Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Ingin Membuka Hati
Baru saja Vanya merebahkan tubuhnya di kasur, ketukan pintu di kamar kostnya terdengar beberapa kali.
"Telat lo berdua" omel Vanya saat pintu telah ia buka.
"Waes sabar guys, kayak nggak tau cewe aja kalo siap-siap lama" belum dipersilahkan masuk Lea sudah nyelonong begitu saja.
"Njir, bagus juga. Berapa perbulan nya?" Lea meneliti ruangan 4×4 itu.
"1 juta"
"Not bad lah" komentar Rain.
"Murah anjir" ucap Lea sambil berdecak kagum.
"Katanya suruh bantuin dekor. Lah ini apa lagi yang perlu di kerjain? Orang udah aesthetic begini" lanjutnya.
"Kalian berdua telat ege. Gw pengen yang sat set" jawab Vanya.
"Lo kira kita tukang dekor apa" Lea memutar kedua bola matanya.
"Yahh, gagal dong Steak gw" keluh Rain.
"Nggak lah, tenang. Eh tapi gw lagi capek banget pengen tidur. Lo ke tempat nya langsung aja terus bilang atas nama gw, pasti mereka udah paham" ucap Vanya yang ditujukan untuk Rain.
"Nih, buat lo beli pizza. Anggep aja gw syukuran pindah rumah" Vanya mengambil 5 lembar uang pecahan 100 ribuan lalu ia berikan kepada Lea.
"Duh, enak nya punya besti anak sultan plus royal. Nggak kaleng kaleng dah" puji Lea saat menerima uang tersebut.
"Eh tadi kalian pulang jam berapa? Sorry ya gw duluan tadi, abisnya Rain cepu banget sih bikin ayang gw ngambek" Lea ikut merebahkan tubuhnya di kasur Springbed yang masih baru itu. Kini posisi mereka bertiga saling berjejeran dengan setengah badan langsung menyentuh ke lantai.
"Lo tau nggak? Tadi ada drama seru banget anjir" seru Rain dengan semangat.
"Drama apaan woi? Ceritain plisss!!!" Lea mulai memiringkan tubuhnya untuk menatap Rain yang posisinya berada di tengah.
"Tadi Vano sama Raza berebut buat ngajak dia dinner. Mana si makhluk kampret 1 ini malah nolak semua ajakan para cogan cogan sekolah. Cantik lo begitu?" sindir Rain. Lea tentunya tau siapa orangnya.
"Seriusan lo? Vano ngajak dia dinner? Buset dah nih anak punya pelet apasih!" seru Lea tak percaya.
"Kalian berdua nyindir orang di samping orang nya langsung ya. Bagus Bagus" ucap Vanya pura-pura kesal.
"Biarin ege. Elo mah kan baek. Btw napa lo tolak semua anjay?" tanya Lea.
"Yakan malam ini gw ada janji sama kalian berdua. Gimana sih?" balas Vanya sedikit ngegas.
"Terus misal nggak ada janji nih sama kita, kira-kira lo trima siapa?" tanya Rain penasaran.
"Em.... " Vanya pura-pura berfikir.
"Raza sih. Vano kan punya pacar" lanjut nya.
"Eh iya juga anjir. Tuh anak ngapain deketin lo ya kalo emang beneran punya pacar" seru Lea dengan heboh.
"Jangan kenceng kenceng napa sih! Ini kost an ya, bukan rumah elo" omel Vanya. Lea memang selalu yang paling heboh diantara mereka bertiga.
"Hehe maap maap" ucap Lea cengegesan.
"Tadi Vano bilang, dia tertarik sama gw"
Ucapan tiba-tiba Vanya membuat kedua sahabatnya langsung tersentak lalu menegakkan tubuhnya menjadi duduk.
"Hah? Kapan dia bilang begitu? Kok gw nggak tau" hampir saja Rain ingin berteriak jika saja tak melihat tatapan tajam dari Vanya.
"Perpus" jawab Vanya singkat.
"Wah anjay tuh anak. Ternyata dia ngikutin lo sampe ke perpus" Lea geleng-geleng kepala.
"Gw mau jauhin Vano aja. Gw putusin buat buka hati, dan mungkin ngasih 1 kesempatan buat Raza ngebuktiin keseriusannya"
"Astaga astaga astaga. Gw pengen teriak aja rasanya. Kali ini gw dukung 100 persen, eh enggak. 10.000 persen. Cowo se greenflag Raza jangan sampe lepas" sorak Lea dengan pelan, namun terlihat sangat bersemangat.
"Betul tuh. Gw juga dukung kalo elo mau buka hati dan ngasih kesempatan buat cowo kayak Raza. Anak tunggal loh katanya, orangtuanya punya hotel bintang 4" ucap Rain realistis.
"Wah, iya juga ya. Daripada Surya tuh, udah mah playboy, orang tua nya nggak kaya kaya amat lagi" Lea ikut-ikutan.
