Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia sudah punya kekasih
Di rumahnya, Ethan duduk merenung di kebun belakang rumah. Ada segelas alkohol di tangannya, dia genggam kuat tanpa berniat minum. Malam ini dia betul-betul kehilangan kontrolnya dan hampir menghabisi nyawa seseorang karena Dira.
Dia sendiri masih tidak menyangka dirinya akan bereaksi se berlebihan itu. Tapi tadi, ia sungguh tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Sudah berulang kali ia ingin melupakan mantan kekasihnya itu, dia pikir dengan mengingat semua hal yang menyebabkan mereka putus enam tahun lalu, dia akan mampu melakukan Dira. Tapi nyatanya bayangan wanita itu selalu muncul dalam benaknya tanpa sadar.
Enam tahun ini, hanya Dira wanita yang selalu ada dalam kepalanya. Ia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita baru. Hatinya seakan mati setelah putus dengan Dira.
"Uncle," suara panggilan Kara membuat Ethan bergeming. Keponakannya itu hari ini menginap di rumahnya bersama putrinya Kamara. Matt sedang keluar kota bersama Damian. Entah bisnis apa yang sedang mereka kerjakan sekarang.
Ethan segera menurunkan gelas berisi alkohol di tangannya, menyimpannya di jawab kursi yang ia duduki. Dia tidak mau Kara melihat keadaannya dan mengetahui kalau dia sering minum-minum enam tahun terakhir ini. Tidak ingin Kara khawatir dengannya.
"Kamu belum tidur?" Ethan bertanya begitu Kara sampai dan duduk di sebelahnya, di bangku panjang itu.
"Belum ngantuk. Aku nggak sengaja melihat uncle ada di sini jadi aku ke sini." sahut Kara.
Ethan tidak bicara lagi. Sikapnya pada Kara masih seperti dulu. Lembut, dengan senyuman penuh kasih sayang. Meski Kara sendiri sadar uncle-nya ini jauh berbeda dengan uncle yang dia kenal dulu. Pria itu boleh tersenyum padanya dan berpura-pura baik-baik saja, tapi matanya tidak bisa menipu.
Semenjak ia kembali beberapa hari yang lalu, dan bertemu dengan mereka semua, ia dapat melihat ada yang hilang dari tatapan mata uncle-nya, kebahagiaan. Dia Kara itu semua tidak lepas dari Dira. Wanita yang hampir menjadi tantenya dulu.
Yang hampir menikah dengan pria itu kalau dia tidak berulah.
Ya, Kara merasa dia adalah salah satu orang yang menjadi penyebab pasangan itu berpisah.
"Uncle, Kara minta maaf." ucapnya. Selama beberapa hari ini mereka belum punya waktu untuk bicara serius berdua saja. Karena keduanya sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
"Minta maaf untuk apa?" Ethan menatapnya.
"Karena gara-gara Kara, uncle dan Kara Dira gak jadi menikah. Gara-gara Kara, kalian putus. Sebenarnya hari itu Kara lihat kak Dira dicium paksa oleh laki-laki asing itu. Kara lihat kak Dira berusaha melepaskan diri dari laki-laki itu. Harusnya Kara bantu kak Dira, tapi waktu itu nggak tahu kenapa Kara malah lari." ucap Kara panjang lebar, penuh penyesalan.
Dua hari yang lalu dia bertanya di mana Dia pada suaminya karena ia tidak melihat wanita itu. Saat suaminya bilang wanita itu sudah putus dengan uncle-nya, Kara kaget. Dia sempat menanyakan alasan mereka putus, Matt bilang bukan gara-gara dia. Tapi Kara tetap merasa bersalah.
"Bukan salah kamu Kara. Uncle dan wanita itu memang tidak cocok. Waktu itu kami memulai hubungan terlalu cepat, belum benar-benar saling mengenal. Jadi ada banyak hal yang akhirnya tidak bisa kami pahami satu sama lain," lanjut Ethan pelan, berusaha terdengar tenang.
"Kalo nggak cocok, uncle sudah mencari perempuan lain. Tapi uncle nggak bahagia sekarang. Kara bisa lihat."
