"Nikahi aku Om!"
Di hari yang seharusnya menjadi gerbang kebebasannya, Auryn Athaya Wiguna justru ditinggalkan di pelaminan. Calon suaminya kabur bersama seorang gadis remaja, meninggalkan noda malu yang tak terhapuskan bagi keluarga Wiguna. Namun, saat dunia seolah runtuh, Auryn melihat sebuah peluang di tengah kerumunan tamu, Keandra Mahessa, ayah dari gadis yang menghancurkan pernikahannya.
"Putrimu membawa kabur calon suamiku. Jadi, Om harus bertanggung jawab!"
Tanpa bantahan, pria matang berusia 38 tahun itu mengiyakan. Dengan mahar seadanya dan tatapan yang sulit dibaca, Keandra menarik Auryn ke dalam ikatan suci yang tak terduga. Bagi Auryn, pernikahan ini adalah senjata. Jika Leandra Mahessa merebut kekasihnya, maka ia akan merebut posisi tertinggi di hidup Lea, menjadi ibu tirinya.
"Kamu merebut kekasihku, maka akan kubuat hidupmu seperti neraka, Lea." Namun, Auryn tak menyadari bahwa menikahi Keandra berarti masuk ke dalam sangkar emas milik pria yang jauh lebih berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Ibu Mertua
"Jean, makan sedikit saja ayo!"
Suara Anjani Novalie terdengar parau saat ia terengah-engah mengejar cucunya di ruang tengah. Wanita paruh baya itu tampak kepayahan, namun anak laki-laki berusia empat tahun di depannya itu seolah memiliki tangki energi yang tak terbatas. Dengan kaki-kaki kecilnya, Jeandra terus menghindar, meliuk-liuk di antara perabotan rumah itu seolah sedang bermain petak umpet dengan maut.
"Oma ini kenapa lempong kali ulucin pelut Andlaaaa. Lan Andla bilang nda lapaaal, kenapa di kejal telus? Macam mamang tukang cayul jadinya kejal cetolan," seru Jeandra dengan mata membulat sempurna, menatap sang nenek dengan ekspresi protes yang menggemaskan sekaligus menyebalkan.
Anjani menghentikan langkahnya, bertumpu pada lutut sambil mengatur napas. Ibu dari Keandra ini sudah hampir menyerah menghadapi cucu yang satu ini. Jeandra adalah definisi dari anak yang sulit diatur jika sudah menyangkut urusan perut. Berat badannya yang sulit naik selalu menjadi teguran rutin dari dokter spesialis anak, namun anak itu seolah tak peduli. Sudah tak terhitung berapa pengasuh yang memilih untuk mengundurkan diri hanya dalam hitungan minggu karena tak tahan dengan ulah ajaib bocah tersebut.
"Ayo makan, nanti Oma kasih lima ribu," bujuk Anjani, mencoba strategi terakhir. Ia harus memastikan Jeandra kenyang sebelum Keandra pulang, atau ia akan mendengarkan ceramah panjang putranya tentang kedisiplinan.
"Lima lebu beli loti aja jadi celeeeet di tenggolokan, nda mau!" tolak Jeandra mentah-mentah sebelum kembali berhambur lari. Kali ini, sasarannya adalah pintu depan yang kebetulan terbuka.
"ANDRAAAA! JANGAN KELUAR!" teriak Anjani kesal.
Jeandra terus berlari sambil tertawa riang, menikmati kebebasannya. Namun, langkahnya mendadak terhenti di teras rumah. Sebuah mobil mewah hitam berhenti tepat di depan tangga teras. Tak lama kemudian, pintu penumpang terbuka.
Seorang wanita cantik turun dari sana. Rambutnya hitam legam, panjang menjuntai hingga sepinggang. Saat wanita itu menapakkan kaki di lantai teras, ia mengibas rambutnya dengan gerakan elegan, memancarkan aura kecantikan yang kuat meski wajahnya terlihat sedikit lelah. Jeandra yang tadinya aktif berlari, tiba-tiba mematung. Mulut kecilnya sedikit terbuka, matanya tak berkedip menatap sosok asing yang terlihat seperti bidadari di matanya.
"JEAAAAN, OMA—" Anjani menyusul keluar, namun kalimatnya menggantung di udara. Ia terdiam seribu bahasa, menatap heran pada sosok wanita muda yang dibawa pulang oleh putranya.
Keandra turun dari sisi pengemudi, wajahnya tampak lelah namun tetap berwibawa. Ia melangkah ke bagasi, mengeluarkan sebuah koper besar milik Auryn.
"Anak siapa ini, Kean? Teman putrimu?" tanya Anjani dengan dahi berkerut dalam. Pikirannya tidak sampai pada kemungkinan lain.