"Apaan sih lo berdua! Kok malah ngomongin harta sih. Gw nggak liat cowo dari kayak gitu ya" ucap Vanya kesal.
"Kita sebagai cewek harus realistis girl. Tapi ya wajar sih kalo elo nggak mikirin itu. Lo kan udah kaya, 100 cowok juga bisa tuh elo biayain"
"Astaga Lea, Lo pikir gw Sugar Mommy apa!" Vanya geleng-geleng kepala.
"Hehe enggak enggak. Becanda doang maap" Lea merebahkan kembali tubuhnya.
"Eh, lo katanya capek mau tidur? Kita berdua pulang aja ya biar nggak ganggu istirahat lo" Rain yang masih dengan posisi duduk itu menatap ke arah Vanya yang memang terlihat lelah.
"Loh iya. Besok masih harus sekolah loh" seru Lea lalu menegakkan tubuhnya lagi.
"Iya nih. Badan gw rasanya kok capek banget ya" ucap Vanya pelan.
"Yaudah lo istirahat aja. Gw sama Lea pulang dulu. Sekarang lo itu ngekost, jadi harus bisa jaga kesehatan. Atau lo mau gw anter pulang aja ke rumah? Gw takut lo sakit tapi nggak ada yang ngerawat disini" cerocos Rain panjang lebar.
"Nggak deh. Cuman perlu istirahat aja kok gw. Besok juga udah seger lagi" jawab Vanya enteng.
"Yaudah kalo gitu. Ayo Gan, kita pulang. Nih anak biar istirahat"
Rain dan Lea pun ahirnya pergi. Kini tinggal lah Vanya sendiri di dalam kamar kost itu. Saat Vanya mulai memejamkan mata, ponsel mahalnya berdering tanda ada telepon masuk.
"Hallo Vanya. Bisa keluar sebentar? Kakak ada di depan gerbang kost kamu"
"Kakak ngapain? Ini udah jam 8 lebih tauk"
"Plisss Van, sebentar aja"
"Yaudah iya"
Klik
Vanya mematikan begitu saja sambungan telepon nya. Dengan malas ia keluar dari kamar kost menuju ke gerbang hanya dengan menggunakan daster lengan panjang di bawah lutut.
Vanya melihat mobil BMW M2 Coupe warna Zandvoort Blue milik Fian yang terparkir di pinggir jalan 10 langkah dari gerbang kost-an nya. Mobil itu terlihat mencolok di kegelapan malam.
"Kakak ngapain disini?" omel Vanya. Ia baru saja masuk dan duduk di kursi penumpang di samping Fian.
Fian menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman manis, "Kakak bawa sesuatu buat kamu"
"Ngapain? Aku nggak.... "
"Kakak yakin ini pasti berguna banget buat anak kost kayak kamu sekarang ini" potong Fian cepat.
"Kakak mau ngasih ini tadi, tapi kakak liat mobil Rain sama Lea dateng. Pasti kalian bakalan ngobrol lama, jadi kakak tungguin disini dari tadi. Plisss ya Van, terima. Kakak beli ini udah dari kemaren loh waktu kakak libur"
"Hah? Jadi kakak udah dari tadi disini selama hampir 2 jam. Ngapain coba? Kurang kerjaan banget" Vanya tak habis fikir kakaknya mau menunggu selama itu.
"Kakak lakuin ini demi kamu Vanya. Jadi kakak mohon terima ya" mohon Fian.
Vanya melihat ke jok belakang mobil Fian. Disana ada kotak P3K, Air Fryer, dan juga Semprotan anti nyamuk.
Melihat effort kakaknya ia menjadi tidak tega untuk menolak. Lagipula apa yang kakaknya bilang sangatlah benar jika memang ia pasti membutuhkan ketiga barang penting itu.
"Yaudah" Vanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Kakak bantuin bawa ya Van?" tawar Fian dengan semangat. Ia sangat senang Vanya mau menerima barang pemberian nya meski masih dengan sikap yang dingin.
"Nggak usah, aku bisa sendiri" ucap Vanya dingin.
Vanya langsung mengambil 3 barang itu dari jok belakang. Fian dengan peka membukakan pintu mobil untuk Vanya meskipun bantuan nya barusan di tolak mentah-mentah.
"Aku masuk dulu. Sana kakak pulang aja udah malem" usir Vanya dengan nada galak. Ia lalu meninggalkan Fian begitu saja.
"Ck ck ck. Vanya.... Vanya..... " decak Fian sambil geleng-geleng kepala. Namun senyum tipis tersungging di bibirnya.
Vanya masuk ke kamar kostnya lalu menaruh barang pemberian Fian di meja dapur. Kamar itu ia kunci agar terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan.
"Huftt, badan gw rasanya capek banget. Tidur aja deh biar besok enakan" Vanya pun merebahkan tubuhnya di kasur lalu memejamkan mata.