PROLOG
-MENENTANG SEGALA DUNIA
-MENENTUKAN TAKDIR SENDIRI
-MERANGKAI TAKDIR YANG DIINGINKAN
-BILA LANGIT JADI PENGHALANGKU KU ROBEKAN LANGIT
-BILA BUMI MENAHAN KAKIKU KU HANCURKAN BUMI
-AKU ADALAH PEMILIK TAKDIR KU SENDIRI-
Di Kota Yinhu, di bawah langit kelabu Kerajaan Bela Diri Selatan, seorang pemuda bernama Shen Tianyang tumbuh dalam bayang-bayang kehinaan.
Terlahir dari keluarga bela diri, ia justru dianggap sebagai noda—tak berbakat, tak berguna, dan tak layak mewarisi darah leluhur.
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Shen Tianyang hidup lebih rendah dari orang biasa.
Tatapan meremehkan dan bisikan hinaan menjadi kesehariannya, perlahan mengikis martabat dan harapannya. Namun dari jurang keputusasaan itulah, takdir yang lebih kejam mulai bergerak.
Sebuah pertemuan terlarang mengubah segalanya. Akar Spiritual yang menentang hukum langit terbangun di dalam tubuhnya, menyeretnya ke jalan yang tak dapat ditinggalkan—jalan yang dipenuhi darah, penderitaan, dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beruang Terbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Kompetisi Kepala Klan.
Pagi itu, Shen Tianyang tidak segera menuju kebun obat roh untuk mempercepat pertumbuhan tanaman spiritual seperti biasanya.
Fajar baru saja menyingsing ketika ia telah melangkah menuju sebuah alun-alun raksasa di jantung Vila Pegunungan Keluarga Shen. Hari ini bukan hari biasa—hari ini adalah saat takdir Keluarga Shen dipertaruhkan, hari penentuan Kepala Klan yang telah lama kosong.
Selama lebih dari tiga bulan, kursi Kepala Klan dibiarkan tanpa penguasa. Kekosongan itu menimbulkan kegoyahan, benih-benih perselisihan, dan ambisi tersembunyi yang kini tak lagi bisa ditahan.
Maka, seluruh inti kekuatan Keluarga Shen berkumpul di alun-alun batu yang luas itu.
Sekitar tiga ratus generasi muda berdiri berderet, memenuhi tepi alun-alun. Mereka semua adalah murid-murid elit Keluarga Shen, pilar masa depan klan. Lingkaran manusia terbentuk, menyisakan ruang kosong di tengah.
Di sanalah berdiri lima pria paruh baya, memancarkan wibawa dan tekanan kekuatan. Salah satu di antaranya adalah Shen Tianwu.
Shen Tianyang juga berada di tengah kerumunan, ekspresinya tenang, tatapannya dalam. Ia datang bukan sekadar untuk menonton. Jika keadaan menuntut, ia akan melangkah maju demi membuka jalan bagi ayahnya untuk merebut posisi Kepala Klan.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya bertubuh kekar melangkah ke depan. Alisnya tebal, matanya besar dan tajam, rambutnya mulai memutih. Senyum sinis terbit di wajahnya saat ia berkata dengan nada meremehkan,
“Shen Tianwu, apakah kau tahu bahwa ada satu syarat yang sangat penting untuk menjadi Kepala Klan Keluarga Shen..?”
Pria itu adalah Shen Haohai, pemimpin salah satu cabang kuat dalam Keluarga Shen. Usianya lebih tua dari Shen Tianwu, dan kekuatannya telah mencapai Ranah Bela Diri Fana tingkat ketujuh—sebuah pencapaian yang cukup disegani dalam klan.
Dengan latar belakang itu, ia menganggap dirinya sangat pantas menduduki posisi Kepala Klan. Dari segi senioritas, Shen Tianyang bahkan harus memanggilnya paman.
Tatapan Shen Tianwu berubah dingin. Amarah tersembunyi berkilat di matanya ketika ia menjawab dengan suara rendah namun tegas,..
“Tentu saja aku tahu. Keluarga inti Kepala Klan harus memiliki potensi yang layak, agar Kepala Klan tidak menyalahgunakan sumber daya publik demi kerabatnya sendiri.”
Istri Shen Tianwu telah lama wafat. Sejak Shen Tianyang mampu mengingat dunia, ia tak pernah mengenal wajah ibunya. Dalam hidup Shen Tianwu, hanya ada satu kerabat sedarah—putranya sendiri.
Shen Haohai tertawa keras, suaranya menggema di alun-alun...
