamu inginkan."
Valerius tersenyum, "Baiklah, maka kita akan mempercepat rencana kita. Kita akan menyerang Aira saat dia keluar dari pertapaannya. Dan kau,hubungi wanita tadi agar dia membantu kita".
Bayangan itu mengangguk, "Baiklah, Tuan. kami akan mempersiapkan segalanya."
"Besok malam, waktunya beraksi". Ucap Valerius