Kata-kata itu membuat Ethan terdiam lama. Ia menatap lurus ke depan, ke taman yang gelap dengan cahaya lampu redup menyinari sebagian rumput. Rahangnya mengeras, tapi kali ini bukan karena marah, melainkan karena kenyataan yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
"Kamu masih kecil, tapi sudah bisa membaca orang ya," ujarnya pelan, mencoba tersenyum.
"Aku nggak kecil lagi, uncle, putriku sudah lima tahun." Kara membalas.
"Dan aku tahu rasanya kehilangan."
Ethan menoleh. Ada sesuatu dalam suara keponakannya yang membuat dadanya terasa berat. Ia tersenyum hambar.
"Uncle memang nggak mencari perempuan lain," akunya akhirnya.
"Bukan karena nggak bisa. Tapi karena … nggak mau." Kara terdiam, menunggu.
"Kenapa gak mau?"
"Karena gak ada yang sama dengan dia."
Jawab Ethan lalu mengusap wajahnya kasar.
"Jadi uncle masih cinta?" tanya Kara hati-hati.
Ethan mengembuskan napas panjang.
"Dia memang selalu ada di hati uncle,"
Ia menunduk, suaranya lebih dalam sekarang.
"Tapi setiap kali uncle ingin menariknya kembali, bayangan itu selalu muncul."
"Bayangan apa?"
Dia bercinta dengan laki-laki lain.
Ethan hanya mengucapkan kalimat itu di dalam hatinya. Yang mengetahui cerita lengkap dia dan Dira hanya Damian. Bahkan Matt tidak pernah tahu alasan sebenarnya mereka putus.
Ethan terdiam cukup lama sampai Kara mulai merasa cemas.
"Uncle benar-benar nggak mau balikan lagi dengan kak Dira?"
Ethan menatap Kara lama. Tapi tidak ada satu pun jawaban yang keluar dari mulutnya. Semua selalu mengambang.
"Uncle nggak tahu," akhirnya ia menjawab pelan. Jujur. Rapuh.
Kara mengernyit.
"Atau uncle takut?"
Lagi-lagi Ethan terdiam. Kata-kata Kara terlalu tetap. Yah, mungkin itu adalah kata-kata yang tepat untuk dia sekarang. Ia takut kalau ia dan Dira memulai lagi dari awal, Dira akan melakukan hal yang sama, mengecewakan dia seperti enam tahun yang lalu.
"Ada satu ibu-ibu yang dekat denganku waktu aku terdampar di pulau." Kara kembali angkat suara.
"Ibu-ibu itu cerita kalau dia pernah marah sama anaknya. Dia nggak pernah bercerita lagi dengan anaknya karena kemarahannya. Lalu suatu hari, dia mendapat kabar anaknya meninggal dalam kecelakaan. Kejadian itu membuat ibu-ibu itu sedih sekali dan menyesal seumur hidupnya. Tapi mau gimana lagi? Walau dia merindukan anaknya, anaknya gak pernah bisa dia lihat lagi."
Kara menatap Ethan dalam-dalam.
"Uncle tahu nggak apa yang ibu itu bilang waktu terakhir aku ketemu dia?" lanjutnya pelan.
"Dia bilang, penyesalan itu lebih berat dari kehilangan."
Ethan tertunduk lama.
"Bukannya Kara bilang bakalan terjadi sesuatu sama kak Dira. Kara cuman pengen bilang, kalo uncle masih cinta, gak ada salahnya coba memulai kembali."
Ethan mengusap wajahnya kasar.
"Dia sudah punya kekasih lain."
Ethan mengatakan itu dengan rahang mengeras, karena mengingat si 'My Baby' di ponsel Dira. Selalu menelpon wanita itu.
Kara kaget.
"Kekasih lain? Uncle lihat sendiri?"
Ethan tersenyum miring.
"Tidak lihat langsung. Tapi ada selalu menelponnya, my baby namanya. Siapa lagi kalau bukan kekasihnya?"
Kara terdiam, tidak bertanya lagi. Kalau sudah begitu, dia juga bisa apa? Ia menghembuskan nafas panjang, menatap uncle-nya dengan wajah kasihan.
Yg salah ego Ethan di sini.. Dira mencari pelampisan berakhir bencana 🙄..
terharu 😭😭... semoga tar ada adik arel ya🤣🤣🤣