“Ha ha ha ha ha..!!! Putramu itu tidak memiliki Akar Spiritual..!!"
"... Jika kau menjadi Kepala Klan, kau pasti akan menghamburkan pil obat berharga untuknya..!!! Bukankah selama bertahun-tahun ini kau berkeliling membeli obat roh dan pil spiritual demi menopang putramu itu..!?... seluruh klan tahu kenyataannya.”
Nada suaranya menajam, penuh ejekan.
“Semua orang tahu—dia hanyalah sampah yang tak akan pernah bangkit..!!!”
Hati Shen Tianwu bergetar, namun wajahnya tetap kokoh. Ia mengetahui betul bahwa putranya jauh melampaui generasi sebayanya.
Namun justru karena itu, ia memilih menyembunyikan cahaya tersebut, agar tidak mengundang badai yang lebih besar.
“Putraku mampu melepaskan Api Qi Sejati..!! Ia memiliki potensi sebagai alkemis. Beraninya kau mengatakan ia tidak berguna..?” Shen Tianwu mencibir dingin.
“Aku ragu para tetua Keluarga Shen akan sependapat denganmu.”
Kerumunan pun langsung bergemuruh. Kabar tentang Master Paviliun Pil Roh yang ingin menerima murid, namun ditolak, telah menyebar luas di Kota Yinhu.
Meski Shen Tianyang tidak memiliki Akar Spiritual, fakta bahwa ia memiliki Api Qi Sejati berarti ia masih memiliki jalan menuju dunia alkimia—sebuah jalan yang bahkan lebih langka dan berharga.
Namun Shen Haohai mendengus, suaranya penuh penghinaan...
“Lalu apa gunanya..? Ia menolak Master Paviliun Pil Roh itu. Tanpa seorang guru, bagaimana mungkin ia menjadi alkemis sejati..?”
Pada saat itulah, sebuah suara tenang namun kokoh terdengar, menembus hiruk-pikuk alun-alun seperti pedang tajam yang memecah kabut.
“Aku kini mampu meramu Pil Penempaan Tubuh tingkat Fana kelas rendah.”
Semua mata seketika tertuju pada satu sosok.
Shen Tianyang melangkah maju dari kerumunan, wajahnya datar, namun auranya bagai gunung yang tenang sebelum letusan.
Kata-katanya sederhana, namun mengguncang jiwa setiap orang yang mendengarnya—seolah lonceng takdir baru saja dibunyikan, menandai awal perubahan besar dalam Keluarga Shen.
----
Mendengar pernyataan Shen Tianyang, seluruh alun-alun seketika membeku. Udara seolah berhenti berputar, napas ratusan orang tertahan dalam keterkejutan.
Namun di tengah keheningan itu, tawa kasar tiba-tiba meledak.
Shen Haohai tertawa terbahak-bahak, wajahnya dipenuhi ejekan dan penghinaan.
“BOCAH BAU KENCUR...!!!” Hardiknya lantang.
“Baru enam belas tahun sudah berani mengaku bisa meramu pil obat..? Jangan kira omong kosong semacam itu bisa membantu ayahmu merebut posisi Kepala Klan..!!"
"... Dan ingat baik-baik—berbohong di hadapan para tetua adalah dosa besar yang akan diganjar hukuman berat..!!!”
Ia melangkah setengah langkah ke depan, sorot matanya menusuk seperti pisau.
“Apakah kau mengira dirimu itu jenius Keluarga Yao? Mereka adalah keluarga yang memang mengkhususkan diri pada pil obat, dengan fondasi yang sangat dalam dan mengakar!”
Namun Shen Tianyang tidak mundur.
Ia berjalan keluar dari kerumunan dengan langkah mantap. Matanya jernih, tenang seperti danau tanpa riak, wajahnya tak menunjukkan sedikit pun kegugupan.
Dari dalam cincin penyimpanannya, ia mengeluarkan sebuah Tungku Pil, lalu menatap Shen Haohai dengan senyum dingin yang mengandung penghinaan halus.
“Apakah Paman Shen Haohai berani bertaruh denganku..?” ucapnya tenang namun menggema.
“Jika aku berhasil meramu satu tungku Pil Penempaan Tubuh, bagaimana jika kau bersujud dan meminta maaf kepadaku di hadapan semua orang..?”
Tawa Shen Haohai terhenti seketika.
Alun-alun kembali hening, kali ini bukan karena keterkejutan semata, melainkan karena kegemparan batin. Tak seorang pun menyangka Shen Tianyang akan sebegitu beraninya—seorang junior, secara terbuka menantang seorang tetua dengan taruhan yang begitu memalukan.