Keandra menegakkan tubuhnya, menghela napas panjang sejenak sebelum menatap Auryn yang berdiri dengan anggun di samping mobil. "Sapa, ibuku," ucap Keandra pelan.
Auryn segera mengerti kode itu. Ia melangkah mendekat dengan senyum manis yang dipaksakan untuk menutupi rasa canggungnya. Ia mengulurkan tangan, bermaksud untuk bersalaman secara sopan. Anjani, yang masih diliputi rasa bingung, menyambut uluran tangan itu secara otomatis.
"Halo, ibu mertua," ucap Auryn dengan suara lembut namun tegas.
"Ibu mertuaaaa?! Siapa ibu mertuamuuu?!" pekik Anjani seketika. Matanya membulat sempurna, tangannya ditarik kembali seolah baru saja menyentuh bara api.
Keandra memijat pangkal hidungnya, merasakan sakit kepala yang mulai menyerang. Anjani segera menghampiri putranya, memegang lengan kemeja Keandra dan menariknya dengan kuat. "Jujur sama Mama, Keandra! Dia ini siapa sebenarnya?!" seru Anjani dengan nada menuntut.
"Dia istriku, Ma," jawab Keandra singkat.
"ISTRIIII?! KAMU JADI PEED0FIIIIL KEAN?!" teriak Anjani dengan suara melengking. Wajahnya memucat, matanya terbelalak lebar menatap putranya seolah Keandra baru saja mengaku sebagai buronan internasional.
Keandra memejamkan mata, menepuk keningnya sendiri dengan frustrasi. Sementara itu, Auryn hanya bisa mengerjapkan mata, mencoba mencerna situasi. Ia kemudian menyadari ada sosok kecil di belakang Anjani yang sedang mencuri-curi pandang ke arahnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Ma, tolong tenang. Aku menikah dengannya secara sah, dia bukan simpananku atau apa pun yang Mama pikirkan," jelas Keandra berusaha meredam kepanikan ibunya.
"Berapa usiamu? Berapa usia anak ini, Kean?!" tanya Anjani, jarinya menunjuk lurus ke arah Auryn dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Dua puluh dua tahun, Oma," sahut Auryn jujur.
Mendengar angka itu, Anjani hampir saja terjatuh jika tidak segera berpegangan pada pilar teras. Ia memegangi d4danya yang terasa sesak karena syok. "Beda ... enam belas tahun? KEAAAAAN! Dia ini cocoknya jadi anakmu, bukan istrimu! Bahkan usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan putrimu, Lea!" teriak Anjani dengan wajah yang kini memerah padam karena emosi.
Auryn yang merasa harus membela diri agar tidak dianggap anak kecil, tiba-tiba berucap dengan sangat ceplos. "Tapi saya sudah bisa buat bayi kok, Oma."
Hening.
Dunia seolah berhenti berputar selama beberapa detik. Anjani dan Keandra membeku di tempat, syok bukan main mendengar pernyataan Auryn yang begitu berani dan tak terduga.
"Kean ... kamu dengar tadi dia bilang apa? Kamu dengar?!" Anjani menatap putranya dengan pandangan horor. "Kamu yakin menikahi dia? Kamu kena guna-guna atau bagaimana? Kamu didukuni sama dia? Astaga ... jantung Mama bisa copot!"
Keandra menghela napas kasar, tidak ingin memperpanjang perdebatan di depan teras rumah yang bisa saja didengar oleh para tetangga. "Kami lelah, Ma. Biarkan kami masuk dan istirahat dulu. Penjelasannya bisa menyusul nanti."
Keandra berjalan masuk sambil menarik koper, mengabaikan protes ibunya. Auryn segera mengikuti dari belakang, tak lupa memberikan anggukan sopan pada Anjani yang masih berdiri mematung. Saat Auryn berjalan melewati Jeandra, bocah itu tak melepaskan pandangannya sedikit pun. Rasa penasaran yang besar membuat Jeandra secara otomatis mengekor di belakang Auryn, meninggalkan Anjani yang masih sibuk memegangi d4danya dengan wajah yang belum pulih dari rasa syok.
"Empat tahun menduda ... ternyata putraku sukanya daun muda?" gumam Anjani dengan nada yang sangat terpukul, menatap kepergian mereka dengan perasaan tak menentu.
boleh memanjakan lea tapi jangan berlebihan....
Biasanya anak yg kekurangan perhatian dari ayah maybe lebih rentan mencari validasi dari pria lain ya, tapi itu jg jarang selalu terjadi.
Faktor lain keki lingkungan, or pengalaman hidup, and then kepribadian juga mempengaruhi siih yor menurut gua yaak heheheh 🤭