NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 - Tugas Kelompok

Senin pagi di SMK terasa sedikit berbeda. Meski aroma gedung sekolah dan suara bising kendaraan di luar pagar masih sama, ada sisa-sisa kegembiraan dari perjalanan Jogja yang masih membekas di wajah para siswa. Gery, seperti biasa, menjadi salah satu yang datang paling awal. Ia menyampirkan tasnya di kursi pojok belakang—singgasana favoritnya—lalu mulai mengelap debu tipis yang menempel di meja selama ditinggal sepekan.

Saat Gery sedang asyik dengan kegiatannya, tiba-tiba sepasang tangan lembut menempel di wajahnya, menutup pandangannya sepenuhnya. Aroma parfum yang sangat ia kenali langsung tercium.

"Hayo, tebak siapa?" suara itu mencoba diberatkan, namun nada manjanya tetap tak bisa disembunyikan.

Gery tersenyum jahil. Ia tahu persis siapa pemilik tangan ini, tapi godaan di kepalanya terlalu kuat untuk dilewatkan. "Hmm... siapa ya? Oh, suara ini... Angela ya?" jawab Gery asal dengan nada serius.

Cubit!

"Aduh!" Gery mengaduh saat cubitan maut mendarat tepat di pinggangnya.

Vanya melepaskan tangannya dan berdiri di depan Gery dengan wajah cemberut yang dibuat-buat, kedua tangannya terlipat di dada. "Masih aja ya bawa-bawa nama itu! Nggak asyik banget sih lo, Ger!"

Gery tertawa renyah, segera menangkap tangan Vanya sebelum gadis itu melancarkan serangan kedua. "Maaf, maaf. Cuma bercanda, Van. Lagian tangan lo lebih halus dari siapa pun, mana mungkin gue salah tebak."

Vanya memalingkan wajahnya, tetap berusaha memasang tampang ketus meski matanya tak bisa berbohong kalau dia sedang menahan senyum. "Nggak mau tau. Kalau mau dimaafin, nanti siang pas istirahat lo harus suapin gue pake bekal buatan nyokap lo. Titik!"

Gery menatap Vanya sejenak, lalu mengangguk sambil tersenyum hangat. "Oke, deal. Siap laksanakan, Tuan Putri."

Suasana kelas mulai ramai saat satu per satu siswa PH2 masuk. Keheningan pagi itu pecah total ketika Reno melangkah masuk dengan gaya yang sangat teatrikal. "JAKARTA... MANA SUARANYA?! SETELAH SEMINGGU JADI TURIS, KINI KITA KEMBALI JADI RAKYAT JELATA!" teriaknya yang langsung disambut tawa pecah dari seisi ruangan.

Dion, Sammy, dan Adrian ikut menimpali dengan lelucon sisa perjalanan mereka, membuat kelas kembali hidup seperti sedia kala. Namun, keriuhan itu harus terhenti saat bel sekolah berdentang nyaring—dua kali—menandakan seluruh siswa harus segera berkumpul di lapangan.

Rombongan PH2 pun berbondong-bondong turun menuju lapangan upacara di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat, bersiap menjalani rutinitas Senin yang panjang, namun kali ini dengan perasaan yang jauh lebih berwarna bagi Gery dan Vanya.

Setelah upacara bendera yang menguras peluh di bawah terik matahari Jakarta, rutinitas akademik kembali membelenggu mereka. Tiga jam pertama diisi dengan pelajaran produktif perhotelan yang cukup padat, namun fokus Vanya sama sekali tidak berada pada buku catatan. Matanya berkali-kali melirik ke arah jam dinding perak di atas papan tulis, menghitung mundur detik-detik menuju momen yang sudah ia rancang sejak pagi.

Begitu bel istirahat berdentang dengan nyaring, suasana kelas yang tadinya hening seketika berubah menjadi hiruk-pikuk. Gery, yang sadar betul akan "tagihan" utangnya, tidak berani beranjak dari kursi. Dengan gerakan pelan, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak makan plastik berwarna biru—bekal nasi goreng spesial dengan telur ceplok dan irisan sosis buatan nyokapnya yang aromanya langsung menyeruak, menggoda selera siapa pun di radius dua meter.

Vanya segera memutar kursinya, menghadap penuh ke arah Gery. Ia menopang dagu dengan kedua tangan, matanya berkedip-kedip manja, menanti sang "pelayan kontrak" menunaikan tugasnya.

Gery menyendokkan nasi goreng itu sedikit demi sedikit. Namun, jiwa usilnya yang baru saja mekar sejak perjalanan Jogja kembali meronta. Bukannya menyodorkan sendok dengan romantis, Gery justru mengangkat sendok itu tinggi-tinggi, lalu menggerakkannya berputar-putar di udara layaknya mainan anak kecil.

"Perhatian, perhatian..." ucap Gery dengan suara meniru pramugara di pesawat. "Pesawat dari Bali dengan nomor penerbangan 'Gery-Air' sedang mencari tempat untuk take-off. Cuaca sedikit mendung di sekitar area bibir, diharapkan para penumpang segera menutup hidung karena kabin bau naga."

Mendengar kata-kata "menutup hidung", Vanya yang tadinya sudah membuka mulut dengan manis—siap menerima suapan pertama—langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Matanya melotot tajam. Tanpa aba-aba, jemari lentiknya mendarat di pinggang Gery dan memberikan cubitan maut yang dipelintir 180 derajat.

"AWWW! Ampun, Van! Gila, sakit banget!" Gery meronta, nyaris menjatuhkan kotak bekalnya. Wajahnya meringis menahan perih yang seolah menyengat sampai ke saraf tulang belakang.