Wajah Shen Haohai langsung berubah muram. Amarah bergejolak di dadanya seperti gunung api yang siap meletus. Bagi seorang tetua, dipermalukan oleh generasi muda adalah penghinaan terbesar.
Shen Tianwu, yang berdiri di sisi arena, justru tidak menghentikan putranya. Sebaliknya, sorot matanya menunjukkan keteguhan dan keyakinan. Ia tahu, saat ini adalah waktu yang tepat—waktu bagi putranya untuk menyingkapkan kebenaran dan membersihkan namanya.
“APA YANG BARU SAJA KAU KATAKAN..?!” bentak Shen Haohai dengan suara menggelegar.
Gelombang Qi Sejati meledak dari tubuhnya, menyelimuti Shen Tianyang dengan tekanan berat. Namun sebelum tekanan itu sempat melukai, Shen Tianwu melangkah maju.
Dengan satu ayunan lengan, Qi Sejati tersebut langsung terurai dan lenyap seperti asap tertiup angin.
Shen Tianyang menatap Shen Haohai tanpa gentar. Ia mengangkat suaranya sekali lagi, kali ini lebih tegas, lebih keras, seolah menantang langit itu sendiri.
“Aku ingin bertaruh denganmu..!! Jika aku berhasil meramu satu tungku Pil Penempaan Tubuh, kau harus bersujud dan meminta maaf kepadaku di depan umum..!!!”
Ia mengulanginya dengan ekspresi serius, tanpa sedikit pun nada bercanda. Kata-katanya penuh keangkuhan dan keyakinan mutlak. Dalam seluruh Keluarga Shen, hampir tak ada generasi muda yang berani berbicara seperti itu kepada seorang tetua.
Tubuh Shen Haohai bergetar karena amarah. Dadanya naik turun hebat. Ia ingin menampar bocah itu hingga mati, namun ia tahu betul—membunuh murid muda di dalam klan sendiri adalah kejahatan besar yang tak bisa ditoleransi.
Tatapan semua orang tertuju padanya, menunggu keputusannya.
Shen Tianyang tidak berhenti menekan.
Dengan suara dingin ia melanjutkan,
“Kau telah mencemarkan namaku di depan umum, menyebutku sampah tak berguna. Sekarang aku ingin membuktikan diriku dan menuntut permintaan maafmu. Sebagai seorang senior… apakah kau takut bertaruh denganku..?”
Kata “Takut” itu seperti pisau yang menusuk harga diri Shen Haohai.
Pada saat suasana hampir meledak, seorang tetua tua akhirnya angkat bicara.
Suaranya tenang namun sarat wibawa, cukup untuk meredam amarah di udara.
“Kalau begitu, Shen Haohai, terimalah taruhan ini,” katanya perlahan.
“Namun lupakan soal bersujud dan meminta maaf. Itu hanyalah ucapan panas seorang anak muda. Kita ubah saja—jika ia benar-benar mampu meramu satu tungku pil obat, maka kau kalah dan wajib memberinya kompensasi yang pantas.”
Ucapan tetua itu bagaikan palu penentu.
Tatapan semua orang kembali tertuju pada Shen Tianyang—pemuda yang berdiri tenang dengan tungku pil di tangannya. Di saat itulah, banyak orang mulai menyadari bahwa hari ini bukan hanya tentang kompetisi Kepala Klan.
Hari ini, sebuah legenda mungkin akan mulai terukir.
-----
“AKU SETUJU...!!"
Suara Shen Tianwu menggema tegas di alun-alun. “Jika putraku kalah, aku tidak akan lagi bersaing memperebutkan posisi Kepala Klan..!!!”
Setelah berkata demikian, ia menoleh dan mengangguk perlahan kepada Shen Tianyang—sebuah isyarat kepercayaan mutlak, tanpa sedikit pun keraguan.
Kerumunan langsung meledak gempar.
Tak seorang pun menyangka Shen Tianwu berani mempertaruhkan sesuatu yang sebesar itu. Taruhan ini bukan lagi sekadar pembuktian seorang pemuda, melainkan masa depan kepemimpinan seluruh Keluarga Shen.
Shen Haohai mendengus dingin.
“Taruhan adalah taruhan,” katanya dengan nada keras. “Jika aku kalah, aku akan menyerahkan Lingzhi Darah berusia seribu tahun yang baru saja kudapatkan.”
Begitu nama itu terucap, suara napas tercekik terdengar di mana-mana.
Lingzhi Darah berusia seribu tahun..!!