Vanya yang masih memasang wajah cemberut bin kesal segera menyambar sendok dari tangan Gery dengan gerakan agresif. "Lama! Nyebelin banget sih lo jadi cowok!" gerutunya sambil menyuap nasi goreng itu sendiri ke mulutnya dengan gaya sedikit kasar, namun pipinya yang menggembung karena mengunyah justru membuatnya tampak sangat menggemaskan.

Di tengah aksi mogok manja Vanya, Nadia muncul dari balik barisan bangku depan. Ia terbahak melihat Gery yang masih sibuk mengusap-usap pinggangnya dengan raut wajah menderita.

"Ngapa lo, Ger? Kayak abis digebukin massa di terminal?" tanya Nadia sambil tertawa lepas.

Gery meringis, menunjuk ke arah Vanya dengan jempolnya. "Tuh, singa betina ngamuk. Gue cuma bercanda dikit, malah dapet tanda kenang-kenangan di pinggang. Kayaknya biru deh ini besok."

Vanya menelan nasi gorengnya dengan susah payah sebelum menyela pembicaraan mereka. "Lagian! Lo denger nggak tadi dia bilang apa, Nad? Gue minta disuapin baik-baik, dia malah bilang penumpang diharapkan tutup hidung! Emang mulut gue bau apa?! Bau naga katanya! Kurang ajar banget kan?" Vanya mengerucutkan bibirnya, menatap Gery dengan tatapan maut yang dibalut manja.

Nadia semakin tertawa geli sampai memegangi perutnya. Ia kemudian ikut memberikan pukulan ringan di bahu Gery sebagai bentuk solidaritas terhadap sahabatnya. "Wah, parah lo, Ger! Cowok kalau udah dapet yang cantik kayak Vanya emang suka lupa diri ya? Udah, Van, jangan kasih ampun! Suruh dia cuciin kotak makannya sekalian nanti!"

Gery hanya bisa tertawa pasrah di tengah kepungan dua wanita itu. Meskipun pinggangnya masih terasa panas bekas cubitan, ia menyadari satu hal: suasana sekolah yang membosankan ini menjadi jauh lebih hidup karena kehadiran Vanya dan segala drama kecil yang mereka ciptakan.

Bel masuk berdentang nyaring, memutus tawa Nadia dan gerutu manja Vanya. Tak lama kemudian, langkah kaki yang mantap terdengar dari lorong kelas. Masuklah Ibu Fatma, guru produktif perhotelan spesialis Front Office yang dikenal sangat teliti namun elegan. Suasana kelas PH2 yang tadinya kacau balau seketika senyap dan rapi.

Materi hari itu fokus pada etika berkomunikasi di meja resepsionis. Selama dua jam pelajaran, Gery dan Vanya tampak serius memperhatikan, meski sesekali Vanya melirik ke arah Gery yang sedang mencatat poin-poin penting dengan tekun.

Menjelang akhir pelajaran, Ibu Fatma menutup buku besarnya dan berdiri di depan kelas sambil merapikan kacamatanya.

"Anak-anak, sebelum kelas hari ini berakhir, saya akan memberikan tugas kelompok untuk dipresentasikan minggu depan," ucap Ibu Fatma dengan wibawa. "Kalian harus melakukan simulasi reservasi hotel secara utuh. Mulai dari penyambutan tamu, proses booking, penanganan pembayaran, hingga penyerahan kunci kamar. Dan ingat, semuanya harus dilakukan dalam Bahasa Inggris yang lancar."

Suara gumaman "Waduh" dan "Susah nih" langsung terdengar dari barisan belakang.

"Tugas ini dilakukan berkelompok," lanjut Ibu Fatma. "Setiap kelompok harus terdiri dari empat orang: dua laki-laki dan dua perempuan. Silakan tentukan sendiri, saya ingin minggu depan kalian tampil dengan seragam lengkap yang rapi. Mengerti?"

"Mengerti, Bu!" jawab seisi kelas serempak.

Tepat saat itu, bel panjang tanda pulang sekolah berbunyi. Ibu Fatma tersenyum tipis dan melangkah keluar kelas, meninggalkan murid-muridnya yang langsung sibuk mencari teman kelompok.

Vanya langsung menoleh ke arah Gery dengan mata yang berbinar. "Ger! Kita satu kelompok ya. Gue, lo, terus siapa lagi?"

Gery mengangguk setuju. "Boleh. Kayaknya mending ajak Sammy sama Nadia aja gimana? Biar koordinasinya gampang."

Vanya menjentikkan jarinya. "Ide bagus! Gue panggil Nadia, lo panggil Sammy. Kita harus segera bagi tugas, apalagi ini pake Bahasa Inggris. Gue nggak mau nilai kita anjlok cuma gara-gara salah grammar."

Sammy dan Nadia yang memang sedang berada di dekat mereka pun langsung setuju. Sambil merapikan tas, mereka berempat berkumpul di meja Gery.

"Oke, jadi tim kita: Gery si resepsionis yang kalem, gue tamunya yang banyak mau, terus Sammy sama Nadia jadi apa?" tanya Vanya semangat.

"Gue jadi suaminya Nadia aja gimana? Pasutri yang mau honeymoon," celetuk Sammy yang langsung dihadiahi lemparan penghapus oleh Nadia.

"Honeymoon palalo! Gue jadi tamu VIP yang ribet aja, biar Gery pusing bahasa Inggris-nya!" sahut Nadia sambil tertawa.

Gery tertawa kecil sambil menggendong tasnya. "Ya udah, besok kita bahas skripnya. Yang penting kelompok kita udah aman."

Sambil berjalan keluar kelas menuju gerbang, mereka berempat mulai mendiskusikan rencana latihan, sementara Reno di belakang mereka sibuk berteriak mencari kelompok laki-laki lain yang tersisa.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!