Itu adalah Obat Roh tingkat Misterius kelas rendah, harta langka bernilai luar biasa, sesuatu yang bahkan para tetua pun akan tergoda untuk memilikinya.
Banyak mata langsung memerah oleh keserakahan dan keterkejutan.
Seorang tetua tua melangkah maju, wajahnya serius.
“Shen Tianyang, mulailah alkimia sekarang. Berapa lama waktu yang kau perlukan..?” tanyanya. Ia adalah tetua Keluarga Shen yang disegani, ucapannya memiliki bobot keputusan.
Menurut pemahaman umum, meramu Pil tingkat Fana kelas rendah setidaknya memakan waktu setengah hari. Bahkan alkemis berpengalaman pun membutuhkan dua hingga tiga jam.
Terlebih lagi, yang akan meramu ini hanyalah seorang pemuda enam belas tahun.
“Sangat cepat,” jawab Shen Tianyang tenang. “Aku tidak akan membuang waktu siapa pun.”
Begitu kata-kata itu terucap, ia langsung duduk bersila di hadapan tungku pil.
Tetua tua dan Shen Haohai segera mendekat untuk memeriksa tungku pil tersebut, memastikan tidak ada kecurangan. Tatapan Shen Haohai menyipit, lalu bibirnya melengkung mengejek.
“Tungku pil berkualitas buruk,” katanya sinis. “Sepertinya kau benar-benar miskin, Shen Tianwu.”
Semua orang tahu—seluruh kekayaan Shen Tianwu hampir habis demi menopang putranya.
Namun Shen Tianyang tidak terpengaruh. Ia mengeluarkan bahan-bahan dari kantong penyimpanannya, memilah dan memeriksanya dengan cermat,..
.... lalu melepaskan Api Qi Sejati untuk memanaskan tungku pil sekali putaran sebelum memasukkan bahan-bahan tersebut ke dalamnya.
Setiap gerakannya halus, tepat, dan penuh keyakinan—tanpa sedikit pun keraguan.
Api Qi Sejati yang muncul itu membuat banyak orang terkejut.
Memang, banyak praktisi bela diri dapat memancarkan api ketika menggunakan teknik tertentu, namun api semacam itu hanya muncul sesaat saat menyerang.
Sangat jarang seseorang mampu mengendalikan api dengan bebas seperti ini—kecuali mereka menguasai teknik pengendalian api tingkat tinggi, yang terkenal langka dan sulit dipraktikkan.
Api perlahan menyelimuti tungku pil. Tak lama kemudian, helai-helai aroma obat mulai merembes keluar.
Waktu berlalu.
Satu jam kemudian, semua orang melihat Shen Tianyang—yang sejak tadi bermeditasi dengan mata terpejam—tiba-tiba mengernyitkan dahi.
Aura di sekitarnya berubah halus namun tegang. Jelas, momen paling krusial telah tiba.
Keringat mulai membasahi dahi Shen Haohai. Jantungnya berdegup kencang. Lingzhi Darah seribu tahun itu terasa semakin jauh dari genggamannya.
Kabut tipis perlahan naik dari dalam tungku pil.
Tiba-tiba, Shen Tianyang membuka matanya. Cahaya kegembiraan berkilat di sana. Ia berdiri, menepuk jubahnya, lalu berkata dengan suara mantap,
“Silakan diperiksa.”
“APA..? SUDAH SELESAI DALAM SATU JAM..?”
Suara-suara tak percaya langsung bermunculan.
Orang pertama yang maju adalah tetua tua itu sendiri. Meski ia bukan alkemis, ia memahami proses alkimia dengan baik.
Sejak awal, ia mengamati Shen Tianyang tanpa berkedip. Ia tahu pemuda itu memiliki dasar alkimia yang kokoh. Bahkan tanpa melihat isi tungku, ia dapat merasakan perubahan suhu dan fluktuasi panas yang sangat halus—tanda pengendalian api tingkat tinggi.
Saat tutup tungku pil dibuka, aroma obat lembut langsung menyebar, memenuhi udara alun-alun.
Itu adalah aroma yang sangat familiar.
Aroma pil yang berhasil diramu.
Ketika tetua tua itu mengulurkan tangan dan mengeluarkan lima pil berwarna putih salju, seluruh kerumunan tersentak.
Desahan kaget terdengar di mana-mana.
Di bawah tatapan ratusan pasang mata, lima Pil Penempaan Tubuh itu berkilau lembut—sunyi namun mengguncang—menjadi bukti tak terbantahkan bahwa pada hari ini, seorang jenius sejati telah memperlihatkan taringnya kepada dunia.
Bersambung Ke Bab 10